
Pelaksanaan babak final dilaksanakan esok hari setelah semifinal. Dibabak ini, akan mempertemukan antara Rai melawan Rin. Walaupun babak ini mencari pemenang yang akan mendapat gelar juara 1 dan 2, tapi mereka sudah resmi menjadi murid dari sekte Naga Petir sejak lolos kebabak semifinal kemarin.
Kini mereka hanya menjalani babak final ini sebagai formalitas belaka. Namun, mereka tetap bersiap-siap untuk menghadapi lawan masing-masing. Mereka ingin mengantisipasi serangan-serangan yang dilancarkan lawan.
Walaupun begitu, Rai tetap melakukan persiapan dengan sedikit santai. Dia hanya melakukan persiapan seperti biasa dan sedikit mengasah pedang katananya.
Setelah semua persiapan selesai, Rai memutuskan untuk beristirahat diatas kasurnya sambil menunggu Rin yang belum selesai. Namun, baru beberapa menit dia istirahat, suara ketokan pintu terdengar.
Tok... Tok... Tok...
Rai berdiri dan membukakan pintunya dengan malas. Terlihat seorang wanita muda yang memiliki umur sekitar 17 tahun berdiri didepan pintu kamar Rai. Wanita itu tak lain adalah Rin, lawan yang akan dihadapi Rai dibabak final nanti.
"Kau sudah siap?" tanya Rai yang hanya dibalas anggukan oleh Rin.
Mereka berdua akhirnya turun dan langsung pergi ke sekte Naga Petir untuk melaksanakan pertandingan.
Sesampainya disana, terlihat kerumunan orang banyak berusaha untuk tribun atau tempat duduk penonton dengan suara yang sangat berisik. Pemandangan itu membuat Rai malas dan berjalan sedikit gontai.
"Hah... Suasana yang membuatku sangat malas!" gerutu Rai.
Rin yang ada disampingnya hanya bisa tersenyum dan tertawa cekikikan setelah melihat tingkah Rai yang seperti itu.
Mereka kemudian masuk kedalam sekte dan menunggu diruang tunggu masing-masing. Saat menunggu pertandingannya, Rai memutuskan untuk memeriksa setiap informasi yang didapatkan Raiden maupun bayangannya yang ia tugaskan untuk menyelidiki tentang klan Kiyomizu.
"Hei, kau! Apalagi yang kau temukan saat ini?" tanya Rai kepada bayangannya melalui telepati.
"Santailah sedikit, bro! Tunggulah sebentar lagi! Aku sedang meneliti sesuatu!" balas bayangan Rai.
"Hah... Baiklah, cepat sedikit, mengerti?" ujar Rai.
"Baiklah, aku mengerti!" ucap bayangan Rai kemudian memutus sambungan telepati.
"Raiden, apa kau sedang tidur?" tanya Rai kepada Raiden.
"Tidak, aku sedang memikirkan sesuatu!" jawab Rai.
"Memikirkan sesuatu? Apa itu?" tanya Rai.
"Dinding penghalang transparan yang ada didalam tubuh Rin. Dinding penghalang itu terbuat dari suatu energi jahat. Tapi, tidak terlalu kuat," jawab Raiden.
"Energi jahat dari ras apa itu?" tanya Rai lagi.
"Kurasa dari ras iblis. Karena energi dari ras iblis sangat bertolak belakang dengan energi dari ras naga dan ras dewa!" jawab Raiden.
"Apa kau tahu, iblis macam apa yang memiliki energi itu?" tanya Rai.
"Sepertinya salah satu dari iblis Seven Deadly Sins!" jawab Raiden.
"Apa?! Iblis Seven Deadly Sins?!" tanya Rai dengan raut wajah terkejut.
"Benar! Energi itu seprti berasal dari iblis Seven Deadly Sins! Tapi, energi itu sedikit lebih lemah dari biasanya! Mungkin roh iblis itu sedang terluka!" jawab Raiden.
