Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 39 : Membuat Pil


__ADS_3

"Kau... Tabib Behrooz?" tanya Rai yang terkejut akan kedatangan tabib Behrooz.


"Hahaha... Ternyata kau masih ingat aku, Rai!" ucap tabib Behrooz dengan tawa disela-sela perkataannya.


"Bagaimana keadaanmu? Apa masih terasa sakit?" tanyanya.


"Yah, terkadang!" jawab Rai santai, "Emm... Bisakah anda mengobati Rin?" tanya Rai setelah melihat keadaan Rin.


Behrooz berjalan mendekati Rin dan mulai memeriksa beberapa bagian tubuhnya. Namun, ia tidak menemukan adanya tanda-tanda luka di tubuh Rin. Ia lalu memeriksa denyut nadi dan garis meridian Rin.


"Tubuhnya baik-baik saja! Garis meridiannya juga baik-baik saja, hanya aliran energi alamnya yang sedikit tersendat! Tapi, kondisi jiwanya terguncang dan denyut nadinya juga tak beraturan! Sepertinya, jiwanya sedikit terkejut dengan masuknya iblis tadi ke dalam tubuhnya!" ujar Behrooz memberikan diagnosa.


"Lalu, adakah cara untuk menyembuhkan anakku, tabib Behrooz?" tanya Yuki dengan nada sendu.


"Ada! Tapi, aku harus membutuhkan beberapa bahan herbal untuk membuat ramuan serta pil yang akan membantunya memulihkan diri!" jawab Behrooz.


"Bahan herbal apa yang anda butuhkan?" tanya Rai.


"Emm... Aku membutuhkan Ginseng Api berumur sekitar 500 tahun, Jahe Merah dari East Continent, Air Langit dan Beri Bintang dari West Continent! Untuk bahan lainnya aku sudah mempunyai stoknya!" jawab Behrooz.


"Wow... Kebetulan sekali! Aku punya semua bahan herbal itu!" celetuk Rai yang sanggup membuat semua orang terkejut.


"Kau memiliki semua itu?" tanya Behrooz tak percaya, namun tetap dibalas Rai dengan sebuah anggukan, "Bukankah itu semua bahan langka?"


"Memang, semua itu bahan langka! Tapi, keluargaku mampu membudidayakannya di kebun belakang kediamanku! Dan kebetulan sekali, aku memanen semua bahan itu untuk terakhir kalinya!" jawab Rai santai.


"Oh, begitu! Baiklah, bawa wanita itu ke rumahku yang berada di tengah hutan itu!" ucap Behrooz seraya menunjuk hutan belantara di dekat Thunder Village.


Raiden dan yang lainnya lalu membuat tandu agar bisa membawa Rin ke rumah Behrooz.


"Apakah anda mempunyai tungku untuk membuat pil?" tanya Rai kepada Behrooz.


"Tentu, aku punya! Aku punya beberapa di rumah! Apa kau akan membuat pil?" tanya Behrooz yang dibalas dengan anggukan oleh Rai.


***


Setibanya di rumah Behrooz, Rin langsung diletakkan di ruangan pengobatan. Tampak sebuah kasur berwarna putih, sebuah kursi kayu yang tidak terlalu pendek atau terlalu panjang, serta bahan-bahan herbal yang tersusun rapi dibeberapa rak kayu.


Setelah Rin diletakkan di kasur putih itu, Behrooz langsung saja mengambil berbagai peralatan untuk membuat ramuan. Ia kemudian mengambil sebotol air penetral racun serta sebotol air yang penuh dengan energi alam.


Behrooz menyerahkan kedua botol itu kepada Yuki untuk diminumkan kepada Rin. Sedangkan, Behrooz sendiri membuat ramuan untuk menormalkan denyut nadi dan menenangkan jiwa Rin.

__ADS_1


Beberapa jam berlalu dengan cepat, kondisi Rin kini sudah mulai membaik setelah meminum ramuan yang dibuat oleh Behrooz. Walaupun belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman, tapi denyut nadi serta kondisi jiwa Rin sudah mulai normal.


