Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 8 : Pembantaian


__ADS_3

"K-kau. Itu benar kau. Ternyata kau masih hidup, ya? Gara-gara kau, kelompok kami diusir dari wilayah kerajaan. Dibohongi oleh raja. Tidak mendapatkan hadiah yang dijanjikan. Dan sekarang kau mengganggu ketenangan kami lagi. Semuanya, serang dia! Dialah penyebab kesengsaraan kita semua!" ucap tetua pertama panjang lebar.


"Serang!"


"Hancurkan dia!"


"Lumpuhkan kultivasinya!"


"Buat dia bertemu dengan keluarganya!"


Para prajurit itu meneriakkan kalimat penyemangat untuk diri mereka sendiri sekaligus kalimat provokasi yang ditujukan untuk Rai.


"Jadi, kalian ingin menyerangku terlebih dahulu dan menghancurkan aku dengan melumpuhkan kultivasiku, lagi? Ck, ck, ck. Kalian kurang berpengalaman. Harusnya itu seperti ini!" ucap Rai sambil berusaha menghindari serangan yang dilancarkan para bandit itu.


Setelah mendapatkan celah, Rai langsung bergerak cepat sambil menghimpun energi alam dikedua telapak tangannya. Kemudian, dia mengucapkan sebuah jurus yang membuat energi alam dikedua tangannya mengeluarkan elemen petir ungu.


"Tapak Petir : Penghancur Kultivasi!" ucap Rai.


Rai menapakkan kedua tangannya didada para bandit itu hingga membuat mereka kehilangan kultivasi setelah bayangan prasasti ditubuh mereka hancur.


Rai tidak berhenti. Dia terus bergerak sambil menapakkan tangannya ke seluruh anggota bandit. Mereka benar-benar tidak berkutik dihadapan Rai. Dengan tapak yang sangat berbahaya itu membuat para anggota bandit ketakutan dan hanya bisa diam ditempat sambil menunggu giliran.


"Setelah menghancurkan kultivasiku, kalian ingin membunuhku, bukan? Jadi, akan aku kabulkan. Tapi, bukan aku yang mati. Melainkan kalian!" ucap Rai dengan nada yang menyeramkan.


Rai kemudian mengeluarkan pedang biasa dari salah satu cincin penyimpanan bandit yang ia rampas. Setelah itu, dia mengalirkan energi alamnya hingga pedang itu dialiri petir.


Melihat pembantaian yang dilakukan oleh Rai, tetua ketiga tidak dapat mengontrol emosinya. Orang berbadan besar itu terlihat sedang menggenggam sebuah gada raksasa dengan kedua tangannya.


Tetua ketiga langsung berlari kearah Rai. Kemudian, dia mengayunkan gada miliknya sekuat tenaga. Merasa mendapatkan serangan, Rai memutuskan untuk menunda pekerjaan membantainya.


DUARRR...


Hantaman gada raksasa milik tetua ketiga menabrak tanah tempat Rai berdiri sebelumnya. Tanah itu langsung remuk dan hancur berkeping-keping.


Tidak hanya itu, mayat para anggota bandit yang sudah mati, ikut terkena imbasnya. Tubuh mereka langsung hancur berantakan. Darah para mayat itu seketika membuat genangan.


"Kemari kau! Akan aku hancurkan tubuh mungilmu itu! Hiyaa..." tetua ketiga kembali mengayunkan gadanya kearah Rai.


DUARRR... DUARRR... DUARRRR...


Tiga kali ledakan terjadi. Gada raksasa milik tetua ketiga selalu menghantam tanah tempat Rai berdiri. Sedangkan, Rai sendiri masih melanjutkan pembantainnya sambil menghindari serangan gada dari tetua ketiga.


Setelah selesai membantai, Rai langsung melesat kearah tetua ketiga. Dia mengayunkan pedangnya kearah tetua ketiga. Tidak mau tinggal diam, tetua ketiga menggunakan gada raksasanya sebagai tameng.

__ADS_1


Trang... Krak... Pyar...


Pedang biasa milik Rai hancur setelah menghantam gada raksasa milik tetua ketiga, "Sial, senjatanya ada ditingkat Senjata Roh tahap Menengah," gumam Rai.


"Hahaha... Bagaimana, bocah? Apa kau sudah menyerah? Hahaha..." tetua ketiga tertawa lantang.


"Siapa bilang aku sudah menyerah? Seharusnya akulah yang bertanya begitu. Apa kau sudah menyerah?" Rai membalikkan pertanyaan tetua ketiga.


Rai mengeluarkan Sky Lightning Sword dari cincin penyimpanannya dan kembali menyerang tetua ketiga.


Sementara Rai dan tetua ketiga terus bertarung, tetua pertama dan kedua tetua yang tersisa masih mengamati pertarungan yang terjadi. Tapi, ada yang berbeda dari raut wajah tetua pertama.


Berbanding terbalik dengan tetua kedua dan tetua keempat yang memasang raut wajah tenang, tetua pertama justru terlihat seperti ketakutan setelah Rai mengeluarkan senjatanya.


Melihat raut wajah tetua pertama tetua kedua memutuskan untuk bertanya padanya, "Tetua pertama, ada apa? Kenapa kau terlihat ketakutan?"


"I-itu, senjata yang dipakai anak itu adalah senjata tingkat Dewa," jawab tetua pertama.


