Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 13 : Babak Perempat Final


__ADS_3

Babak 16 besar telah berlalu beberapa hari. Rai, Rin dan keenam peserta lainnya yang lolos akan bertanding kembali hari ini. Mereka akan bertanding dalam babak perempat final.


Semua peserta sedang menunggu undian diruang tunggu masing-masing, tidak terkecuali Rai. Dia terlihat duduk santai sambil memejamkan matanya. Mungkin orang-orang akan mengira dia tidur. Padahal dia sedang berkomunikasi dengan Raiden melalui telepati.


"Raiden, apa kau tahu sesuatu tentang Rin?" tanya Rai.


"Ya. Setelah beberapa hari menyelidiki anak itu, aku menemukan beberapa fakta. Selain, dia adalah keturunan Ice Dragon, dia juga mampu mengendalikan petir langit. Walaupun tidak sempurna, tapi dia sering menggunakannya untuk menutupi kekuatan Ice Dragon," jelas Raiden.


"Tapi, tetap masih ada orang yang memburunya karena kekuatan Ice Dragon yang bersemayam ditubuhnya. Kau ingat tentang kejadian pembantaian keluarga Kiyomizu beberapa tahun lalu yang pernah aku ceritakan?" lanjut Raiden.


"Ya, aku ingat!"


"Penyebab utama pembantaian itu adalah Rin!" ucap Raiden.


"Apa maksudmu? Jangan bilang karena kekuatannya, Rin diburu dan keluarganya dibunuh?" ucap Rai.


"Benar! Aku menemukan beberapa hal dalam diri Rin. Tapi, itu masih harus aku selidiki lebih dalam. Karena hal-hal tersebut masih bersifat samar-samar!" ucap Raiden yang langsung mengakhiri percakapan mereka.


"Rin, kau mengalami kejadian yang hampir mirip denganku! Semoga saja kau masih bisa bertahan, karena aku tidak bisa terus bersamamu!" gumam Rai setelah membuka matanya.


Tak lama kemudian, suara tetua Adraksh terdengar, "Selamat datang kembali, semuanya! Kembali bersama saya, Adraksh! Saya akan kembali memandu jalannya pertandingan perempat final hari ini! Sistemnya masih sama, yaitu menggunakan undian! Baiklah, tanpa berlama-lama lagi, mari kita mulai undiannya!" ucap tetua Adraksh yang langsung disambut dengan sorakan oleh para penonton.


Tetua Adraksh kemudian berjalan kearah alat pengundian lalu memasukkan beberapa kertas yang berisi nama peserta dan langsung memutarnya. Tetua Adraksh berhenti memutar, begitu melihat ada dua kertas yang keluar dari dalam alat pengundian.


"Pertandingan pertama, sekaligus pertandingan pembuka kali ini mempertemukan antara Rin melawan Edgar!" ucap tetua Adraksh.


Kemudian, dua peserta yang disebutkan namanya itu, mulai memasuki arena. Mereka mengeluarkan senjata masing-masing sambil mempertahankan tatapan tajam mereka.


"Bersiap, mulai!" ucap tetua Adraksh memberi aba-aba.


Rin dan Edgar langsung melesat maju. Mereka langsung beradu senjata sebagai pembuka pertandingan. Rin masih menggunakan pedang rapier yang diselimuti petir biru, sedangkan Edgar menggunakan sebilah tombak yang diselimuti oleh petir kuning.


Trang... Trang... Trang...


Dentingan besi terdengar nyaring. Suara riuh penonton juga terdengar mengiringi pertarungan antara Rin melawan Edgar yang berlangsung sengit. Tidak ada yang mau mengalah dan tidak terlihat tanda-tanda kekalahan pada kedua belah pihak. Mereka terus bertarung hingga sorakan penonton terdengar semakin keras.

__ADS_1


Sementara Rin masih bertarung, Rai terlihat sedang mengamati pertandingan sambil memikirkan sesuatu. Kemudian, Rai menjentikkan jarinya. Tiba-tiba, asap putih muncul dan membentuk sesosok manusia yang menyerupai Rai.


"Kau, selidiki tentang klan Kiyomizu! Mulai dari sejarah, kekuatan, kekayaan, anggota, hingga tragedi pembantaian itu terjadi! Selidiki secara rinci, mengerti?!" perintah Rai kepada bayangannya tersebut.


"Baiklah! Apa kau tidak akan menggunakan bayangan lagi untuk bertarung?" tanya bayangan itu.


"Tenang saja, aku masih bisa membuat 1 bayangan lagi," ucap Rai santai.


"Terserah kau sajalah. Tapi, untuk menyelidiki ini, aku harus membutuhkan waktu yang lama!" ucap bayangan itu lagi.


"Tak apa, aku akan menunggu. Selama kau menyelidiki, aku akan berusaha mendekati Rin untuk menyelidikinya lebih dekat!" balas Rai.


"Rencana yang bagus! Baiklah, kalau begitu aku pergi sekarang!" ucap bayangan Rai tersebut sebelum kemudian menghilang dari tempat itu.


"Raiden, kau juga selidiki tentang kekuatan yang dimiliki Rin dan juga tentang Ice Dragon yang bersemayam ditubuhnya!" perintah Rai.


"Baiklah!" balas Raiden.


"Rin Kiyomizu... Rahasia apa yang ada didalam dirimu sebenarnya?" gumam Rai.


***


"Saatnya mengakhiri! Ratusan Tusukan Petir Pembunuh!" ucap Rin.


