
"Ugh..." Rin terbangun dari pingsannya sembari memegangi kepalanya yang sakit. Saat itu, hari sudah berganti pagi. Suasana di kamar itu sepi dan sunyi, karena semua orang pergi untuk menjalankan aktivitasnya masing-masing.
"Kenapa kepalaku sangat sakit? Dan apa yang ku lakukan di sini?" tanya Rin linglung. Ia tidak bisa mengingat kejadian yang menimpa dirinya serta kekacauan apa yang ia sebabkan.
Setelah sakit kepalanya mulai berangsur menghilang, Rin segera turun dari atas kasur dan langsung pergi dari rumah Behrooz menuju sungai yang berada tak jauh dari rumah itu.
Rin berjalan santai dalam perjalanannya menuju sungai. Ia memilih menikmati kicauan burung dan angin semilir yang menyegarkan.
Setibanya di sungai, Rin langsung duduk di sebuah batu besar sembari menikmati udara segar yang menerpa wajahnya. Ia melupakan sejenak semua permasalahan yang ada di dalam pikirannya.
"Suasana yang tenang dan damai! Kapan terakhir kali aku merasakan ini, ya?" gumam Rin.
Tepat setelah Rin selesai bergumam, tiba-tiba seseorang muncul dari dalam sungai hingga membuat airnya terciprat kemana-mana dan hampir membasahi tubuh Rin.
"Kyaaa... Ya ampun! Siapa yang mengganggu waktu santaiku?" tanya Rin dengan setengah berteriak.
"Hm? Rin? Kau sudah siuman?" tanya seorang pria yang tak lain adalah Rai.
"Rai? Kau..." Rin tak bisa mengalihkan pandangannya dari Rai setelah melihat tubuh kekar serta perut six-pack milik Rai yang membuat pipi Rin memerah.
Rai terdiam untuk beberapa saat ketika melihat pipi Rin yang memerah. Ia kemudian mengikuti arah tatapan mata Rin yang mengarah pada tubuhnya. Seketika Rai menepuk ringan dahinya sembari tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha... Maafkan aku, Rin! Aku akan segera memakai bajuku!" ucap Rai seraya menyeka air matanya.
Rai segera keluar dari dalam sungai. Terlihat ia hanya mengenakan sebuah celana panjang berwarna hitam yang sudah basah. Tubuhnya pun otomatis ikut basah dan itu membuatnya terlihat seksi di mata Rin.
Segera Rai mengeluarkan satu set pakaian bergaya bangsawan dengan warna hitam serta sebuah jubah dengan warna ungu.
Rai langsung melepas celana basahnya dan menggantinya dengan pakaian yang baru saja ia keluarkan. Tentu dia melakukannya di balik semak-semak yang jauh dari tempat Rin berada.
Tidak butuh waktu lama bagi Rai untuk berganti pakaian. Kini ia telah keluar dari semak-semak dengan penampilan yang sangat menawan. Dan sekali lagi, pipi Rin memerah setelah melihat penampilan dari Rai.
"R-Rai, apakah kau bisa memakai topengmu?" tanya Rin seraya memalingkan wajahnya.
Rai terkekeh melihat tingkah Rin yang malu-malu. Ia segera mengeluarkan topeng setengah wajah dengan warna yang sama seperti pakaiannya dari cincin penyimpanannya dan langsung memakainya.
Setelah itu, mereka kembali ke rumah tabib Behrooz dengan berjalan seraya menikmati suasana hutan yang asri nan elok.
***
Butuh waktu beberapa menit untuk Rai dan Rin tiba di rumah tabib Behrooz. Terlihat suasana di halaman rumah tabib Behrooz yang ramai.
__ADS_1
Ada Yuki, Raiden, Miyuki dan tabib Behrooz yang sedang menyiapkan bahan serta alat makan. Tidak lupa sebuah meja panjang dan dua kursi panjang sebagai tempat untuk makan.
