
Alvian tersenyum membayangkan bagaimana reaksi bahagia dari Rena, dirinya begitu bahagia membayangkan ekspresi wajah Rena.
"Mas, dari tadi senyum-senyum sendiri kayak gitu awas kesambet loh," Kenan baru saja menghampiri Alvian yang sedang bersantai di sofa.
"Ah, tidak. Gue cuma ngerasa kok Rena makin lama makin cantik aja?"
"Jadi benar, Rena pemilik perusahaan Zeneca itu mantan istri lo mas," Kenan merasa penasaran dengan kakaknya.
Alvian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dirinya masih larut dengan pikirannya pada Rena yang begitu anggun dan glamour di acara launching perusahaan mereka.
"Terus rencana lo sekarang apa mas?" Alvian mulai menyelidiki.
"Gue cuma mikir gimana caranya buat bisa rujuk sama Rena,"
"Apa lo yakin bakal bisa mendapatkan dia kembali? Bagaimana kalau dia menolak dan mungkin ada pria lain yang telah mengisi hatinya?" Pancing Kenan padanya.
"Gue yakin bro, dia ga bakalan punya pria lain dihatinya. Gue tahu banget gimana Rena. Dia ga mau buka hatinya buat pria lain, karena dia cintanya cuma sama gue," Alvian begitu percaya diri dengan ucapannya.
Alvian cukup mengetahui karakter mantan istrinya itu, bahkan dia tahu persis bagaimana perasaan Rena padanya. Meskipun telah terluka karenanya tapi Rena tidak pernah mau membuka hatinya dengan pria lain. Rena hanya fokus pada anak-anaknya saja, itulah alasan sebenarnya bagi Rena.
Kenan cukup tertegun dengan ucapan kakaknya, seperti yang diucapkan Rena sebelumnya saat dirinya mencoba mendekati wanita itu dia selalu menghindar dengan alasan fokus pada anak-anaknya saja.
Setelah bicara dengan Kenan, Alvian mencoba menghubungi Rena.
Rena yang merasakan ponselnya bergetar langsung mengambilnya dari dalam tasnya.
"*Halo," sapa Rena pada nomor yang tak dikenalnya.
Mendengar suara Rena, Alvian cukup merasa tertegun. Dirinya mengingat kembali memorinya bersama wanita yang pernah menjadi bagian hidupnya. Rasa ingin bertemu dengan Rena semakin menggebu namun dirinya belum berani untuk menyatakannya.
"Halo siapa ini?" Rena mengulang kembali pertanyaannya pada si penelpon.
"Ha ... halo Rena,"
Deg!!!
Tiba-tiba hati Rena bergetar. Suara itu, suara yang tak asing didengarnya. Mas Alvian, benarkah dia yang menghubungi Rena? Antara percaya dan tidak percaya bagaimana mungkin lelaki itu mau menghubunginya lagi setelah apa yang telah dilakukannya pada Rena.
__ADS_1
"Ada apa mas? Kenapa mwnghubungiku?" tanya Rena sedikit malas berbicara dengan lelaki itu.
"Maaf, aku mengganggumu ya? Aku hanya ingin menanyakan apa buket bunga yang diantarkan kurir padamu sudah sampai?" tanyanya dengan penuh harapan.
Alvian berharap dengan memberikan buket bunga favorit Rena, wanita itu bisa mengingat kembali masa-masa indah mereka dahulu dan mungkin Rena mau membuka hatinya kembali padanya.
"Jadi buket bunga itu dari kamu mas?" Rena memperhatikan buket bunga yang sedang terpajang dimeja kerjanya.
Awalnya Rena begitu senang mendapatkan kiriman buket mawar putih karena bunga imawar putih merupakan bunga favoritnya, tapi setelah mengetahui itu adalah pemberian Alvian hatinya menjadi hambar melihat bunga itu.
"Iya Rena, apa kamu suka bunganya?"
"Mas, ga usah basa-basi padaku. Bilang saja apa maksud mas mengirimkan buket bunga itu padaku," desak Rena mulai merasa gusar.
"Aku ... Aku hanya ingin meminta maaf padamu Ren,"
"Minta maaf untuk apa mas?"
"Untuk semuanya Ren. Aku tahu aku banyak melakukan kesalahan padamu dimasa lalu. Aku juga telah menyia-nyiakan dirimu dan juga anak-anak kita tapi aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya," ungkapnya berterus terang.
Alvian memang menyadari betul akan kesalahannya, namun Alvian mempunyai tekad untuk memperbaiki semua kesalahannya dan dengan niat tulus ingin membina rumah tangga bersama Rena kembali. Semua itu demi rasa cintanya pada Rena dan mengingat dirinya memiliki anak bersama Rena semakin membuatnya rindu hidup bersama keluarga kecilnya.
"Mas, jika kamu ingin meminta maaf. Jauh sebelum kamu memintanya aku sudah memaafkanmu terlebih dahulu tapi untuk memulai hidup bersamamu lagi aku ga bisa mas," tegas Rena sambil menahan air matanya yang tertahan.
