Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 57 : Petir Suci


__ADS_3

Di sebuah tempat,


Rai membuka matanya perlahan. Ia melihat sekelilingnya dan menyadari telah berada di tempat yang berbeda.


"Jadi begini cara kerja kolam kesadaran," gumam Rai lalu berdiri dan mulai menelusuri tempat itu.


Ia meraba-raba semua benda di sekitarnya dengan perlahan. Ia juga menyeka dan membersihkan beberapa patung yang ada di sana sambil berharap menemukan sesuatu.


Sampai di mana Rai menemukan sebuah benda yang terlihat seperti papan nama yang tertutup debu. Dengan perlahan ia membersihkannya sampai ia menemukan sebuah tulisan yang merupakan nama tempat itu.


"Lightning Altar?"


Tepat setelah Rai membaca tulisan itu, papan nama yang ada dihadapannya tiba-tiba bersinar dan menyilaukan pandangannya.


Di saat papan nama itu semakin bersinar, kedua tangan Rai justru bergetar dengan sendirinya dan tiba-tiba mengalirkan petir langit serta petir emas ke papan nama itu.


Tak lama kemudian, papan nama itu hancur berkeping-keping akibat tekanan dari petir langit dan petir emas. Namun tepat setelah papan nama itu hancur, muncul derakan petir dengan 3 warna dari bawah kaki Rai.


Tiga derakan petir itu adalah petir langit, petir emas dan petir hitam. Ketiga derakan petir itu kemudian menyebar ke seluruh ruangan dan membuat empat patung di sudut ruangan menjadi hidup.


Empat patung yang sebelumnya tertutup batu dan debu, kini berubah menjadi raksasa dengan warna yang berbeda. Warna-warna dari keempat raksasa itu, juga menjadi simbol dari kekuatan mereka.


Raksasa berwarna ungu, memiliki kekuatan petir langit. Raksasa berwarna emas, memiliki kekuatan petir emas. Raksasa berwarna hitam, memiliki kekuatan petir hitam. Dan raksasa berwarna merah, memiliki kekuatan petir merah.


"Siapakah kau, anak muda?" tanya raksasa emas.


"Dari mana kau berasal?" tanya raksasa hitam.


"Bagaimana kau bisa masuk ke sini?" tanya raksasa merah.


"Dan bagaimana kau memiliki 3 kekuatan petir suci sekaligus?" tanya raksasa ungu.


Mendapati dirinya diberondong dengan segudang pertanyaan, Rai hanya bisa menghela nafas.


"Namaku Rai Tanaka. Aku berasal dari Human World. Aku bisa berada di sini berkat kolam kesadaran. Dan tentang aku memiliki 3 kekuatan petir suci sekaligus itu karena aku mendapat bantuan dari 3 Heaven Beast," jelas Rai.


"Hm, 3 Heaven Beast? Apa saja itu?" tanya raksasa ungu.


"Lightning Dragon, Naga Emas dan Kucing Hitam Magis," jawab Rai.


Keempat raksasa itu terperanjat mendengar jawaban Rai. Mereka menatap Rai dengan tatapan tidak percaya.


"A-apakan yang kau ucapkan itu benar, anak muda?" tanya raksasa ungu yang dibalas dengan anggukan oleh Rai.


"Bagaimana mungkin seorang manusia dari Human World memiliki 3 Heaven Beast yang mampu memberikan petir suci?" tanya raksasa merah.


"Hanya ada satu cara untuk membuktikannya," ucap raksasa ungu sembari menatap kawan-kawannya dengan maksud tertentu.


"Anak muda, kami akan memberikanmu ujian!" ucap raksasa ungu.


"Ujian apa yang anda maksud?" tanya Rai.


"Kami akan mengujimu dengan kekuatan kami!" ucap raksasa emas.


"Kau boleh menggunakan apa saja yang kau miliki untuk melawannya!" sambung raksasa hitam.


"Dan jika kau bisa menghadapi ujian kami, mungkin kau bisa mendapatkan kekuatan kami! Tapi jika kau gagal, jiwamu yang akan musnah!" tutup raksasa merah.


"Baiklah! Aku terima itu!" jawab Rai.

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban Rai, keempat raksasa itu menciptakan empat makhluk yang mewakili kekuatan petir suci.


Naga yang mewakili petir langit, Kirin yang mewakili petir emas, Harimau yang mewakili petir hitam dan Elang yang mewakili petir merah.


"Peraturannya adalah kau harus melawan mereka! Jika kau bisa mengalahkan mereka, kekuatan mereka akan menjadi milikmu! Tapi jika kau kalah, jiwamu yang akan menjadi santapan mereka!" jelas raksasa ungu.


