Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 50 : Ibu Kota Centoria


__ADS_3

Setelah perjalanan selama kurang lebih setengah hari, Rai dan Raiden akhirnya tiba di Centoria, ibu kota dari Central Continent. Kini mereka sedang melakukan pembayaran agar bisa memasuki kota.


"Raiden, apa benar letak portal itu ada di sini?" tanya Rai yang saat ini mengenakan topeng dan jubah biru andalannya.


"Menurut jejak aura yang aku rasakan, memang ada di kota ini! Lebih tepatnya ada di kerajaan itu!" ujar Raiden seraya menunjuk kerajaan Dryscill.


"Kerajaan Dryscill? Yang benar?" tanya Rai memastikan.


"Ya, kerajaan Dryscill! Kudengar ada sayembara yang diadakan oleh pihak kerajaan! Imbalannya sangat menguntungkan!" tutur Raiden.


"Imbalan apa yang diberikan bagi pemenang sayembara?" tanya Rai.


Raiden mengambil selebaran dari saku celananya dan membuka lipatannya, "100.000 mutiara emas dan kesempatan ekspedisi ke dunia lain!" jawab Raiden seraya membaca tulisan yang ada di selebaran itu.


"Ekspedisi dunia lain? Maksudmu Dragonland?" tanya Rai yang disambut dengan anggukan oleh Raiden.


"Sepertinya tidak hanya itu! Ditulis di sini jika ekspedisi itu memiliki beberapa pilihan dunia! Di antaranya, Dragonland, Magical Ice World, Land of Monsters dan Pseudo Galaxy World!" jelas Raiden.


"Baiklah, kita akan mendaftar besok! Untuk saat ini, kita akan mencari penginapan dan restoran untuk beristirahat malam ini!" ujar Rai yang mulai merasa lapar.


***


Setelah beberapa menit berkeliling, Rai dan Raiden akhirnya menemukan sebuah penginapan dan restoran mewah yang memiliki 10 lantai.


Tanpa banyak berpikir, Rai mengajak Raiden untuk makan dan menginap di sana untuk satu malam.


"Selamat datang di Golden Inn & Restaurant! Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan wanita yang memiliki umur sekitar 16 tahun.


"Kami ingin memesan 2 kamar paling mewah untuk satu malam dan beberapa makanan!" pesan Rai.


"Baiklah, 2 kamar paling mewah di lantai 10! Biayanya 200 mutiara emas, termasuk paket makanan yang bisa anda pesan di lantai 5!" ucap pelayan itu ramah.


Rai lalu mengeluarkan 200 mutiara emas dari cincin penyimpanannya dan memberikannya kepada pelayan wanita itu sebagai registrasi.


Pelayan wanita yang memiliki nama Jane itu memberikan 2 kunci kamar dengan nomor 18 dan 19 kepada Rai, setelah menerima pembayaran dari Rai.


Setelah selesai membayar, Rai lalu naik ke lantai 5 bersama Raiden untuk memesan makanan.


Sesampainya di lantai 5, Rai dan Raiden langsung memesan beberapa makanan. Seperti Chicken and Tortellini Soup, Fettuccine Carbonara dan Black Forest Cherry Torte.


Setelah makan, kedua orang itu langsung menuju kamar mereka di lantai 10 untuk beristirahat.


***

__ADS_1


Tap... Tap... Tap...


Seorang pria berjubah hitam, berlari mengejar satu iblis yang tampak ketakutan. Ditangannya terdapat sebuah pedang yang cukup besar berwarna hitam dengan warna biru di bagian ornamen bilahnya.


"Sial! Kenapa juga aku harus bertemu dengan Demon Hunter satu ini?" gerutu iblis itu, menyalahkan nasib sialnya.


Ia lalu mencoba menengok ke belakang untuk memeriksa keberadaan Demon Hunter itu. Namun, ia tidak dapat menemukannya. Demon Hunter itu, menghilang.


Iblis itu menghentikan larinya dan segera memasang sikap siaga. Bola matanya bergerak ke sana kemari untuk mencari keberadaan Demon Hunter yang mengincarnya itu.


"Hiyaaa..."


Duang...


Sebuah serangan tiba-tiba menyasar iblis itu dari atas. Beruntung, reflek yang ditunjukan oleh iblis itu cukup baik, sehingga ia bisa menahan serangan Demon Hunter itu dengan perisai energi buatannya.


"Dasar Demon Hunter sialan!"


Iblis itu menghempaskan Demon Hunter berjubah itu hingga membuatnya hampir terjatuh dari atap.


