Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 30 : Serangan Ras Vampire dan Menghilangnya Rin


__ADS_3

"Berperang? Berperang melawan siapa?" tanya Adrian.


"Ras Vampire!" jawab Rai datar.


Mendengar jawaban Rai, membuat ketiga anak dari Gubernur Abelard langsung berlari keluar mansion untuk mempersiapkan perang.


Sedangkan, Gubernur Abelard masih saja berdiri ditempatnya sambil memasang raut wajah rumit. Tapi tak lama setelah itu, Gubernur Abelard berjalan dengan tergesa-gesa kearah pintu keluar.


Bersamaan dengan itu, Aaron muncul dari luar mansion lalu menginformasikan bahwa prajurit kota sudah siap untuk berperang.


"Ayah, para prajurit kota sudah bersiap dan tinggal menunggu perintah!" ucap Aaron.


"Pertahankan kota! Kita hadapi pasukan ras vampire dari gerbang kota!" balas Gubernur Abelard memberikan perintahnya.


"Baik, ayah!" balas Aaron lalu pergi dari sana.


Kemudian, Gubernur Abelard memakai semua perlengkapan perangnya yang tersimpan rapi disebuah etalase lalu bergegas pergi keluar mansion.


Tapi, saat Gubernur Abelard pergi keluar dari mansion melalui pintu masuk, tiba-tiba Rai membisikkan sesuatu kepadanya.


"Waspadalah! Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu! Karena aku yang akan merebutnya dan kau tidak akan bisa menghentikan aku!" begitulah kalimat yang dibisikkan oleh Rai kepada Gubernur Abelard yang langsung membuatnya terdiam untuk sesaat.


"Jadi, kau ingin merebutnya, ya? Baiklah! Kalau begitu, aku menantangmu untuk berduel setelah aku selesai membantai para vampire itu!" balas Gubernur Abelard.


"Kuterima tantanganmu!" jawab Rai menerima tantangan Gubernur Abelard lalu menghilang dari tempat itu.


"Cih! Dasar bocah tak tahu diri! Memang dia sangat berbakat! Tapi, tingkat kultivasinya hanya berada ditingkat Mortal General tahap Master! Sangat tidak pantas untuk bertarung denganku yang seorang Immortal General tahap Legend yang akan segera menerobos ini!" gumam Gubernur Abelard lalu menghilang dari tempatnya berada.


***


Digerbang kota,


Saat ini sedang terjadi pertempuran besar yang melibatkan para prajurit kota Petir dan para ras vampire. Pertempuran itu berlangsung sengit dan brutal.


Sudah banyak korban dari ras manusia (para prajurit kota) yang tewas akibat terkena serangan dari ras vampire. Tidak sedikit pula yang tewas akibat darahnya yang diambil oleh ras vampire.


Alhasil, pertempuran itu menjadi pembantaian sepihak yang dilakukan oleh ras vampire. Kini, pasukan dari ras manusia yang masih hidup, hanya tersisa tidak lebih dari 200 orang.


Slash... Zrat... Crash...


"Hahahaha... Bantai! Bantai! Bantai! Ayo bantai para manusia rendahan ini!" teriak seseorang dari ras vampire yang sepertinya merupakan pemimpin dari pasukan vampire.


"Grahhhh... Para vampire ini tidak ada habisnya! Siang bolong seperti ini saja mereka masih bisa bertarung! Padahal biasanya mereka akan keluar dari rumah saat malam hari! Kenapa yang ini tidak?" keluh seorang prajurit kota.


"Kau ingin tahu?" tanya seseorang dibelakang tubuhnya.


Prajurit kota yang mengeluh tadi, segera membalikkan badannya ketika mendengar suara dari belakang tubuhnya. Dan saat dia berbalik, terlihat sesosok vampire berambut putih dengan warna mata merah dan pakaian bangsawan dengan warna yang senada, sedang berdiri dihadapannya.


"K-kau..."


"Kau ingin tahu jawabannya, 'kan?" tanya vampire itu yang langsung dibalas anggukan oleh sang prajurit, "Maka rasakanlah sendiri!"


"Teknik Pengubah Jiwa!" ucap vampire itu yang merupakan pemimpin pasukan ras vampire.


Kemudian, pemimpin pasukan vampire itu, mengeluarkan sebuah ruby berbentuk hati dari dalam jubahnya lalu melemparnya keatas sembari mengalirkan energi alammya ke ruby tersebut.

__ADS_1


"AARRGGHHHH!!!"


Tiba-tiba saja, prajurit yang tadi dihampiri oleh pemimpin pasukan ras vampire itu, berteriak keras seraya memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Tidak hanya itu, kini tubuhnya menggeliat ditanah akibat kepanasan. Bagi orang biasa, mungkin mereka akan melihat bahwa orang itu terkena racun atau sebagainya.


Namun, tidak bagi orang yang memiliki tingkat kultivasi dan penglihatan yang tinggi. Mereka bisa melihat kalau roh dari prajurit itu sedang dimasuki oleh jiwa jahat yang berasal dari ruby berbentuk hati yang sedang melayang itu.


"Hahaha... Rasakanlah! Rasakanlah kekuatan yang memasuki tubuhmu itu!" ucap pemimpin ras vampire.


"Tapak Petir : Penyucian Jiwa!"


BLAAAZZTT...


Tuk... Pyaar...


Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mengucapkan sebuah jurus. Disaat yang bersamaan, prajurit yang tadi berteriak itu, terkena tapak dari seseorang lalu pingsan tak sadarkan diri.


Ruby berbentuk hati yang sebelumnya melayang diudara, kini terjatuh dan hancur berkeping-keping. Hal ini membuat sang pemimpin pasukan vampire marah dan heran diwaktu yang bersamaan.


