Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 45 : Rai VS Leviathan


__ADS_3

Pertarungan antara Jinlong melawan Albert, telah berakhir. Begitu juga dengan Theron, Raiden dan Violet. Terkhusus Violet, wajahnya nampak berseri dengan darah yang memenuhi seluruh wajahnya.


Dikedua tangannya terdapat sebilah pedang rapier dan kepala Rafael yang ia mainkan dengan cara diputar-putar. Hal itu membuat Violet tampak seperti seorang dewi kematian yang siap mencabut nyawa siapapun di hadapannya.


Tersisa satu pertarungan lagi yang masih belum terlaksana. Yaitu, pertarungan antara Rai dengan Leviathan. Kedua orang itu masih bertatap-tatapan dengan sorot mata yang saling bertolak belakang.


Leviathan dengan sorot mata marah akibat seluruh pengawalnya telah dibabat habis. Sementara Rai dengan sorot mata tenang dan kalem.


Adu tatap itu membuat suasana di sekitar menjadi hening hingga suara desiran angin mampu terdengar dengan jelas.


Sunyi...


Sehelai daun yang terbang tertiup angin, tiba-tiba muncul di antara Rai dan Leviathan. Ketika daun itu jatuh, Leviathan langsung menyerang Rai menggunakan sebuah tinju yang siap ia lesakkan kapan saja.


"Hiyaa..."


DUARRRR...


Sebuah suara dentuman terdengar keras ketika tinju Leviathan mengenai salah satu anggota tubuh Rai. Anggota tubuh yang dimaksud adalah telapak tangan.


Rai berhasil menahan tinju Leviathan yang penuh akan tenaga hanya dengan satu telapak tangan. Ia menahan tinju Leviathan layaknya menangkap sebuah apel yang dilempar ke arahnya.


"Serangan ini masih terlalu lemah! Coba lagi!" Rai menghempaskan Leviathan dengan energi alamnya.


Leviathan terhempas ke belakang beberapa meter. Beruntung ia mampu melakukan pendaratan sempurna.


Leviathan kembali menatap Rai. Sorot matanya tidak lagi menunjukkan amarah. Melainkan kebencian mendalam yang ia tujukan ke Rai.


"Rai!!! Kau telah membunuh seluruh pengawalku! Bersiaplah untuk mendapatkan hukuman yang sangat berat!" ucap Leviathan dengan marah. Perlahan warna iris mata Leviathan berubah. Dari yang semula berwarna hitam pekat, berubah menjadi warna merah darah.


"Envy Blood Rage Mode!!!" Leviathan mengucapkan sebuah teknik dengan suara yang keras.


Sebuah aura berwarna merah tiba-tiba muncul dan langsung menyelimuti seluruh tubuh Leviathan. Otot-otot yang berada di seluruh tubuhnya, membesar hingga lima kali lipat dan membuat baju yang dikenakannya robek. Hanya tersisa celana berwarna hitam yang juga sudah robek di beberapa bagiannya.


Tanduk Leviathan ikut tumbuh hingga tiga kali lipat. Membuat kedua tanduknya itu menutupi seluruh dahinya.


"Rai! Kau akan aku hukum!" teriak Leviathan yang kini penampakannya seperti raksasa dengan tinggi 7 meter.


"Oh, mode rage ya? Kebetulan sekali, aku juga punya mode rage! Tapi, sayang sekali kau masih belum pantas untuk melihatnya!" ujar Rai dengan nada mengejek.


"Apa kau sedang menghinaku?!" tanya Leviathan marah.


"Sebenarnya, aku tidak menghinamu! Tapi, jika kau yang merasa begitu, ya mau bagaimana lagi?" balas Rai kembali menghina.


"Kau... KAU!!! DASAR BAJ*NGAN KECIL!!!"


Leviathan berlari ke arah Rai dan bersiap menyerangnya dengan tinju raksasanya. Namun, serangan itu masih bisa dihindari dengan mudah oleh Rai, karena pergerakan yang dilakukan Leviathan menjadi lambat akibat dari ukuran tubuhnya yang tidak normal.


