
Tap...
Rai turun dari atas benteng untuk menghampiri pemimpin pasukan ras vampire yang ia kurung setelah medan pertempuran disana, bersih dari makhluk hidup.
"Pertempuran sudah selesai! Sekarang area sudah kosong! Mari kita lakukan pertempuran yang sempat tertunda!" ucap Rai kepada pemimpin ras vampire sembari membuka sangkar raksasa yang mengurungnya.
Klang... Klang...
Swush...
"Grahhhh... Akan kubunuh kau!" teriak pemimpin ras vampire itu lalu menyerang Rai dengan pedang yang sudah ia keluarkan dari selongsongnya.
Rai hanya tersenyum tipis lalu menahan ujung pedang pemimpin ras vampire itu menggunakan tangan kanannya yang sudah dilapisi dengan petir langit.
"Sabarlah sedikit!" ucap Rai lalu menghempaskan tubuh vampire itu, "Siapa namamu?" tanya Rai sembari menarik Sky Lightning Sword dari belakang punggungnya.
"Namaku Rez!" jawab vampire itu setelah memperbaiki kembali posisi bertempurnya.
"Baiklah, Rez! Persiapkan dirimu, karena aku tidak akan menahan diri untuk membunuhmu!" ucap Rai dengan menampilkan senyum seringainya.
"Cih, hanya seorang Mortal General tahap Master ingin melawanku yang seorang Immortal General tahap Senior?" ledek Rez dengan senyum menghina.
"Oh, begitukah?" tanya Rai.
Ia kemudian mengeluarkan seluruh auranya hingga ke tingkat Mortal King tahap Legend. Keluarnya aura tersebut membuat Rez dan Ramiel yang kebetulan ada disana, tertekan hingga membuat mereka bersujud ditanah.
Sedangkan ditempat lain, Abelard yang tiba-tiba merasakan aura seorang Mortal King tahap Legend, langsung tertunduk karena terkena tekanan.
"Aura macam apa ini?" gumam Abelard dalam hati.
Ia lantas berusaha berdiri lalu melindungi dirinya menggunakan energi alam. Setelah itu, Abelard terbang dengan kecepatan tinggi berusaha untuk sampai dipusat aura tersebut.
"Semoga saja aura ini berasal dari vampire yang ditahan itu dan ia bisa membunuh Rai dengan mudah agar artefak yang aku simpan tidak direbut!" gumam Abelard.
***
Ditempat pertarungan,
Trang... Trang...
Terjadi pertarungan sengit yang melibatkan Rai dan Rez. Adu pedang sengit menjadi pembuka dari pertarungan itu. Namun, walau dikata sengit, tapi Rai lebih mendominasi pertarungan, karena tingkat kekuatan serta pemahaman tentang teknik pedangnya lebih tinggi daripada Rez.
"Teknik Penyedot Darah!" ucap Rez seraya mengangkat tinggi pedangnya dengan bilah yang menghadap langit
'Nama jurus yang aneh!' batin Rai.
Wuung... Wuung....
Tiba-tiba terdengar suara dengungan yang sangat memekakan telinga. Bersamaan dengan itu, langit yang semula berwarna biru cerah, kini berubah menjadi merah darah.
Swush...
"Hahaha... Darahmu akan menjadi makanan dari pedangku!" ucap Rez senang.
__ADS_1
"Hmm... Sepertinya aku mengenal pedang itu!" gumam Rai pelan.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin benda itu berada ditangannya!" ucap Rai tidak percaya.
"Kenapa, Rai? Apa kau terkejut?" tanya Rez dengan nada meremehkan.
"Tidak, aku tidak terkejut! Hanya saja aku tidak menyangka akan menemukan pedang itu lagi! Pedang yang merupakan salah satu dari tiga 'Warisan Raja Iblis', Pedang Darah Kematian!" ucap Rai sambil menutup matanya.
"Tapi, aku menjadi sedikit curiga kalau kau memiliki andil dalam pembantaian keluargaku!" lanjut Rai sambil membuka matanya menampakkan sorot tajam yang membuat Rez sedikit gemetar.
"Ap-apa maksudmu? Pembantaian keluargamu?" tanya Rez gemetar.
"Ya! Pedang Darah Kematian yang kau pegang itu, awalnya adalah artefak iblis yang keluargaku segel setelah merebutnya dari salah satu pemukiman iblis ditanah kegelapan!" jelas Rai.
"Apa? Ja-jangan bilang kalau kau adalah orang yang menghancurkan desa iblis darah!" ucap Rez tidak percaya.
"Ya, benar! Itu aku!" balas Rai sembari menganggukkan kepalanya.
"Ja-jadi kau adalah salah satu orang dari keluarga Tanaka! Tapi... Ke-kenapa kau masih bisa lolos dari pembantaian itu? Aku yakin kalau tidak ada seorang pun dari keluarga Tanaka yang selamat!" ucap Rez tidak percaya.
"Hahaha... Sepertinya kau tidak diberitahu pihak kerajaan, ya? Ck... Ck... Ck... Sungguh ironis sekali! Kalau begitu, akan kuperkenalkan diriku! Namaku adalah Rai Tanaka dan aku adalah dewa kematianmu!" ujar Rai lalu melesat kearah Rez.