'Dia cukup cerdik. Aku harus lebih waspada,' gumam Demon Hunter itu.


Tap... Tap... Tap...


***


"Apa-apaan ini? Siapa yang bertarung di atap tengah malam begini?" gerutu Rai yang terbangun dari tidurnya akibat suara berisik dari atap di atasnya.


Segera Rai mengambil pedang dan jubahnya lalu memasangnya di tubuhnya. Setelah terpasang sempurna, Rai menghilang begitu saja dari kamarnya dan muncul kembali di atas atap.


Betapa terkejutnya ia ketika mendapati bahwa dirinya berada di tengah-tengah jalur serangan antara dua makhluk hidup yang sedang bertarung.


Demon Hunter dan iblis yang sedang bertarung, juga terkejut dengan kemunculan Rai yang tiba-tiba. Namun apa mau dikata, mereka telah melancarkan serangan yang mustahil dibatalkan.


Hingga akhirnya...


DUARRR...


Debu-debu bertebaran, menyelimuti kedua makhluk hidup yang sedang bertarung itu. Nafas mereka terengah-engah dengan keringat yang bercucuran.


Jubah sang Demon Hunter pun tersibak, memunculkan wajah seorang lelaki berambut putih dengan iris mata berwarna biru muda.


"Apa-apaan itu tadi?" gumam si iblis dengan keadaan syok.

__ADS_1


"Siapa pemuda itu tadi?" gumam sang Demon Hunter.


Tap...


"Apa yang kalian lakukan? Kalian mengganggu tidurku dan hampir membunuhku?" tanya Rai dengan wajah yang tidak senang.


Rai menatap kedua makhluk hidup itu dengan tatapan tajam. Iris mata hitamnya menunjukkan kegeraman yang dirinya alami akibat pertarungan itu.


Sring... Cklak...


Tiba-tiba saja terdengar suara sebuah pedang yang mengejutkan Demon Hunter dan iblis itu.


Tak lama kemudian, tubuh si iblis terbelah menjadi dua dengan kedua matanya yang melotot, menandakan bahwa dirinya terkejut sekaligus tak siap untuk mati.


Demon Hunter itu terkejut. Iblis incarannya, mati dengan mudahnya di hadapan seorang pemuda misterius.


Tap... Tap...


Sang Demon Hunter merasakan pemuda misterius itu mulai mendekat. Tubuhnya sedikit gemetar ketika mendengar suara langkah kakinya. Namun, segera ia menguasai tubuhnya dan bersiap untuk serangan dadakan.


Ketika sebuah telapak tangan menyentuh bahunya, Demon Hunter itu langsung melakukan tebasan memutar. Namun, serangannya dapat ditahan dengan mudah oleh pemuda misterius yang tak ia kenal itu.


"B-bagaimana kau bisa menahannya?" tanya sang Demon Hunter dengan nada gemetar.


"Sudahlah, kau tidak akan bisa!" ucap Rai sembari melepaskan bilah pedang yang ia cengkeram itu.


"Seorang Demon Hunter dengan kultivasi tingkat Immortal Emperor tahap Professional! Kau cukup kuat juga untuk seukuran kultivator muda berumur 23 tahun!" puji Rai yang justru membuat sang Demon Hunter terkejut.


"Bagaimana kau bisa tahu tentang itu?" tanya sang Demon Hunter setelah menyimpan pedangnya di cincin penyimpanan.


"Tidak perlu terkejut seperti itu! Perkenalkan, namaku Rai!" ucap Rai memperkenalkan dirinya.


"Namaku Alvarez! Tapi, apa kau tidak curiga terhadap orang asing sepertiku?" tanya Alvarez.


"Untuk apa aku curiga terhadap Demon Hunter sepertimu! Kau dipekerjakan oleh kerajaan, tentu saja kau memiliki sifat yang tidak mudah untuk mengkhianati seseorang bukan?" ujar Rai panjang lebar.


"Begitu, ya! Baiklah, aku akan membawa iblis ini ke kerajaan!" Alvarez berdiri lalu menyimpan jasad si iblis di dalam sebuah gentong.


"Alvarez, apa kau tahu sesuatu tentang sayembara yang diadakan oleh kerajaan?" tanya Rai tanpa menoleh.


"Tentu aku tahu! Tapi, aku tidak bisa memberitahumu saat ini karena aku terburu-buru! Kita bertemu di sini besok pagi!" jawab Alvarez sebelum pergi ke kerajaan.


"Orang ini, sepertinya memiliki darah naga. Sebaiknya aku tanyakan pada Raiden nanti," gumam Rai sebelum kembali ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2