
Malam hari disebuah gerbang desa bernama Thunder Village,
"Hooaamm... Kapan giliran kita akan berakhir? Aku sudah mengantuk!" keluh salah satu penjaga gerbang sambil sesekali menguap.
"Sabarlah! Tinggal beberapa menit lagi! Paling 30 menit lagi mereka akan sampai!" balas penjaga lainnya. Mereka tetap berusaha berdiri sampai waktu berjaga mereka berakhir, walaupun sudah didera rasa kantuk.
30 menit kemudian,
Dua orang pria berarmor perak, datang dari dalam desa. Mereka adalah para penjaga yang mendapat giliran jaga malam. Mereka berdua akan menggantikan peran dua penjaga lainnya yang sudah bertugas sejak sore hari tadi.
"Akhirnya kalian datang! Aku sudah mengantuk!" ucap salah satu penjaga sembari meregangkan otot-ototnya yang dirasa kaku setelah berjaga selama berjam-jam.
Mereka berempat bercengkerama selama beberapa saat sebelum bertukar tugas penjagaan. Namun, mereka berempat tidak menyadari bahwa ada yang memperhatikan mereka dari jauh.
"Tuan Satan, apa yang akan kau lakukan pada mereka dan desanya?" tanya wanita yang telah mengintai Thunder Village selama berjam-jam.
"Sebenarnya tidak ada hal yang mendesak! Aku hanya ingin menangkap jiwa mereka untuk aku jadikan prajurit saja!" jawab seorang pria tua yang tiba-tiba muncul dari dalam diri wanita itu.
"Setelah itu aku akan menghancurkan desa ini untuk meregangkan otot-ototku!" lanjutnya lalu menatap lekuk tubuh wanita itu sembari menjilati bibirnya, "Nanti jika sudah selesai, bisa kau bermain denganku? Aku sudah lama tidak berhubungan dengan wanita! Terakhir kali aku melakukannya sudah ribuan tahun yang lalu bersama Asmodeus!"
"Hmm... Baiklah, tapi anda harus berjanji untuk bisa memuaskan aku!" jawab wanita itu genit seraya menggoda pria tua itu dengan menggesekkan gunung kembar miliknya dengan dada pria tua itu.
"Kau menggodaku, ya?" tanya pria tua itu seraya meremas pelan gunung kembar yang ada dihadapannya.
"Ahh..." terdengar suara d*****n kecil dari wanita itu.
Pria tua itu kemudian melepas sentuhannya pada gunung kembar wanita yang bersamanya. Ia lalu segera menghilang dari sana diikuti oleh wanita itu.
***
Sementara itu,
Rai yang masih menggunakan teknik Mata Dewa, sedikit jijik melihat tingkah yang dilakukan oleh pria tua itu terhadap wanita muda yang tak lain adalah Rin.
"Bibi, apa Rin memang seperti itu?" tanya Rai kepada Yuki dengan tubuh yang bergidik.
"Maksudmu tingkah seperti wanita di rumah bordil?" tanya Yuki memastikan yang dibalas anggukan oleh Rai, "Yah... Itu bukan keinginan dia! Rin seperti itu karena dikendalikan oleh iblis itu!"
"Oh, begitu! Hah... Kenapa keinginanku untuk membunuh Satan semakin besar saja?" gumam Rai yang masih bisa didengar oleh Raiden di sampingnya.
"Apa kau memiliki perasaan seperti tidak ingin kehilangan Rin?" bisik Raiden.
"Yah... Sedikit! Tapi setiap aku berada di dekatnya, hatiku selalu berdebar-debar! Dan ketika aku melihatnya dalam bahaya, terluka, atau dipermainkan oleh orang lain terutama pria, hatiku terasa sakit!" jawab Rai pelan dengan wajah yang kusut.
"Hmm... Aku mengerti tentang itu! Sepertinya kau merasakan yang namanya cinta!" balas Raiden dengan suara yang pelan juga.
"Cinta? Maksudmu, aku menyukai Rin?" tanya Rai yang dibalas anggukan oleh Raiden.
