Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 29 : Berkunjung ke Mansion Gubernur


__ADS_3

"Apa tidak ada lagi yang kau ketahui tentang klan Kiyomizu?" tanya Rai kepada bayangannya.


"Tidak! Selain fakta tentang klan ini yang melakukan perjanjian dengan iblis, aku tidak mendapatkan informasi apapun! Hanya saja, aku menemukan asal usul Ice Dragon yang ada ditubuh wanita itu!" jawab bayangan Rai.


"Asal usul kekuatan Ice Dragon?" gumam Rai.


"Ya! Aku mendapatkan sesuatu tentang kekuatan Ice Dragon yang ada ditubuhnya! Dan secara tidak langsung, aku mendapat informasi tentang ibunya yang merupakan keturunan murni ke empat puluh sembilan dari Ice Dragon!" balas bayangan Rai.


"Hmm... Jadi, Rin mendapatkan kekuatan itu dari ibunya?" tanya Rai yang dibalas dengan anggukan oleh bayangannya, "Apakah ibunya masih hidup?"


"Untuk pertanyaan itu, aku tidak bisa menjawabnya! Karena menurutku dia sudah mati ketika pembantaian klan Kiyomizu beberapa tahun! Tapi, aku menemukan tanda-tanda bahwa dia masih hidup!" jawab bayangan Rai.


"Baiklah! Kau boleh beristirahat! Aku akan mengambil alih penyelidikan mulai dari sini!" ucap Rai yang dibalas anggukan oleh bayangannya.


Rai kemudian mengulurkan tangannya kearah bayangan dirinya. Tiba-tiba saja bayangan yang ada didepan Rai, tersedot masuk ketangannya.


Rupanya, ini adalah salah satu teknik untuk menghilangkan bayangan atau tiruan dari seseorang.


"Baiklah! Saatnya kembali ke sekte dan... Memenuhi undangan Aaron!" gumam Rai dengan nada malas diakhir kalimatnya, lalu segera beranjak pergi dari sana dengan cara terbang menggunakan sepasang sayap naga yang ia dapat dari Raiden.


***


Satu jam kemudian,


Rai mendarat lima ratus meter dari gerbang kota agar kedatangannya tidak mengundang perhatian orang-orang yang sedang mengantri untuk memasuki kota.


Rai kemudian menghilangkan sepasang sayap naganya lalu berjalan kearah antrian panjang tersebut, "Hah... Hari yang sangat sial untukku!" gerutu Rai.


"Digerbang masuk saja sudah seramai ini! Bagaimana didalam nanti? Dan sepertinya aku memiliki firasat akan terjadinya kejadian kecil yang membuatku jengkel!" gumam Rai.


***


Satu jam kembali berlalu,


Kini sudah hampir giliran Rai untuk memasuki kota. Hanya tinggal dua orang lagi didepannya yang masih mengantri dan semuanya terlihat aman dan lancar.


Tentu saja ini membuat Rai sedikit lega. Karena setelah satu jam menunggu, akhirnya dia bisa memasuki kota.


Beberapa menit kemudian, tiba giliran Rai untuk diperiksa penjaga. Ia melangkah maju dengan santai dan berhenti ketika dihentikan oleh salah satu penjaga.


"Berhenti! Biar kami periksa dulu apa yang kau bawa! Ayo!" ucap penjaga itu.


Lalu, salah satu dari dua penjaga itu, mendekati Rai dan mulai memeriksa pakaian yang Rai kenakan. Merasa tidak ada yang aneh, penjaga itu pun mempersilahkan Rai untuk memasuki kota setelah membayar 20 Mutiara Perunggu.


Rai kemudian berjalan memasuki kota dengan perasaan yang damai. Dia berjalan santai dan sesekali mampir ke beberapa kedai makanan untuk membeli camilan.


Rai merasa sangat damai dan mulai berpikir untuk menjalani hidup sebagai orang biasa tanpa adanya gangguan dari musuh ataupun kultivator jahat.

__ADS_1


Namun, kedamaian yang dirasakan Rai itu, seketika sirna ketika Aaron berjalan menghampirinya sembari memanggil namanya.


"Rai!" teriak Aaron.


"Hah... Hilang sudah suasana damai ini! Dan itu disebabkan oleh orang gila satu ini!" gerutu Rai.


"Hah... Hah... Rai... Ayo ikut aku... Ke mansion ayahku!" ajak Aaron dengan terbata-bata akibat kelelahan karena berlari.


"Baiklah! Tapi, aku akan menggunakan cara cepat!" ucap Rai datar.


"C-cara cepat?" tanya Aaron keheranan.


"Ya, cara cepat!"


"Bagaimana itu?"


"Begini caranya!" Rai tiba-tiba menggandeng tangan Aaron lalu berlari dengan cepat kearah mansion gubernur menggunakan elemen petir.


***


5 menit kemudian,


Rai berhenti berlari secara mendadak setelah berada didepan mansion Gubernur Abelard. Perbuatan Rai yang mengerem secara mendadak ini, mengakibatkan Aaron yang terlempar kedepan hingga jatuh mencium tanah.


Gubrak...


"Ouch... Rai, bisakah kau lebih lembut sedikit begitu! Seperti perlakuanmu kepada wanita!" ujar Aaron.


