
Rai jatuh tersungkur setelah terbatuk darah akibat benturan keras yang dialaminya. Ia merasa tubuhnya telah remuk di dalam. Tulang-tulangnya terasa sakit. Dan tubuhnya terasa mati rasa. Sementara itu, dua bayangannya telah lenyap saat ia menabrak dinding gua. Dua pedangnya pun tertancap di tanah tak jauh dari dirinya.
'Sial! Apakah aku akan gagal di sini? Apakah aku akan kalah dan jiwaku akan musnah? Apakah aku akan kehilangan kekuatanku? Apakah aku... Gagal membalaskan dendam... Keluargaku?' Rai bertanya kepada dirinya sendiri. Tapi ia tidak dapat menemukan jawabannya.
Pandangan Rai perlahan memburam. Ia melihat 4 patung petir suci yang ada di sudut-sudut gua, tertawa melihat kondisinya. Sementara 3 hewan raksasa yang menyerangnya, perlahan mendekat.
Disaat pandangannya sepenuhnya gelap, terlihatlah bayang-bayang kenangan keluarganya. Kenangan bersama ayah, ibu, adik, paman, bibi, nenek, dan kakeknya saat kecil. Dimana saat itu, dunia masihlah berjalan normal.
Padang rumput yang hijau nan asri, digunakan sebagai tempat berlatih oleh dua orang kakak beradik dan dua orang lainnya. Sementara empat orang lainnya sedang menyiapkan sarapan di bagian padang rumput yang lain.
"Kakak, coba lihat ini!" seorang anak perempuan berusia 7 tahun sedang berusaha menunjukkan tekniknya kepada kakaknya. Ia membuat sebuah bola air dan menembakkannya ke tubuh boneka kayu. Alhasil, boneka kayu itu pun terjatuh.
"Bagus, bagus. Sekarang giliran kakak!" seorang anak laki-laki berusia 11 tahun memperagakan tekniknya kepada adik kecilnya. Ia menembakkan sebuah laser petir yang mengarah tepat ke leher boneka kayu dan membuat kepalanya terlepas.
"Wah... Kakak! Kau merusak boneka kayunya! Kakek! Kakak merusak boneka kayu!" teriak sang adik kepada kakeknya.
"Rai! Ingat, apa yang kakek bilang?"
"Jika merusak boneka kayu, maka harus mengambil dan merakitnya kembali," jawab Rai.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan?"
"Tahu, Kek. Maaf," ucap Rai tertunduk.
"Kalau begitu, segera ambil. Nanti selesai sarapan, kita pergi ke karnaval," ucap sang kakek.
"Baiklah, Kek!" ucap Rai dengan senyum gembira.
Dengan langkah cepatnya, Rai mengambil kepala boneka kayu itu. Tapi saat hendak berbalik, tiba-tiba sebuah hawa panas dirasakan olehnya. Penasaran, Rai berbalik dan melihat ke arah hawa panas itu.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat rumahnya terbakar. Semua anggota keluarganya tewas dengan kondisi yang mengenaskan.
"A-apa yang terjadi?"
Rai bergumam. Kini ia telah berubah menjadi laki-laki remaja berumur 17 tahun. Dan kejadian yang dilihatnya saat ini, merupakan titik terendah dalam hidupnya.
"R-Rai! Cepat pergi d-dari sini!" perintah sang ayah yang masih mencoba bertahan hidup.
"Tapi ayah!..."
__ADS_1
"Cepat! Argh..." itulah kata-kata terakhir dari ayah Rai sebelum sebuah tombak menusuk tubuhnya.
Dengan berat, Rai berlari meninggalkan keluarganya diiringi tetesan air mata yang mengikuti langkahnya.
***
"Apa anak itu masih hidup?" tanya raksasa merah.
"Ya, dia hanya pingsan," jawab raksasa ungu.
"Cih. Kukira kemampuannya lebih dari ini, ternyata tidak lebih dari sekedar pecundang," ucap raksasa hitam.
"Apa ini artinya kekalahan baginya?" tanya raksasa emas.
"Yah, mungkin," jawab raksasa ungu.
"Kalau begitu, para hewan itu bisa memakan jiwanya," ucap raksasa emas seraya memberikan aba-aba untuk melahap jiwa Rai.
Dengan tatapan lapar, para hewan yang tersisa mulai mendekati tubuh Rai yang masih terkulai tak berdaya. Namun disaat mereka hendak membuka mulut, tiba-tiba saja Rai bergerak.
