Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 14 : Semifinal


__ADS_3

Bayangan Rai muncul kembali disebelah Rai yang asli. Dia kemudian mengembalikan pedang katananya dan langsung menghilang dari sana.


"Dia sudah selesai bertanding. Harusnya Rin juga sudah kembali. Apakah aku harus menjemputnya?" gumam Rai sendiri.


"Ugh... Sial, kenapa aku terus memikirkannya? Sejak kapan aku peduli terhadap orang asing sepertinya?" gumam Rai seraya memukul kepalanya.


Tak lama setelah itu, Raiden tiba-tiba muncul didalam ruang jiwa Rai. Dia menunjukkan raut wajah rumit sejak kembali dari misinya menyelidiki kekuatan Rin.


"Ada apa, Raiden? Apa kau menemukan sesuatu dari kekuatan Rin?" tanya Rai datar.


"Ya, aku menemukan sesuatu dari diri Rin!" jawab Raiden yang masih mempertahankan raut wajah rumitnya itu.


"Apa yang kau temukan?" tanya Rai lagi.


"Didalam diri Rin, aku merasakan sebuah aura yang tidak asing. Aura ini termasuk aura jahat dan hanya dimiliki oleh iblis dan seluruh rasnya. Tapi, ketika aku ingin menyelidiki lebih jauh, ada sebuah penghalang tak kasat mata yang menahanku!" jawab Raiden.


"Penahan tak kasat mata?" gumam Rai.


"Benar. Penahan ini terasa sedikit familiar. Namun, bukan ciptaan Ice Dragon!" ucap Raiden.


"Menarik! Baiklah, untuk saat ini, hanya informasi itu yang baru kita dapatkan. Kita masih harus menunggu bayanganku untuk menyelesaikan tugasnya!" ucap Rai yang langsung bergegas pergi menuju penginapan.


***


Keesokan harinya,


Rai sedang bersiap untuk berangkat menuju sekte Naga Petir, tempat ujian dilaksanakan. Dia akan bertanding dibabak semifinal dengan Adrian, putra kedua Gubernur yang menyebalkan.


Namun, ditengah persiapannya itu, suara seseorang terdengar oleh Rai. Dengan segera, Rai menghubungi pemilik suara yang tak lain adalah bayangannya itu melalui telepati.


"Ada apa? Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Rai.


"Aku masih belum mendapatkan banyak hal, karena aku baru sampai beberapa jam yang lalu," jawab bayangan Rai itu.


"Apa kau telah menemukan kediaman klan Kiyomizu?" tanya Rai lagi.


"Sudah. Letaknya sangat jauh dari sana. Aku bahkan harus menggunakan banyak energi alam untuk bisa sampai kesini," jawab bayangan Rai.


"Pantas saja tadi malam aku merasa lelah sekali," gumam Rai.


"Lalu, dimana lokasinya?" tanya Rai.

__ADS_1


"Didesa Lightning Stone!" jawab bayangan itu.


"Baiklah, kau boleh pergi!" ucap Rai kemudian memutus telepati.


Setelah mendapat informasi dari bayangannya, Rai langsung keluar dari penginapan dan bergegas menuju ke sekte Naga Petir.


***


Sesampainya disana, Rai langsung menuju ruang tunggu untuk menunggu gilirannya bertanding. Namun, saat sampai disana, Rai langsung disambut dengan ejekan dari Adrian yang kebetulan sudah ada disana dari tadi.


"Akhirnya kau datang juga, pecundang!" ucap Adrian.


Rai diam. Dia bergeming sedikit pun dari tempatnya. Tidak ada gerakan, tidak ada suara. Hanya tatapan mata tajam yang keluar dari Rai.


"Hahaha... Apa kau takut, Rai? Jika kau takut kau bisa berlutut dihadapanku sekarang juga dan menyerahkan Rin kepadaku," ucap Adrian sombong.


"Tapi, jika kau menolak, maka akan kutunjukkan, bagaimana kekuatan dari seorang pendekar tahap Immortal General tahap Beginner!" sambungnya.


Rai hanya tersenyum ketika Adrian melontarkan kata itu, "Kau sudah selesai bicara?"


"Jika sudah, bisa biarkan aku santai? Jika aku tidak santai, aku tidak akan bisa bertarung," ucap Rai lalu berlalu meninggalkan Adrian.


Adrian sedikit marah ketika dirinya kembali diacuhkan oleh Rai, "Hei, kau! Akan kucincang tubuhmu nanti! Lihat saja!"


"Benar. Lalu, aku akan membakar mayatmu, merebut Rin darimu, dan mengambil pedangmu yang berharga itu! Hahaha..." ucap Adrian.


"Kalau begitu, buktikan diarena! Karena aku, tidak suka orang yang hanya bisa menggonggong layaknya anjing!" ucap Rai datar.


"Kau..." Adrian hendak membalas perkataan Rai lagi, tapi suara tetua Adraksh yang membuka ujian hari ini, membuatnya mengurungkan niatnya.


"Huh, lihat saja nanti!" umpat Adrian sambil menatap benci kearah Rai.


