
Setelah perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya Rai sampai didepan gua yang merupakan sarang dari Ular Racun Neraka. Sama seperti sebelumnya, Rai memilih untuk mengintai terlebih dahulu agar mengetahui kekuatan lawan.
Namun, selama lima belas menit mengintai, Rai tidak menemukan apapun selain dengkuran dari Ular Racun Neraka itu sendiri.
'Ular itu tertidur? Tapi, bagaimana mungkin? Ketika aku sampai tadi, aku masih bisa merasakan auranya. Apa jangan-jangan?' batin Rai.
Rai tersenyum sejenak sebelum mengeluarkan Holy Ice Sword dari cincin penyimpanan miliknya dan mengeluarkan lagi sebilah pedang biasa dari cincin penyimpanan para bandit.
Kemudian, dengan sangat cepat Rai masuk kedalam gua itu. Saking cepatnya gerakan itu, tidak akan ada yang tahu bahwa Rai telah ada diatas kepala dari Ular Racun Neraka dan sedang bersiap untuk menghujamkan pedangnya.
"Ledakan Es Pembeku!" ucap Rai.
Setelah Rai mengucapkan jurus itu, aura es intens langsung terasa. Aura itu juga membuat bilah dari Holy Ice Sword semakin besar dan besar. Tidakk hanya itu saja, aura yang keluar dari Holy Ice Sword juga sangat dingin. Jika ada orang lain disana, bisa dipastikan bahwa tubuhnya akan membeku.
Rai bersiap untuk menghujamkan pedangnya setelah aura es yang keluar dari Holy Ice Sword sudah sangat besar. Kini ia sedang bersiap untuk menghujamkan pedangnya.
Holy Ice Sword yang dilesatkan Rai hampir mengenai kepala dari Ular Racun Neraka. Setelah cukup dekat, ledakan aura es yang sangat kuat terjadi dan menyebabkan kepulan asap yang membumbung tinggi.
Rai kembali mendarat didekat dinding gua. Tapi, raut wajahnya masih sangat serius. Sesat kemudian kepulan asap tadi perlahan memudar dan Holy Ice Sword kembali kedalam genggaman Rai.
Dia kemudian mengalirkan elemen alamnya kepedang biasa yang ia bawa. Pedang itu langsung dialiri oleh petir ungu dan mengeluarkan aura yang sangat kuat.
Tanpa basa-basi, Rai langsung melesat lagi kearah Ular Racun Neraka sembari mengucapkan sebuah jurus, "Rentetan Ledakan Petir!"
Dengan segera, Rai mengayunkan pedang petirnya itu sejajar dengan tubuh Ular Racun Neraka. Tebasan itu diiringi dengan rentetan ledakan yang mengenai tubuh Ular Racun Neraka.
"Sekarang saatnya!" teriak Rai.
Tiba-tiba dari dalam kepulan asap hasil ledakan tadi, muncul seseorang yang menggenggam Sky Lightning Sword sambil menggumamkan sebuah jurus.
"Tebasan Naga Petir! Level 1 : Tebasan Naga Ungu!" ucap sosok itu.
Sky Lightning Sword bersinar terang untuk sesaat sebelum muncul seekor naga petir berwarna ungu yang melilit bilahnya. Sosok itu mengayunkan Sky Lightning Sword kearah Ular Racun Neraka.
Naga petir yang melilit Sky Lightning Sword, seketika melepas lilitannya dan menerjang maju kearah Ular Racun Neraka sembari berteriak kencang.
GROOOAAAHHH...
BOOOOMMM...
Ledakan terjadi ketika naga petir itu menabrak tubuh Ular Racun Neraka. Kepulan asap kembali menutupi pandangan. Namun, setelah kepulan asap menghilang, masih tampak sosok Ular Racun Neraka yang menderita luka disekujur tubuhnya.
"Heh, sudah kuduga. Racun yang ada dalam dirinya masih lebih kuat dari serangan tadi. Sepertinya aku harus menggunakan level kedua dari jurus Tebasan Naga Petir," gumam Rai.
"Kembali!" lanjutnya.
