
Setelah selesai berurusan dengan anak Gubernur, Rai langsung mengajak wanita berambut putih itu untuk masuk kedalam sekte.
"Namamu siapa?" tanya Rai.
"Namaku Rin," jawab wanita yang bernama Rin itu.
"Kau seharusnya sudah tahu namaku, 'kan?" tanya Rai.
"Tentu. Dan terima kasih karena telah menyelamatkanku dari anak Gubernur sialan itu!" ucap Rin.
"Sama-sama. Lagipula, aku juga tidak suka dengan orang yang memanfaatkan gelar bangsawannya untuk melakukan perbuatan buruk," ucap Rai.
"Sudahlah, ayo kita mengambil nomor urut," ucap Rai.
Mereka kemudian berjalan kearah pos pendaftaran untuk mengambil nomor urut. Setelah selesai mengambil nomor urut, mereka segera menuju keruang tunggu masing-masing.
"Semoga kita bertemu diarena!" ucap Rai.
"Tentu, akan kutunggu saat itu. Tapi, sebaiknya kau menutupi wajahmu itu atau kau akan mendapatkan masalah," ucap Rin.
"Apa?" Rai kemudian menyentuh wajahnya dan mulai menyadari kesalahannya, "Oh... Aku lupa memakai topeng,"
Rai segera mengeluarkan topeng pemberian Raiden dan langsung memakainya, "Sudah, 'kan?"
"Yup, sudah. Baiklah, sampai bertemu lagi!" ucap Rin kemudian pergi keruang tunggu khusus perempuan.
"Baiklah, sampai jumpa!" ucap Rai yang juga segera keruang tunggu khusus pria.
"Aku tahu kalau kau menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya, Rai!" gumam Rin.
"Sepertinya kita akan bertemu dengan Ice Dragon dan keturunannya," gumam Rai.
***
"Aku mendapat nomor urut 789. Sepertinya aku akan bertanding diarena ke empat," gumam Rai.
"Hei, bocah!" ucap seseorang.
"Hm? Oh, kau! Ada apa?" tanya Rai setelah mengetahui orang yang memanggilnya tadi adalah Adrian.
"Lihat saja, aku akan menghajarmu diarena nanti!" ucap Adrian.
"Baik, akan kutunggu! Tapi, untuk sekarang kau pergilah dahulu, aku ingin istirahat!" ucap Rai.
Adrian kemudian pergi dengan wajah yang menahan amarah. Sedangkan, Rai langsung memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak.
Namun, waktu istirahatnya itu harus terganggu, tatkala suara seorang laki-laki tua membangunkannya. Lelaki tua itu adalah tetua ketiga dari sekte Naga Petir yang akan menjadi wasit diujian ini.
"Selamat datang semuanya! Saya adalah tetua ketiga dari sekte Naga Petir, nama saya adalah Adraksh! Saya akan menjadi wasit diujian kali ini!" ucap tetua ketiga yang bernama Adraksh.
__ADS_1
"Dalam ujian kali ini, ada beberapa peraturan.
Pertama, tidak boleh membunuh. Kedua, tidak boleh membuat cacat lawan, tanpa terkecuali. Entah itu cacat fisik atau cacat mental," jelas tetua Adraksh.
"Ketiga, tidak boleh menggunakan derajat untuk memenangkan pertandingan. Keempat, boleh menggunakan senjata dan jurus apapun, kecuali racun. Kelima, peserta dinyatakan menang jika lawan menyerah, keluar dari arena dan tidak sadarkan diri!" lanjut tetua Adraksh.
"Arena ujian ada empat! Total peserta ada 1600 orang dan dibagi menjadi 800 peserta wanita dan 800 peserta laki-laki. Dibabak penyisihan ini, satu arena akan diisi oleh seratus orang! Dan dari seratus orang itu, hanya akan ada satu orang pemenang yang akan melaju kebabak berikutnya!" ucap tetua Adraksh.
"Baiklah, kalau begitu kita mulai ujiannya! Nomor urut 1-100 perempuan, silahkan menuju ke arena 1. Nomor urut 101-200 perempuan, silahkan menuju ke arena 2. Nomor 201-300 perempuan, silahkan menuju ke arena 3. Nomor 301-400 perempuan, silahkan menuju ke arena 4," tutup tetua Adraksh.
Para peserta perempuan yang mendapat nomor urut tersebut, segera memasuki arena pertandingan, termasuk Rin yang berada diarena ketiga.
Rai yang sebelumnya ingin bersantai, langsung memfokuskan pandangannya ke arena ketiga tempat Rin akan bertanding. Dia ingin mengamati, bagaimana kemampuan bertarung dari keturunan Ice Dragon.
"Mari kita lihat, bagaimana kemampuan dari keturunan Ice Dragon..." gumamnya.
***
Diarena ketiga,
Rin melangkah memasuki arena. Dia masuk paling terakhir dan hampir tidak diperhatikan. Namun, dia tetap menajamkan penglihatannya.
Rin berusaha untuk melihat tingkatan kultivasi para lawannya. Setelah beberapa menit mengamati, akhirnya Rin mendapatkan informasi yang ia inginkan.