__ADS_1
Rai hendak bertanya lebih jauh. Tapi, suara dari tetua Adraksh membuatnya mengurungkan niatnya.
"Baiklah, Raiden! Kita lanjutkan nanti setelah bayanganku mendapat informasi!" ucap Rai yang dibalas dengan anggukan oleh Raiden.
***
Diatas arena,
"Selamat datang, semuanya! Kembali lagi bersama saya, Adraksh! Kali ini, saya akan menjadi wasit dalam pertandingan final yang akan mempertemukan dua peserta terkuat! Mereka mengalahkan lawan-lawannya semudah membalik telapak tangan! Mari kita sambut mereka, Rai Tanaka dan Rin!" ucap tetua Adraksh.
Rai dan Rin segera berjalan menuju arena begitu mendengar nama mereka dipanggil. Mereka bertatapan mata untuk sesaat sebelum masuk kedalam arena pertandingan.
"Baiklah, karena kedua peserta sudah memasuki arena, maka mari kita mulai pertandingannya! Bersiap, mu—" ucapan tetua Adraksh terhenti ketika Rai bertanya kepadanya.
"Tetua, maaf aku menyela! Tapi, aku ingin menanyakan sesuatu!" ucap Rai memotong ucapan tetua Adraksh, "Apakah kami boleh menggunakan elemen selain elemen petir?"
Tetua Adraksh sedikit terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Rai, "Emm... Sepertinya ti—"
Ucapan tetua Adraksh kembali terhenti saat sebuah suara laki-laki masuk ketelinganya. Tetua Adraksh menghela nafas panjang lalu menjawab pertanyaan Rai.
"Hah... Boleh!" jawab tetua Adraksh pasrah.
"Baiklah, kalau begitu..." Rai kemudian mengeluarkan empat bendera dan memasangnya diempat sudut arena.
Setelah itu, Rai mengucapkan sebuah jurus, "Formasi Pelindung! Dinding Energi!"
Empat bendera yang terpasang disetiap sudut arena itu langsung memancarkan energi alam. Energi alam itu membentuk dinding-dinding yang melindungi seluruh arena.
"Mari kita mulai pertandingannya! Bersiap, mulai!" ucap tetua Adraksh.
Rai dan Rin langsung melesat maju sambil menggenggam senjata masing-masing. Rai dengan katana yang diselimuti petir ungu dan Rin dengan pedang rapier yang diselimuti oleh petir biru.
Trang...
Suara dentingan besi tercipta setelah kedua pedang dari Rai dan Rin saling bertabrakan. Mereka kemudian melanjutkan pertandingan dengan adu senjata yang sangat cepat hingga tak dapat dilihat oleh mata manusia.
Cahaya petir berwarna ungu dan biru menghiasi arena. Semua orang tercengang sekaligus terpana ketika menyaksikan pertarungan cepat itu. Tidak ada yang menyangka, bahwa ada peserta yang memiliki skill seperti itu.
Namun, keterkejutan semua orang merupakan kebahagiaan bagi Abrecan. Pemimpin sekte Naga Petir itu senang ketika mengetahui bahwa pemuda yang terpilih itu ada didalam sektenya.
"Akhirnya aku menemukannya! Blue Lightning Sword, apakah pemuda itu memiliki pedang yang berisi roh dan kekuatan utamamu?" tanya Abrecan kepada pedang birunya.
"Benar! Biarkan mereka bertarung terlebih dahulu, lalu kau jadikan mereka muridmu! Setelah itu aku akan bergabung dengan roh itu! Tapi, itu tergantung dia sendiri, mau atau tidak!" jelas roh yang ada didalam pedangnya.
'Hehehe... Silahkan saja kau bergabung dengannya! Karena aku akan membunuh bocah itu dan merebut pedangnya!' batin Abrecan sembari tersenyum jahat.