Saat ini, Behrooz sedang berada di ruangan pembuatan pil. Dia ditemani oleh Rai yang juga akan membuat pil. Terlihat ada banyak sekali tungku pembuatan pil. Mulai dari kualitas rendah sampai kualitas tinggi, semuanya ada di ruangan itu.


"Rai, keluarkan semua bahan herbal yang tadi aku sebutkan!" pinta Behrooz yang langsung ditanggapi dengan baik oleh Rai.


Puluhan bahan herbal berbagai macam jenis Rai keluarkan dari dalam cincin penyimpanannya hingga membuat ruangan itu dipenuhi oleh bahan herbal.


Behrooz membelalakkan matanya saking tidak percaya dengan banyaknya bahan herbal yang ada dihadapannya ini.


"R-Rai, apa yang akan kau lakukan dengan puluhan bahan herbal itu? Aku 'kan hanya minta beberapa saja!" ucap Behrooz terbata-bata.


"Hm? Siapa bilang ini untuk anda? Aku mengeluarkan semua ini hanya untuk mencari bahan-bahan herbal yang akan aku gunakan dalam pembuatan pil milikku sendiri!" jawab Rai.


"Oh, begitu!" gumam Behrooz kecewa.


"Hahaha... Tabib Behrooz, janganlah memasang raut wajah seperti itu! Bahan herbal yang kau butuhkan ada di sini! Dan ini adalah bonus untukmu!" ujar Rai seraya melempar satu cincin penyimpanan dan satu kantong bahan herbal kepada Behrooz.


Dengan cekatan, Behrooz menangkapnya dan langsung memeriksa isi dari kedua benda tersebut. Dan alangkah terkejutnya ia setelah melihat banyaknya gunungan bahan herbal di dalam cincin penyimpanan.


"Rai, apakah ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Behrooz dengan keringat yang membasahi wajahnya.


"Tidak berlebihan sama sekali, kok! Aku memberikan itu kepada anda karena aku tidak memerlukan bahan-bahan herbal itu lagi! Bahkan, itu hanya 20% dari semua bahan herbal yang aku punya di cincin penyimpananku!" jelas Rai santai. Namun, itu membuat Behrooz membelalakkan matanya dan membuka mulutnya saking terkejutnya.


"I-iya, Rai! Lewat sini!" jawab Behrooz seraya mengajak Rai untuk berjalan menuju sebuah ruangan pribadi yang terkunci rapat.


Krieek...


Suara decitan pintu terdengar nyaring ketika Behrooz membuka pintu itu. Tampak sebuah tungku raksasa berwarna emas dengan ornamen naga berdiri kokoh di tengah-tengah ruangan yang gelap itu. Tungku raksasa itu berkilau menampakkan kemewahan yang ada pada dirinya.


"Rai, itu adalah tungku dengan kualitas paling tinggi yang pernah aku miliki! Tungku Naga Emas! Selama ini aku tidak pernah sekalipun berhasil ketika menggunakannya! Entah apa penyebabnya, tapi ketika aku memasukkan bahan-bahan herbal, tungku itu segera menghanguskan seluruh bahan herbal itu! Bahkan, ketika aku memeriksa apinya, tidak ada keanehan apapun! Tungku itu seolah menolakku ketika aku melakukan pembuatan pil!" jelas Behrooz panjang lebar.


"Oh, begitu! Lalu, pil tingkat apa yang bisa dihasilkan tungku itu? Walaupun anda belum pernah sekalipun berhasil ketika menggunakan tungku itu, tapi setidaknya anda tahu informasi tentang 'Tungku Naga Emas' itu sebelum berada di tangan anda, bukan?" tanya Rai.


"Menurut cerita yang ku dengar dulu, tungku itu dapat menghasilkan pil tingkat Langit. Namun jika beruntung, tungku itu mampu menghasilkan pil tingkat Surga!" jawab Behrooz.


"Oh... Baiklah, tabib Behrooz! Anda bisa pergi! Aku akan membuat pil di sini!" ucap Rai.


"Baiklah! Aku akan pergi dan membuat pil untuk Rin! Jika kau butuh bantuan, aku ada di sana!" balas Behrooz seraya menunjuk sebuah aula pembuatan pil yang berada disalah satu sudut ruangan.


