Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 2 : Melawan Monyet Api Hitam


__ADS_3

Setelah duduk bersila, Rai langsung mengambil Kristal Naga yang ada dihadapannya kemudian memulai penyerapan.


Energi alam yang besar langsung keluar dari kristal itu. Namun, energi alam ini bukan sembarang energi alam. Karena energi alam yang dipancarkan oleh Kristal Naga adalah energi penyembuh. Energi ini bisa mengobati segala macam penyakit. Tidak hanya itu, energi ini juga mampu memperbaiki garis meridian yang kacau. Oleh karena itu, energi penyembuh ini juga sangat langka dan sulit ditemukan.


Selagi Rai melakukan penyerapan, Raiden juga menyalurkan energi alam miliknya untuk membantu penyerapan.


***


Seminggu kemudian,


Penyerapan yang dilakukan oleh Rai akhirnya selesai setelah satu minggu. Dia membuka matanya dan mencoba untuk menggerakkan bagian tubuhnya yang sempat terluka.


"Ternyata benar. Kristal Naga mengandung energi penyembuh yang sangat besar," gumam Rai.


"Biar kulihat, apakah aku sudah menjadi kultivator?" ucap Rai kemudian memejamkan matanya untuk memeriksa garis meridiannya.


"Benar. Aku sudah menjadi kultivator lagi," gumam Rai lagi.


Dia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Raiden yang sedang tiduran didalam gua. Setelah mengetahui Rai sudah selesai melakukan penyerapan, Raiden langsung mengangkat kepalanya dan mulai menjelaskan tentang langkah selanjutnya.


"Kau sudah selesai. Baiklah, sekarang langkah selanjutnya. Seraplah 1 Pil Mutiara Naga itu secara perlahan. Karena meridianmu baru saja sembuh dan tidak akan bisa terlalu bekerja keras. Mengerti?" jelas Raiden yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh Rai.


Rai kemudian mengambil satu Pil Mutiara Naga dan menelannya. Kemudian mengedarkan energi alam dari pil itu menuju tempat yang disebut dengan Ranah Energi.


***


1 bulan kemudian,


Setelah satu bulan, penyerapan yang dilakukan Rai hampir mendekati puncak. Kini energi alam yang sangat besar sudah memancar dari dalam diri Rai.


Tak lama kemudian, sebuah bayangan seperti prasasti berwarna ungu keluar dari dalam diri Rai lalu masuk kembali kedalam dirinya. Hal ini terus terjadi sebanyak 9 kali, yang menandakan kultivasi Rai telah meningkat sebanyak 9 tahap dan sudah memasuki tingkat selanjutnya.


"Hah... Akhirnya selesai juga. Kini tingkat kultivasiku sudah mencapai Immortal Warrior tahap Junior," gumam Rai setelah membuka matanya.


"Raiden, sudah berapa lama aku berkultivasi?" tanya Rai kepada Raiden.


"Kurang lebih 1 bulan," jawab Raiden.


"Hmm... Tidak mengherankan. Raiden, kapan lagi aku bisa menyerap Pil Mutiara Naga?" tanya Rai.


"Seharusnya 1 minggu. Tapi, untuk menstabilkan pondasimu, kau bisa menyerapnya lagi sekitar 3-4 minggu lagi," jawab Raiden.

__ADS_1


"Itu artinya butuh waktu setidaknya 1 bulan lagi. Tak apalah, yang penting aku sudah menjadi kultivator lagi. Raiden, apakah ada hewan yang bisa aku buru dan diambil kristal jiwanya?" tanya Rai.


"Kalau tidak salah, disekitar sini ada sarang dari Hell Beast tingkat Mortal tahap Biru. Sedangkan, pemimpinnya berada ditingkat Mortal tahap Ungu," ucap Raiden.


"Begitu, ya. Baiklah, saatnya berburu," ucap Rai kemudian berjalan keluar gua.


Namun, Raiden segera menghentikannya, "Tunggu. Apa kau mau berburu tanpa membawa senjata?"


"Oh, iya. Aku lupa," ucap Rai kemudian mengambil pedangnya yang rusak.


"Kau tidak akan bisa mengalahkan mereka dengan menggunakan pedang itu. Sebaiknya kau pakai ini saja," ucap Raiden.


Tiba-tiba muncul seperangkat set tempur dihadapan Raiden. Mulai dari armor, pedang, sepatu besi, sarung tangan besi dan sebuah jubah berwarna biru.


"Pakai itu!"


"Inikan seperangkat set tempur," ucap Rai kagum.


"Benar, ini adalah Lightning Dragon War Set. Master Siegfried sendiri yang menempanya untukku," ucap Raiden.


"Terima kasih," ucap Rai kemudian memasukkan semua itu kedalam cincin penyimpanannya, kecuali pedang dengan bilah berwarna putih.


"Baiklah."


***


Setelah keluar dari gua, Rai kemudian mencari sarang Hell Beast itu. Setelah menemukannya, dia langsung bergerak menuju sarang yang dimaksud.


Ketika hampir sampai disarang Hell Beast itu, Rai memutuskan untuk mengintai terlebih dahulu agar mengetahui kemampuan lawan.