Bangkit secara perlahan dengan tatapan tajam. Kemudian menarik Sky Lightning Sword dan katana miliknya. Dengan sebuah ancang-ancang, Rai melompat ke atas dan melakukan manuver turun menukik seraya mengincar kepala dari sang Singa.
Sebuah tusukan dari dua pedang menjadi akhir dari sang Singa. Ia tumbang ke tanah dengan kepala yang berlubang. Darah mengucur deras dari lubang itu dan menggenangi tempat Rai berdiri.
"Ini masih belum berakhir!" ucap Rai tegas.
"Tubuh Dewa Petir!"
Bzzzt... BLAZZZTTT...
Ledakan petir muncul dari tubuh Rai dan menyebabkan dua hewan yang tersisa, terpental membentur dinding gua. Hal ini juga membuat keempat raksasa yang berdiri di pojok-pojok gua terkejut.
"Anak ini, tidak bisa diremehkan," gumam raksasa ungu yang kemudian menampilkan senyum seringainya, "Sepertinya aku akan melihat bakat langka lagi."
Rai yang telah berubah wujud, langsung saja maju menyerang sang Elang merah yang berusaha untuk menghindari serangannya. Tapi karena ukuran gua yang tak terlalu luas, membuat sang Elang merah tak dapat bergerak leluasa. Sehingga membuatnya dapat disergap dengan mudah oleh Rai.
"Tak perlu kabur, cukup menyerah saja!" perintah Rai seraya mengayunkan kedua pedangnya.
Semakin lama, ayunan kedua pedang itu pun menjadi semakin cepat. Membuat sang Elang merah kehilangan salah satu sayapnya dan jatuh ke tanah.
__ADS_1
Dalam keadaan tak berdaya, sang Elang merah terlihat pasrah akan Rai yang akan menebas tubuhnya.
Sing... Srak...
Tubuh sang Elang merah ditebas dengan mudah oleh Rai hingga terbelah menjadi dua. Pandangan Rai pun kini beralih ke Naga ungu yang juga sedang menatapnya dari sisi gua yang lain.
Dengan langkah yang cepat, Rai berlari menuju sang Naga diikuti derak petir yang muncul di seluruh tubuhnya.
"Delapan Belas Tebasan Dewa Petir!"
Rai melompat ke arah sang Naga ungu dan melakukan 18 tebasan menggunakan kedua pedangnya yang telah diperkuat oleh elemen petir. Gerakan yang sangat cepat dan juga brutal ditampilkan oleh Rai. Darah sang Naga pun menyembur ke segala arah diikuti teriakan kesakitan dari sang Naga.
Sing... Sing... Sing... Sing... Sing...
Tap...
"GROOOAAAHHH!!!"
Bruk... Bum...
Tubuh sang Naga ungu, terjatuh dengan keras ke tanah. Darah yang mengucur dari bekas lukanya mulai menggenangi tempatnya mati.
"Lihat! Siapa yang menang sekarang?" tanya Rai dengan nada menyindir, "Jangan memutuskan apapun dengan terburu-buru sebelum kau melihat hasilnya,"
"Baiklah, Rai! Karena kau telah memenangkan pertarungan ini, kau berhak menyerap Mutiara Jiwa dari keempat makhluk itu. Di dalam setiap Mutiara Jiwa, terdapat lima puluh persen kekuatan kami! Serap dan gunakanlah sebaik mungkin!" ucap raksasa ungu.
"Baiklah, aku paham! Terima kasih atas hadiah yang anda berikan!"
Merasa tugasnya sudah selesai, keempat raksasa itu kembali merubah diri mereka menjadi patung batu.
Sementara itu, Rai sedang mengumpulkan empat Mutiara Jiwa yang berserakan dimana-mana. Kemudian, ia letakkan empat Mutiara Jiwa itu di hadapannya seraya memulai tahap penyerapan.
***
Beberapa saat kemudian,
Rai telah berhasil menyerap kekuatan dari empat Mutiara Jiwa dan membuat kultivasinya naik menjadi God tahap Master.
Merasa bahwa proses penyerapannya telah selesai, Rai pun segera membuka matanya. Tampak derak 4 warna petir suci, muncul di ujung matanya.
__ADS_1
"Akhirnya, aku telah berhasil. Tujuanku akan segera tercapai. Bersiaplah, Lucifer! Penghancurmu telah tiba!"