Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 41 : Kota Tianlong dan Sebuah Tantangan


__ADS_3

"Apakah benar seperti itu, Rai? Apakah Rin akan kehilangan kendali atas tubuhnya?" tanya Miyuki dengan tubuh gemetar, takut jika Rin akan menjadi seperti yang Rai katakan.


"Yah, itu hanya akan terjadi jika dia tiba-tiba mengingat potongan memori masa lalunya! Untuk itu, kau harus berhati-hati! Karena kau adalah orang paling rawan yang bisa membuat Rin kehilangan kendali!" jawab Rai santai.


"Jadi, hanya aku? Yuki tidak?" tanya Miyuki lagi.


"Yang aku tahu, memori yang hilang dari Rin adalah memori masa kecilnya! Ini meliputi keluarga, ayah, ibu, saudara, teman dan lain sebagainya! Menurut teori yang ku bicarakan tadi, Rin akan kehilangan kendali jika tiba-tiba mengingat memori itu!" jelas Rai.


"Namun, memori masa lalu yang hilang dari ingatan Rin, rata-rata terjadi pada saat Rin balita! Kecil kemungkinan memori tentang bibi Yuki yang muncul di dalam ingatan Rin, kecuali kita kenalkan dia kepada Rin! Jadi, jawaban untuk pertanyaanmu itu, adalah tidak!" lanjut Rai.


"Oh, begitu!" gumam Miyuki lesu.


"Sudahlah, sekarang persiapkan dirimu! Kita akan pergi melanjutkan perjalanan kita!" perintah Rai kepada Miyuki yang masih murung.


"Lalu, bagaimana dengan Rin dan Yuki?" tanya Miyuki untuk kesekian kalinya.


"Lihatlah, mereka sudah bersiap dan terlihat akrab!" ucap Rai seraya melihat Rin dan Yuki yang terlihat akrab satu sama lain.


***


Kota Tianlong,


Sebuah kota yang terletak tidak jauh dari kota Petir. Jarak kedua kota itu kurang lebih 30 mil dan dapat ditempuh dalam waktu 12 jam sampai 1 hari perjalanan.


Saat ini, Rai bersama kelompoknya sedang mengantri di gerbang masuk kota Tianlong. Suasana di sana sangat ramai karena dipenuhi dengan para pedagang kaya yang hendak berdagang di kota Tianlong.


Rai yang berada di barisan paling belakang sesekali melihat peta yang berada di sebelah kanan tubuhnya. Tertulis sebuah kalimat yang bertuliskan "CENTRAL CONTINENT" di bagian atas peta tersebut.


Di peta itu, juga terdapat gambar wilayah beserta namanya di kawasan Central Continent. Wilayah-wilayah itu terbagi menjadi empat wilayah, mengikuti arah mata angin.


Di wilayah Timur, ada kota Petir. Di wilayah Utara, ada kota Tianlong. Di wilayah Barat, ada kota Space Star. Dan di wilayah Selatan, ada kota Sahra.

__ADS_1


Keempat wilayah itu juga memiliki sistem pemerintahan, jumlah desa serta penduduk yang berbeda-beda disetiap wilayahnya.


'Jadi, selama ini aku berada di Central Continent, ya? Tapi, kenapa penduduk kota Petir tidak ada yang mengenaliku? Seharusnya mereka tahu tentang diriku atau keluargaku yang jelas mempunyai peran besar dalam pembangunan kota Petir!' batin Rai bingung.


"Hmm... Ada yang janggal! Sepertinya aku harus kembali ke kota Petir untuk bertanya pada Gubernur Abelard! Semoga saja dia tidak membuat ulah atau aku akan benar-benar membunuhnya!" gumam Rai lirih.


"Rai, ayo cepat! Apa yang kau pikirkan sampai melamun begitu?" ucap Rin yang membuat Rai tersadar dari lamunannya.


"Ah, iya!"


***


Rai dan kelompoknya akhirnya berhasil memasuki kota Tianlong setelah membayar biaya sejumlah Mutiara Perunggu.


Kini Rai, Rin, Yuki, Miyuki dan Raiden tengah berada disebuah pasar yang berada tepat di belakang gerbang masuk.


Terlihat aktivitas jual beli yang membuat suasana di pasar itu ramai akan teriakan pedagang yang menjajakan dagangannya ataupun percakapan antara pembeli dan pedagang yang sedang melakukan transaksi.


Ditambah dengan aroma wangi yang memenuhi pasar, membuat para pembeli selalu mendatangi stand-stand makanan yang ada di sana.