"Jadi, begitu! Sepertinya memang benar, aku sedikit mencintainya! Entah sejak kapan perasaan cinta itu tumbuh di dalam hatiku? Tapi yang jelas, aku masih tidak boleh teralihkan oleh perasaan ini, karena dendamku masih belum terbalaskan!" gumam Rai pelan seraya menatap teguh gerbang masuk Thunder Village yang sudah berada di depannya.
__ADS_1
***
Di dalam Thunder Village,
"Ke-kenapa kau menyerang kami? Kami pernah berbuat apa padamu?" tanya salah satu penjaga yang sudah penuh luka disekujur tubuhnya.
"Kenapa? Karena aku bosan saja!" jawab seorang pria tua yang tak lain adalah Satan sebelum menebas tubuh penjaga itu hingga terbelah menjadi dua.
Kemudian, jiwa penjaga itu yang keluar dari raganya, segera ditangkap oleh Satan dan dimasukkan ke dalam sebuah gentong berwarna merah.
Tak lama setelah itu, Rin datang mendekat kearah Satan. Ia baru saja menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Satan, yaitu membantai seluruh penduduk Thunder Village.
"Kau sudah menyelesaikan tugas yang aku berikan, Rin?" tanya Satan setelah melihat keberadaan Rin yang telah berada di belakangnya.
"Sudah, Tuanku!" jawab Rin sembari memberi hormat kepada Satan.
"Baguslah! Kalau begitu, apakah kau sudah siap? Aku menemukan sebuah penginapan mewah di dekat sini!" ujar Satan.
"E-eh... Apa harus secepat ini, Tuan Satan?" tanya Rin ragu-ragu.
"Yah... Lebih cepat, lebih baik 'kan? Lagipula, punyaku sudah menegang!" jawab Satan.
"B-baiklah!" Rin bergerak maju kearah Satan dengan langkah malu.
Ketika Rin dan Satan sudah berhadapan dan hendak berciuman, tiba-tiba sebuah serangan datang dari sebuah arah. Serangan itu terarah ke Satan. Namun, Rin menyadari itu dan langsung membuat perisai untuk melindungi Satan. Serangan yang muncul secara mendadak itu, menabrak perisai ciptaan Rin hingga menimbulkan kepulan asap tebal.
Sunyi, tidak ada yang menjawab. Seperti tidak ada orang disana. Namun, ketika kepulan asap mulai menipis, dua orang laki-laki dan dua orang perempuan, tiba-tiba datang dengan raut wajah serius.
Mereka adalah Rai, Raiden, Yuki dan Miyuki. Mereka juga lah pelaku dari serangan yang menyasar Satan.
"Dasar iblis sialan! Beraninya kau berpikir bejat kepada anakku!" teriak Yuki geram.
"Berisik! Lebih baik kau mati!" balas Rin seraya menyerang Yuki menggunakan tembakan energi alam dari jari telunjuknya.
Beruntung, Rai berhasil menggagalkan serangan tersebut menggunakan serangan yang sama.
"Bibi, tolong kau mundur dulu untuk saat ini! Biar aku, Raiden dan Miyuki yang mengurus mereka!" uja Rai kepada Yuki.
"Baiklah! Aku akan pergi dari sini! Tolong usahakan agar Rin tidak terluka, kau mengerti?" balas Yuki.
"Ya, aku mengerti!" jawab Rai sebelum Yuki menghilang dari sana.
"Raiden, Miyuki! Kalian tahu apa yang harus dilakukan 'kan?" tanya Rai yang dibalas dengan anggukan oleh kedua orang itu.
Mereka mengeluarkan senjata masing-masing, lalu melesat menyerang sasaran yang sudah mereka tentukan sebelumnya. Rai akan menyerang Rin. Sedangkan, Raiden dan Miyuki akan menyerang Satan.
Swush...
Bzzzt... Bzzzt...
__ADS_1
Rai bergerak cepat kearah Rin dengan pedang katana berselimut petir ungu. Dia bergerak sangat cepat hingga tak dapat diikuti oleh mata. Serangan yang ia lakukan juga sangat cepat, sehingga Rin tidak menyadari bahwa ada sebuah luka di pipi kirinya.