Kemudian, sosok yang membawa Sky Lightning Sword tadi, tiba-tiba saja muncul disamping Rai. Ia kemudian memasukkan kembali pedang biasa yang diambil dari cincin penyimpanan para bandit dan mengambil Sky Lightning Sword dari sosok itu.
__ADS_1
Rai menjentikkan jarinya dan seketika sosok itu tadi menghilang, "Rencana pertama, selesai! Saatnya menjalankan rencana kedua!" gumam Rai.
Tssaaahhh...
Ular Racun Neraka mendesis. Dia memalingkan kepalanya kearah Rai dan mulai menyemburkan racunnya. Rai berhasil menghindar tepat sebelum racun itu mengenai dirinya.
"Memang pantas disebut Ular Racun Neraka. Karena racunnya sangat panas dan mendidih. Beruntung tadi aku bisa menghindar," gumam Rai setelah melihat tempatnya tadi berdiri mulai termakan racun.
Rai melesat dengan cepat kearah Ular Racun Neraka. Dia kemudian menebaskan Sky Lightning Sword ke kepala Ular Racun Neraka. Namun...
Tringg...
Terdengar suara seperti dentingan besi. Suara itu berasal dari benturan antara Sky Lightning Sword dengan kepala Ular Racun Neraka yang keras.
"Seperti dugaanku. Sisik yang ada dikepalanya lebih keras daripada sisik yang ada ditubuhnya," gumam Rai.
Dia hendak melompat untuk melakukan serangan lanjutan. Sampai tiba-tiba Ular Racun Neraka menggoyangkan kepalanya dan hampir membentur dinding gua. Rai sempat kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh ketika Ular Racun Neraka menggoyangkan kepalanya.
Tapi, Rai berhasil untuk tetap berdiri setelah membekukan kakinya diatas kepala Ular Racun Neraka.
"Aku harus mencari kesempatan untuk bisa melakukan level 2 dari jurus Tebasan Naga Petir!" gumam Rai.
Rai kemudian melepaskan kakinya dari es lalu melompat tinggi keatas dan mendarat diatap gua. Dia menyarungkan Sky Lightning Sword dan menggenggam Holy Ice Sword dengan dua tangan.
"Aku harus melakukannya walaupun belum sempurna!" gumam Rai.
Rai kemudian melempar Holy Ice Sword tepat disamping tubuh Ular Racun Neraka. Tiba-tiba tercipta sebuah ruangan yang dindingnya terbuat dari es dan mengurung tubuh Ular Racun Neraka. Seketika, pergerakan yang dilakukan oleh Ular Racun Neraka terhenti. Tubuhnya tidak bergerak seperti membeku.
Rai kemudian mendarat dan melompat tepat disamping Holy Ice Sword, 'Aku tidak akan bisa menggunakan jurus Seribu Pedang Petir jika belum sampai ditingkat Immortal King!' batin Rai.
"Baiklah. Rasakan ini! Sinar Petir Pembunuh!" ucap Rai.
Dia kemudian mengayunkan Sky Lightning Sword kearah dinding es. Dari tebasan itu, muncul sebuah sinar pedang yang dialiri petir dan masuk kedalam dinding es. Setelah itu, Rai menjulurkan tangan kirinya sambil mengucapkan sebuah jurus.
"Muro de Hielo! Reflejar!" ucapnya. Dinding es bersinar terang untuk sesaat sebelum meredup kembali.
Sementara itu didalam dinding es, Ular Racun Neraka sedang berusaha menghancurkan dinding es yang mengurungnya dengan racun neraka miliknya. Namun, belum sampai dinding es hancur, sebuah cahaya petir berwarna ungu masuk kedalam dinding es dan mulai menyerang Ular Racun Neraka.
Ular Racun Neraka sempat berpikir kalau dia menghindarinya, maka serangan itu akan langsung musnah sama seperti serangan biasa.
Tapi, sayangnya hal itu tidak terjadi. Karena cahaya petir tadi terus memantul didinding gua dan menyerang Ular Racun Neraka hingga membuatnya kesulitan untuk menghindari serangan itu. Hingga...