Salah satunya adalah Rin. Ia bersama Yuki, mendatangi stand-stand makanan yang menurut mereka memiliki makanan yang enak. Sudah banyak makanan yang mereka beli hingga kedua tangan mereka penuh akan bungkusan makanan.


Setiap Rin dan Yuki membeli makanan, mereka langsung saja pergi tanpa membayar. Karena yang akan membayar semua makanan mereka adalah Rai. Sudah banyak biaya yang Rai keluarkan hanya untuk memenuhi keinginan Rin dan Yuki.


"Hah... Ibu dan anak sama saja! Tabunganku sudah berkurang banyak, apakah mereka akan membeli makanan lagi? Sungguh, laki-laki adalah dompet perempuan! Inilah sebabnya jika kita ingin menikah, jangan hanya mementingkan ketampanan! Pikirkan juga tentang harta, karena perempuan lebih membutuhkan harta daripada ketampanan!" ucap Rai yang disambut dengan gelak tawa oleh Raiden dan Miyuki.


"Hahaha... Kata-kata yang sangat bijak, Rai! Boleh aku mengutipnya?" ucap Raiden dengan nada menggoda.


"Huh, dasar naga tak berguna! Bantulah aku untuk membayar makanannya! Jangan hanya pandai mengutip kata-kata orang saja! Dasar naga miskin!" ucap Rai kesal dengan tatapan tajam yang seketika membuat muka Raiden muram karena diejek miskin.


Mereka pun akhirnya kembali melanjutkan aktivitas mereka. Rai dengan aktivitasnya sebagai dompet berjalan. Raiden dengan aktivitasnya mengutip kata-kata bijak. Dan Miyuki yang hanya berjalan mengikuti mereka.

__ADS_1


Kegiatan Rin dan Yuki yang merepotkan Rai, berjalan dengan mulus. Sampai tiba-tiba, seorang lelaki muda dengan wajah tampan dan rambut hitam panjang datang menghampiri Rin dan Yuki.


"Nona cantik, apakah kau mau mengikutiku?" tanya lelaki itu.


"Siapa kau?" tanya Yuki yang langsung maju melindungi Rin.


"Oh, maaf! Perkenalkan, namaku Zhao Chen! Tuan Muda ketiga dari keluarga Zhao! Dan perempuan di belakangku ini adalah adikku, Zhao Yan!" ucap Zhao Chen memperkenalkan dirinya serta adik perempuannya yang berada di belakang tubuhnya.


"Maaf, Tuan Muda Zhao Chen! Kami tidak akan mengikuti anda! Karena kami sudah punya kelompok sendiri!" ujar Yuki menolak tawaran Zhao Chen dengan halus.


"Oh, begitukah! Sayang sekali!" ucap Zhao Chen kecewa. Namun, wajahnya tidak menunjukkan adanya kekecewaan sedikit pun.


"Hei, kau! Siapa kau? Kenapa kau mendekati kami?" tanya Rai dengan sinis.


"Hm? Kau, beraninya kau berkata begitu kepadaku? Apa kau tidak tahu aku ini siapa?" tanya Zhao Chen dengan tersinggung.


"Kak, aku menginginkan laki-laki ini!" bisik Zhao Yan kepada Zhao Chen.


"Oh, jadi kau tertarik kepada laki-laki tak sopan ini?" ucap Zhao Chen dengan senyum sinis.


"Baiklah, kalau kau berkata begitu! Tapi, kakak akan mengujinya dulu, bagaimana?" tanya Zhao Chen yang dibalas dengan anggukan oleh Zhao Yan.


"Kau dengar apa yang aku katakan? Aku menantangmu berduel di arena kota! Apa kau menerima tantanganku?" ucap Zhao Chen dengan senyum merekah di wajahnya.


"Sepertinya aku mencium bau-bau pertaruhan!" balas Rai.


"Hahaha... Benar! Kau benar sekali! Taruhannya adalah dua perempuan itu dan adikku!" ujar Zhao Chen seraya menunjuk Rin, Yuki dan Zhao Yan.


"Oh, baiklah! Sekarang sebutkan peraturannya!"


"Jika kau menang, adikku akan menjadi milikmu! Entah mau kau apakan dia, aku tak peduli! Tapi, jika aku yang menang, maka dua... tiga wanita itu akan menjadi milikku!" ucap Zhao Chen seraya menatap Miyuki.

__ADS_1


"Baiklah, kuterima tantanganmu!"


__ADS_2