"Apa kau mau mengataiku baj*ngan lagi sekarang?"


"GRAHHHH!!! BAGAIMANA KAU BISA BEGITU CEPAT?!!!"


Terprovokasi dengan ucapan Rai, Leviathan berteriak marah sembari kembali melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah Rai.

__ADS_1


Namun, semua itu sia-sia. Karena Rai mampu menghindari itu semua dengan mudah.


***


Di sisi lain,


Rai menghindari serangan-serangan Leviathan dengan mudah. Gerakan mengelaknya yang fleksibel, membuatnya terlihat elegan.


Namun jika diperhatikan lagi, warna iris mata Rai berubah menjadi warna emas. Terlihat juga bola mata Rai yang bergerak ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu.


Rai saat ini sedang menggunakan tahap pertama dari teknik Mata Dewa. Tahap pertama dari teknik ini memang hanya merubah warna iris matanya saja. Namun, kekuatan yang ada di dalam teknik tahap pertama ini tidak bisa diremehkan.


Ketika menggunakan tahap pertama teknik Mata Dewa, Rai mampu melihat titik kelemahan orang lain serta saluran meridian orang lain.


Jika lebih rinci lagi, teknik Mata Dewa ini terbagi menjadi 3 tahap. Tahap pertama sama seperti yang Rai gunakan saat ini. Tahap kedua yang pernah Rai gunakan ketika menghadapi Satan. Dan tahap ketiga yang masih belum pernah Rai gunakan.


Alasan Rai tidak pernah menggunakan tahap ketiga adalah karena besarnya konsumsi energi alam yang dibutuhkan untuk menggunakan tahap ketiga tersebut. Serta kekuatan luar biasa yang masih belum sepenuhnya dikuasai oleh Rai.


***


DUARRRR...


"Grahhhh... Kau ini sebenarnya apa, hah?!"


Untuk ke sekian kalinya, ucapan itu keluar dari mulut Leviathan ketika serangannya kembali dihindari oleh Rai dengan sangat mudah.


"Aku? Aku adalah pencabut nyawamu!"


Rai kembali melompat untuk menghindari serangan Leviathan. Di udara, ia mengeluarkan Sky Lightning Sword dari cincin penyimpanannya dan langsung mengalirkan petir langit ke pedang tersebut.


Raut wajah ketakutan terpampang jelas di wajahnya. Hati nuraninya menyuruhnya untuk segera lari dari sana. Namun, akal pikirannya menyuruhnya untuk tetap melawan Rai atas dasar gengsi.


"Tidak mungkin..."


"Ada apa, Leviathan? Takut?" tanya Rai dengan senyum menghina.


"Takut? Huh, aku tidak perlu takut untuk menghadapi makhluk rendahan sepertimu!" jawab Leviathan.


"Envy Blood Fist!" sebuah cairan darah berwarna merah gelap, tiba-tiba muncul dari kekosongan dan langsung menyelimuti kepalan tangan kanan Leviathan.


Ketika cairan darah itu sudah mencapai titik kepadatan yang diinginkan, Leviathan segera melompat dan menyerang Rai menggunakan tinju tersebut.


Dalam sedetik, Rai menghindar dengan cepat bak cahaya. Tatapan matanya tidak lepas dari serangan Leviathan yang masih terus melaju.


'Hmm... Teknik darah. Dia tidak akan bisa dilukai menggunakan serangan biasa. Petir langit pun akan sedikit susah untuk menghancurkannya, selama ada darah di sekitarnya,' batin Rai.


'Darah... Perasaan ini...' sekejap, Rai teringat akan kenangan buruk saat keluarganya dibantai.


'Memori ini...' semakin lama, memori yang muncul di ingatan Rai semakin jelas.


'Ini semua... Membuatku marah...'


"GRAHHHH..."

__ADS_1


"Tubuh Dewa Petir!"


Bzzzt... BLAAAZZTT...


