
Plok... Plok... Plok...
Sebuah suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar di tengah keheningan. Membuat Rai sedikit mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara tersebut.
Tampak sesosok pria yang memiliki kulit berwarna hitam dengan dua tanduk kecil yang menonjol ke depan, berdiri tegak di samping jasad Zhao Chen yang mulai membusuk.
Rai tidak terlalu terkejut akan sosok yang muncul di depannya itu. Karena ia sudah menduga kalau sosok dari ras iblis tersebut, pasti akan muncul ketika inangnya telah mati.
"Hahaha... Aku tak menyangka kalau kau berhasil membuatku keluar dari tubuh pemuda sampah itu dan menangkap salah satu pengawalku! Aku tidak menduga hal ini sejak pertama kali kita bertemu! Namun, kau membuatku terkejut ketika berhasil menemukanku sesaat sebelum duel singkat tadi! Kau berhasil membuatku kagum!" ujar iblis itu yang tak lain adalah Leviathan, salah satu dari Seven Deadly Sins yang mewakili dosa iri hati.
"Aku tidak butuh pujian dan ocehan dari makhluk rendahan sepertimu! Itu hanya akan mengotori pendengaranku!" balas Rai dingin.
"Sekarang, aku sedang tidak ingin berlama-lama di sini! Cepat suruh keluar semua pengawalmu agar aku bisa segera mengalahkan kalian!" lanjut Rai.
"Ho... Kau terlalu bersemangat anak muda! Juga percaya diri! Tapi, kau masih perlu 1.000 tahun lagi untuk mengalahkan kami!" ucap Leviathan dengan senyum sinisnya.
"Hahaha... 1.000 tahun? Sepertinya kau sedang bermimpi, kakek tua!" balas Rai sinis.
"Kakek tua? Kau memanggilku kakek tua?! Dasar anak tak tahu diri! Baiklah, semuanya keluar sekarang!" teriak Leviathan memberi perintah.
Wuush... Wuush... Wuush...
Syut... Syut...
DUARRRR... DUARRRR...
Beberapa siluet hitam tiba-tiba muncul dari berbagai arah. Melancarkan beberapa serangan yang membentur dinding pertahanan tak kasat mata buatan Rai.
Tap... Tap... Tap...
"Hormat pada Tuanku!" ucap seorang pria kekar dengan dua tanduk besar di dahinya sembari melakukan hormat setengah berlutut yang diikuti oleh seekor singa berambut hitam di sampingnya.
"Kalian! Serang orang yang menahan Rafael sampai mati! Jika perintahku tidak terpenuhi, kalian akan aku bunuh!" perintah Leviathan.
"Baik, Tuanku!" balas pria itu. Ia kemudian berdiri dan mulai menyiapkan kuda-kuda menyerang sebelum menyerang Rai menggunakan tombak merah panjang.
Wuush...
"Biar aku urus Rafael!" ucap Violet yang tiba-tiba muncul di samping Rai seraya mengambil Rafael dari cengkeraman Rai.
Rai mengacuhkan Violet dan memilih untuk memfokuskan pandangannya ke arah pria yang hendak menyerangnya. Bola matanya yang terus menatap pria itu, seolah-olah membuatnya hanya fokus pada satu arah.
Namun, kenyataannya tidak. Rai tidak hanya memfokuskan pandangannya ke pria itu. Ia juga memfokuskan pandangannya ke singa berambut hitam yang bergerak diam-diam.
'Hmm... Serangan utama dari depan dan serangan kejutan dari belakang! Tapi sama-sama menargetkan titik vital!' batin Rai setelah melihat adanya serangan dua arah yang dilancarkan oleh pria bertombak dan singa berambut hitam.
Sejatinya, Rai telah mengaktifkan Mata Dewa miliknya sejak pertama kali duel dimulai. Inilah yang membuatnya bisa mengetahui keberadaan Leviathan di dalam tubuh Zhao Chen serta keberadaan pengawalnya yang menyerangnya dari dua arah.
__ADS_1
"Raiden, Theron! Urus mereka berdua!" gumam Rai memberi perintah.
Wuush... Wuush...
"Baiklah!"
"Baik, Tuan!"
Raiden dan Theron muncul secara tiba-tiba dan langsung menyerang singa berbulu hitam dan pria bertanduk dua itu. Raiden dan Theron menghempaskan mereka hingga hampir keluar dari arena.
"Oh, Lightning Dragon! Lama tak jumpa!" ucap pria bertanduk dua itu.
"Hell Dragon! Dasar kau naga rendahan!" ucap Raiden geram seraya menyerang Hell Dragon.
"Apa kau bilang? Rendahan? Dasar naga sok agung! Matilah di sini!" ujar Hell Dragon seraya membalas serangan Raiden.
"Sengatan Petir Langit!"
"Pancaran Api Neraka!"
DUARRRR... BOOOOMMM...
