
Setelah selesai berkultivasi, Rai segera keluar dari ruang kultivasinya. Di luar ruangan, telah berdiri 2 orang laki-laki yang sedari tadi menunggu Rai.
"Bagaimana kultivasi kalian berdua? Ada peningkatan?" tanya Rai.
"Aku telah berada di tingkat God tahap Senior," jawab Raiden.
"Aku hanya sampai Holy Emperor tahap Beginner," jawab Alvarez.
"Sepertinya kalian meningkat cukup pesat, ya. Baiklah Raiden, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Rai.
"Ikuti aku!" Raiden berjalan menuju suatu tempat diikuti oleh Rai dan Alvarez.
Sesampainya di tempat yang dituju, Raiden berhenti. Terlihat dua buah kolam ajaib yang berukuran cukup besar dengan airnya yang jernih. Di tengah masing-masing kolam terdapat sebuah bunga teratai raksasa yang bisa diduduki oleh satu orang.
"Tempat apa ini?" tanya Alvarez dengan tatapan terkesima.
"Ini adalah kolam kesadaran. Kolam ini akan menunjukkan kekuatan sejati kalian dengan menguji jiwa kalian," jelas Raiden.
Rai dan Alvarez mengangguk mengerti. Kini mereka melihat dua kolam itu dengan tatapan yang berbeda.
"Yah, mungkin ini waktu yang tepat untuk kalian memulainya daripada hanya memandangnya," celoteh Raiden yang membuat Rai dan Alvarez tersadar dari dunianya masing-masing.
Dengan satu lompatan, Rai dan Alvarez duduk di atas teratai raksasa di masing-masing kolam. Mereka mengambil posisi duduk bersila dan mulai memusatkan konsentrasi mereka.
***
Di sebuah reruntuhan kuil,
Alvarez membuka kedua matanya dan melihat-lihat ke sekitar. Namun ia hanya melihat gelapnya langit malam dan puing-puing kuil yang runtuh.
Ia beranjak dari tempat duduknya lalu berkeliling melihat reruntuhan kuil itu. Di setiap dinding batu yang dilihat Alvarez, terdapat semacam ukiran yang tidak sempurna.
Ukiran-ukiran itu terlihat membentuk suatu pola jika digabungkan dengan puing dinding batu yang lain. Tanpa pikir panjang, Alvarez segera menyusun belasan puing dinding batu yang ada di sekitarnya hingga membentuk sebuah pola.
Setelah usaha yang keras selama beberapa menit, akhirnya Alvarez berhasil menyusun belasan puing dinding batu itu hingga membentuk pola seekor naga yang sedang melilit bulan.
Alvarez memperhatikan pola ukiran itu untuk beberapa saat. Tapi, tidak ada yang terjadi. Alvarez pun kembali meneliti susunan puing dinding batu itu untuk menemukan petunjuk. Dan hasilnya, Alvarez menemukan sebuah kalimat di bawah pola ukiran tersebut.
"Bencana datang dari kegelapan. Menghancurkan cahaya yang menyinari dunia. Melenyapkan makhluk-makhluk yang ada. Sesosok pahlawan muncul. Menghancurkan bencana. Meleburnya menjadi kekuatan. Menjadikannya tak tertandingi," ucap Alvarez membaca kalimat tersebut.
__ADS_1
Tak lama setelah Alvarez membaca kalimat itu, pola ukiran naga yang ada di hadapannya menjadi bersinar. Puing-puing dinding batu yang membentuk pola ukiran itu, melayang dengan perlahan.
Kemudian, muncul sebuah formasi yang memiliki bentuk sama persis dengan pola ukiran di dinding batu yang melayang itu. Dari formasi itu, perlahan keluar seekor naga hitam yang sangat besar.
Naga hitam itu mengaum dengan sangat kencang. Bola matanya menatap Alvarez dengan tajam. Naga hitam itu kemudian turun perlahan menuju Alvarez.
"Kau siapa, anak muda?" tanya naga hitam itu.
"Aku adalah Alvarez. Seorang Demon Hunter," jawab Alvarez.
"Seorang Demon Hunter?" naga hitam itu melihat tubuh Alvarez dari ujung kepala sampai ujung kaki dan kemudian tertawa, "Anak culun sepertimu menjadi seorang Demon Hunter? Sungguh lucu, hahahaha....."
"Jangan kau remehkan aku. Aku menghormatimu karena kau adalah ras naga. Tapi jangan pikir, aku ini lemah," ucap Alvarez tegas.
"Oh, begitukah? Kalau begitu, mari kita bertarung," ucap naga hitam lalu merubah tubuhnya menjadi manusia.
