
...(Hydra Tujuh Petir)...
Setelah beristirahat selama beberapa menit, Rai memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Masih sama seperti sebelumnya, Rai tetap membawa pedang katana miliknya untuk berjaga-jaga.
Namun, tiba-tiba suara yang dikenal Rai, masuk kedalam telinganya, "Hei, kau mendengarku?" tanya suara itu yang tak lain adalah bayangan Rai yang bertugas untuk menyelidiki kediaman Kiyomizu didesa Lightning Stone.
"Ya, aku mendengarnya! Bagaimana? Apa yang kau temukan dikediaman Kiyomizu?" tamya Rai.
"Aku menemukan beberapa artefak dikediaman itu! Dan sepertinya, leluhur mereka..." ucapan bayangan Rai terhenti.
"Leluhur mereka apa? Tolong jelaskan lebih detail lagi!" desak Rai.
"Hah... Detailnya akan kukatakan nanti!" jawab bayangan itu.
"Baiklah! Kita bertemu dipadang rumput dekat Hutan Kabut Berdarah!" ucap Rai.
"Ok, sampai nanti!" balas bayangan Rai lalu memutus sambungan telepati.
"Ada apa, Rai? Apa bayanganmu menemukan sesuatu?" tanya Raiden yang sudah kembali kedalam Ruang Jiwa milik Rai.
"Sepertinya begitu! Dia akan memberitahu kita detailnya begitu kita keluar dari sini!" jawab Rai.
"Oh, baiklah! Dan kuucapkan selamat, karena kau telah memasuki area penjaga kedua dan kuucapkan berhati-hatilah, karena penjaga kedua ini lebih kuat!" ujar Raiden.
"Hmm... Aku tahu itu!" balas Rai.
***
Ratusan meter didepan Rai,
Trang... Trang...
Terjadi pertarungan antara seorang manusia dengan seekor naga berkepala tujuh. Naga berkepala tujuh itu tak lain adalah Hydra, atau lebih tepatnya Hydra Tujuh Petir.
Nama ini merujuk pada kemampuan Hydra yang mampu mengeluarkan tujuh petir dengan warna berbeda disetiap kepalanya. Mulai dari putih, kuning, biru, merah, ungu, hitam dan emas.
Kemampuan inilah yang membuat orang itu kesulitan dalam menghadapi Hydra Tujuh Petir. Hanya dengan bermodalkan senjata tingkat roh, petir hitam dan kultivasinya yang berada ditingkat Mortal King tahap Beginner membuat orang itu berani melawan Hydra Tujuh Petir.
"Grahhhh... Sial! Penjaga kedua ini lebih sulit dari yang aku bayangkan!" ucap orang itu.
"Dasar manusia tak berguna! Beraninya kau melawan beast agung sepertiku! Kau tahu? Kami ini Hydra Tujuh Petir! Heaven Beast tingkat King tahap Hitam! Tubuhmu akan kami cincang sebagai balasan, karena berani masuk kedalam area penjagaan kami!" teriak salah satu kepala Hydra Tujuh Petir.
"GROOOAAAHHH!!!"
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Syuut... Syuut... Syuut...
BLAAAZZTT... BLAAAZZTT... BLAAAZZTT...
BLAAARRRR... BLAAARRRR... BLAAARRRR...
Hydra Tujuh Petir menyerang orang itu dengan serangan bola petir dari ketujuh kepalanya. Alhasil, orang itu sulit menghindar akibat serangan petir yang cepat menjalar ketubuhnya.
"AARRGGHHHH!!!"
__ADS_1
"Sialan kau! Rasakan ini! Sambaran Petir Hitam!" teriak orang itu.
Blaaazztt... Blaaarrrr...
Orang itu mengucapkan sebuah jurus sembari menancapkan pedangnya ketanah. Kemudian, muncul belasan kilatan petir hitam dari dalam tanah yang langsung menjalar ketubuh Hydra Tujuh Petir.
Namun, serangan itu berhasil dipatahkan dengan mudah. Justru, Hydra Tujuh Petir itu mampu melakukan serangan balik yang membuat orang itu mengalami luka yang cukup parah.
"Hahaha... Kau berharap bisa melukai kami hanya dengan serangan kecilmu itu?" ucap salah satu kepala Hydra.
"Arghhhh... Andai saja dia disini... Kalian pasti akan tamat!" ucap orang itu.
"Kau masih mengharapkan bantuan seseorang di situasi seperti ini? Jangan membuat kami tertawa! Hahaha..." ujar salah satu kepala Hydra.
"Teknik Pedang : Tiga Bayangan Pedang! Majulah!" terdengar gumaman seseorang dari salah satu kedalaman Hutan Kabut Berdarah.
"Siapa it—"
Jleb... Slash... Zrat... Bug...
Terdengar suara tusukan, tebasan dan jatuhnya benda tepat setelah gumaman tadi terdengar. Enam kepala Hydra lainnya dan seseorang yang melawannya tadi, terkejut ketika melihat salah satu kepala Hydra itu terpenggal.
Tapi, kepala ketujuh itu kembali tumbuh dengan cepat setelah kepala yang sebelumnya terpotong dan jatuh ketanah. Seketika, potongan kepala itu hilang secara tiba-tiba dengan dibersamai suasana yang hening.
Krasak... Krasak...
Suara semak-semak yang bergoyang mengakhiri suasana hening itu. Tampak seorang lelaki berbaju putih, berjubah biru, menggenggam pedang katana dan mengenakan sebuah topeng setengah wajah yang menutupi mata dan hidungnya.
"Hah... Aaron... Aaron... Kau itu, ya? Menghadapinya saja tidak bisa! Bagaimana kalau menghadapi penjaga utamanya? Ck... Ck... Ck... Mengecewakan!" ucap orang itu yang tak lain adalah Rai.