"Apa?" gumam Rin seraya menyeka darah yang menetes di pipi kirinya, "Apa yang kau lakukan?"
"Hanya melakukan serangan gagal!" jawab Rai santai.
"Dasar kau! Rasakan ini! Tebasan Iblis Amarah!" ucap Rin setelah mengeluarkan pedang rapier miliknya.
Sebuah cahaya merah kehitaman, muncul dari pedang rapier milik Rin dan melesat cepat menuju Rai. Namun, serangan itu berhasil dimentahkan oleh Rai hanya dengan sebuah tebasan ringan.
Melihat serangannya yang gagal, Rin mengeluarkan seluruh jurus dan teknik yang ia miliki. Tapi, tidak ada satu pun jurus atau teknik yang melibatkan elemen es.
Hal ini membuat Rai tersenyum lebar. Ia berjalan santai sembari menyeret pedang katananya. Semakin lama semakin cepat, hingga dengan tiga tarikan nafas, Rai sudah berada di depan Rin dan bersiap untuk melepaskan serangan.
"Tebasan Petir Penghancur!" ucap Rai dingin.
Rai mengayunkan pedang katananya secara diagonal dari kiri bawah ke kanan atas. Tebasan itu menciptakan sebuah cahaya ungu berbentuk bulan sabit yang meluncur cepat kearah Rin dan langsung menghantamnya dengan sangat keras.
DUARRRR...
"AAAKKKHHHH!!!"
Rin berteriak keras ketika serangan itu menghantam tubuhnya. Karena serangan yang dilakukan Rai, mengandung petir langit yang sangat berlawanan dengan energi iblis.
Ini membuat gejolak panas di dalam tubuh Rin akibat energi iblis yang berusaha untuk memusnahkan elemen petir langit. Otomatis, Rin tidak bisa melakukan apapun, kecuali menggeliat di tanah seperti cacing kepanasan.
"Sengatan Petir Pelumpuh!" ucap Rai dingin seraya menghimpun elemen petir langit di tangan kanannya.
Ia berjalan kearah Rin dengan tatapan datar sebelum menyerangnya menggunakan petir langit yang ada di tangan kanannya.
"AAAKKKHHHH!!! JANGAN!!! JANGAN!!! AAAKKKHHHH!!! Aaakkkhhhh..."
Suara teriakan kesakitan yang berasal dari Rin, menggema ke segala arah hingga mampu didengar oleh Yuki. Teriakan itu hanya bertahan selama beberapa detik sebelum menghilang bersamaan dengan Rin yang tidak sadarkan diri.
"Anakku, kau harus bertahan!" gumam Yuki dengan air mata yang mulai menetes saat mendengar teriakan kesakitan dari Rin.
Sementara itu, pertarungan antara Raiden dan Miyuki melawan Satan, sudah hampir memasuki tahap akhir. Raiden dan Miyuki yang sebelumnya dibuat kerepotan dengan munculnya pasukan arwah, kini berhasil membuat Satan kewalahan.
Mereka berdua melenyapkan pasukan arwah dengan sangat cepat. Lalu, berganti menyerang Satan dengan sepenuh tenaga.
Usaha mereka berdua tidak sia-sia. Mereka berhasil memojokkan Satan hingga benar-benar membuatnya seperti pecundang.
Saat ini, Satan yang yang sebelumnya terdesak, kini sudah mencapai batasnya. Kekuatannya sudah terkuras dan tinggal menunggu waktu untuk dihabisi oleh Raiden dan Miyuki.
Namun, saat hendak diserang untuk terakhir kalinya, Satan tertawa keras sebelum mengucapkan sebuah teknik yang membuat Raiden dan Miyuki terkejut.
"Hahaha... Kalian pikir bisa mengalahkanku hanya dengan kekuatan seperti ini? Tidak! Karena aku punya kartu as terakhir!" ujar Satan.
"Teknik Pengendali Tubuh!"
__ADS_1