Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 54 : Kastil Raja Petir


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu. Alvarez telah kembali ke keadaan semula. Ia sudah bisa melakukan kegiatannya seperti dulu.


Kini, Rai, Raiden dan Alvarez akan pergi menuju kastil Raja Petir yang berada di kota Petir Abadi.


Seperti namanya, kota Petir Abadi memiliki sebuah fenomena dimana petir menyambar setiap saat. Suara gelegar petir selalu menjadi penghias di kota itu. Para warga di kota Petir Abadi, sudah biasa dengan gemuruh petir itu.


Kota Petir Abadi merupakan kota besar yang maju. Terbukti dengan kehidupan warganya yang sejahtera dan makmur. Ditambah dengan fakta bahwa kota Petir Abadi merupakan pusat perdagangan di seluruh wilayah kerajaan Naga Petir.


Selain menjadi pusat perdagangan, kota Petir Abadi juga menjadi salah satu kota penghasil kultivator berbakat di seluruh Dragonland. Para kultivator di kota Petir Abadi, telah menunjukkan eksistensi mereka sejak ribuan tahun lalu. Mereka juga memiliki andil besar dalam perang besar ribuan rahun lalu.


***


Saat ini, Rai, Raiden dan Alvarez sedang berjalan di tengah kota Naga Jingga menuju portal penghubung yang terletak di gerbang belakang kota.


Sesampainya di sana, Raiden langsung mengurus registrasi dan mengatur kota tujuan mereka.


Tidak butuu waktu lama untuk Raiden mengurus semua itu. Setelah selesai, Raiden memanggil Rai dan Alvarez untuk segera masuk ke dalam portal penghubung.


Alvarez yang masih trauma saat ia pertama kali datang ke Dragonland, menjadi sedikit ragu untuk memasuki portal yang hanya berjarak sejengkal saja dari tubuhnya.


Rai yang berada di belakang Alvarez, menyadari apa yang terjadi pada orang di depannya itu. Tidak ingin menunggu lama, Rai menghela nafasnya lalu mendorong Alvarez dengan sengaja hingga membuatnya masuk ke dalam portal penghubung.


"Dasar anak nakal," gumam Raiden begitu Rai masuk ke dalam portal penghubung dengan wajah senang.


Bruk...


"Argh... Rai! Dasar anak nakal!" teriak Alvarez.


"Salah sendiri lambat!" cibir Rai.


"Hei, kalian berdua! Sudah!" tegas Raiden yang terlihat seperti seorang ayah yang sedang mengasuh anaknya.


Raiden menatap kembali kota kelahirannya itu dengan penuh makna. Ia kembali mengenang momen kebersamaannya dengan keluarganya sewaktu kecil, mengesampingkan pikiran buruk tentang peperangan yang menghancurkan sebagian kota itu.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Raiden. Kita hampir memiliki kisah yang sama," ucap Rai seraya menepuk pundak Raiden.


Raiden tersenyum kepada Rai lalu menganggukkan kepalanya. Ia lalu berjalan menuju kastil Raja Petir yang berada di tengah kota.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk tiba di gerbang utama kastil Raja Petir yang dijaga oleh dua ksatria kembar dengan masing-masing tanduk di bagian kanan dan kiri.

__ADS_1


"Siapa kalian? Apa kalian sudah memiliki janji dengan raja?" tanya ksatria dengan tanduk di sebelah kanan.


"Raja? Ho... Siapa raja baru di kerajaan ini?" tanya Raiden penasaran.


"Raja kami adalah Yang Mulia Ryuu!" jawab ksatria bertanduk kiri.


"Ryuu? Dia yang menjadi raja?" tanya Raiden tidak percaya.


"Hei! Tidak ada yang boleh memanggil Yang Mulia Ryuu tanpa gelarnya, kecuali guru beliau!" jawab ksatria bertanduk kanan.


"Heh! Kalau begitu, siapa guru dari raja kalian?" tanya Raiden.


"Guru dari Yang Mulia Ryuu adalah Mahaguru Raiden!" jawab ksatria bertanduk kanan.


"Mahaguru Raiden juga guru kami dan Yang Mulia Ryuu merupakan kakak seperguruan kami!" sambung ksatria bertanduk kiri.


"Sepertinya aku telah menjadi seorang yang dihormati di sini ya, Kenji dan Kenzou?" ujar Raiden yang seketika membuat kedua ksatria itu terkejut.


"B-bagaimana kau tahu nama asli kami?" kata Kenji, sang ksatria dengan tanduk di sebelah kanan.


