
Saat ini, perang aura sedang terjadi diatas arena. Aura petir langit yang berpadu dengan aura Mortal King tahap Senior milik Rai melawan aura es surgawi milik Rin mengakibatkan sejumlah ledakan kecil diatas arena.
Sementara itu, diluar arena aura yang saling beradu itu juga menyebabkan angin kencang yang membuat pasir, debu, tanaman bahkan manusia berterbangan. Ditambah lagi dengan tekanan kuat yang berasal dari kedua aura itu dan membuat hampir semua orang tak dapat bergerak, termasuk tetua Adraksh.
"A-aura yang sangat k-kuat s-sekali!" ucap tetua Adraksh.
Didalam arena, tatapan tajam terlihat dimata kedua orang itu. Memang belum terjadi pertarungan diantara keduanya. Namun, tatapan tajam dari kedua orang itu mampu membuat suasana didalam arena menjadi sedikit panas.
Tatapan tajam itu tetap bertahan hingga Rin mengambil sikap kuda-kuda untuk menyerang. Rai yang melihat itu hanya tersenyum kecil sambil mengeratkan genggamannya pada gagang pedang yang ia bawa.
Swush...
Rin langsung melesat maju kearah Rai sembari mengayunkan pedangnya. Namun, tebasan pedang itu ditahan dengan mudah oleh Rai. Bahkan, Rai berhasil mendaratkan tendangan pada perut Rin hingga dia terpental mundur.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Rai langsung menyerang Rin menggunakan Sky Lightning Sword. Merasakan ancaman, Rin segera menancapkan pedangnya ditanah sambil mengucapkan sebuah jurus.
"Es Pelindung!" ucapnya.
Swosh... Kratak... Kratak...
Sebuah dinding pelindung yang terbuat dari es, muncul dihadapan Rin untuk melindunginya dari serangan Rai. Tapi, taktik itu justru membuat Rai semakin melebarkan senyumnya sambil sedikit bernostalgia.
Dengan cepat Rai berpindah tempat. Yang awalnya berada didepan Rin, kini berada dibelakang Rin dan bersiap untuk menebaskan pedangnya.
Rin yang tidak siap hanya bisa menengok kearah Rai dan pasrah terhadap kejadian yang akan menimpanya. Namun, tiba-tiba saja kesadaran Rin menghilang dan digantikan dengan kesadaran orang lain.
Swosh...
Trang...
Tebasan pedang Rai ditahan dengan mudah oleh Rin. Dia kemudian menghempaskan Rai dengan auranya yang sangat kuat. Namun, Rai hanya tersenyum senang ketika mendapati tubuh Rin dikendalikan oleh orang lain.
"Raiden, rencanamu berhasil!" ucap Rai melalui telepati.
Flashback On
Beberapa saat sebelumnya, ketika Rai dan Rin masih bertatapan sambil memegang senjata masing-masing, Raiden langsung menghubungi Rai melalui telepati.
"Rai!" ucap Raiden.
"Raiden? Ada apa? Kenapa tiba-tiba menghubungiku?" tanya Rai.
__ADS_1
"Rai, aku punya rencana agar Ice Dragon muncul!" ucap Raiden.
"Benarkah? Bagaimana caranya?" tanya Rai penasaran.
"Kau serang Rin bagaimana pun caranya. Bahkan, kau boleh menyerangnya sampai hampir mati!" jawab Raiden.
"Karena dengan begitu, roh Ice Dragon yang bersemayam didalam tubuh Rin akan langsung mengambil alih tubuhnya untuk melindungi inangnya, atau lebih tepatnya keturunannya!" lanjut Raiden.
"Lalu, setelah berhasil, apa yang harus aku lakukan?" tanya Rai lagi.
"Biarkan aku mengambil alih tubuhmu! Karena dengan tingkat kekuatanmu saat ini, kau masih belum bisa mengalahkannya!" balas Raiden.
"Baiklah, tapi jangan sampai terjadi apa-apa dengan tubuhku atau aku tidak akan mau menjadi tuanmu!" ucal Rai.
"Tenang saja! Serahkan padaku!" ucap Raiden percaya diri.
Flashback Off
Saat ini, Rin yang telah dirasuki oleh roh dari Ice Dragon, sedang berjalan kearah Rai sembari menyeret Heaven Ice Sword.
"Kau, siapa yang mengizinkanmu untuk membunuh keturunanku, hah?!" tiba-tiba terdengar suara seperti wanita setengah baya dari mulut Rin. Suara itu tak lain adalah milik Ice Dragon yang sedang mengendalikan tubuh Rin saat ini.
"Siapa aku? Heh, tak mungkin kau lupa siapa aku, benar 'kan?" ucap Rai sambil mengeluarkan aura petir langit yang sangat kuat.
"Sepertinya kau masih ingat diriku! Tapi, apakah kau juga masih ingat tentang pertarungan kita yang belum selesai dulu?" tanya Rai yang tubuhnya telah dirasuki oleh Raiden.
"Tentu saja! Dan apakah kau masih ingat tentang taruhan kita dulu?" tanya Ice Dragon.