"Apa?! Yang benar saja. Aku tidak merasakan aura senjata Dewa. Bagaimana mungkin bocah ingusan seperti dia memiliki senjata tingkat Dewa? Tolong jangan bercanda, tetua pertama," ucap tetua kedua.


"A-aku tidak bercanda. Pedang yang dibawa anak itu adalah Sky Lightning Sword milik Lightning Dragon, salah satu dari Five Strongest Dragon!" balas tetua pertama.


"T-tidak mungkin! Kau pasti bercanda 'kan, tetua pertama?" tanya tetua kedua tak percaya.


Tetua pertama dan tetua kedua pun mengakhiri percakapan mereka dan mulai mengeluarkan senjata masing-masing. Setelah itu, mereka ikut menyusul tetua keempat untuk membantu tetua ketiga.


Ditempat pertarungan, tetua ketiga saat ini sedang dalam posisi berlutut. Satu tangannya terpotong. Sedangkan, satu kakinya hancur akibat terkena gadanya sendiri.


Rai berjalan mendekati tetua ketiga. Dengan cipratan darah yang memenuhi wajahnya dan sambil menyeret Sky Lightning Sword, Rai terlihat seperti seorang pembunuh. Atau lebih tepatnya, pembantai.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya tetua ketiga ketakutan.


Rai tidak menjawab. Dia masih terus berjalan sambil menyeret Sky Lightning Sword. Setelah berada dijarak yang cukup dekat, Rai mengangkat Sky Lightning Sword tinggi-tinggi dan bersiap untuk menebas leher dari tetua ketiga.


Sedangkan, dua ratus meter dibelakang tetua ketiga, tetua keempat sedang berusaha untuk menyusul tetua ketiga secepat mungkin agar dapat menyelamatkannya. Tapi, dia sungguh terkejut ketika Rai sudah mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.


"Tidak, tunggu! Jangan lakukan itu!" teriak tetua keempat berusaha menghentikan Rai.


Zrat... Crash... Dug...


Namun, semuanya terlambat. Karena kepala dari tetua ketiga sudah jatuh terlebih dahulu sebelum tetua keempat berhasil menyelamatkannya.


Amarah tetua keempat memuncak tatkala cipratan darah dari tetua ketiga mengenai wajahnya. Matanya yang semula berwarna hitam seperti orang normal, kini berubah menjadi merah. Bahkan, aura membunuhnya yang sebelumnya normal berubah menjadi seperti aura iblis.

__ADS_1


"Kau telah membunuh tetua ketiga! Sekarang saatnya kau untuk mati!" ucap tetua keempat kemudian menerjang maju menyerang Rai.


Rai hanya tersenyum kemudian menggumamkan sebuah jurus yang diikuti oleh gerakan mengayunkan pedang, "Delapan Belas Tebasan Dewa Petir!"


Rai mengayunkan pedangnya sebanyak delapan belas kali. Dan dari tebasan itu, muncul cahaya petir berwarna ungu yang berjumlah delapan belas. Cahaya petir itu langsung menerjang kearah tetua keempat hingga menembus pertahanannya dan membuat tubuhnya terpotong menjadi beberapa bagian.


Melihat tetua ketiga dan tetua keempat mati dengan mengenaskan, membuat tetua pertama dan tetua kedua marah. Mereka langsung menyerang Rai dengan membabi buta.


Rai hanya tersenyum sambil menghindari setiap serangan yang mengarah padanya. Dia benar-benar senang karena lawannya adalah orang-orang yang naif dan mudah terprovokasi.


Setelah puas bermain, Rai melakukan gerakan salto kebelakang. Setelah berhasil mendarat, Rai langsung menggumamkan sebuah jurus.


"Tebasan Naga Petir! Level 2 : Tebasan Naga Petir Langit!" ucap Rai.


Sky Lightning Sword langsung bersinar terang seraya mengeluarkan petir langit. Setelah itu, Rai mengayunkan pedangnya kearah tetua pertama dan tetua kedua. Petir langit yang sebelumnya berada dibilah Sky Lightning Sword, kini berubah menjadi naga yang terus menerjang maju kearah kedua tetua dari Bandit Kelabang Merah.


BOOOOMMM...


Ledakan terjadi setelah naga petir langit menabrak tubuh tetua pertama dan tetua kedua. Ledakan itu juga membuat tetua pertama dan tetua kedua mati dengan tubuh yang tak lagi utuh.


Rai kemudian menyarungkan kembali Sky Lightning Sword dan memasukkannya ke cincin penyimpanan miliknya. Setelah itu, Rai memanggil Raiden untuk keluar dari gua.


Raiden langsung bersembunyi kedalam tubuh Rai begitu keluar dari gua. Mereka berdua terbang menembus kabut yang menutupi hutan agar mereka bisa keluar dari Hutan Kabut Berdarah. Rai semakin meningkatkan kecepatannya setelah tahu bahwa dirinya akan keluar dari hutan itu, selama-lamanya.


...****************...


(Tingkatan senjata :


1. Tingkat Rendah


2. Tingkat Menengah


3. Tingkat Tinggi


4. Tingkat Roh


5. Tingkat Raga


6. Tingkat Bumi


7. Tingkat Langit


8. Tingkat Surga

__ADS_1


9. Tingkat Dewa)


__ADS_2