Rin kemudian menusukkan pedang rapiernya ratusan kali hingga membentuk cahaya petir biru yang langsung melesat kearah lawannya. Edgar yang sudah tidak bisa lagi mengangkat tombak, hanya bisa pasrah menerima serangan dari Rin.


DUARRR... BOOOOMMM...


Ledakan terjadi setelah serangan yang dilancarkan oleh Rin, menghantam tubuh dari Edgar hingga dirinya terlempat keluar lapangan.


"Pemenang pertandingan pertama adalah Rin!" ucap tetua Adraksh mengumumkan hasil pertandingan.


Pertandingan kemudian dilanjutkan dengan pertandingan kedua dan ketiga. Kedua pertandingan itu berlangsung selama masing-masing satu jam, sehingga membuat Rai sedikit jenuh.


Namun, tak lama kemudian tetua Adraksh menyebutkan nama Rai sebagai peserta yang akan tanding terakhir. Rai akan bertanding melawan Brigette, salah satu peserta wanita yang lolos dibabak 16 besar kemarin.

__ADS_1


Mereka berdua pun berjalan mendekati arena. Tapi, Rai tidak langsung masuk, melainkan berjalan santai dan berhenti tepat dipinggir arena. Brigitte yang melihat itu, melontarkan kalimat provokasi yang membuat Rai diolok-olok oleh penonton.


"Hei, kenapa kau tidak masuk? Apakah kau takut denganku karena perbedaan tingkatan kita?" tanya Brigitte sombong. Memang benar, kekuatan Brigitte saat ini berada ditingkat Mortal General tahap Grand Master, hanya berbeda satu tahap saja dengan Rai. Namun, perbedaan satu tahap itu juga memiliki perbedaan yang cukup jauh, hal itulah yang membuat Brigitte dengan berani berkata sombong dihadapan Rai.


"Benar itu! Apakah kau takut terhadap wanita?" teriak salah satu penonton.


"Iya. Jangan anggap dirimu sudah menang telak!" timpal penonton yang lain.


"Kalau kau takut, lebih baik menyerah saja!" balas penonton yang lain.


Provokasi dari Brigitte yang kemudian diteruskan oleh penonton, membuat penonton lainnya ikut menyoraki Rai. Namun, Rai masih diam ditempat dan memilih untuk tidak menghiraukan sorakan-sorakan provokasi itu.


"Berisik!" ucap Rai yang akhirnya membuka mulutnya, "Jika kalian ingin menghinaku sampai kapan pun, boleh saja. Tapi, apakah kalian masih ingin melihat pertandingan ini? Jika masih ingin melihat, silahkan diam! Tapi, jika tidak ingin melihatnya, silahkan pergi!"


"Kalau kau ingin bertanding, cepat masuk arena!" teriak salah satu penonton.


Rai yang sudah muak, hanya bisa menghela nafas dan berjalan keluar sekte sambil menjentikkan jarinya. Tiba-tiba, sebuah asap putih muncul diatas arena dan langsung membentuk tubuh Rai.


"Jika kau sudah selesai, langsung susul aku! Ini senjatanya! Jangan sampai dirusakkan!" ucap Rai kepada bayangannya sembari melemparkan sebilah pedang katana yang baru beberapa hari lalu ia beli.


"Baiklah! Lalu, kau mau kemana?" tanya bayangan Rai itu.


"Aku ingin jalan-jalan! Barangkali aku menemukan sesuatu yang menarik, karena para penonton dan wanita sombong itu, sudah membuatku kehilangan selera bertarung! Dan jangan terlalu kasar kepadanya! Walaupun dia sombong, dia tetap saja wanita, mengerti?!" ucap Rai yang langsung menghilang dari sana.


"Ya, aku mengerti!" jawab bayangan Rai itu.


Tetua Adraksh pun segera memulai pertandingannya. Brigitte yang sudah tersulut emosi, karena diremehkan oleh lawannya, langsung menyerang bayangan Rai dihadapannya. Sedangkan, bayangan Rai itu hanya mengambil sikap kuda-kuda sembari meletakkan tangannya digagang pedang yang masih tersarung dipinggangnya.


Setelah jarak serangan dari Brigitte sudah cukup dekat, bayangan dari Rai itu segera mengalirkan energi alamnya sehingga pedang katana yang dipegangnya dialiri oleh elemen petir ungu. Kemudian, dengan cepat bayangan Rai itu mengayunkan pedangnya secara diagonal kearah Brigitte hingga membuatnya keluar arena.


Bayangan Rai itu langsung keluar arena tanpa menunggu tetua Adraksh mengumumkan hasil pertarungannya, kemudian menghilang begitu saja.


Para penonton yang sebelumnya menghina Rai, segera terdiam begitu melihat bayangannya mengalahkan lawan dalam sekali serangan biasa, tanpa jurus. Mereka semua menyesal telah menghina Rai. Dan ada beberapa dari mereka yang ketakutan terhadap Rai.


***

__ADS_1


Disebuah ruangan disekte Naga Petir, seorang lelaki yang membawa pedang berwarna biru gelap dipinggangnya, sedang mengamati Rai dari sebuah bola kristal. Dia mengamati setiap pertandingan yang dijalani Rai, mulai dari babak penyisihan sampai babak perempat final ini. Pria itu tak lain adalah pemimpin sekte Naga Petir, Abrecan.


"Hmm... Kenapa Blue Lightning Sword ini selalu bergeta ketika melihat dia, ya? Apa jangan-jangan, dia adalah pemuda itu?" gumamnya.


__ADS_2