"Siapa itu?!" tanya pemimpin ras vampire yang langsung terhenti ketika dipotong oleh orang misterius itu.


"Aku!" jawab orang itu yang tak lain adalah Rai.


Slash...


"Aarghh..."


Pemimpin ras vampire mengerang kesakitan ketika pedang yang dibawa Rai mengenai perutnya. Namun, alih-alih mengeluarkan darah, luka yang timbul diperut pemimpin vampire itu justru sembuh dengan sendirinya.


"Hahaha... Kau tidak akan bisa melukaiku!" ucapnya sombong.


"Teknik Pedang : Lima Pedang Alam! Kurungan Alam!" lanjutnya.


Kemudian, Rai membuat segel tangan dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata. Lalu, muncullah lima pedang energi berbeda warna yang langsung melesat kearah pemimpin vampire itu dan mengurungnya disebuah sangkar raksasa.


"L-lepaskan aku! Aarghh..." ucap pemimpin vampire yang diiringi dengan erangan kesakitan akibat tubuhnya yang ditekan oleh aura sangkar raksasa itu.


"Diamlah disana! Aku akan bertarung denganmu begitu selesai membantai pasukanmu itu!" ucap Rai datar.


Rai mengeluarkan Sky Lightning Sword dari cincin penyimpanannya lalu melesat kearah kerumunan orang yang sedang bertarung.


Slash... Slash... Slash...


Zrat... Zrat... Zrat...


Tuk... Tuk... Tuk...


Suara tiga tebasan pedang dan benda jatuh terdengar dengan jelas. Itu membuat semua yang bertarung berhenti untuk memastikan apakah orang itu lawan atau kawan.


Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang dari suatu arah, "Jangan berhenti semuanya! Aku berada dipihak ras manusia! Sebentar lagi bantuan dari sekte Naga Petir akan datang! Kita harus mengulur waktu sampai mereka datang!" teriak orang itu yang tak lain adalah Rai.


"Ya! Ayo kita ulur waktu sampai bantuan tiba! Ayo semuanya!" teriak seorang prajurit menyemangati.


"Ya! Ayo semua!"

__ADS_1


"Ya!"


Kemudian, seluruh pasukan ras manusia yang tersisa, maju menyerang para ras vampire yang masih menatap tajam para ras manusia.


"Mau sampai kapan pun kalian menyerang mereka, para ras vampire golongan elite ini tidak akan bisa dibunuh, kecuali menggunakan elemen suci, salah satunya petir langit!" gumam Rai lalu melesat kearah pasukan ras vampire untuk membantai mereka.


Gruduk... Gruduk...


Tak lama setelah itu, terdengar suara berisik dari langkah kaki kuda yang datang dari arah kota.


"Bantuan datang!" ucap seseorang yang menunggangi kuda dibarisan terdepan.


"Akhirnya mereka datang juga!" gumam Rai ditengah-tengah pembantaiannya.


Gruduk... Gruduk...


Swush...


Slash... Slash...


DUARRRR...


Pertarungan hebat kembali terjadi ketika bala bantuan dari sekte Naga Petir datang. Walaupun tidak bisa membunuh para ras vampire, tapi setidaknya mereka berhasil memukul mundur pasukan itu hingga kembali kewilayahnya.


***


Tap...


Seseorang mendarat tepat diatas benteng kota yang kosong akibat para prajurit yang ditugaskan disana, telah dibunuh oleh pasukan ras vampire.


"Hmm... Sepertinya para ras vampire ini sudah memikirkan rencana penyerangan ini sejak jauh-jauh hari! Buktinya, mereka berhasil membunuh para prajurit dibenteng ini dengan sangat mudah!" gumam orang itu yang tak lain adalah Rai.


"Jika saja aku tidak merasakan hawa keberadaan mereka tadi, sudah pasti akan terjadi pembantaian dikota ini dan pertempuran akan berlangsung didalam kota! Dimana hal ini sangat menguntungkan pihak lawan, karena mereka bisa berpencar ke segala penjuru kota!" lanjutnya.


"Dan ada kemungkinan artefak yang disembunyikan oleh Abelard itu dicuri dalam waktu yang singkat!" tutup Rai.


Tap...


Tak lama kemudian, ada seseorang lagi yang mendarat diatas benteng tepat disamping Rai.


"Kak Ramiel! Bagaimana kondisi Rin dan kak Rainey?" tanya Rai yang sudah tahu kalau orang yang berada disampingnya adalah Ramiel.


"Kondisi Rainey saat ini sudah membaik!" jawab Ramiel.


"Hm? Membaik? Apakah kak Rainey pernah terluka saat aku pergi?" tanya Rai dengan salah satu alis yang terangkat naik.


"Iya! Beberapa jam setelah kau pergi atau lebih tepatnya, malam hari setelah kau pergi, Rainey terluka akibat menahan Rin yang hendak pergi kala itu!" jelas Ramiel.


"Kondisinya yang hamil, membuatnya tidak bisa terlalu lama menahan Rin! Alhasil, ia terluka dibeberapa bagian tubuh dan perutnya sempat kontraksi untuk beberapa saat!" tutup Ramiel.


"Rin pergi?" tanya Rai memastikan.


"Ya! Aku mengirim beberapa penjaga sekte untuk mencarinya dan hasilnya nihil!" jawab Ramiel.


"Hah... Sudah kuduga ini akan terjadi cepat atau lambat!" gumam Rai yang masih bisa didengar oleh Ramiel.

__ADS_1


"Rai, apa maksud ucapanmu?" tanya Ramiel.


"Maaf, kak Ramiel! Tapi, untuk urusan ini aku tidak bisa memberitahumu!" jawab Rai tegas.


__ADS_2