
"Hei, apa kau sudah tahu kalau Tuan Muda Zhao Chen menantang orang lagi?" tanya seorang pria kepada temannya.
"Benarkah? Orang bodoh dari mana lagi yang menerima tantangan dari Tuan Muda Zhao Chen? Semua orang di kota ini tahu bahwa Tuan Muda Zhao Chen adalah orang yang kuat! Mengapa orang itu masih menerima tantangannya, ya?" balas teman dari pria itu.
"Aku tak tahu! Yang pasti orang itu punya nyali besar, karena telah berani menerima tantangan Tuan Muda Zhao Chen! Semoga orang itu selamat!" tukas pria itu.
"Semoga saja!" sahut yang lain.
***
Di arena kota Tianlong,
"Selamat datang semuanya di arena kota Tianlong! Saya Zhao Caipan akan memandu para hadirin di sini untuk menyaksikan duel antara Tuan Muda Zhao Chen melawan pria bertopeng, Rai Tanaka!" ucap Zhao Caipan yang suaranya menggema di seluruh tribun penonton.
Ucapan Zhao Caipan tadi disambut dengan tepuk tangan dan sorak sorai dari penonton. Mereka semua sangat antusias dalam menyaksikan laga yang akan tersaji di atas arena.
Semua orang meneriakkan nama Zhao Chen dan itu membuat Zhao Chen semakin bersemangat dan percaya diri. Sedangkan Rai hanya menatap sengit Zhao Chen yang ada di hadapannya.
"Kau dengar, Rai! Semua orang meneriakkan namaku! Sedangkan kau, tidak ada satu pun yang meneriakkan namamu!" ucap dengan senyum semringahnya.
"Heh, itu tidak akan mengubah jalannya pertandingan! Ada atau tidaknya pendukung, itu tidak mempengaruhi hasil pertandingan! Benarkan, iblis iri hati?" balas Rai yang langsung membuat Zhao Chen terkejut.
"Kau..."
"Baiklah! Karena kedua peserta sudah berada di atas arena, maka akan kita mulai duel ini!" ucap Zhao Caipan.
"Dalam hitungan ketiga! Satu... Dua... Tiga... Mulai!" lanjutnya.
Tap... Tap...
Wuush...
Begitu Zhao Caipan selesai mengucapkan kata "mulai", Zhao Chen langsung mengambil langkah menyerang. Zhao Chen menyerang Rai menggunakan jarum-jarum kecil berlumur racun yang ia lempar menggunakan tangan. Beruntung, Rai berhasil menghindari serangan itu dengan gelagapan.
Melihat kemampuan bertarung Rai yang sangat di luar ekspektasinya, Zhao Chen menjadi sumringah. Ia menjadi lebih percaya diri dalam melakukan gempuran.
"Ho... Jadi, hanya begitu kemampuanmu? Sangat mengecewakan! Sayang sekali, kau tidak bisa menyerah jika sudah berada di atas arena!" ucap Zhao Chen percaya diri, lalu melemparkan kembali jarum-jarum racun yang lebih banyak dari sebelumnya ke arah Rai.
Kembali mendapat serangan, Rai masih tetap berada di tempatnya dengan bola mata yang terus bergerak mengamati setiap inci dari tubuh Zhao Chen. Namun...
__ADS_1
DUARRRR...
Serangan yang dilancarkan Zhao Chen, berhasil mendarat di tempat Rai hingga menciptakan kepulan asap tebal yang menutupi pandangan semua orang yang berada di sana.
"Hahaha... Matilah kau, pria sialan! Inilah akibatnya karena berani menerima tantanganku dan berlaku tidak sopan di hadapanku! Sekarang aku yang menang, dan tiga wanita itu akan menjadi milikku! Hahaha..." ucap Zhao Chen lantang seraya menatap Rin, Yuki dan Miyuki.
"Zhao Caipan, cepat umumkan hasil pertandingan ini!" desak Zhao Chen. Namun, Zhao Caipan masih belum mengumumkan hasil pertandingannya, walaupun sudah didesak oleh Zhao Chen.
"Zhao Caipan!"
"Diamlah, Zhao Chen! Kau terlalu percaya diri hingga tidak bisa melihat apa yang ada di depanmu!" ujar Zhao Caipan geram.
"Apa?" Zhao Chen tersentak. Ia lalu mengalihkan kembali pandangannya ke tempat Rai berdiri tadi.
Alangkah terkejutnya Zhao Chen ketika mendapati tidak ada orang di tempat serangannya tadi dan hanya ada lantai arena yang hancur akibat serangan yang dilancarkan oleh Zhao Chen tadi.
"Dimana?! Dimana pria itu?!" tanya Zhao Chen seraya mencari-cari Rai di seluruh penjuru arena.
"GRAHHHH... DIMANA KAU, PRIA SIALAN!!!" teriak Zhao Chen marah.