"Lalu, kau memperlakukanku sebagai apa? Teman?" tanya Aaron.


"Tidak! Orang gila!" jawab Rai lalu pergi ke gerbang mansion.


"Apa?! Dasar kau!!!" ucap Aaron.


"Sudahlah! Kau ingin berkelahi denganku disini atau ingin mengajakku ke mansion ayahmu?" tanya Rai memberi pilihan.


"Hah... Baiklah, ayo masuk!" ajak Aaron.


Setelah itu, Aaron mengajak Rai masuk kedalam mansion gubernur. Begitu masuk, hanya ada tatapan terpana dari Rai. Namun, tatapan itu langsung menghilang begitu Rai mengingat kawasan kediaman klannya.


'Wilayah mansion ini bahkan tidak ada setengah wilayah kediaman keluargaku! Tidak ada kolam renang, tidak ada tempat latihan, tidak ada kebun tanaman herbal dan yang paling tidak aku suka adalah... Gudang hartanya yang sangat kecil! Bahkan, itu tidak sampai sepertiga dari luas gudang harta milik keluargaku!' batin Rai.


Rai dan Aaron terus berjalan kearah mansion berwarna putih yang berdiri megah ditengah-tengah taman bunga.


Sesampainya disana, Aaron langsung membuka pintu emas raksasa yang merupakan pintu utama dari mansion putih itu dengan pelan dan hati-hati.


Ketika pintu putih raksasa itu terbuka, terlihat kalau ruang tamu didalam mansion itu sangat besar. Bahkan mungkin ruangan itu bisa ditempati oleh sembilan ratus orang secara bersamaan.

__ADS_1


Ditengah-tengah ruang tamu itu, ada sebuah meja berbentuk oval memanjang dan tiga sofa. Dua dari tiga sofa itu, memiliki bentuk memanjang, sedangkan satu sofa yang tersisa memiliki bentuk pendek yang hanya bisa diduduki oleh satu orang.


Disana juga bisa terlihat tiga orang yang sudah menduduki sofa itu sembari memakan camilan dan meminum teh disebuah cangkir.


Rai tahu siapa saja yang ada disana. Hanya saja, Rai malas melihat dua orang yang ada disana.


"Hai, Rai-ku yang tampan!" sapa salah satu orang berkelamin wanita yang tak lain adalah Audi.


"Hei, Rai! Apa kau ingin bertanding untuk memperebutkan Rin?" ucap salah satu orang berkelamin laki-laki yang tak lain adalah Adrian.


"Jadi, kau orang yang bernama Rai? Pemuda berbakat dari sekte Naga Petir yang dipimpin kakakku dan orang yang disukai Audi! Mari, silahkan duduk dan nikmati jamuan yang ada!" ujar satu orang lainnya yang duduk disofa pendek diujung meja. Orang itu tak lain adalah Abelard, gubernur kota Petir.


Rai hanya mengangguk dan duduk disalah satu sofa panjang yang berhadapan dengan Adrian dan Audi. Disamping Rai, duduk Aaron yang sejak tadi mengikuti Rai dengan senyuman terukir diwajahnya.


'Apa-apaan dengan suasana ini?' batin Rai.


"Nak Rai, silahkan dinikmati jamuan yang ada disini!" ucap Abelard sambil menunjuk makanan yang ada dimeja.


"Terima kasih!" balas Rai lalu mengambil salah satu biskuit yang ada didepannya.


"Oh, iya! Nak Rai, mengapa kau memakai topeng itu?" tanya Abelard.


"Oh... Ini—"


"Kau malu akan wajahmu yang buruk rupa itu 'kan? Hahaha..." ujar Adrian.


"Adrian! Apa kau lupa tentang ajaran ayah mengenai menyela pembicaraan!" balas Abelard geram akan tingkah anak keduanya itu.


"Maafkan aku, ayah!" ucap Adrian dengan nada penyesalan.


"Maafkan tingkah anakku, nak Rai!" ucap Abelard.


"Tidak apa-apa, Gubernur! Aku bisa mengerti tingkah anakmu ini!" jawab Rai.


"Terima kasih, akan pengertiannya! Oh, iya! Mengenai topengmu itu... Apa bisa dilepas?" tanya Abelard.


"Tentu!" jawab Rai lalu membuka topengnya.


Seketika, semua terdiam. Mereka terpana akan ketampanan Rai yang berada diatas rata-rata. Bahkan, Audi sampai memerah wajahnya setelah melihat wajah Rai.


"Ekhem... Nak Rai, anakku Audi menyukaimu! Apakah kau mau menerimanya sebagai kekasihmu?" tanya Abelard.


"Tidak!" jawab Rai tegas.


"Tapi... Kenapa—" ucapan Audi tiba-tiba terhenti ketika ia tidak melihat Rai lagi dihadapannya.


"Dimana Rai?" tanya Aaron.

__ADS_1


"Aku disini!" balas Rai yang telah memakai kembali penutup wajahnya.


"Gubernur Abelard! Siapkan semua pasukanmu! Adrian! Pergilah ke sekte Naga Petir dan minta bantuan dari mereka! Yang lain, siapkan senjata kalian! Kita akan berperang!" perintah Rai.


__ADS_2