Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 55 : Mencapai Tingkat God


__ADS_3

Keesokan harinya,


"Semua sudah siap, Guru!" ucap Ryuu seraya memberi hormat kepada Raiden.


"Bagus, Ryuu! Antar kami sekarang dan pastikan tidak ada yang mengganggu kami!" perintah Raiden.


"Baik, Guru!" ucap Ryuu, Kenji dan Kenzou.


Raiden dan yang lain, pergi menuju tempat yang telah disiapkan dengan diantar Ryuu dan adik-adik seperguruannya.


Selang beberapa menit, mereka sampai di sebuah gua yang sangat besar dan luas. Raiden menyuruh murid-muridnya untuk keluar dan menjaga gua itu untuk sementara waktu sampai urusan mereka selesai.


"Baik, Guru! Kenji dan Kenzou akan menjaga tempat ini dari luar! Jika dibutuhkan, aku akan mengirimkan beberapa prajurit lagi untuk membantu mereka!" ucap Ryuu.


"Terima kasih, Ryuu! Untuk sementara, kami belum membutuhkan penjagaan yang ketat! Cukup pastikan tidak ada pengganggu yang mengacau proses kultivasi kami! Mengerti?" jelas Raiden.


"Kami mengerti, Guru!" ucap Ryuu, Kenji dan Kenzou bersamaan lalu pergi meninggalkan gua.


"Baiklah! Rai, sebelumnya kau mengatakan kalau kau punya rencana untuk berkultivasi! Aku sudah menyiapkan media penghantar petir yang bagus! Segera selesaikan dan gunakan!" perintah Raiden seraya berjalan menuju suatu ruangan.


"Baiklah! Tapi sabarlah sedikit!" jawab Rai lalu berjalan mengikuti Raiden menuju kolam Sambaran Dewa.


Ia lalu mengeluarkan sebuah pil setengah jadi dari cincin penyimpanannya. Rai melempar cincin itu ke tengah kolam dan langsung mengalirkan energi alamnya.


Wuung...


BLAAAZZZTTT...


Sebuah suara sambaran petir, terdengar menggelegar. Mengapungkan pil yang sebelumnya dilempar oleh Rai dan mengisinya dengan energi petir yang melimpah.


Dampak dari proses penyempurnaan pil itu adalah gelombang kejut yang terus muncul dan menerbangkan debu-debu yang ada di sana. Beberapa kali Rai harus menutup matanya agar terhindar dari kemasukan debu yang akan membuat proses penyempurnaan pil menjadi terganggu.


'Fokus... Aku harus fokus...' batin Rai.


Ia lalu menutup mata dan bernafas secara perlahan. Setelah itu, Rai mengurangi suplai energi alamnya secara perlahan untuk menetralkan kondisi.


Setelah kondisi dirasa kondusif, Rai kembali meningkatkan suplai energi alamnya secara perlahan. Sampai pil yang hampir jadi itu, memancarkan aura ungu terang yang menyilaukan.

__ADS_1


Tak lama kemudian, kondisi menjadi kacau kembali. Ledakan energi petir tiba-tiba muncul dari pil itu. Membuat Raiden dan Alvarez nyaris terpental akibat gelombang kejut.


Bzzzt... BLAAAZZZTTT...


DUARRR...


Secara tidak terduga, energi petir yang tidak stabil dari pil itu, justru mengundang Petir Langit yang asli. Hingga membuat atap gua berlubang.


"Rai! Apa kau baik-baik saja?!" tanya Raiden dengan berteriak.


"Ya! Tolong tinggalkan area ini segera! Lalu kunci area ini dari luar sampai luapan energi ini berhenti!" perintah Rai yang segera dilaksanakan oleh Raiden dan Alvarez.


Rai melihat Raiden dan Alvarez yang pergi keluar dari ruangan. Ia lalu menatap pil yang melayang tersambar petir di depannya dengan tatapan serius.


"Sesuai namanya, kolam ini berhasil memancing sambaran petir yang kuat! Inilah yang aku butuhkan!" teriak Rai bersemangat lalu membuat 2 tubuh bayangan.


"Kalian berdua harus menggantikan posisiku sebagai penyalur energi! Aku akan menetralkan sambaran petir itu agar bisa memadatkan pil!" perintah Rai yang disanggupi oleh kedua tubuh bayangannya.


Rai bertukar posisi dengan tubuh bayangannya lalu mengeluarkan secarik kertas dari cincin penyimpanannya dan membacanya.


"Gunakan jurus 'Pemurnian Elemen' untuk menetralkan sambaran petir guna memadatkan pil. Baiklah! Saatnya beraksi!" seru Rai bersemangat.


