
"Teknik Pengendali Tubuh!" ucap Satan dengan senyum seringai di bibirnya.
Raiden dan Miyuki membelalakkan matanya. Mereka tidak akan menyangka kalau Satan akan menggunakan teknik yang sangat berbahaya itu.
"Rai, lindungi Rin!" cepat-cepat Raiden memberi perintah kepada Rai.
"Terlambat!" ucap Satan santai sebelum jiwanya berpindah ke tubuh Rin.
Swosh...
Sebuah angin kejut tercipta secara tiba-tiba ketika jiwa Satan berpindah ke tubuh Rin. Bersamaan dengan itu, Rin yang sebelumnya tak sadarkan diri, kini kembali bangkit dengan luka-luka yang telah sembuh.
"Hahaha... Jadi, seperti ini rasanya berada di tubuh perempuan? Sedikit sulit untuk bergerak, tapi lumayanlah!" ucap Rin yang tubuhnya telah dikendalikan oleh Satan.
"Apa yang terjadi?" tanya Rai kebingungan. Ia sedikit tidak mengerti dengan pergantian peristiwa yang sangat cepat.
"Apa yang terjadi? Yang terjadi adalah aku membunuhmu!" teriak Rin sembari menusukkan pedang rapiernya kearah jantung Rai dengan senyum seringai menghiasi wajahnya.
"Matilah kau!" teriak Rin sekali lagi.
Trang...
Suara dentingan besi tercipta ketika pedang rapier Rin berhasil ditangkis oleh Rai menggunakan pedang katananya.
"Oh, reflek yang bagus!" puji Rin sembari bersiap untuk melancarkan serangan berikutnya.
Rai segera memasang raut wajah serius. Ia tidak bisa lagi meremehkan Rin yang ada dihadapannya kini.
Segera Rai melapisi pedang katananya dengan elemen petir emas yang baru ia dapatkan dari Jinlong setelah peristiwa di kediaman klan Kiyomizu beberapa waktu yang lalu.
Dengan ini, Rai mungkin menjadi satu-satunya orang di dunia manusia ini yang memiliki dua elemen petir suci sekaligus dan hampir memenuhi syarat untuk mendapatkan warisan petir tertinggi di seluruh semesta.
Swush...
Rai bergerak cepat kearah Rin. Ia kemudian mengayunkan pedangnya sekali lalu berganti arah menyerang dan diakhiri dengan tebasan lainnya.
Rai melakukan ini berulang kali. Hingga tanpa terasa, beberapa menit sudah terlewati dan Rai masih terus melakukan serangannya tanpa henti.
Kilatan cahaya berwarna kuning keemasan menjadi penghias dimalam itu. Menyinari arena pertempuran yang penuh akan darah. Darah hasil pembantaian sepihak yang dilakukan oleh iblis hanya untuk mencari kesenangan saja.
Rin sudah mulai kewalahan. Ia yang masih mampu menangkis beberapa serangan diawal pertarungan, kini menjadi objek pelampiasan amarah oleh Rai yang seakan menggila. Darah sudah melumuri seluruh pakaiannya. Membuatnya sangat tidak berdaya.
"Aku tidak bisa seperti ini! GRAAAHHH!!!" Rin berteriak keras seraya berusaha untuk menghempaskan Rai yang masih menyerangnya.
Swosh...
Rin melepaskan gelombang kejut secara mendadak dan berhasil membuat Rai terhempas beberapa meter. Beruntung, Rai mampu mendarat dengan sempurna.
"DASAR MANUSIA SIALAN! KAU YANG MEMBUATKU SEPERTI INI! MAKA KAU JUGA YANG AKAN MENJADI SASARAN UTAMAKU!" teriak Rin marah yang suaranya sudah berubah menjadi suara laki-laki.
"MODE RAGE!"
Swush...
__ADS_1
Sebuah aura berwarna merah kehitaman muncul dari dalam tubuh Rin dan langsung menyelimuti seluruh tubuhnya. Munculnya aura merah kehitaman itu juga diikuti dengan pusaran angin kuat yang menerbangkan puing-puing bangunan disekitarnya mereka.