"Benar! Selama ini, semua orang selalu memanggil kami dengan sebutan Ksatria Tanduk Kembar! Yang mengetahui nama asli kami hanyalah guru kami dan kakak seperguruan kami! Siapa kau sebenarnya?" tanya Kenzou, ksatria dengan tanduk di sebelah kiri.


Swosh...


Sebuah pancaran aura, keluar dari dalam tubuh Raiden. Mengelilinginya layaknya sebuah tali yang mengikat tubuhnya. Perlahan, aura itu menampilkan sosok Raiden yang berbeda.


Raiden yang sekarang, memiliki rambut berwarna hitam panjang dikucir kuda dengan dua tanduk besar berwarna hitam. Lalu, beberapa sisik naga juga muncul di kedua pipi serta punggung tangan Raiden.


Pakaiannya pun berubah layaknya pakaian samurai dengan plat besi yang menutupi bagian dada, bahu, lengan, perut, punggung serta paha. Ditambah dengan dua pedang katana yang tersarung di sebelah kiri pinggang Raiden.


Kenji dan Kenzou yang melihat perubahan pada Raiden, menatap tidak percaya dan hampir menangis.


"G-Guru!!!"


Mereka berdua berlari menuju Raiden dengan air mata bahagia. Mereka tidak menyangka jika guru mereka tidak gugur di medan pertempuran dan kembali muncul di hadapan mereka


"Sudah ribuan tahun ya? Kenji, Kenzou! Usia kalian sudah menginjak umur 1560 tahun, apa kalian tidak malu jika masih bertingkah layaknya anak-anak?" tanya Raiden yang dibalas dengan gelengan kepala oleh mereka berdua.


"Oh, iya! Dimana Ryuu? Aku penasaran dengan kekuatan anak bandel itu!" ucap Raiden.

__ADS_1


DUARRR...


"Guru!!!" Ryuu yang menyebabkan ledakan itu, berlari menghampiri Raiden dengan posisi lengan siap memeluk.


Raiden tersenyum lebar saat melihat Ryuu untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun. Namun, senyumnya berubah menjadi kebengisan dan siap memukul Ryuu.


Duak...


"Dasar murid kurang ajar! Kau berani mengejutkan gurumu ini?!" bentak Raiden yang membuat Ryuu tertunduk.


"Sudahlah, ayo masuk!" ajak Raiden sembari melenggang pergi.


***


Di dalam kastil,


Raiden, Rai dan Alvarez berjalan pelan sembari mengagumi keindahan interior kastil yang mewah.


Dindingnya dilapisi oleh emas. Lalu, lantainya dilapisi marmer dengan karpet emas yang membentang panjang. Singgasana emas dengan hiasan berlian. Dan sebuah patung emas pedang raksasa yang dililit oleh seekor naga di belakang singgasana.


"Aku tidak menyangka kau berhasil tinggal di kastil ini, Ryuu!" puji Raiden.


"Yah, ini semua berkat pelatihan guru selama ini!" balas Ryuu sembari menggaruk kepala belakangnya.


"Oh, iya! Guru, siapa dua orang yang datang bersamamu itu?" tanya Ryuu yang sedari tadi memperhatikan kehadiran Rai dan Alvarez.


"Oh, mereka teman seperjalananku! Ini, Rai! Orang yang menemukanku di tempat persembunyian! Dan dia, Alvarez! Kami bertemu di kota Centoria!" jawab Raiden yang dibalas dengan anggukan oleh Ryuu.


"Ryuu! Sebenarnya kami datang ke sini dengan maksud penting!" ucap Raiden mengutarakan apa rencananya.


"Maksud apa itu, Guru?"


"Kami ingin mengakses ruang rahasia itu! Hal ini berkaitan dengan bangkitnya 'Sang Terpilih' dan balas dendam kita!" ucap Raiden dengan serius.


Raut wajah Ryuu yang semula bersahabat berubah menjadi serius setelah mendengar kalimat terakhir dari Raiden.


"Apa saja yang kau butuhkan, Guru? Murid akan menyiapkannya secepat dan sebaik mungkin!" ucap Ryuu.


"Bagus, kau memang muridku! Baiklah, persiapkan tiga ruangan kultivasi, dua kolam kesadaran, akses menuju Kolam Sambaran Dewa dan akses menuju Gunung Petir!" jawab Raiden yang langsung disanggupi oleh Ryuu.

__ADS_1


"Baik, Guru! Murid akan menyiapkannya dalam 1 malam!"


__ADS_2