Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 7 : Bandit Kelabang Merah


__ADS_3

Ketika Rai sedang melakukan latih tanding, puluhan orang dengan tingkat Immortal General tahap Master dan Mortal King tahap Professional mendarat didepan gua tempat Raiden tinggal.


"Apa ini? Katamu aura bocah itu berakhir disini. Tapi, disini hanya ada dinding tebing!" ucap salah seorang yang berada ditingkat Mortal King tahap Professional.


"B-benar tetua. Kami melacak aura anak itu dan berakhir disini," ucap seseorang yang tadi dibentak.


"Kau..." ucap orang yang disebut tetua itu.


"Tenanglah, tetua ketiga. Mungkin yang diucapkan orang itu benar. Karena aku merasakan ada aura formasi kuno secara samar-samar," ucap orang berjanggut putih.


"Tetua pertama benar. Dia 'kan ahli formasi. Pasti tahu permasalahan yang ada disini," ucap seorang lainnya yang memiliki satu mata buta.


"Baiklah. Aku akan diam dan mengikuti apa yang ingin tetua pertama lakukan. Tapi, jika informasi yang dilaporkan orang itu salah, maka jangan harap ada yang menghentikan aku untuk membunuhnya," ucap tetua ketiga sambil membocorkan aura membunuhnya.


"Hentikan itu, tetua ketiga. Janganlah bertindak seperti bocah," ucap orang lain yang memakai topeng berwarna hitam.


"Aku tidak akan bicara seperti ini jika dia tidak memberikan laporan palsu!" ucap tetua ketiga.


"Tetua ketiga, cukup!" ucap tetua pertama sambil mengeluarkan aura membunuhnya yang lebih kuat dari aura tetua ketiga.


Tetua ketiga langsung menarik kembali aura membunuhnya begitu melihat tatapan tajam dari tetua pertama. Setelah suasana sudah cukup tenang, tetua pertama menarik kembali auranya dan kembali menghadap ke dinding tebing.


"Kematian dari lima anggota yang dikirim untuk menghadapi Kalajengking Hijau Raksasa bisa dikatakan sedikit janggal. Karena mereka mati dengan kepala terpenggal. Tapi, kami tetap berpikir mereka mati karena terkena capit dari kalajengking itu," gumam tetua pertama.


"Namun, setelah kami melihat mayat Ular Racun Neraka yang mati terpenggal dan Kristal Jiwanya sudah diambil, kami menjadi yakin bahwa ada orang lain selain Bandit Kelabang Merah yang tinggal disini," lanjut tetua pertama.


"Kami menggabungkan semua kejadian. Mulai dari kematian lima anggota kami sampai kematian Ular Racun Neraka. Dan kami mendapat hasil bahwa mereka mati ditangan pengguna elemen petir. Lalu, kami mengikuti jejak auranya dan jejak itu berakhir disini," tutup tetua pertama.


"Em... Tetua pertama, apa anda yakin bahwa orang itu yang membunuh kelima rekan kami?" tanya salah satu orang.


"Aku masih sedikit ragu. Tapi, setelah kematian lima anggota kita itu..." tetua pertama kemudian mulai bercerita.


***


Setelah Rai pergi dari gua tempat Kalajengking Hijau Raksasa tinggal, empat orang berpakaian hitam dengan simbol kelabang merah dibagian punggungnya datang ketempat itu. Salah satu dari empat orang itu adalah tetua kedua dari Bandit Kelabang Merah.


"Apa mereka mati karena bertempur dengan Kalajengking Hijau Raksasa?" tanya tetua kedua kepada anak buahnya.


"Saya tidak yakin, tetua. Tapi, kematian mereka cukup ganjil. Karena semuanya mati dengan kepala terpenggal," ucap salah seorang bawahannya.


"Ini memang sedikit aneh. Selidiki ini. Jangan sampai ada yang lolos!" ucap tetua kedua.


"Baik, tetua!" ucap mereka serempak.

__ADS_1


Setelah itu, mereka keluar gua sambil membawa jasad kelima rekan mereka untuk dikuburkan dengan layak.


Berita tentang kematian lima anggota Bandit Kelabang Merah telah menyebar ke seluruh anggota. Mereka tentu saja terkejut dan terus membicarakan hal ini dalam beberapa waktu kedepan.


Setelah beberapa hari penyelidikan, para tetua dari Bandit Kelabang Merah mengadakan pertemuan. Pertemuan itu dihadiri juga oleh pemimpin mereka yang misterius.


Pemimpin Bandit Kelabang Merah ini memang dikenal misterius, karena dia selalu memakai topeng berwarna hitam. Ditambah dengan fakta bahwa dia sering bersembunyi untuk berkultivasi.


Saking misteriusnya tidak ada yang bisa melihat wajahnya termasuk para tetua Bandit Kelabang Merah. Bahkan, dihadapan seorang raja, dia tetap tidak mau melepas topengnya.


Kembali ke pertemuan para petinggi Bandit Kelabang Merah,


Didalam ruang pertemuan, empat dari lima kursi yang ada telah ditempati oleh para tetua. Tersisa satu kursi yang memiliki ukuran lebih besar dari kursi-kursi lainnya. Kursi ini adalah milik pemimpin Bandit Kelabang Merah yang misterius.


Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar. Suara langkah kaki itu terdengar semakin keras didalam ruang pertemuan. Suara itu baru berhenti ketika seseorang bertopeng hitam yang juga mengenakan jubah hitam panjang memasuki ruang pertemuan.


"Salam, pemimpin!" ucap tetua pertama yang kemudian diikuti oleh ketiga tetua lainnya.


"Salam, pemimpin!"


"Salam, pemimpin!"


"Salam, pemimpin!"


"Duduklah!" ucap sosok yang tidak lain adalah pemimpin Bandit Kelabang Merah.


"Pemimpin, kematian kelima anggota kita sangat janggal. Mereka mati dengan kepala terpenggal. Kami sudah melakukan investigasi, tapi hasilnya nihil," ucap tetua kedua.


"Benar, pemimpin. Apalagi kini kita kekurangan sumber daya untuk dibagikan kepada seluruh anggota," ucap tetua keempat.


"Begitu, ya? Untuk masalah sumber daya, kalian bisa memburu Ular Racun Neraka. Kudengar dia cukup kuat. Selain itu, disekitar gua tempatnya tinggal ada beberapa jenis tanaman herbal yang bagus untuk kultivasi," ucap pemimpin Bandit Kelabang Merah.


"Baik! Terima kasih, pemimpin!" ucap tetua keempat.


"Dan untuk masalah kematian kelima anggota kita, kalian harus tetap menyelidikinya. Tapi, kalian harus ikut tetua keempat untuk memburu Ular Racun Neraka. Karena aku merasakan perasaan yang menggangguku," lanjut pemimpin Bandit Kelabang Merah.


"Baik, pemimpin!" balas tetua kedua.


"Baiklah, karena permasalahan kita sudah selesai, mari kita akhiri pertemuan ini. Dan tetua pertama aku memberimu otoritas untuk memimpin kelompok kali ini, karena aku akan pergi lagi dalam jangka waktu yang panjang," ucap pemimpin Bandit Kelabang Merah kemudian pergi meninggalkan ruangan.


"Baik, pemimpin!" balas tetua pertama.


Setelah dua minggu, Bandit Kelompok Merah bergerak menuju gua Ular Racun Neraka. Kali ini mereka bergerak dengan kekuatan penuh dan dipimpin langsung oleh empat tetua.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai digua yang merupakan sarang dari Ular Racun Neraka. Namun, alangkah terkejutnya mereka semua, karena menemukan jasad Ular Racun Neraka tanpa kepala dan ekor.


"A-apa yang terjadi? K-kenapa dia sudah mati?" ucap tetua ketiga dengan terbata-bata.


"Sepertinya memang ada orang lain selain kita dihutan ini," gumam tetua kedua.


"Kalian, pergi selidiki kejadian ini!" perintah tetua kedua yang kemudian dibalas oleh seluruh anak buahnya.


Tetua kedua keluar gua dan menuju kesuatu tempat. Mengetahui gerak-gerik dari tetua kedua, tetua pertama langsung menyusulnya dan menyuruh anggota yang tersisa untuk berjaga-jaga.


"Tetua kedua, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya tetua pertama ketika telah berada disamping tetua kedua.


"Benar, ada yang menggangguku tetua pertama," jawab tetua kedua.


"Aku terus memikirkan kelima anggota itu. Dan memikirkan ucapan pemimpin," lanjut tetua kedua.


"Kau benar. Aku juga memikirkannya," ucap tetua pertama.


Mereka terus berjalan hingga sampai disebuah tempat. Tempat itu dipenuhi oleh tanaman-tanaman yang layu. Seketika mereka tersentak kaget begitu melihat tanaman-tanaman layu itu.


"Apa yang terjadi dengan tempat ini? Bukankah dulu disini dipenuhi oleh tanaman herbal?" ucap tetua pertama.


"Tenanglah, tetua pertama. Ini mungkin ada kaitannya dengan kematian Ular Racun Neraka," ucap tetua kedua menenangkan tetua pertama.


"Sepertinya kau benar. Mari kita kembali!" ajak tetua pertama.


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk kembali kedalam gua. Setelah itu, mereka memerintahkan semua anggota untuk melakukan penyelidikan tentang semua kejadian itu.


Selama satu minggu mereka melakukan penyelidikan hingga menemukan jejak aura yang sama disetiap lokasi yang menurut mereka mencurigakan.


***


"Begitulah, ceritanya," tutup tetua pertama.


"Oh, begitu. Jadi, menurut penyelidikan, jejak aura orang itu berakhir disini, begitu?" tanya salah satu anggota.


"Benar. Oleh karena itu, aku membawa kalian semua kemari. Untuk menangkap orang itu dan mengeksekusinya dimarkas kita!" ucap tetua pertama.


"Hahaha... Mengeksekusiku? Apa aku tidak salah dengar?" tiba-tiba terdengar satu suara dari dalam dinding tebing.


"Siapa itu?!" tanya tetua ketiga.


"Ini aku. Orang yang membunuh anggota kalian dan orang yang telah kalian bunuh keluarganya!" ucap orang itu yang perlahan keluar menembus dinding tebing.

__ADS_1


"I-itu..."


"Ya, ini aku! Rai Tanaka!" ucap orang itu yang tak lain adalah Rai.


__ADS_2