
Raiden hanya tersenyum untuk menanggapi ucapan Rai. Kemudian, dia kembali ke kegiatan yang paling ia sukai, yaitu tiduran.
"Raiden, apa tidak ada yang bisa kau lakukan selain tiduran?" tanya Rai.
"Tidak. Master Siegfried bilang agar aku tidak keluar gua jika tidak ada yang penting. Karena, Lucifer masih bisa merasakan auraku dalam jarak ribuan kilometer," jawab Raiden.
"Cih, bilang saja kau malas," ucap Rai kemudian duduk ditempat yang biasa ia pakai untuk berkultivasi.
Rai mengeluarkan Kristal Jiwa dari Ular Racun Neraka cincin penyimpanannya dan meletakkannya didepan tubuhnya. Kemudian, dia berusaha berkonsentrasi agar bisa melakukan penyerapan.
***
Dua minggu kemudian,
Energi alam yang ada didalam Kristal Jiwa milik Ular Racun Neraka sudah habis. Semua energi alam itu telah diserap oleh Rai dan tinggal menunggu waktu untuknya naik tahap.
Tidak butuh waktu lama, sebuah bayangan prasasti berwarna ungu muncul dari dalam diri Rai dan masuk kembali. Kejadian ini terjadi sebanyak tiga kali. Kini tingkat kultivasi Rai yang sebelumnya Immortal General tahap Legend, telah naik menjadi Mortal King tahap Senior.
"Raiden, apakah aku bisa keluar dari hutan ini?" tanya Rai ketika sudah membuka matanya.
"Seharusnya bisa. Tapi, kita akan keluar setelah kau berhasil melatih jurus Ilusi Es terlebih dahulu. Dan untuk Harimau Kegelapan sendiri, lebih baik kau buru ketika kau sudah ditingkat Mortal King tahap Legend saja agar lebih mudah untuk mengalahkannya. Lagipula, aku juga ingin mengajakmu keluar dari hutan ini untuk bisa meningkatkan kekuatanmu tanpa harus berburu dahulu, mengerti?" ujar Raiden.
"Hmm... Baiklah. Berarti, sekarang kita akan berlatih jurus Ilusi Es?" tanya Rai bersemangat.
"Tentu. Kau sebenarnya sudah cukup baik ketika mencoba level pertama dari jurus Ilusi Es. Tapi, itu masih belum sempurna dan hanya akan efektif untuk lawanmu yang berada dibawahmu atau sedikit diatasmu. Jika lawanmu lebih tinggi satu atau dua tingkat diatasmu, kau hanya bisa menggunakan level pertama itu selama tiga puluh menit saja," jelas Raiden.
"Oh, begitu. Ketika kemarin aku membaca kitab jurus Ilusi Es, kira-kira ada sekitar lima level jurus," ucap Rai.
"Level pertama adalah Muro de Hielo. Level kedua adalah Prisión de Hielo. Level ketiga adalah Domo de Hielo. Level keempat adalah Mundo de Hielo. Dan level kelima adalah Infierno Congelado," lanjutnya.
"Apakah dari kelima level itu, memiliki tingkat kesulitan yang berbeda?" tanya Rai.
"Benar. Semakin tinggi levelnya, semakin sulit juga untuk melakukannya. Bahkan, orang-orang yang pernah berguru pada Ice Dragon mengakui bahwa mereka hanya bisa menguasai dua level dari kelima level itu. Dan hanya beberapa orang saja yang bisa menguasai level ketiga. Itu pun hanya para jenius. Sedangkan, level keempat dan kelima hanya Ice Dragon dan Master Siegfried saja yang mampu menggunakannya," tukas Raiden.
"Begitu, baiklah. Bagaimana kalau kita mulai dari penyempurnaan level pertama, Muro de Hielo?" ucap Rai.
__ADS_1
Rai kemudian mengeluarkan kitab jurus dari cincin penyimpanannya dan mulai membacanya. Setelah memahami isi dari buku itu, Rai lalu berusaha mempraktekkannya.
Setelah dua puluh menit mencoba, akhirnya Rai mampu membuat dinding es yang hampir mendekati sempurna. Dan kini ia sedang bermeditasi untuk mengembalikan kembali energi alamnya yang sempat terkuras.
"Jika sudah selesai, mari kita lanjutkan dengan level kedua dari jurus Tebasan Naga Petir. Kau harus bisa menguasainya dengan sempurna agar bisa dikombinasikan dengan jurus Ilusi Es," ucap Raiden.
Rai hanya mengangguk dan mengeluarkan kitab jurus Tebasan Naga Petir dan mulai membaca bagian level 2. Setelah selesai membaca, Rai mempraktekkan gerakan yang ada didalam kitab jurus dan mencari metode agar bisa menggunakan jurus itu tanpa menyerap terlalu banyak energi alam.