"Kalau kau bisa melukaiku, kau akan aku anggap sebagai Demon Hunter dan akan mendapatkan hadiah dariku," lanjut sang naga hitam.
"Baiklah, aku bersedia!" ucap Alvarez seraya mengeluarkan pedang besarnya dari cincin penyimpanan.
***
Swush...
Tap... Tap... Tap...
Alvarez mengambil inisiatif pertama untuk menyerang. Ia mengayunkan pedangnya secara diagonal, tapi masih bisa ditahan oleh naga hitam.
Alvarez kembali mengayunkan pedangnya secara horizontal, tapi masih dihindari oleh naga hitam. Alvarez mengayunkan pedangnya lagi secara vertikal, tapi masih bisa ditahan oleh naga hitam.
Alvarez terus menerus mengayunkan pedang besarnya. Tapi masih bisa dihindari oleh naga hitam dengan baik.
Disaat Alvarez melakukan sebuah kesalahan, naga hitam langsung memberondongnya dengan serangan. Cakaran demi cakaran dilayangkan oleh naga hitam. Menyebabkan luka di tubuh Alvarez.
Diserang dengan banyak cakaran, Alvarez berusaha melindungi tubuhnya dengan pedang besarnya yang ia posisikan di depan tubuhnya.
Trang... Trang... Trang... Trang...
Bug... Duak...
__ADS_1
Alvarez jatuh terpental setelah menerima tendangan dari naga hitam. Pedangnya terlepas dari genggaman tangannya dan berada di dekat naga hitam.
"Apa hanya ini kekuatanmu? Sungguh lemah, kau tidak cocok untuk menjadi Demon Hunter," ucap naga hitam.
"Tadi aku memang lemah. Tapi tidak untuk sekarang," balas Alvarez.
Ia bangkit dengan perlahan dan memasang wajah marah. Tak lama, aura di sekitarnya mulai berubah.
Aura yang lebih berat dan kuat, tiba-tiba muncul dari tubuh Alvarez. Bola matanya bersinar memancarkan warna putih yang menyilaukan. Tubuhnya melayang diikuti dengan memanjangnya rambut miliknya yang juga berubah warna menjadi hitam.
"Mode Raja Pemburu!" ucap Alvarez dengan suaranya yang berubah menjadi lebih berat.
Naga hitam yang melihat perubahan Alvarez mulai tertarik dengan kekuatan barunya, "Ho, sebuah mode, ya? Ini mulai menarik."
Alvarez menerjang maju ke arah naga hitam dengan tangan yang mengepal. Sebuah pukulan ia lancarkan ke dada naga hitam dengan sangat keras. Tapi masih dapat dimentahkan oleh naga hitam.
Mengetahui serangannya gagal, Alvarez kembali melancarkan beberapa serangan. Tidak hanya pukulan, ia juga melancarkan beberapa tendangan yang berhasil membuat naga hitam terpental.
Berada di atas angin, Alvarez segera mengambil pedangnya yang tergeletak di tanah dan langsung mengalirkannya dengan energi alam.
Begitu pedangnya terisi energi alam, Alvarez langsung melancarkan beberapa serangan tebasan energi ke arah naga hitam yang masih terengah-engah.
Belum cukup naga hitam menghirup udara, rentetan serangan kembali mengarahnya kepadanya. Dengan susah payah naga hitam menghindari serangan-serangan itu.
'Kekuatan anak ini sangat besar. Ia tidak berbohong tentang Demon Hunter,' batin naga hitam.
Baru saja ia membatin, sebuah serangan dadakan yang dilancarkan oleh Alvarez tiba-tiba mengenai tubuhnya hingga ia terpental dan menabrak puing-puing dinding kuil.
"Uhuk... Uhuk... Sudah cukup anak muda. Aku mengaku kalah," ucap naga hitam meminta Alvarez berhenti.
Mendengar permintaan naga hitam, Alvarez segera menghentikan modenya dan berubah kembali menjadi seperti semula.
"Baiklah. Karena kamu sudah menunjukkan kekuatanmu dan berhasil mengalahkanku, akan aku tepati janjiku kepadamu," ucap naga hitam.
"Terima kasih," jawab Alvarez.
Naga hitam itu kemudian menyentuh dahi Alvarez menggunakan 2 jari, lalu mengalirkan energinya ke dahi Alvarez. Seketika pandangan Alvarez menjadi buram. Namun disaat ia hampir mengejamkan mata, ia melihat naga hitam dan tiba-tiba teringat akan suatu nama.
"Night Dragon."
__ADS_1