Ledakan besar terjadi ketika dua jurus itu saling bertabrakan dan membuat gelombang kejut yang menerbangkan puing-puing arena di sekitar mereka. Ledakan itu juga membuat Raiden dan Hell Dragon termundur beberapa meter sebelum kembali menyerang satu sama lain.
***
Di sisi arena yang lain,
Sudah banyak pertukaran serangan yang mereka lakukan. Namun, belum ada tanda-tanda pertarungan akan berakhir. Sebaliknya, pertarungan justru semakin sengit dengan serangan-serangan yang makin intens dilancarkan oleh dua kubu.
Sreet...
"Pertarungan yang hebat, Harimau Hitam! Tak kusangka, kau lebih kuat dari yang dulu!" ucap Ransley memuji Theron.
"Huh, saat itu aku kalah karena kelelahan! Tapi sekarang, aku yang akan mengalahkanmu! Bukan karena faktor kelelahan, melainkan faktor teknik yang akan menentukan hasil duel ini!" balas Theron seraya memasang kuda-kuda menyerang.
"Oh, begitukah? Baiklah, kuterima tantanganmu! Tapi, aku ingin memberimu peringatan jika tuanmu akan tiada!" ujar Ransley yang langsung membuat Theron terkejut.
"Apa yang kau maksud?"
"Sepertinya kau tidak paham! Biar ku beritahu! Tuanku Leviathan, akan mengalahkan tuanmu!" ucap Ransley menjelaskan.
"Hahaha... Ingin mengalahkan Tuanku Rai? Sepertinya tuanmu sedang bermimpi terlalu tinggi!" tukas Theron lalu menyerang Ransley.
Mendapat serangan dadakan, bukannya panik, Ransley justru hanya tersenyum seringai sembari menahan serangan Theron menggunakan cakarnya.
Trang...
__ADS_1
Terdengar bunyi seperti dentingan besi saat cakar Theron bersentuhan dengan cakar Ransley. Membuat tubuhnya terdorong mundur beberapa meter.
'Hmm... Ada yang salah dari ekspresi Ransley barusan! Juga peringatan yang ia tujukan padaku! Apa yang sebenarnya dia coba peringatkan padaku?' batin Theron berusaha memikirkan arti di balik ekspresi serta peringatan yang diucapkan Ransley tadi. Ia memperhatikan seluruh penjuru arena yang penuh akan pertarungan agar mendapatkan petunjuk.
Setelah beberapa menit, akhirnya Theron menemukan sebuah petunjuk, 'Hell Dragon, Rafael dan Ransley! Tunggu, hanya tiga? Dimana yang satu lagi? Bukankah ada empat pengawal?'
'Atau jangan-jangan...'
***
"Rupanya kau juga punya pengawal, Rai! Dan kebetulan sekali, mereka adalah musuh bebuyutan! Kebetulah yang luar biasa!" ucap Leviathan dengan nada yang bersahabat.
"Sudah, jangan berbasa-basi lagi! Aku sudah muak dengan ocehanmu itu! Tanganku sudah gatal ingin membunuhmu!" balas Rai seraya menodongkan pedang katananya ke arah Leviathan.
"Oh, begitu ya? Tapi maaf, aku tidak akan bertarung denganmu jika kau tidak bisa mengalahkan pengawal terhebatku!" ujar Leviathan memberi syarat.
"Ho... Ingin menunjukkan kekuatan pengawalmu, ya? Baiklah, jika itu mau-mu!"
Leviathan menunjukkan seringai jahatnya sembari mengangkat tangan kanannya ke atas, "Albert! Keluarlah!"
Wuush... Wuush...
Tiba-tiba muncul asap hitam yang sangat banyak dari telapak tangan Leviathan. Asap hitam itu terus keluar hingga menutupi seluruh arena sebelum memadat membentuk seekor naga.
"GROOOAAAHHH!!!"
"Albert, memberi hormat pada Tuan Leviathan!" ucap naga bernama Albert itu saat memberi hormat kepada Leviathan.
"Bagaimana Rai? Apa kau masih yakin bisa mengalahkan Albert?" tanya Leviathan dengan kepercayaan diri tinggi.
"Oh, kebetulan sekali! Aku punya yang seperti itu!" Rai mengangkat tangan kanannya ke atas mengikuti gerakan yang dilakukan Leviathan tadi.
"Jinlong, keluarlah!"
Wuush...
Sebuah cahaya emas tiba-tiba muncul dari telapak tangan Rai dan langsung menyatu membentuk seekor naga bersisik emas.
"Ada apa? Kenapa kauβ" Jinlong menghentikan ucapannya ketika pandangannya mengarah ke Albert.
"Tidak mungkin!"
"Ini... Tidak mungkin! Kau adalah..."
"Underworld Dragon!"
"Naga Emas!"
__ADS_1
...****************...
... πππHappy New Yearπππ...