Ketika Rai dan Rin sampai, Yuki adalah orang pertama yang menyadarinya dan langsung mendekati mereka seraya menanyakan keadaan anaknya.
"Rai, Rin! Darimana saja kalian?" tanya Yuki yang langsung dijawab Rai dengan menjelaskan kemana perginya mereka tadi.
"Oh, begitu! Baiklah, kau boleh pergi Rai! Aku akan berbicara sejenak dengan anakku ini!" ujar Yuki dengan senyum ramahnya.
"Rai, s-siapa wanita ini?" tanya Rin ketakutan sembari bersembunyi di belakang tubuh Rai.
"Dia ibumu, Yuki Kiyomizu!" jawab Rai.
"Ibuku? Yuki Kiyomizu? Siapa itu?" tanya Rin dengan bingung.
"Rin, kau tidak mengenal ibu?" tanya Yuki yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Rin.
Yuki maju mendekati Rin, sedangkan Rai menyingkir mendekati meja makan. Kemudian, Yuki menyentuh wajah putrinya itu dengan tatapan sayu. Rin yang kebingungan, hanya bisa menatap mata wanita asing di depannya itu.
Ketika Rin menatap mata wanita di depannya itu, tiba-tiba Rin merasakan sebuah memori yang memasuki pikirannya.
Mulai dari tangisan seorang bayi, pertarungan antara dua orang, kematian seseorang, sesosok naga es, orang-orang jahat, kediaman dengan plat bertuliskan "KIYOMIZU", pembantaian keluarga, runtuhnya kediaman itu dan pelarian seorang anak kecil dari peristiwa pembantaian keluarganya.
Tak lama setelah teriakan itu, Rin pingsan di hadapan Yuki. Dengan tanggap, Yuki menangkap tubuh anaknya itu dalam keadaan panik.
Melihat keadaan Rin yang pingsan, Miyuki langsung mengambil inisiatif membawa Rin ke dalam rumah tabib Behrooz untuk dirawat.
***
Satu jam telah berlalu dan Rin masih belum sadarkan diri setelah menerima perawatan dari tabib Behrooz. Raut wajah Yuki juga terlihat kusut setelah mendengar diagnosa dari tabib Behrooz. Ia kini sendirian di dalam ruang perawatan.
Sedangkan, Miyuki berdiri di luar ruangan dengan tubuh yang bersandar di dinding kayu. Ia masih sedikit memikirkan ucapan tabib Behrooz beberapa waktu yang lalu.
"Sepertinya, Rin kehilangan separuh ingatannya imbas kejadian beberapa waktu lalu! Aku tidak tahu apa yang dia lupakan! Tapi, kemungkinan besar yang ia lupakan adalah peristiwa kelahirannya, keluarganya, nama klannya dan peristiwa kelam lainnya!"
Itulah ucapan tabib Behrooz setelah memeriksa kondisi ingatan Rin. Hal itu tentu membuat Miyuki khawatir. Sebab, jika perkataan tabib Behrooz benar, maka keberadaan dirinya dalam bentuk naga akan menjadi ancaman bagi Rin, mengingat ia termasuk makhluk yang berjasa dalam penyelamatan Rin dari pembantaian keluarga Kiyomizu.
"Hah... Lebih baik aku menenangkan pikiranku dulu!" gumam Miyuki seraya berjalan menuju halaman rumah tabib Behrooz.
Begitu ia sampai di sana, ia sedikit terkejut ketika mendapati dua orang pria yang ia kenal sedang bersantai sembari memakan daging panggang.
"Hei, apa-apaan kalian ini!" teriak Miyuki yang membuat dua pria yang tak lain adalah Rai dan Raiden itu berhenti makan.
__ADS_1
"Ada apa, Miyuki? Jangan sering marah-marah jika tidak ingin cepat tua!" balas Raiden santai lalu kembali melanjutkan makannya.
"Ada apa kau bilang? Kau tidak lihat keadaan Rin? Baru saja dia siuman dan sekarang ia pingsan lagi! Belum lagi potensi hilang ingatan yang bisa saja dia terima!" teriak Miyuki yang kembali membuat Rai dan Raiden berhenti makan.