Menyadari isi pikiran Abrecan, roh yang ada didalam Blue Lightning Sword mencoba mengingatkan Abrecan dengan cara menakutinya.
"Hei, apakah kau berpikir untuk membunuh pemuda itu?" tanya roh itu.
"T-tidak!" jawab Abrecan dengan keringat yang mulai membasahi wajahnya.
__ADS_1
"Baguslah, kalau begitu. Karena jika kau melakukan itu, kau akan mati dalam satu jentikkan jari saja. Tidak, kau akan mati hanya karena melihat matanya saja!" ucap roh itu yang langsung membuat Abrecan semakin ketakutan.
***
Diarena,
Pertarungan antara Rai melawan Rin belum selesai. Justru, pertandingan itu seperti tidak ada habisnya. Karena mereka berdua menunjukkan kekuatan asli mereka yang sangat kuat. Walaupun Rai belum mengeluarkan kekuatan tingkat Mortal King tahap Seniornya.
"Rai, keluarkan semua kekuatanmu! Aku tahu kau menyembunyikan kekuatan aslimu!" ucap Rin ditengah-tengah pertandingan.
"Memangnya kau sanggup?" tanya Rai.
"Aku akan berusaha!" ucap Rin.
Rai hanya menghela nafas panjang kemudian melompat mundur kebelakang. Dia memasukkan katananya dan menjulurkan tangan kanannya kearah kanan. Tiba-tiba, muncul sebuah pedang putih ditangan kanan Rai.
Pedang itu mengeluarkan aura yang sangat kuat. Namun, aura itu tidak merembes keluar karena penghalang yang terpasang. Rai kemudian mengeluarkan seluruh aura Mortal King tahap Seniornya.
Rin yang merasakan aura dari Rai, sedikit bergetar dan berkeringat. Dia mencoba melindungi dirinya dengan cara mengalirkan energi alam keseluruh tubuhnya.
Sedangkan, diluar arena aura Mortal King tahap Senior milik Rai sedikit merembes keluar dan membuat semua penonton gemetaran. Bahkan, ada sedikit penonton yang pingsan akibat tekanan yang berat.
Tetua Adraksh yang melihat itu, langsung memperingatkan Rai untuk menahan auranya, "Peserta Rai, tahanlah auramu! Kau membuat semua penonton gemetaran!"
Rai segera menarik auranya kembali begitu mendapat peringatan dari tetua Adraksh. Seketika keadaan menjadi normal. Tekanan yang sebelumnya membebani para penonton, kini perlahan menghilang.
"Aku sudah menunjukkan semuanya! Sekarang giliranmu!" ucap Rai.
"Baiklah! Tapi, aku merasakan ada satu benda yang kau sembunyikan! Apakah kau tidak mau mengeluarkannya?" ucap Rin.
"Heh, sepertinya kau bisa melihat semua yang aku sembunyikan, ya?" ucap Rai.
"Baiklah! Tapi, kita keluarkan bersama-sama!" lanjutnya.
Rin mengangguk lalu menyimpan pedang rapiernya. Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam cincin penyimpanannya, begitu juga dengan Rai.
Hingga tiba-tiba, suasana menjadi dingin. Hampir semua orang yang ada disana menggigil kedinginan, kecuali Rai dan Rin.
Kenapa begitu? Karena aura dingin itu berasal dari mereka berdua yang menggenggam pedang berwarna biru ditangan masing-masing.
"Sudah kuduga! Kau pasti membawa pecahan kekuatannya!" ucap Rin.
"Begitukah? Apa kau mau menyatukannya?" tanya Rai.
"Tentu, jika kau mau menyerahkannya!" ucap Rin.
"Baiklah! Aku akan menyerahkannya! Tapi, dengan syarat kau mengalahkanku! Bagaimana?" ujar Rai.
"Setuju!" jawab Rin.
"Kalau begitu, bersiaplah! Karena aku tidak akan menahan diri!" ucap Rai seraya menampilkan seringainya.
__ADS_1