Dengan sebuah lompatan tinggi, Rai melayang mendekati pil dengan pedang yang terhunus. Sebuah jurus ia lantunkan dengan penuh semangat.


"Pemurnian Elemen!" seru Rai seraya tersenyum lebar.


Kemudian, muncullah sinar putih yang menyelimuti bilah Sky Lightning Sword. Dengan cekatan, Rai menebaskan pedangnya ke arah sambaran petir.


Syuut...


Cahaya putih itu, menabrak sambaran petir dengan cepat. Tidak ada suara, hanya sambaran petir yang semakin terang dengan adanya semburat cahaya.


Perlahan, intensitas sambaran petir itu semakin rendah. Namun, energi yang terkandung di dalam sambaran petir itu semakin padat.


Energi yang memadat itu, perlahan masuk ke dalam pil yang setengah jadi itu. Membuat warnanya semakin terlihat dan harumnya semakin semerbak.


Waktu demi waktu terus berjalan. Proses terakhir pembuatan pil itu sudah selesai. Rai menghilangkan kedua tubuh bayangannya dan menangkap pil yang sudah jadi itu.

__ADS_1


"Pil Jalan Dewa ini akhirnya selesai," gumam Rai dengan perasaan yang lega.


Setelah itu, Rai keluar dari ruangan itu saat pintunya terbuka. Ia menemui Raiden dan Alvarez yang telah menunggunya di luar sebelum menempati ruangan kultivasinya masing-masing.


***


Di dalam ruangan kultivasi,


"Pil Jalan Dewa. Hmm... Dari namanya, sepertinya khasiat pil ini sangat kuat. Langsung coba saja lah. Semoga dengan pil ini, aku bisa segera memasuki tingkat God," gumam Rai.


Glup...


Rai menelan pil Jalan Dewa dalam sekali tegukan. Ia memejamkan matanya dan memfokuskan pikirannya pada energi yang masuk ke dalam tubuhnya.


Setelah beberapa saat menelan Pil Jalan Dewa, tubuh Rai tampak mengeluarkan cahaya putih yang memyilaukan. Ia mulai merasakan adanya tekanan energi yang menekan setiap titik meridiannya.


Rasa sakit mulai dirasakan oleh Rai. Namun, ia tidak menyerah. Ia menyalurkan simpanan energi alamnya secara perlahan, melewati setiap titik meridian yang ada di dalam tubuhnya.


Perlahan, rasa sakit yang di alami Rai mulai menghilang. Berganti dengan rasa hangat dan nyaman yang membekap tubuhnya. Tapi, rasa nyaman itu hanya bertahan sebentar saja.


Karena, kini Rai mulai merasakan tekanan-tekanan kuat yang berasal dari dadanya. Ia merasa jika dirinya akan mulai menerobos. Tapi, ia masih tertahan karena energi yang ada pada tubuhnya belum diekstrak seutuhnya.


Rasa sakit akibat tekanan yang ditimbulkan, membuat Rai menahan sakit yang teramat sangat. Urat-urat di dahinya, terlihat menonjol dengan keringat yang mengucur deras. Sampai ia mencapai batasnya dan jatuh pingsan dalam keadaan masih berkultivasi.


Rai pingsan hampir 3 hari. Namun tubuhnya masih dalam kondisi berkultivasi. Energi dari Pil Jalan Dewa, telah berhasil ia ekstrak sepenuhnya secara tidak sengaja.


Ia bangun dari pingsannya dan mendapati dirinya akan segera menerobos. Rai segera memfokuskan pikirannya agar proses menerobos yang akan ia lakukan, berjalan lancar.


Swosh... Boom... Klang...


Suara ledakan dan mekanisme mesin, terdengar dari dalam tubuh Rai. Yang menandakan bahwa dirinya telah berhasil menerobos ke tingkat God.


Klang... Klang... Klang...


Tiga suara mekanisme mesin terdengar, bebarengan dengan naiknya tingkat kultivasi Rai. Sebuah siluet prasasti ungu, muncul setelah proses menrobosnya selesai.


Rai membuka matanya perlahan. Ia menatap siluet prasasti itu dengan cermat. Wajahnya yang serius, kini berubah dengan raut wajah gembira setelah melihat siluet prasasti yang ada di depannya.

__ADS_1


"Yosh! Aku sudah mencapai Tingkat God tahap Professional! Dengan begini, langkah balas dendamku akan terwujud! Hahaha... Tunggulah, Raja! Aku akan membalaskan dendam keluargaku sampai kau tidak kuat lagi untuk hidup di dunia ini!"


__ADS_2