Selama 15 menit dia mengintai, hasilnya Hell Beast yang tinggal didalam sarang adalah Black Fire Monkey atau Monyet Api Hitam.


Monyet ini memiliki kemampuan untuk mengendalikan api hitam yang sangat destruktif. Kenapa begitu? Karena api ini sudah menyatu dengan kegelapan, sehingga membuatnya yang awalnya sudah bisa dijadikan alat pemusnah menjadi lebih mengerikan lagi.


'Monyet Api Hitam ini tidak bisa diremehkan. Walaupun masih dalam tingkat Mortal tahap Biru, tapi dengan api hitamnya itu dia sudah bisa untuk menyulitkan seorang kultivator ditahap Immortal Warrior tahap Beginner,' batin Rai.


"Tak apalah. Walaupun tingkat kultivasiku masih rendah, tapi dengan pengalaman bertarungku yang cukup mumpuni, menghadapai mereka sepertinya bukan masalah," gumamnya.


"Baiklah, saatnya beraksi," ucapnya kemudian mengeluarkan pedang yang diberikan Raiden.


Rai mengalirkan elemen alamnya pada pedang itu hingga merubah warna pedang itu menjadi keunguan. Sedangkan, bilahnya terus dialiri oleh petir ungu.

__ADS_1


Rai melesat cepat kearah sarang Monyet Api Hitam dan menebaskan pedangnya pada monyet-monyet yang keluar dari sarang. Tidak berhenti sampai disitu, Rai terus bergerak cepat menebas para monyet itu.


Tak sampai tiga puluh menit, sudah banyak Monyet Api Hitam yang tumbang dan hanya menyisakan beberapa ekor saja. Tidak ingin membuang waktu, Rai langsung menyerang para monyet itu. Memang mereka melalukan perlawanan, tapi semua itu sia-sia ketika berhadapan dengan pedang dan kecepatan yang dimiliki Rai.


Kini hanya tersisa satu ekor Monyet Api Hitam saja yang tak lain adalah pemimpin kawanan monyet itu.


"Kiieeeekkk... Kiieeeekkk..."


Pimpinan Monyet Api Hitam itu mengeluarkan suara marah dan menatap Rai dengan tajam. Dia kemudian menciptakan bola api hitam dikedua tangannya lalu melemparkannya kearah Rai.


Rai hanya tersenyum lalu menghilang dari tempatnya berdiri. Bola api hitam yang sebelumnya dilemparkan Monyet Api Hitam itu mendarat tepat ditempat Rai berdiri sebelumnya. Bola api hitam itu tidak menimbulkan ledakan besar, namun bola api hitam itu menimbulkan kerusakan yang parah.


Tempat yang terkena bola api hitam itu menjadi berlubang. Tapi, elemen kegelapan yang terkandung dibola api itu membuat lubang ditanah itu semakin besar dan dalam. Karena hal itulah Rai bersyukur karena bisa lebih sigap menghindari serangan.


"Sial, dia setara dengan kultivator tingkat Immortal Warrior tahap Senior. Ini akan sedikit merepotkan," gumam Rai.


Dia kemudian bergerak cepat kearah monyet itu. Lalu diikuti dengan tebasan-tebasan cepat yang dilakukan Rai. Namun, semua tebasan itu seakan tidak berarti bagi pemimpin Monyet Api Hitam, karena dia mendapat perlindungan dari bulunya yang terbuat dari api hitam.


"Tidak mempan dengan tebasan biasa, ya? Baiklah, sekarang rasakan jurus yang aku ciptakan sendiri ini," ucap Rai kemudian mulai mengambil kuda-kuda serangan.


"Delapan Belas Tebasan Dewa Petir!" ucap Rai menyebutkan sebuah jurus.


Setelah itu, Rai menebaskan pedangnya sebanyak delapan belas kali. Kemudian, delapan belas tebasan itu melesat kearah Monyet Api Hitam.


Duarrr... Duarrr... Baamm...


"Groooaaahhh..." teriak Monyet Api Hitam kesakitan.


Tidak berhenti pada satu jurus saja, Rai kemudian menggumamkan sebuah jurus lagi, "Langkah selanjutnya. Medan Es, aktifkan!"


Tiba-tiba, tanah yang mereka pijaki berubah menjadi es. Rai lalu berlari kearah Monyet Api Hitam yang terjatuh setelah terpeleset Medan Es.


"Saatnya mengakhiri ini. Tebasan Petir Pencabut Nyawa!" ucapnya.


Pedang yang dibawa Rai, tiba-tiba mengeluarkan energi petir yang sangat besar. Bersamaan dengan itu, Rai mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat kearah Monyet Api Hitam.


Tebasan itu sangat cepat hingga tak dapat diikuti oleh mata. Namun, tebasan itu juga sangat berbahaya, karena tubuh Monyet Api Hitam terbelah menjadi dua setelah terkena tebasan itu.


"Akhirnya selesai juga," ucap Rai kemudian memasukkan kembali pedangnya kedalam selonsong yang ada dibelakang punggungnya.


"Saatnya mengambil harta karun," tukasnya kemudian mengambil semua Kristal Jiwa milik Monyet Api Hitam.

__ADS_1


__ADS_2