"Baiklah!" ucap Rai lalu mengeluarkan pedang katananya.


'Aku akan mencoba mengukur kekuatan mereka dengan petir emas,' batin Rai.


Bzzzt... Bzzzt...


Rai menggunakan elemen petir emasnya untuk melawan makhluk-makhluk itu. Ia alirkan petir emasnya ke bilah pedang katana yang dipegangnya.


Kemudian, Rai menerjang maju ke arah Kirin emas dengan teknik Mata Dewa yang telah diaktifkannya. Dan dengan sebuah tebasan pedang, ia memulai pertarungannya dengan para makhluk itu.


Bzzzt... DUAR... BOOM...


Kirin emas yang mendapat serangan dari Rai, langsung menembakkan bola petir raksasa ke arah Rai. Tapi sayang, pergerakan Rai yang cepat membuatnya mampu menghindari serangan itu.


"Lilitan Petir Emas!"


Rai menjulurkan pedangnya ke depan sambil terus mengalirkan petir emas ke pedang katananya yang mulai memunculkan sulur-sulur petir emas.


Sulur-sulur petir emas itu mengikat Kirin emas hingga tak dapat bergerak. Lalu dengan sebuah tusukan dan pukulan, Rai menyerang Kirin itu sampai membuatnya menabrak dinding altar.


Melihat Kirin emas tidak bergerak, Rai langsung merubah targetnya ke Harimau hitam dan mengganti kekuatannya menjadi elemen petir hitam yang ia dapat dari kekuatan Theron.


Dengan sebuah gerakan cepat, Rai muncul di depan Harimau hitam itu sembari melancarkan sebuah tusukan ke arahnya. Namun, Harimau hitam dapat menghindarinya dan berbalik menyerang Rai menggunakan ekornya.


Alhasil, Rai terpental menuju Elang merah yang siap menyambutnya dengan sebuah serangan.


"KWAK! KWAK!"


Sepasang serangan cahaya merah mengarah ke kepala Rai. Beruntung Rai dapat menghindarinya dengan cepat, walaupun pelipisnya terluka karena terkena serangan cahaya tersebut.


'Ah, sial! Harimau dan Elang itu menyerang bersamaan. Kirin itu juga mulai bergerak kembali. Tersisa Naga itu. Jika mereka menyerang bersamaan, aku hanya akan terlihat seperti bola karet yang dimainkan kucing,' pikir Rai.


Melihat kondisinya yang sedang terdesak, Rai menciptakan 2 bayangan dirinya yang akan membantunya untuk melawan Harimau hitam dan Elang merah.


Tanpa banyak basa-basi, 2 bayangan Rai langsung bergerak melawan Harimau hitam dan Elang merah. Sedangkan Rai yang asli, bergerak melawan Kirin emas.


"Pancaran Petir Emas!"


Pedang katana yang digenggam Rai mengeluarkan semburat cahaya keemasan yang membuat pandangan Kirin emas silau. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Rai langsung menerjang Kirin emas dengan sebuah jurus yang siap digunakan.


"Sambaran Petir Emas!"


BLAZZZTTT...


"GROOOAAAHHH!!!!"


Kirin emas berteriak kesakitan pasca serangan dari Rai menghujam tubuhnya. Dengan amarah yang memuncak, Kirin emas mengangkat sepasang kaki depannya dan menghentakkannya dengan keras ke tanah. Hentakan Kirin emas memunculkan banyak duri emas yang berelemen petir.


Bzzzt...


"Argh..."


Rai mengerang kesakitan karena serangan Kirin emas mengenai tubuhnya dan membuatnya tak fokus selama beberapa menit.

__ADS_1


Seakan sadar dengan situasi Rai, Kirin emas berlari ke arahnya dengan tanduk yang siap menerjang. Alhasil, Kirin emas berhasil menyeruduk Rai dan membuatnya menabrak dinding altar dengan keras.


"Uhuk... Uhuk... Kau tahu? Guncangan itu membuat jantungku terasa nyeri. Uhuk... Uhuk..." ucap Rai sebelum jatuh ke tanah.


"Arghh... Kirin sialan," umpat Rai seraya berusaha bangun.


Rai kembali mengaktifkan Mata Dewa dan mulai mencari kelemahan Kirin emas. Sembari menganalisa kelamahannya, Rai juga berusaha menghindari serangan dari Kirin emas yang sedari tadi menyerangnya.


"Aha, ketemu," Rai akhirnya menemukan kelemahan dari Kirim emas yang terletak di dua tanduknya, "Tamatlah riwayatmu, Kirin sialan!"