Rai mengangguk lalu memasukkan kembali semua bahan herbal yang tadi ia keluarkan dan segera menutup pintu ruangan itu begitu Behrooz pergi.

__ADS_1


"Saatnya membuat pil!" gumam Rai seraya mengeluarkan bahan-bahan herbal yang akan ia gunakan dalam proses pembuatan pil kali ini.


Bahan-bahan herbal itu antara lain, Anggur Petir, Beri Bintang, buah Bit Suci, Ginseng Surgawi berumur 1.000 tahun, Jahe Merah, Air Surgawi dan intisari dari Pil Pengendali Petir.


Segera Rai menyalakan api di dalam tungku itu. Kemudian, ia memasukkan Beri Bintang dan disusul dengan Anggur Petir. Setelah kedua bahan itu melebur, kini ia memasukkan Jahe Merah sebagai bahan ketiga.


Tidak butuh waktu lama bagi jahe itu hancur dan hanya menyisakan intisarinya saja yang langsung melebur menjadi satu dengan dua bahan sebelumnya.


Kemudian, Rai memasukkan buah Bit Suci, intisari Pil Pengendali Petir dan Air Surgawi secara berurutan. Semua bahan itu sudah melebur menjadi satu dan tinggal menyalurkan energi alam saja agar semua leburan bahan herbal itu memadat membentuk sebuah pil.


Rai menyalurkan energi alamnya seperti prosedur pembuatan pil yang dilakukan oleh para alchemist. Namun, ada hal yang aneh dalam proses ini.


Penyaluran energi alam yang dilakukan Rai, tidak berjalan lancar. Energi alam yang ada dalam diri Rai, tiba-tiba saja tersedot dengan sangat cepat.


Hal ini membuat Rai kaget dan berniat untuk menghentikan proses penyaluran energi alam itu. Tapi nyatanya, itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Rai justru tidak bisa menghentikan proses itu. Jangankan menghentikan penyaluran, mengendalikan energi alam yang ada di dalam tubuhnya saja ia tidak bisa.


Semakin berusaha untuk berhenti, semakin cepat dan banyak juga energi alam yang disedot oleh tungku itu.


Rai berkeringat, ia bingung dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Karena ia belum pernah membuat pil secara langsung dan hanya pernah melihat proses pembuatan pil yang dilakukan oleh anggota keluarganya dulu.


Di tengah kebingungan yang melanda Rai itu, tiba-tiba Jinlong berbicara tentang solusi untuk masalah Rai.


"Gunakanlah darah naga! Tungku itu terhubung dengan darah naga!" ucap Jinlong.


"Darah naga? Maksudmu, aku harus meneteskan darah nagaku ke dalam tungku ini?" tanya Rai yang langsung dibalas dengan jawaban 'iya' dari Jinlong.


Rai terdiam sejenak sebelum menggigit kulit ibu jari tangan kanannya. Darah segera keluar dari luka hasil gigitan itu. Bukan darah merah, melainkan darah ungu yang mendidih.


Rai sedikit terkejut dengan warna darahnya itu. Namun, dia tidak menghiraukannya dan langsung meneteskan darahnya ke dalam tungku itu.


Wuung... Wuung...


Tungku itu berdengung setelah tetesan darah naga masuk ke dalamnya. Tak lama setelah itu, sebuah pil berwarna ungu dengan derak petir di sekelilingnya, keluar dari dalam tungku itu.


Dengan cepat, Rai menangkapnya dengan senyuman yang merekah di wajahnya.


"Hahaha... Berhasil! Resep dari paman ketiga berhasil aku buat dalam percobaan pertama!" ucap Rai dengan tawa disela-sela ucapannya.


"Sekarang tinggal proses terakhir! Namun, tidak di dunia ini!"

__ADS_1


...****************...


(Maaf jika nama bahan serta proses pembuatannya yang tidak seperti novel-novel kultivator. Karena memang author tidak pernah dan tidak tertarik mempelajari tentang ilmu alchemist.)


__ADS_2