Perlahan sepasang sayap hitam besar muncul dari punggung Rin. Sepasang tanduk hitam besar yang melengkung ke belakang juga tumbuh di dahi Rin.
Munculnya benda-benda aneh itu juga diikuti dengan berubahnya warna rambut Rin menjadi hitam dengan warna merah dibeberapa helai rambutnya.
"Huh, sekarang saksikan kekuatanku yang sesungguhnya!" teriak Rin dengan suara yang berat.
Rai menajamkan tatapan matanya. Menatap sengit Rin yang dikendalikan oleh Satan.
"Sepertinya aku harus mulai serius!" ucap Rai lirih seraya menutup matanya.
Aura berwarna ungu cerah tiba-tiba muncul dan langsung menyelimuti seluruh tubuh Rai. Petir-petir berwarna ungu muncul dan menyelimuti kedua tangan serta kaki Rai. Petir-petir itu juga membuat rambut Rai berdiri.
Tak lama kemudian, Rai membuka matanya. Tampak iris matanya berubah warna menjadi warna ungu dan aura yang menyelimuti tubuhnya juga semakin kuat.
"Tubuh Dewa Petir!" ucap Rai dengan mata yang menatap tajam.
Tak jauh dari tempat Rai berdiri, Raiden yang baru saja memulihkan tenaganya, bergumam pelan setelah melihat perubahan yang dilakukan oleh Rai.
"Dia memang pantas mendapat warisan itu!" gumam Raiden lirih.
***
Trang... Trang...
Suara dentingan besi terdengar menggema diseluruh penjuru desa. Pertarungan antara Rai dengan Rin sudah dimulai. Adu pedang menjadi pembuka. Namun, terlihat kalau Rai mulai menguasai jalannya adu pedang tersebut.
Hal ini merujuk pada kemampuan rage Satan yang unggul dalam serangan dan pertahanan. Tentu saja tidak mudah untuk mengalahkannya jika hanya mengandalkan kecepatan.
"Hahaha... Apa yang kau lakukan bocah? Apa kau hanya akan bermain-main seperti itu?" tanya Rin atau lebih tepatnya Satan.
Rai tidak menjawab. Dia masih melakukan serangan yang sama seperti sebelumnya. Hingga pada suatu waktu, Rai melakukan lompatan tinggi.
Kemudian, ia melakukan manuver kearah Rin dan diikuti dengan sebuah tebasan ringan. Setelah itu, Rai melakukan manuver lagi dengan arah yang berbeda dan diakhiri dengan sebuah tebasan.
Kejadian ini terus berlangsung hingga Rin yang dikendalikan oleh Satan terdesak. Tubuhnya tak dapat lagi digerakkan. Pedang rapier yang berada di tangan kanannya terlepas dari genggaman.
Tidak ada lagi pertahanan yang mumpuni. Hanya ada dua tangan yang disilangkan sebagai pengganti dari hilangnya pertahanan terakhir.
Rai terus melakukan serangan yang sama. Yaitu, manuver-manuver cepat yang diakhiri dengan tebasan-tebasan penuh elemen petir. Namun, ada suatu keanehan di dalam pertarungan tersebut.
Tubuh Rin tidak terdapat tanda-tanda luka. Entah itu luka kecil atau luka besar, tidak ada sama sekali di tubuh Rin. Bahkan, terkesan baik-baik saja.
"Apa yang Rai lakukan? Serangannya tidak mempan terhadap Rin tapi masih saja melakukannya! Apa yang ada di dalam pikirannya saat ini?" tanya Miyuki heran bercampur geram.
"Tenanglah! Dia pasti tahu apa yang ia lakukan!" jawab Raiden mencoba menenangkan Miyuki.
Kembali ke pertarungan,
Rai masih saja melakukan serangan yang sama terhadap Rin hingga membuat pola serangannya mampu ditebak oleh Rin.
"Oh, jadi begitu!" gumam Rin.