Setelah beberapa jam, Rai akhirnya bisa menggunakan jurus level 2 dari Tebasan Naga Petir tanpa harus mengkhawatirkan energi alam yang terkuras habis. Raiden memberikan Rai istirahat sejenak untuk mengisi kembali tenaga dan stamina yang terkuras.
Setelah beristirahat, Raiden mengajak Rai untuk berlatih tanding. Namun, kali ini Rai tidak akan menghadapi Raiden secara langsung. Melainkan melawan boneka manusia yang berisi roh pemberian Master Siegfried.
Walaupun hanya boneka, tapi roh yang ada didalamnya memiliki tingkat kultivasi yang lumayan tinggi. Yaitu, Mortal Emperor tahap Professional.
"Baiklah, Rai. Kau akan menghadapi boneka itu untuk lawan latih tandingmu. Kau boleh menggunakan jurus apapun," ucap Raiden.
Rai mengangguk lalu mengeluarkan Sky Lightning Sword dan Holy Ice Sword. Sedangkan, boneka itu mengeluarkan sebuah tombak besi yang memancarkan elemen air.
"Bersiap, mulai!" ucap Raiden.
Tebasan demi tebasan. Tusukan demi tusukan. Jurus demi jurus. Menjadi andalan mereka. Tidak ada yang mau mengalah dan tidak ada yang terlihat kalah. Mereka berdua imbang hampir disegala aspek.
"Medan Es!" ucap Rai kemudian menancapkan Holy Ice Sword ditanah.
Boneka bernyawa milik Raiden, berusaha untuk menahannya dengan membuat ombak air. Tapi, ombak air itu segera membeku begitu terkena medan es dan membuat pandangan boneka bernyawa terhalangi.
Sementara itu, Rai sudah bergerak dengan menaiki ombak beku itu. Setelah sampai diatas, Rai langsung melompat kearah boneka itu. Merasakan adanya bahaya, boneka bernyawa itu mengangkat tombak airnya dan menjadikannya sebagai pertahanan terakhir.
Rai hanya tersenyum sebelum kemudian menghilang dan muncul kembali dibelakang tubuh boneka bernyawa. Dengan segera, Rai mengayunkan Sky Lightning Sword yang ia bawa.
Namun, serangan itu masih bisa disadari oleh boneka bernyawa dan menarik tombaknya kebelakang tubuhnya untuk menghadang serangan Rai.
Duarrr...
Serangan yang dilancarkan oleh Rai mengenai tombak air milik boneka bernyawa dan menyebabkan sebuah ledakan yang membuat mereka berdua terdorong beberapa meter.
__ADS_1
Tapi, Rai langsung memperbaiki kuda-kudanya dan melesat kearah boneka bernyawa itu sembari mencabut Holy Ice Sword.
"Delapan Belas Tebasan Dewa Petir!" ucap Rai.
Dia kemudian mengayunkan pedangnya sebanyak delapan belas kali hingga tercipta delapan belas cahaya petir dari tebasan itu. Cahaya petir itu melesat kearah boneka bernyawa hingga menerobos pertahanannya dan membuatnya terpental sampai menabrak dinding gua.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Rai langsung maju dan menusukkan Holy Ice Sword diikuti dengan tebasan oleh Sky Lightning Sword sembari menggumamkan jurus.
"Tusukan Es Pembeku! Tebasan Petir Pencabut Nyawa!" ucap Rai.
Tusukan Holy Ice Sword mengenai perut dari boneka bernyawa dan membuat seluruh tubuhnya membeku. Setelah itu, tebasan Sky Lightning Sword yang mengandung elemen petir ungu berhasil mengenai dada dari boneka bernyawa dan membuat tubuhnya hancur berkeping-keping.
"Selesai!" ucap Rai setelah mengakhiri pertarungan.
"Bagus, Rai. Walaupun aku belum bisa melihatmu menggunakan jurus Ilusi Es dan level 2 dari jurus Tebasan Naga Petir, tapi pertarungan tadi sangat bagus dan memukau. Aku sedikit berharap bahwa pertarunganmu akan sedikit lebih lama. Tapi, tak apa. Karena aku sudah mendapatkan apa yang aku harapkan darimu," ucap Raiden.
"Terima kasih atas pujiannya, Raiden!" ucap Rai kemudian menyarungkan kedua pedangnya.
Namun, ketika hendak memasukkan kedua pedangnya, Rai merasakan ada puluhan aura yang diluar gua.
"Puluhan orang dengan tingkat Immortal General tahap Grand Master dan empat orang tingkat Mortal King tahap Professional," gumam Rai.
"Sepertinya kita kedatangan tamu, Raiden!" ucap Rai kepada Raiden.
...****************...
(Keterangan :
- Muro de Hielo : Dinding Es
- Prisión de Hielo : Penjara Es
- Domo de Hielo : Kubah Es
- Mundo de Hielo : Dunia Es
__ADS_1
- Infierno Congelado : Neraka Beku/Neraka Es)