"Aku di sini!!!" teriak Rai yang telah berada di atas tubuh Zhao Chen sembari meluncur tajam dengan pedang katana yang siap menusuk apapun.
Zhao Chen mendongakkan kepalanya ke atas, mengikuti asal suara tersebut. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Rai meluncur cepat kearahnya dengan ujung bilah pedang katana yang mengarah tepat ke tubuhnya.
Zrat... Crash...
"AARRGGHHHH!!!"
Zhao Chen berteriak kesakitan ketika bilah pedang katana milik Rai menghujam bahu kirinya hingga menusuk jantungnya sampai hancur.
Bruk...
Zhao Chen ambruk seketika dengan mata melotot dan mulut terbuka lebar yang terus mengeluarkan darah. Sedangkan, Rai mencabut pedang katananya dari tubuh Zhao Chen lalu mengibaskannya agar darah yang menempel di bilah pedangnya menghilang.
"T-Tuan Muda Zhao Chen... Mati hanya dalam satu serangan?" gumam salah seorang penonton.
"Kau! Kenapa kau membunuh Tuan Muda Zhao Chen, hah?! Dasar pria tak tahu diri!" teriak penonton yang lain.
"Kau lebih baik diam jika tidak ingin bernasib sama sepertinya!" ucap Rai dengan suara menyeramkan sembari mengeluarkan auranya.
__ADS_1
Suasana di arena itu, seketika menjadi berat. Para penonton pingsan. Para pendekar yang menjaga tempat itu, langsung terjerembab ke tanah. Hanya Rai dan kelompoknya saja yang masih berdiri kokoh di tempatnya masing-masing.
"Lagipula, dia juga bukan Tuan Muda Zhao Chen!" ucap Rai tegas seraya menarik kembali auranya.
"A-apa? D-dia bukan Tuan Muda Zhao Chen?" tanya Zhao Caipan dengan terbata-bata.
"Ya! Tuan Muda Zhao Chen yang kalian kenal, sudah mati sejak lama dan tubuhnya telah dimanfaatkan!" jawab Rai dengan pandangan mata yang menatap tajam jasad di hadapannya.
"Tubuh Tuan Muda Zhao Chen telah dimanfaatkan? Jadi, orang yang selama ini kita kenal selama ini bukan Tuan Muda Zhao Chen?" tanya Zhao Caipan lagi.
"Benar!"
"Omong kosong! Tuan Muda Zhao Chen tidak mungkin mati! Dia adalah pemuda yang kuat! Tidak mungkin mati dengan mudah! Lagipula, siapa yang mempunyai nyali untuk membunuh Tuan Muda Zhao Chen?" ujar salah satu penonton dengan sinis.
"Ya! Dia benar!"
"Benar! Tuan Muda Zhao Chen sangat kuat, tidak peduli sekuat apapun lawannya, dia pasti akan menang!"
Penonton yang lain mulai terprovokasi dan mulai melayangkan hujatan untuk Rai. Namun, Rai masih bersikap tenang seolah-olah hujatan yang dilayangkan para penonton tidak memiliki arti untuknya.
"Heh, dasar bodoh! Hanya dengan ucapan manusia palsu itu saja sudah bisa terprovokasi? Ck... Ck... Ck... Dunia ini sedang tidak baik-baik saja!" gumam Rai.
Rai kemudian mengangkat tangannya dengan telapak tangan yang mengarah pada satu orang penonton. Ia lalu menghimpun energi alam di telapak tangannya seraya mengucap sebuah jurus.
"Teknik Pengikat Jiwa!" ucap Rai.
Syuut...
Belasan tali energi muncul dari telapak tangan Rai dan langsung melesat ke salah satu penonton yang tadi menghujat Rai.
Belasan tali energi itu kemudian mengikat orang yang menghujat Rai dalam sekali percobaan dan langsung membawanya ke hadapan Rai.
"Argh... Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan? Tidak cukup membunuh Tuan Muda Zhao Chen, kau juga ingin membunuhku yang seorang pria biasa ini?! Dasar tak tahu malu!" teriak orang itu.
Slash... Zrat... Crash...
Tuk... Tuk... Tuk...
"Dasar 'Tong kosong bunyinya nyaring'! Tak bisa bertarung, hanya bisa menghujat! Aku paling benci jenis orang seperti ini!" gumam Rai geram. Ia baru saja memenggal kepala orang yang ditangkapnya.
__ADS_1
Rai lalu menarik telapak tangannya yang mengeluarkan tali energi dengan sangat kuat hingga jiwa orang itu keluar. Namun, ada yang janggal dari jiwa orang itu. Karena jiwa orang itu memiliki bentuk layaknya ras elf. Tapi, memiliki kulit berwarna hitam.
"Sudah kuduga! Kau adalah salah satu pengawal Leviathan! Dark Elf, Rafael!"