"Hah... Miyuki, bisakah kau diam? Kau mengganggu waktu makan kami!" jawab Raiden dengan jengkel.
"Raiden, aku tahu sifatmu yang tidak peduli tentang orang lain! Tapi, tidak bisakah kau hilangkan sebentar sifat itu?" ujar Miyuki.
"Dan Rai! Sepertinya aku menaruh harapan yang terlalu tinggi padamu! Aku tidak percaya kau begitu santai ketika mengetahui Rin sedang tak sadarkan diri!" bentak Miyuki kepada Rai.
"Miyuki, cukup! Tidak bisakah kau diam untuk saat ini? Kau mengganggu waktu makan kami! Tidak bisakah kau sedikit bersantai?" balas Raiden dengan suara tinggi.
"Bisa-bisanya kau bicara begitu disaat seperti ini! Tidak bisakah—"
"CUKUP!!!" bentak Rai seraya mengeluarkan aura intimidasinya.
Miyuki langsung menatap tajam Rai. Ia mengeluarkan aura intimidasinya yang mampu menekan aura Rai.
"Rai, jika kau berani berbuat macam-macam, maka kau akan—" belum selesai Miyuki berbicara, sebuah benda tajam sudah berada di depan lehernya.
Bersamaan dengan itu, Rai tiba-tiba muncul di belakang Miyuki dengan raut wajah menyeramkan.
"Miyuki, jika kau tidak bisa diam, maka pedang ini akan memotong lehermu!" bisik Rai dengan suara yang menyeramkan.
"M-mau apa kau? Aku ini Ice Dragon!" balas Miyuki dengan raut wajah ketakutan.
"Walaupun kau Ice Dragon, aku tidak akan segan untuk membunuhmu selama aku bisa melakukannya! Lagipula, siapa yang akan percaya kalau kau adalah Ice Dragon jika kau mudah tersulit emosi dan kewaspadaanmu semakin menurun! Kau hanya akan menjadi pecundang!" ucap Rai seraya menarik kembali pedangnya lalu bergerak cepat kearah meja makan untuk duduk santai sembari menikmati secangkir teh di hadapannya.
Slurp...
"Mengenai kondisi Rin, aku sudah tahu apa yang dideritanya! Dia sedang dalam fase 'Lost of Past Memories'! Sebuah fase yang di mana penderitanya akan kehilangan ingatan tentang kenangan masa lalunya! Kenangan ini biasanya meliputi keluarga, teman dekat ataupun kejadian kelam yang menimpanya!" jelas Rai setelah menyeruput tehnya.
"Kondisi ini biasanya hanya diderita oleh orang yang memiliki penyakit amnesia, Alzheimer dan Demensia! Namun, ada beberapa kasus di mana penderitanya tidak mengalami salah satu dari tiga penyakit tersebut!" lanjutnya.
"Kondisi 'Lost of Past Memories' ini, dapat bertahan selamanya pada orang yang menderita penyakit Alzheimer dan Demensia! Namun, ada juga yang hanya bertahan selama beberapa tahun saja pada beberapa orang yang menderita penyakit amnesia dan Demensia!" tukas Rai.
"Untuk kasus Rin, dia menderita kondisi ini disebabkan oleh Satan yang mengambil ingatan masa lalunya untuk memperkuat pondasi jiwanya! Hal ini menyebabkan Rin melupakan kenangan masa lalunya! Tapi, ada satu hal yang membuatku takut!" ucap Rai yang membuat Miyuki semakin gemetar.
"A-apa hal itu, Rai? T-tolong beritahu aku!" desak Miyuki dengan raut wajah takut dan khawatir.
"Rin akan sangat ketakutan jika ia melihat salah satu kenangan yang hilang itu dan yang paling parah adalah... Rin akan kehilangan kendali atas tubuhnya!"
__ADS_1