"Hampir semuanya ada ditingkat Mortal General tahap Grand Master. Hanya ada satu orang yang memiliki tingkatan yang sama denganku, yaitu Mortal General tahap Legend. Tapi, kenapa harus dia? Dasar, anak ketiga dari Gubernur Abelard. Akan kuhajar kau!" gumam Rin.
Begitu mendapat aba-aba dari tetua Adraksh, Rin langsung maju menerjang semuanya. Menggunakan sebilah pedang rapier berwarna biru, Rin mampu membuat lawannya terpental keluar arena.
Dengan elemen petir biru, Rin bagaikan Dewi Petir yang siap menghancurkan apapun. Perlahan namun pasti, Rin mengeluarkan lawan-lawannya dari arena. Dan kini, hanya tinggal tiga puluh peserta, termasuk dirinya.
Walaupun terlihat paling unggul diarena ketiga, tapi ada seseorang lagi yang memiliki serangan yang kekuatannya hampir menyamai Rin.
Dia adalah Audi, anak ketiga dari Gubernur Abelard. Memiliki sikap anggun dan sifat yang angkuh. Walaupun begitu, dia juga cukup kuat dan berbakat.
Saat menginjak umur 10 tahun, Audi sudah berada ditingkat Immortal Warrior tahap Professional. Dan terus meningkat hingga tahap Mortal General tahap Legend pada umur 17 tahun.
Kembali ke pertandingan,
Setelah lima belas menit berlalu, semua peserta ujian diarena ketiga telah tersingkir, kecuali Rin dan Audi. Kini mereka berdua sedang beradu senjata dengan tempo yang sangat cepat.
Pedang rapier milik Rin yang diselimuti oleh petir biru, beradu dengan belati milik Audi yang diselimuti oleh petir merah menciptakan kilatan cahaya berwarna biru dan merah yang menghiasi pertarungan antara Rin dan Audi diarena ketiga.
"Kau cukup kuat, Rin! Tapi, itu masih belum cukup untuk mengalahkanku!" ucap Audi angkuh.
"Heh, kau pikir begitu?! Kita lihat saja nanti!" ucap Rin.
"Oh, iya. Aku tadi sempat melihatmu bersama seorang pria tampan. Apakah dia kekasihmu?" tanya Audi.
"Dia? Tidak, dia bukan kekasihku. Kami hanya tidak sengaja bertemu saat kakak sialanmu itu mengejarku lagi!" jawab Rin.
__ADS_1
"Baguslah! Bagaimana kalau kita taruhan? Siapa yang menang boleh mendekati pria itu!" ucap Audi.
"Baiklah!" balas Rin.
Setelah percakapan singkat itu, mereka berdua segera melompat mundur dan mulai mengeluarkan jurus masing-masing.
"Tusukan Petir Penghancur!"
"Jeratan Petir Merah!"
DUARRRR... BOOOOMMM...
Ledakan terjadi setelah dua jurus itu bertabrakan. Kepulan asap tebal membumbung tinggi menutupi pandangan seluruh orang.
Butuh waktu beberapa menit untuk kepulan asap itu menghilang. Tampak Audi tergeletak diluar lapangan. Sedangkan, Rin masih berusaha berdiri diatas arena.
Namun, saat tetua Adraksh ingin mengumumkan hasil pertandingan, Audi langsung berdiri dan menyerang Rin secara tiba-tiba.
Rin yang tidak siap, sudah pasrah menerima nasibnya. Tapi, ketika serangan Audi hendak mengenai Rin, tubuh Rin menghilang begitu saja dan serangan yang dilancarkan Audi hanya mengenai tempat Rin tadi berdiri.
Rin kembali muncul dipinggir lapangan dengan posisi digendong oleh seorang pria layaknya putri kerajaan.
"R-Rai?"
Pria yang menyelamatkan Rin tak lain adalah Rai, "Tetua Adraksh, cepat umumkan hasil pertandingannya!"
"B-baik!"
"Tidak! Aku masih tidak menerima ini! Aku harus mendapatkan pria itu! Aku tidak terima!" ucap Audi kemudian menyerang Rai.
Rai tidak bergerak dari tempatnya saat Audi menyerang. Dia dengan mudah menahan serangan Audi dengan satu telapak tangannya.
"Tetua!"
"Baiklah! Pemenang pertandingan diarena ketiga adalah Rin!" ucap tetua Adraksh mengumumkan hasil pertandingan.
"Sekarang tinggal mengurusnya!" Rai kemudian menempelkan jari telunjuknya didahi Audi dan sedikit mengalirkan elemen petirnya untuk menyengat Audi hingga dia pingsan.
Setelah itu, Rai membawa Rin dan Audi ke ruang perawatan khusus perempuan lalu kembali lagi ke ruang tunggu khusus pria.
***
Setelah menunggu selama hampir tiga jam, akhirnya tiba giliran Rai bertanding. Sama seperti Rin, Rai masuk ke arena dengan santai sehingga dia masuk terakhir.
"Pertandingan dimulai!" ucap tetua Adraksh.
Seluruh peserta diarena yang sama dengan Rai langsung maju dan bertarung sama lain. Sedangkan, Rai masih diam dan mengamati pertandingan dengan santai.
Setelah beberapa menit mengamati, Rai langsung bergerak cepat untuk mengeluarkan para peserta ujian. Tak butuh waktu lama untuk Rai menyelesaikan pertandingan dan keluar sebagai pemenang.
__ADS_1