Petir langit menyambar tubuh Rai. Menyebabkan fluktuasi energi yang tidak stabil di dalam tubuhnya dan membuat banyaknya petir langit yang menyelimuti tubuh Rai.


"Mata Dewa! Tahap ketiga : Aktif!"


Awan hitam muncul secara tiba-tiba. Menyelimuti langit biru dan menebarkan kegelapan. Sebuah siluet cahaya emas berbentuk silinder, muncul dari awan hitam itu dan meluncur ke bawah menembus kedua mata Rai yang menghadap ke atas.


Perlahan, iris mata Rai berubah warna menjadi emas dan sklera matanya berubah menjadi hitam. Sebuah corak berbentuk matahari hitam, muncul di kedua iris mata Rai dan dahinya.


Raiden yang melihat fenomena alam tak biasa itu, menjadi was-was. Raut kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.


"Ada apa, Raiden?" tanya Violet yang melihat perubahan raut wajah Raiden.


"Rai dalam bahaya! Teknik Tubuh Dewa Petir serta teknik Mata Dewa yang saat ini ia gunakan, akan berbahaya bagi tubuhnya!" jawab Raiden tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Apa yang kita tunggu? Ayo, segera bantu Tuan!" desak Theron dengan cemas.


"Jangan! Saat ini, Rai masih dalam amarah yang tak terkendali! Jika kita membantunya sekarang, takutnya kita yang akan terkena imbasnya!" cegah Raiden.


"Lalu, bagaimana cara dia untuk bisa lepas dari kedua teknik itu?" tanya Violet.


"Satu-satunya cara adalah dengan membiarkannya! Dengan terbunuhnya Leviathan, Rai akan kembali seperti semula, walaupun dengan beberapa luka!" jawab Raiden.


***


Trang... Trang... Trang...


Rai menyerang Leviathan dengan cepat. Pergerakannya yang cepat membuat Leviathan tak dapat melihatnya sehingga mampu memojokkan Leviathan. Dua bola mata Rai bergerak ke kanan dan ke kiri setiap tubuhnya bergerak.


Serangan-serangan yang dilakukan Rai semakin cepat dan intens. Membuat Leviathan benar-benar tak berkutik. Terlihat banyak sekali luka yang timbul di tubuhnya.


Luka-luka itu mengeluarkan darah yang seharusnya mampu dimanipulasi oleh Leviathan. Namun, karena dihalangi oleh Rai, Leviathan menjadi seperti anak kecil yang meringkuk ketakutan.


Serangan-serangan Rai bertahan untuk beberapa saat, hingga dirinya memutuskan untuk berhenti menyerang.


Nafasnya terengah-engah. Kedua matanya mengeluarkan darah. Telapak tangannya yang digunakan untuk menggenggam gagang pedang, juga berdarah.


"Ada apa, Rai? Apa kau sudah kelelahan?" tanya Leviathan bermaksud menghina.


Rai tersenyum. Ia lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya kembali, "Teknik Serangan Tak Kasat Mata! Bayangan Pedang!"


Hawa di sekitar Leviathan tiba-tiba berubah drastis. Dirinya kini merasakan hawa yang mencekam dan membuatnya ketakutan.


Tak lama berselang, terdengar suara gesekan pedang yang mengenai tubuhnya. Sakit, itu yang dirasakan Leviathan. Namun, dirinya tidak dapat berteriak, karena serangan tak kasat mata itu selalu muncul ketika dirinya hendak berteriak.


Beberapa menit berlalu dengan cepat. Hawa yang mencekam itu kini telah menghilang. Bersamaan dengan menghilangnya Leviathan dari muka Bumi ini.


Rai berhasil mengombinasikan sebuah teknik lagi. Yaitu, teknik Serangan Tak Kasat Mata dengan petir langit yang mampu membunuh Leviathan.


Brukk...

__ADS_1


Rai terjatuh. Tubuh Dewa Petir mulai menghilang dari tubuhnya. Teknik Mata Dewa, juga mulai memudar. Menyisakan Rai yang terjatuh dengan mata mengeluarkan darah.


__ADS_2