Zrat... Crash...
"GROOOAAAHHH..."
Ular Racun Neraka berteriak kesakitan setelah ekornya putus akibat terkena cahaya petir itu. Kini dia berharap bahwa serangan tadi akan benar-benar berhenti. Tapi, itu tidak terjadi. Karena cahaya petir tadi terus mengikis sisiknya dan perlahan memotong dagingnya.
__ADS_1
***
Setelah puas menyiksa Ular Racun Neraka selama tiga puluh menit, Rai akhirnya berhenti dan menghancurkan dinding es yang dihadapannya.
Setelah dinding es menghilang, tampak Ular Racun Neraka yang terkulai lemas. Tubuhnya penuh oleh darah. Bahkan, tubuhnya terus mengeluarkan darah dari bagian belakang tubuhnya setelah ekornya putus.
"Sekarang saatnya mengakhiri! Tebasan Naga Petir! Level 2 : Tebasan Naga Petir Langit!" ucap Rai.
Kemudian, Sky Lightning Sword bersinar terang sambil terus mengeluarkan petir langit. Petir langit itu terus mengeluarkan aura yang kuat dan membuat seisi gua bergetar.
Setelah Sky Lightning Sword berhenti mengeluarkan petir langit, Rai langsung menebaskan pedangnya kearah kepala dari Ular Racun Neraka. Tebasan itu menciptakan cahaya petir ungu yang membentuk naga dan terus menerjang kearah Ular Racun Neraka.
BOOOOMMM...
Ledakan besar terjadi. Walaupun serangan tadi sekilas mirip dengan jurus level 1, tapi serangan tadi memiliki daya hancur yang lebih kuat. Karena serangan itu berasal dari petir langit yang notabene lebih kuat dari petir biasa.
Kendati begitu, serangan level 2 lebih banyak memakan energi alam. Apalagi jika dikombinasikan dengan Ilusi Es, energi alam yang harus dikeluarkan juga lebih banyak.
Kembali ke Rai,
Setelah selesai mengambil Kristal Jiwa dan beberapa bagian tubuh Ular Racun Neraka, Rai kembali ke gua tempat Raiden tinggal.
***
Sesampainya di gua,
"Apa itu tadi?" tanya Raiden begitu melihat Rai telah kembali.
"Apa? Tentang bagaimana caraku membunuh Ular Racun Neraka?" tanya Rai yang dibalas dengan anggukan oleh Raiden.
"Aku menggunakan jurus Ilusi Es dan level kedua dari jurus Tebasan Naga Petir," lanjut Rai.
"Bukan, bukan yang itu. Maksudku, kenapa kau menyerang Ular Racun Neraka secara tiba-tiba dan mendadak? Bukankah itu tindakan curang?" ucap Raiden.
"Curang? Didunia yang penuh tipu daya ini? Tidak ada yang namanya curang. Semua orang didunia ini pasti pernah melakukan kecurangan. Entah itu kecurangan dalam hal perdagangan, permainan, ataupun pertarungan," ujar Rai.
"Dan untuk pertarunganku tadi, itu adalah salahnya sendiri. Karena telah meremehkan lawannya," lanjut Rai.
"Maksudnya?" ucap Raiden sedikit tidak mengerti.
"Saat aku sampai disarangnya tadi, aku masih bisa merasakan auranya. Tapi, ketika aku mengintainya, dia berpura-pura tidur agar aku terpancing untuk memasuki guanya. Oleh karena itu, aku menyerangnya lebih dulu," jawab Rai.
"Tapi, bukankah kau bisa menunggunya hingga bangun," ujar Raiden.
"Seperti kataku tadi, dia terlalu meremehkan lawannya. Dia akan terus berpura-pura tidur dan membiarkan musuh menyerangnya. Setelah musuhnya kehabisan energi alam, baru lah dia menyerang," jawab Rai.
"Bagaimana bisa kau mengetahuinya dalam sekali lihat?" tanya Raiden lagi.
__ADS_1
"Karena dulu orang-orang menyebutku sebagai, Mata Dewa," jawab Rai.