
Setelah babak penyisihan berakhir, Rai kembali ke penginapan tempatnya menginap sebelumnya untuk berlatih sembari menunggu babak selanjutnya yang akan dilaksanakan dua hari lagi.
Begitu sampai dipenginapan, Rai tidak langsung menuju kekamarnya, melainkan kerestoran dilantai bawah terlebih dahulu.
"Sepi sekali!" gumam Rai.
Keadaan restoran kala itu memang sepi, karena semua pengunjungnya masih berada disekte Naga Petir untuk melihat pertandingan.
Rai berjalan dan duduk disalah satu meja yang kosong kemudian memesan makanan. Saat Rai sedan menunggu makanan, tiba-tiba ada suara seorang wanita yang memanggilnya dari arah tangga penginapan.
"Rai!" ucap suara wanita itu.
Rai mengalihkan pandangannya, kearah suara itu dan membalas sapaannya, "Oh, Rin! Kemarilah!"
Wanita yang memanggil Rai itu tidak lain adalah Rin. Dia memang sudah pulang terlebih dahulu, sebelum Rai bertanding akibat cedera yang dideritanya.
"Bagaimana pertandinganmu?" tanya Rin setelah duduk dihadapan Rai.
"Ya, seharusnya kau bisa menebaknya. Kau sendiri?" balas Rai.
"Yah, keadaanku sudah lebih baik daripada sebelumnya. Hanya tinggal memulihkan energi saja!" jawab Rin.
"Oh, begitu. Kau mau makan?" tanya Rai.
"Tidak, aku sedang tak berselera!" jawab Rin.
"Baiklah!" tak lama kemudian, makanan yang dipesan Rai datang. Tanpa menunda lagi, dia segera memakannya dengan lahap.
"Rai, sebaiknya kau berhati-hati!" ucap Rin tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Anak ketiga dari Gubernur Abelard, Audi sedang mengincarmu! Dia ingin mendapatkanmu sebagai kekasihnya!" ucap Rin.
"Oh, wanita curang itu? Tenanglah, aku punya cara tersendiri untuk menghadapinya!" jawab Rai.
"Baiklah! Kalau begitu, aku kekamarku sendiri dulu, ya?" ucap Rin yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Raiden, apakah Rin bisa menyerap Pil Mutiara Naga?" tanya Rai kepada Raiden melalui telepati.
"Tentu! Dia 'kan keturunan Ice Dragon!" jawab Raiden.
"Rin, tunggu sebentar!" ucapan Rai membuat Rin menghentikan langkahnya.
"Terima ini! Kau boleh menyerapnya, tapi ingat! Jarak dalam menyerap pil itu adalah satu bulan mengerti?" ucap Rai seraya melemparkan tiga Pil Mutiara Naga.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih!" ucap Rin.
***
2 hari kemudian,
Setelah dua hari berlalu, Rai dan Rin pergi menuju sekte Naga Petir untuk mengikuti babak selanjutnya dari ujian sekte ini.
Sesampainya disana, Rai dan Rin kembali menuju keruang tunggu masing-masing. Mereka menunggu hasil undian yang akan menentukan lawan mereka dibabak ini.
"Selamat datang kembali! Saya tetua Adraksh akan kembali menjadi wasit dipertandingan kali ini!" ucap tetua Adraksh yang dibalas dengan sorakan oleh para penonton.
"Hari ini adalah babak 16 besar. Sistem ujiannya akan berbeda dengan babak penyisihan. Semua peserta laki-laki dan perempuan akan dipertemukan diatas arena melalui undian. Siapa pun yang menang, akan melaju kebabak selanjutnya dan melawan peserta lain yang menang kali ini!" jelas tetua Adraksh.
"Kalau begitu kita mulai undiannya!" ucap tetua Adraksh yang kemudian menuju alat pengundian.
Alat pengundian itu sendiri terbuat dari kayu dan berbentuk lingkaran raksasa. Tetua Adraksh kemudian memasukkan beberapa kertas yang berisikan nama-nama peserta ujian.
"Baiklah, pertandingan pertama mempertemukan antara Rai Tanaka dengan Swinford!" ucap tetua Adraksh setelah memutar alat pengundian itu dan mengeluarkan dua kertas yang berisikan nama Rai Tanaka dan Swinford.
Rai dan orang yang bernama Swinford itu kemudian memasuki arena pertarungan. Namun, mereka berdua sedikit terkejut ketika mengetahui orang yang akan dilawannya siapa.
"Kau... Kau orang yang menyinggung tuan muda Adrian itu 'kan?" ucap Swinford yang ternyata adalah pengawal dari Adrian.
Swinford langsung maju menyerang Rai, begitu tetua Adraksh memulai pertandingan. Dia menggunakan sebilah kapak raksasa yang dialiri oleh petir ungu.