"Cih! Beberapa kelopak? Harusnya aku yang berkata begitu! Kalau kau bisa membantuku membunuh hewan agung sok jago ini, akan ku berikan tiga kelopak dari lotus itu, mau?" ucap Rai membalikkan pertanyaan Aaron.
"Apa?! Aku tidak mau! Huh!" gerutu Aaron sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya dan segera memalingkan wajahnya.
"Ya, sudah kalau tidak mau! Berarti ku anggap kau menyerah untuk mendapatkan Lotus Petir Langit Abadi itu!" ujar Rai kemudian maju menyerang Hydra Tujuh Petir.
Aaron yang mendengar perkataan Rai, semakin geram dan ikut menyerang Hydra Tujuh Petir. Dengan sebilah pedang tingkat roh yang dilapisi petir hitam, Aaron maju dan menyerang Hydra Tujuh Petir itu dengan sangat cepat.
Kemudian, dia melompat dari tubuh Hydra Tujuh Petir sembari mengucapkan sebuah jurus, "Panther Petir Hitam!"
Tiba-tiba, pedang yang digenggam oleh Aaron mengeluarkan elemen petir hitam yang membentuk seekor Panther hitam raksasa.
"Hiyaa..."
Aaron mengayunkan pedangnya kearah Hydra Tujuh Petir dengan sekuat tenaga. Bersamaan dengan itu, Panther hitam raksasa yang tercipta dari petir hitam itu, melesat menyerang Hydra Tujuh Petir dengan cakar dan mulut yang terbuka lebar.
"GROOOAAAHHH!!!"
SWUSH... BLAAAZZTT... BLAAARRRR...
Dug... Dug... Dug...
Tiga kepala dari Hydra Tujuh Petir terjatuh tepat setelah terkena serangan dari Aaron. Namun, kepala-kepala itu tumbuh kembali dengan cepat seperti tidak pernah terpenggal oleh sesuatu.
"Sial! Jika saja dia tidak bisa beregenerasi, aku pasti sudah membunuhnya dari tadi!" gerutu Aaron.
__ADS_1
"Hahaha... Kau baru sadar? Terlalu!" ucap salah satu kepala Hydra.
"Hei, Aaron! Berhentilah menggerutu! Angkatlah pedangmu dan mari membunuh hewan sok jago cerewet itu!" ujar Rai.
"Teknik Pedang : Tiga Bayangan Pedang!"
"Teknik Pedang : 5 Pedang Alam!"
"Teknik Pedang : Pembalik Serangan!"
Rai mengucapkan tiga jurus sekaligus untuk menghadapi Hydra Tujuh Petir. Sedangkan, Aaron kembali menghimpun elemen petir hitam dipedangnya seperti akan melakukan serangan.
"Aaron! Keluarkan serangan terkuatmu! Apapun itu dan berapa pun itu, keluarkan! Karena Hydra Tujuh Petir itu hanya bisa dibunuh ketika semua kepalanya dipenggal! Setelah itu, hancurkan kepala beserta tubuhnya dalam satu serangan, mengerti?" ucap Rai mengatakan rencananya kepada Aaron melalui telepati.
"Baiklah!" balas Aaron yang juga melalui telepati.
Rai dan Aaron kemudian melepaskan serangan kearah Hydra Tujuh Petir secara bersamaan. Serangan kedua orang itu, juga dibalas dengan serangan oleh Hydra Tujuh Petir.
Namun, beruntungnya mereka. Karena Rai telah menggunakan jurus 'Pembalik Serangan' yang mampu menyerap dan melepaskan serangan kearah lawan.
Hal ini membuat Aaron dan Rai bisa bergerak leluasa dalam menyerang Hydra Tujuh Petir yang terlihat kewalahan saat menyerang mereka berdua, karena setiap serangan yang dilepaskannya mampu diserap dengan mudah oleh Rai.
"GROOOAAAHHH!!! Aku tidak akan kalah disini! Rasakan ini! Ledakan Semesta!" teriak Hydra Tujuh Petir dengan lantang.
"Aaron sekarang!" ucap Rai memberi aba-aba.
"Baiklah! Panther Petir Hitam! Sambaran Petir Hitam!" ucap Aaron.
"Tiga Bayangan Pedang : Serangan Gabungan! Lima Pedang Alam : Amukan Alam! Teknik Pedang : Pembalik Serangan! Lepas!" ucap Rai mengeluarkan semua jurusnya.
Swosh... Swush... Syuut...
Bang... Trang...
DUUAARRRRR...
BOOOOMMM...
Bug... Bug... Bug... Bug... Bug... Bug... Bug...
"Hah... Hah... Hah... Akhirnya selesai!" ujar Aaron lega.
"Hah... Hah... Hah... Lelah sekali! Arghhhh..."
"Rai, ada apa? Apa penyakitmu kambuh lagi?" tanya Aaron begitu melihat Rai yang kesakitan.
"I-iya. Tapi, tenang saja! Aku punya pil peredanya!" jawab Rai sambil mengeluarkan sebuah pil dari cincin penyimpanannya lalu menelannya.
Glup...
"Hah... Akhirnya! Tinggal penjaga terakhir! Bersiaplah, Aaron! Ujian yang sebenarnya baru saja akan dimulai!"
...****************...
(Bagi para penggemar anime Naruto, pasti tidak asing dengan jurus 'Panther Petir Hitam' milik Aaron. Karena jurus itu terinspirasi dari jurus 'Raiton : Daburu Kuropansa' milik Darui sang Raikage ke-5 dari desa Kumogakure)
__ADS_1