"Delapan Belas Tebasan Dewa Petir!"


Rai mengayunkan pedang katananya sebanyak delapan belas kali. Setiap tebasan itu menghasilkan sinar petir emas yang meluncur bebas ke arah Kirin emas dan memotong-motong tanduknya sampai menjadi serpihan kecil.


"GROOOAAAHHH!!!"


Kirin emas mengerang kesakitan akibat tanduknya yang sudah musnah. Tanpa menghiraukan erangan itu, Rai langsung berusaha mengakhiri duelnya dengan Kirin emas.


"Tebasan Petir Pencabut Nyawa!"


Dengan gerakan secepat kilat, Rai menebas tubuh Kirin emas sampai terbelah menjadi dua. Jasad Kirin emas perlahan memudar dan menyisakan seonggok bola emas bersinar yang tergeletak di tanah.


"Satu sudah selesai. Sekarang giliranmu, Naga!" ucap Rai setelah memungut bola emas itu.


Rai mengeluarkan Sky Lightning Sword dari cincin penyimpanan dan menyeretnya saat ia berjalan menuju Naga ungu. Perlahan petir langit mengalir dari tangan Rai menuju Sky Lightning Sword.


Tap... Wuush...


Rai melompat tinggi dan langsung melayangkan sebuah tebasan diagonal ke arah wajah Naga ungu. Tebasan itu mengenai wajah Naga ungu dengan telak dan berhasil membuatnya marah.


"GRRRR!!!!"


Naga ungu yang marah, menyerang Rai dengan bola-bola energi petir raksasa. Tapi serangan itu masih dapat dihindari Rai dengan baik.


Seraya menghindar, Rai melakukan akselerasi cepat menuju tubuh bagian samping dari Naga ungu. Dengan hentakan senyapnya, Rai berlari dan melompat ke atas tubuh Naga ungu. Dan dengan Sky Lightning Sword yang digenggamnya, Rai berusaha menusuk tubuh Naga ungu itu. Namun sayang, tusukan itu masih belum dapat menembus daging dari Naga ungu.


'Apa? Pedangku tidak bisa menembus sisik dari naga ini?' batin Rai.


Menyadari kehadiran Rai di atas tubuhnya, Naga ungu langsung menggoyang-goyangkan tubuhnya agar Rai pergi dari tubuhnya.


Benar saja, Rai yang sama sekali tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya, langsung terjatuh ke tanah dengan sangat keras.


"Argh... Punggungku," keluh Rai.


Naga ungu menatap Rai dengan tajam. Ia tidak peduli apakah Rai masih hidup atau tidak. Yang ia tahu hanya satu. Serang musuh hingga hancur. Kemudian Naga ungu membuka mulutnya lebar-lebar sembari mengumpulkan energi petir yang akan ia ubah menjadi bola petir raksasa.


Rai menatap Naga ungu dengan tatapan terbelalak. Ia merasa hidupnya akan hancur jika tidak segera menghindar dari tempatnya sekarang. Dengan susah payah ia berdiri dan melarikan diri.


Namun belum sampai ia menyelamatkan diri, Naga ungu langsung saja melepaskan bola petir raksasanya menuju Rai. Alhasil, Rai terpental dan menabrak dinding gua dengan sangat keras.


"Uhuk... Uhuk..."


Brak...


Rai jatuh tersungkur setelah terbatuk darah akibat benturan keras yang dialaminya. Ia merasa tubuhnya telah remuk di dalam. Tulang-tulangnya terasa sakit. Dan tubuhnya terasa mati rasa. Sementara itu, dua bayangannya telah lenyap saat ia menabrak dinding gua. Dua pedangnya pun tertancap di tanah tak jauh dari dirinya.


'Sial! Apakah aku akan gagal di sini? Apakah aku akan kalah dan jiwaku akan musnah? Apakah aku akan kehilangan kekuatanku? Apakah aku... Gagal membalaskan dendam... Keluargaku?' Rai bertanya kepada dirinya sendiri. Tapi ia tidak dapat menemukan jawabannya.


Pandangan Rai perlahan memburam. Ia melihat 4 patung petir suci yang ada di sudut-sudut gua, tertawa melihat kondisinya. Sementara 3 hewan raksasa yang menyerangnya, perlahan mendekat.

__ADS_1


Disaat pandangannya sepenuhnya gelap, terlihatlah bayang-bayang kenangan keluarganya. Kenangan bersama ayah, ibu, adik, paman, bibi, nenek, dan kakeknya saat kecil.


"Ayah... Ibu... Keluargaku..."


__ADS_2