__ADS_1
Ia kemudian melakukan tinjuan kearah Rai yang sedang melakukan serangan. Hasilnya, Rai termundur beberapa langkah dan kehilangan momentum untuk menyerang.
"Berhasil!" ucap Rai dengan senyum seringai menghiasi wajahnya.
Rai lalu bangkit seraya menyarungkan pedang katananya. Ia kemudian berjalan menghampiri Raiden dan memintanya untuk menyerahkan Sky Lightning Sword kepadanya.
Raiden setuju dan langsung memberikan Sky Lightning Sword yang masih tersimpan rapi di dalam selongsongnya. Rai menatap sejenak pedang yang ada di hadapannya. Kemudian, menarik pedang itu dan mengeluarkannya dari selongsongnya.
Setelah itu, Rai berlari kearah Rin dengan pedang yang siap untuk digunakan. Ketika sudah berjarak beberapa meter saja, Rai menggumamkan sesuatu.
"Tebasan Naga Petir! Level 3 : Tebasan Dewa Naga Petir!"
Sebuah siluet naga petir raksasa muncul di belakang Rai. Naga petir itu memiliki bentuk tubuh memanjang dengan sepasang tanduk besar berwarna hitam, alis lebat berwarna hitam dan juga diselimuti oleh petir langit berwarna ungu.
Rai mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga. Bersamaan dengan itu, siluet naga petir yang berada di belakang Rai, melesat cepat kearah Rin dan langsung menghantamnya dengan sangat kuat.
DUARRRR...
Hantaman yang dilakukan oleh siluet naga petir itu menciptakan suara dentuman yang memekakan telinga dan kepulan asap yang menghalangi pandangan semua orang yang ada di sana.
Setelah kepulan asap mulai memudar, tampak Rai yang sudah kembali berwujud normal dan Rin yang tergeletak tak sadarkan diri tanpa luka tak jauh dari tempat Rai berdiri.
Tak lama kemudian, sesosok pria tua yang tak lain adalah Satan itu, keluar dari dalam tubuh Rin. Ia memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya. Ekspresi terkejut juga terlihat jelas di wajahnya.
"B-bagaimana bisa kau menyerangku? Bukankah a-aku sudah berada di dalam tubuh wanita ini? Bagaimana bisa k-kau menyerangku tanpa membuatnya terluka?" tanya Satan kepada Rai seraya menunjuk Rin.
"Iblis menjijikkan sepertimu tak pantas untuk mengetahuinya!" ucap Rai datar seraya melempar bola petir langit kearah Satan dan membuatnya menjadi abu dalam sekejap.
"Ahks... Ahks... Ahks..." Rai memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya seraya mencengkeram bagian dada kirinya.
Ia segera mengeluarkan pil yang ada di dalam cincin penyimpanannya dan langsung menelannya.
"Hah... Hah... Hah... Tadi itu hampir saja!" gumamnya.
"Rai, apa yang terjadi? Apa kau terluka?" tanya Raiden yang beru saja sampai di sebelah Rai.
"Yah, aku baik-baik saja! Hanya sedikit kekurangan energi alam akibat serangan terakhir tadi!" jawab Rai santai.
"Hah... Syukurlah!" ucap Raiden lega.
"Lalu, bagaimana dengan Rin? Sepertinya dia mengalami sedikit luka dalam!" tanya Miyuki.
"Kita bisa bawa dia ke desa terdekat di sekitar sini dan mengobatinya!" jawab Yuki yang baru saja datang.
"Yah, aku sedikit bisa mengobati luka-luka ringan! Hanya saja, untuk luka dalam aku tidak bisa!" jawab Rai.
"Sepertinya kalian butuh bantuan! Apa boleh aku menolongnya?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari balik puing-puing bangunan.
"Kau... Tabib Behrooz?"
...****************...
(Biasakan memberi like sebelum atau sesudah membaca, karena like dapat meningkatkan semangat author untuk menulis lagi. Jika berkenan, bisa memberi gift atau vote agar semangat author semakin tinggi lagi. Kalau tidak bisa, cukup komen atau rate saja. Terima kasih!)
__ADS_1