"Tentu aku masih ingat! Kalau tidak salah, bunyinya seperti ini... 'Siapa pun yang menang, boleh mengambil Pusaka Naga yang tersembunyi'. Benar begitu 'kan?" tanya Raiden.
"Benar!" balas Ice Dragon yang kemudian mengambil sikap kuda-kuda untuk menyerang, "Tunggu apalagi? Mari kita selesaikan ini sekarang!"
Ice Dragon yang mengendalikan tubuh Rin, langsung menyerang tubuh fisik Rai yang dikendalikan oleh Raiden. Namun, serangan itu masih bisa dihindari dengan baik oleh Raiden.
Tidak berhenti disitu, Ice Dragon kembali menyerang Raiden menggunakan teknik esnya, "Jebakan Es!"
Kratak... Kratak...
Sebuah lingkaran es terbentuk dibawah kaki Raiden. Lingkaran es tersebut, mengeluarkan tali-tali es yang menjerat Raiden. Tidak bisa bergerak, Raiden langsung mengalirkan energi petir langitnya sehingga tali-tali es itu hancur akibat petir langit.
Namun, sebuah serangan mendadak dari Ice Dragon, sedikit mengejutkan Raiden sehingga tidak bisa menghindarinya tepat waktu. Akibatnya, tubuh fisik Rai sedikit terluka akibat terkena tebasan pedang itu.
__ADS_1
Ice Dragon hendak menyerang Raiden lagi, tapi Raiden telah menghilang dari hadapannya saat itu juga. Raiden kembali muncul diatas Ice Dragon dan bersiap mengayunkan pedangnya seraya menggumamkan sebuah jurus.
"Sambaran Petir Langit!" ucap Raiden.
Tiba-tiba, Sky Lightning Sword yang dibawa oleh Raiden bersinar terang sambil terus mengeluarkan petir langit. Dengan cepat, Raiden melemparkan pedangnya yang berselimut petir langit itu kearah Ice Dragon.
DUARRR... BOOOOMMM...
Serangan itu telak mengenai Ice Dragon hingga membuatnya terlempar kesalah satu sudut arena dan membuatnya mengalami luka dalam.
"Ice Dragon, kau tidak akan bisa bertahan lama jika terus berada didalam tubuh anak itu. Lebih baik menyerah saja sekarang!" ucap Raiden tegas.
"Baiklah, aku akan menyerah. Tapi, ingat! Walaupun aku adalah naga terlemah dan kau adalah naga terkuat dari Five Strongest Dragon, rivalitas kita tetap akan ada dan tidak pernah menghilang! Kau mengerti itu?" ujar Ice Dragon.
"Ya, aku mengerti! Lagipula aku suka dengan rivalitas ini!" balas Raiden.
"Hei, wasit! Cepat umumkan hasil pertandingan ini!" lanjutnya.
Tetua Adraksh yang sebelumnya melamun, langsung tersadar ketika mendengar suara Raiden, "B-baiklah! Ehem... Pertandingan final kali ini, dimenangkan oleh Rai Tanaka!"
Para penonton yang sebelumnya juga tertegun ketika mendapatkan tekanan besar, segera tersadar dan langsung bersorak canggung untuk Rai.
***
Setengah jam kemudian,
Setelah mendapatkan perawatan untuk luka-lukanya, Rai dan Rin kembali memasuki arena yang diatasnya terdapat panggung podium. Diatas panggung podium itu, juga ada Adrian yang sebelumnya memenangkan pertandingan perebutan peringkat ketiga.
"Cih, lain kali akan kubalas kau berkali-kali lipat, Rai Tanaka!" gumam Adrian pelan.
Walaupun pelan, tapi umpatan Adrian masih bisa didengar oleh Rai. Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil memusatkan seluruh aura Mortal King tahap Seniornya kearah Adrian.
Adrian yang mendapat tekanan langsung berkeringat dan panik. Dia ingin sekali pergi dari sana, tetapi tidak bisa jika ada aura yang menekannya. Disaat kepanikan melanda Adrian, sebuah suara terdengar ditelinganya hingga membuat lututnya lemas.
"Hei! Jika kau masih seperti itu, akan kupotong lidahmu bagaimana? Agar kau tidak mengumpat seluruh lawanmu! Eh, atau tidak! Apakah aku harus memotong otakmu? Bukankah setiap perkataan dan perbuatan manusia selalu diperintahkan otak, benarkan Adrian?" ucap suara itu yang tak lain adalah milik Rai.
Acara selanjutnya ini adalah pembagian hadiah sekaligus pelantikan resmi untuk keempat peserta pertandingan yang lulus ujian kali ini.
...****************...
Note : Assalamualaikum wr. wb. 1-2 minggu kedepan, author tidak akan update rutin. Karena sedang persiapan menjelang PTS (Penilaian Tengah Semester). Dan waktu yang digunakan juga tidak sedikit. Kemarin author ada les online, jangka waktunya itu sekitar 7 jam. Dengan beberapa kali istirahat. Jadi, waktu yang digunakan untuk menulis juga sedikit dan tidak bisa menyelesaikan satu chapter per hari.
__ADS_1
Author minta maaf yang sebesar-besarnya bagi para reader 🙏🙏🙏
Wassalamualaikum wr. wb. (See you on the next chapter and bye-bye 👋)