Slash... Zrat... Tuk...
"AARRGGHHHH!!! TANGANKU!!!" teriak Rez kesakitan setelah tangan kirinya terpotong oleh bilah pedang yang Rai bawa.
Klang... Shuutt...
Pedang Darah Kematian yang tadi dipegang Rez, terjatuh ketanah setelah tangan kanan Rez kini memegangi bahu kirinya yang buntung.
Swush...
"Ini gawat! Kekuatan, aura serta luas jangkauannya, lebih luas dari sebelumnya! Para penduduk kota dalam bahaya!" gumam Rai.
"Kak Ramiel, cepat masuk kedalam kota dan minta tetua sekte Naga Petir yang ahli dibidang formasi untuk memasang formasi berlapis!" pinta Rai kepada Ramiel.
"Baik, Rai!" jawab Ramiel lalu masuk kedalam kota.
***
Beberapa menit kemudian,
Lima lapisan formasi pelindung raksasa, tiba-tiba muncul dan langsung menutupi seluruh kota.
"Ini masih belum cukup!" gumam Rai lalu mengeluarkan belasan bendera formasi dan menyebarnya diseluruh pinggiran kota.
"Formasi Pelindung Surgawi!" teriak Rai.
Belasan bendera formasi yang disebar Rai bersinar terang. Sinar-sinar itu kemudian membentuk sebuah kubah transparan raksasa yang menutupi seluruh bagian kota.
"Dengan ini, penduduk kota Petir akan terhindar dari teknik aneh itu!" gumam Rai.
Kota Petir memang sudah aman dari teknik yang digunakan oleh Rez. Namun, hal itu tak berlaku ditempat lain.
__ADS_1
Ditempat gubernur Abelard, Adrian, Aaron dan pendekar lainnya, terjadi fenomena aneh. Semenjak munculnya langit merah, beberapa pendekar dan Hell Beast tingkat rendah tiba-tiba mati kering akibat kekurangan darah.
Hal ini membuat Abelard dan para pendekar yang tersisa semakin waspada dalam menghadapi fenomena aneh tersebut.
"Kenapa aku merasakan perasaan yang tidak enak, ya? Aku harus cepat-cepat kesana!" gumam Abelard lalu melesat terbang kearah pertarungan.
"Ayah mau kemana?!" tanya Aaron dengan berteriak, tapi ia tidak mendapatkan jawaban dari Abelard.
'Pasti ada sesuatu yang aneh!' batin Aaron.
"Adrian kau jangan pergi kemana-mana dan jaga para pendekar ini! Aku akan menyusul ayah!" perintah Aaron.
"Baiklah, kak!" balas Adrian.
Setelah mendapatkan jawaban dari adiknya, Aaron segera terbang menyusul ayahnya. Namun, baru saja ia terbang, tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita dari arah yang hendak ia tuju.
"KYAAA!!!"
"Audi! Dia pasti dalam masalah!" gumam Aaron yang semakin meningkatkan kecepatan laju terbangnya.
***
Ditempat pertarungan,
"Audi! Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Rai dengan nada marah.
"A-aku ingin ikut bertempur! Tapi, ayah melarangku untuk ikut! Ja-jadi, aku kesini diam-diam!" jawab Audi yang sekarang berada dalam cengkeraman Rez.
"Jadi, maksudmu kau kesini untuk berperang, begitu?" tanya Rai yang dibalas anggukan oleh Audi.
"Hah... Dasar beban!" gumam Rai lirih.
"Ada apa, Rai? Kenapa kau diam?" tanya Rez yang kini sedang mencekik leher Audi.
"Apa kau takut wanita cantik ini akan terluka?" tanya Rez lagi yang kali ini diikuti dengan aksi menjulurkan lidah kearah Audi.
"Rai! Kumohon tolong aku!" pinta Audi yang berusaha untuk menjauhi lidah Rez.
Rai diam mematung. Tubuhnya bergeming dari tempatnya dan kepalanya menunduk kebawah melihat pedang yang ia bawa.
Sejenak Audi berpikir bahwa Rai tidak akan menolongnya setelah perkara kecil yang terjadi dimansion gubernur, "Rai..."
Tapi, pikiran itu segera ia buang jauh-jauh setelah melihat tubuh Rai yang mulai bergerak.
"Baiklah, aku akan menolongmu! Tapi, tolong jauhi aku setelah ini semua berakhir!" ucap Rai.
"Ya, aku akan menjauhimu kali ini!" balas Audi.
'Naga Emas, bisakah aku mencoba kekuatan petir emas?' tanya Rai kepada naga emas yang berada didalam Ruang Jiwanya.
'Mencobanya? Tidak! Kalahkan vampire itu dulu dan aku akan meminjamkan kekuatanku padamu nanti!' balas Naga Emas.
'Baiklah, terima kasih!'
__ADS_1
"Fuuh... Baiklah, akan kuakhiri ini!" teriak Rai setelah bernafas santai sejenak untuk menenangkan pikirannya.
Ia lalu mengangkat tinggi pedangnya sembari mengucapkan sebuah jurus, "Tebasan Naga Petir! Level 2 : Tebasan Naga Petir Langit!"