***


"Selamat datang kembali, semuanya! Kembali lagi bersama saya! Tentunya kalian tahu siapa saya! Jadi, tanpa banyak basa-basi lagi, mari kita mulai pertandingan hari ini!" ucap tetua Adraksh yang langsung disambut dengan teriakan gembira para penonton.


"Baiklah! Hari ini adalah babak semifinal! Babak ini dibagi menjadi dua pertandingan yang sudah dijadwalkan kemarin! Tentunya kalian sudah tahu siapa yang akan bertanding pertama kali! Mari panggil mereka, Rai Tanaka dan Adrian!" ucap tetua Adraksh.


Rai dan Adrian kemudian berjalan menuju arena. Dengan penuh semangat, Adrian langsung melompat kedalam arena. Sedangkan, Rai hanya berjalan santai mendekati arena.


Namun, lagi-lagi Rai tidak kunjung masuk arena. Melainkan mengeluarkan satu kursi santai, payung besar untuk melindunginya dari sinar matahari dan satu cangkir teh.

__ADS_1


"Peserta Rai, apa yang kau lakukan?" tanya tetua Adraksh.


"Sebentar, tetua! Aku ingin minum teh terlebih dahulu untuk menjernihkan pikiranku," ucap Rai kemudian menyesap teh yang ada dicangkir.


"Tapi, kau harus bertanding!" ucap tetua Adraksh.


Rai menjentikkan jarinya dan seketika seseorang yang mirip dengan Rai tiba-tiba saja muncul dan melompat masuk kedalam arena.


"Apakah ini boleh?" tanya Rai.


"Hah... Tentu!" ucap tetua Adraksh pasrah.


"Baiklah, pertandingan pertama semifinal antara Rai Tanaka melawan Adrian, dimulai!" ucap tetia Adraksh.


"Ingat, jangan mengalahkannya! Hanya menahannya saja!" ucap Rai yang langsung dibalas dengan anggukan oleh bayangannya.


Sementara itu, Adrian yang merasa tidak dianggap, segera menyerang bayangan Rai dengan dua pedang beraliran elemen petir kuning. Dia menyerang bayangan Rai dengan sekuat tenaga.


Namun, serangan itu masih biasa saja untuk bayangan Rai. Bahkan, dia tidak kesulitan untuk menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh Adrian.


Merasa serangannya yang berhasil dihindari, membuat Adrian marah dan terus menyerang bayangan Rai dengan cepat dan membabi buta.


Disisi lain, Rai yang telah selesai minum teh, langsung melompat masuk kedalam lapangan. Dia masih berdiri mengawasi pertarungan yang terjadi.


Namun, tak butuh waktu lama baginya untuk menghentikan pertarungan itu. Karena bayangan yang ia ciptakan, dihilangkan dengan mudah.


Melihat lawannya menghilang, Adrian segera mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru arena. Setelah menemukan Rai yang berdiri santai, Adrian langsung menyerangnya.


Berbagai jurus dia keluarkan. Berbagai tebasan ia gunakan. Berbagai jebakan ia siapkan. Tapi, itu semua tetap tidak bisa membuat Rai kalah. Jangankan kalah, serangan-serangan yang dilancarkan Adrian tidak ada yang bisa menyentuh Rai, bahkan sehelai pakaiannya saja..


"Grahhhh... Kenapa kau terus menghindar? Apa kau takut padaku, hah?!" tanya Adrian marah.


"Bukannya aku takut. Tapi, aku khawatir kalau aku menyerangmu, kau tidak akan bisa bertahan. Karena..." Rai tiba-tiba saja berhenti dan menahan serangan Adrian dengan satu tangan, "Aku hanya butuh satu jari saja untuk mengalahkanmu!"


Rai kemudian meletakkan jari telunjuknya didahi Adrian lalu mulai mengalirkan elemen alamnya sambil mengucapkan sebuah jurus, "Cahaya Petir Pelumpuh!"


Elemen alam yang ada dijari Rai langsung mengeluarkan elemen petir ungu setelah Rai selesai mengucapkan jurusnya. Bersamaan dengan itu, Adrian berteriak keras ketika petir ungu itu memasuki tubuhnya hingga pingsan.


"Peserta Rai, apa dia baik-baik saja?" tanya tetua Adraksh.


"Ya, dia baik-baik saja. Aku hanya melumpuhkannya saja untuk sementara. Beberala jam lagi dia akan bangun, tapi pastikan untuk memberikannya energi alam terus menerus sampai paling tidak satu jam setelah dia siuman. Jika tidak, dia akan menderita kelumpuhan fisik disebagian tubuhnya selama beberapa bulan!" jawab Rai.

__ADS_1


"Baiklah, karena peserta Adrian sudah tak sadarkan diri, makan kuumumkan bahwa pemenang pertandingan pertama kali ini adalah Rai Tanaka!" ucap tetua Adraksh.


Setelah itu, pertandingan kedua dimulai dan dimenangkan oleh Rin dengan mudah. Karena lawannya memiliki tingkat dan teknik yang jauh dibawahnya.


__ADS_2