Swinford menyerang Rai dengan membabi buta. Dia mengayunkan kapaknya dengan sekuat tenaga dan berniat untuk membelah tubuh Rai. Tapi, Rai bisa menghindari semua serangan itu dengan mudah.
"Kenapa kau terus menghindar 'hah?!" tanya Swinford geram.
"Kau bodoh atau bagaimana? Jelas-jelas kau menyerangku dan aku menghindar lah. Lain kali kalau pakai otak itu, dikepala. Bukan dilutut, tahu?" jawab Rai.
"Grahhhh... Kau membuatku marah! Terima ini! Serangan Kapak Pembelah Awan!" ucap Swinford.
Swinford kemudian mengayunkan kapaknya yang dialiri petir ungu kearah Rai secara vertikal. Rai masih diam ditempat, membuat Swinford yakin akan memenangkan pertandingan ini.
DUARRR... BOOOOMMM...
"Akhirnya mati juga... Hah... Hah..." ucap Swinford kelelahan.
"Hei, siapa yang mati?" tanya Rai yang tiba-tiba ada dibelakang Swinford.
"Orang brengsek itu... Apa?! Bagaimana bi..." Swinford terkejut karena Rai telah berada dibelakangnya dan bersiap untuk memukulnya.
"Pukulan Petir Pelumpuh!" ucap Rai kemudian memukul Swinford sekuat tenaga hingga keluar arena dan pingsan.
__ADS_1
"Ck... Ck... Ck... Swinford... Swinford... Aku bilang untuk menggunakan otak dikepala 'kan? Kenapa kau menggunakan jurus yang berfungsi untuk membelah awan, sedangkan arena ini berada ditanah?" gumam Rai pelan.
Namun, gumaman itu masih bisa didengar oleh semua orang dan membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
"Orang-orang ini kenapa, sih? Hanya karena ucapanku saja semuanya pada tertawa. Padahal itu tadi tidak lucu sama sekali!" gumam Rai.
"Baiklah, pemenang pertandingan pertama ini adalah Rai Tanaka!" ucap tetua Adraksh mengumumkan hasil pertandingan.
Rai langsung keluar dari arena pertarungan begitu tetua Adraksh mengumumkan hasil pertandingan. Melihat Rai yang sudah keluar arena, Rin segera menghampirinya dan menyapanya.
"Pertandingan yang bagus, Rai! Kau bisa melumpuhkan pengawal Adrian yang terkenal akan pertahanannya dalam satu serangan saja. Tapi, apa dia mati?" ucap Rin.
"Tidak, dia tidak mati. Dia hanya tak sadarkan diri dan kultivasinya akan lumpuh selama tiga hari. Itupun jika mendapatkan perawatan yang tepat. Namun, jika perawatannya salah, dia akan kehilangan kultivasinya!" balas Rai.
"Kau sedikit kejam!" gumam Rin.
Tak lama kemudian, seseorang yang mirip Rai datang dan menghampiri mereka berdua. Rin langsung membelalakkan matanya begitu melihat ada dua Rai. Dia berulang kali mengusap matanya, karena tidak percaya akan pemandangan dihadapannya.
"K-kalian... Siapa diantara kalian Rai yang asli?" tanya Rin.
"Aku yang asli," jawab Rai yang baru datang tersebut.
"Dia benar, dia yang asli. Aku hanya bayangannya saja," balas Rai yang sebelumnya berbincang dengan Rin.
"Bagaimana pertandingannya?" tanya Rai yang asli.
"Kau harusnya sudah bisa menebaknya! Baiklah, aku pergi dulu!" ucap bayangan Rai kemudian menghilang.
"Rin, berhentilah melamun, giliran selanjutnya adalah kau!" ucap Rai berusaha membangunkan Rin dari lamunannya.
"Ha? I-iya, baiklah!" ucap Rin tergagap.
Rin kemudian masuk kedalam arena dan mulai bertanding. Tak butuh waktu lama bagi Rin untuk menyelesaikan pertandingannya, karena lawannya memiliki tingkat kultivasi yang jauh berada dibawahnya.
"Rai, kau tadi pergi kemana?" tanya Rin setelah keluar dari arena.
"Aku tadi membeli senjata baru!" jawab Rai.
"Memangnya kenapa dengan senjata lamamu?" tanya Rin lagi.
"Rusak!" jawab Rai. Tentu senjata rusak yang dimaksud Rai adalah pedang miliknya yang rusak saat bertarung dengan para sahabatnya dan sebelum bertemu dengan Raiden.
"Aku tahu kau memiliki satu senjata lagi! Katakan padaku, apa yang terjadi dengan senjata itu?" tanya Rin dengan tatapan menyelidik.
"Itu rahasia!" jawab Rai.
__ADS_1