"Kenapa Ren? Apa kamu ga mau memberikan kesempatan untuk aku memperbaiki kesalahanku? Apa kamu ga mau anak-anak kita merasakan kasih sayang papanya?"
Alvian seakan mencoba menyentuh relung hati Renata untuk mencapai keinginannya.
"Kenapa mas? Kenapa baru sekarang kamu ingat sama anak-anak kita? Dulu waktu aku dan anak-anak masih mengharapkanmu kamu ga pernah punya waktu buat kami. Kamu selalu sibuk,"
"Maafkan aku, aku janji aku akan merubah semuanya menjadi lebih baik. Aku mohon biarkan aku memperbaiki kesalahanku,"
Rena sudah tidak sanggup menahan semua perasaannya yang sungguh menyesakkan dada. Dirinya takut semua kejadian di masa lalu akan terulang lagi. Rena memutuskan mematikan ponselnya sepihak. Rena bersandar ke dinding dan membiarkan tubuhnya merosot begitu saja dan menyibakkan rambut panjangnya ke atas. Kini ponsel yang digenggamannyapun telah terjatuh begitu saja dilantai.
Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Bu Rena, ibu kenapa? Apa ibu baik-baik saja?" Anastasya yang akan memberikan dokumen padanya melihat keadaan Rena yang tidak baik-baik saja segera meletakkan dokumen di meja dan membantu Rena untuk berdiri kemudian mengajaknya duduk di sofa.
__ADS_1
"Ibu ada masalah?" tanya Anastya kembali.
"Tidak, aku tidak apa-apa?" Rena tidak ingin membicarakan tentang Alvian pada Anastasya. Dirinya merasa bukan tempat yang tepat baginya untuk menceritakan semua tentang Alvian pada wanita itu.
"Ya sudah kalau begitu bu. Saya cuma mau memberikan dokumen kerja sama kita dengan perusahaan Gold Star. Berkasnya sudah saya letakkan di meja, kalau ibu butuh sesuatu ibu bisa panggil saya,"
Rena menganggukkan kepala dan wanita itu langsung keluar dari ruangan Rena.
***
"Jadi kau menghajar lelaki itu?" Axelle berdiri di dekat jendela ruang inap Cedereyn.
"Iya, aku merasa kesal karena dia berani sekali menyakiti Cedereyn. Padahal yang harus bertanggung jawab atas diri Cedereyn itukan dia. Sekarang malah seenaknya mencelakai Cedereyn," Troy merasa kesal dengan apa yang menimpa Cedereyn.
"Sudah Troy, kau tidak perlu semarah itu. Lagi pula aku sudah baik-baik saja," Cedereyn memperlihatkan senyumnya untuk menyatakan dirinya sudah tidak mengapa.
"Apanya yang baik-baik saja. Kau lihat bagaimana keadaanmu saat ini," mata Troy mengarah pada kedua kaki Cedereyn yang digips.
Cedereyn hanya terdiam dan mengedarkan pandangannya keluar ruangan.
Sementara Axelle yang berada disampingnya, langsung menggenggam tangan Cedereyn.
"Aku akan menjagamu, meskipun kau sekarang terbatas dalam segala hal aku akan siap membantumu kalau perlu menikahlah denganku," ujar Axelle dengan polosnya untuk menguatkan Cedereyn.
Troy terkekeh mendengar ucapan lelaki itu. Entah mengapa dirinya merasa sahabatnya itu sedikit konyol hari ini.
"Ck! Becandamu tidak lucu Axe," tukas Cedereyn sambil melambaikan tangannya di udara.
Dirinya merasa tidak yakin dengan ucapan pemuda yang baru saja mengungkapkan isi hatinya itu.
"Aku tidak bercanda Ced, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu. Bahkan dari sejak awal aku mengenalmu aku sangat mwnyukaimu tapi aku tidak bisa menyampaikannya padamu karena saat itu kau masih bersama Grey dan aku pikir sudah saatnya aku mengungkapkannya padamu," jelasnya tanpa ada keraguan.
Cedereyn menatap Axelle dengan tajam, dirinya mencoba mencari kebenaran dalam netra lelaki itu. Apa mungkin Axelle berkata juju? Sedangkan dia tahu benar bagaimana keadaan wanita yang berada dihadapannya saat ini.
"Apa kau tidak takut akan banyak masalah jika kau bersamaku?" wanita itu masih belum percaya pada ketulusan Axelle.
"Kita sama-sama berasal dsri tempat yang sama dan tumbuh ditempat yang sama. Jika kau percaya padaku, aku akan membuktikan padamu akan kata-kataku," Axelle berusaha meyakinkan gadis itu.
__ADS_1
Cedereyn hanya bisa tersenyum melihat keseriusan Axelle. Dirinya masih belum siap menerima Axelle dalam hidupnya, meskipun dia tahu Axelle adalah pemuda yang baik.
Troy yang memahami situasi diantara Axelle dan Cedereyn, tersenyum simpul kemudian keluar dari ruangan itu untuk memberi ruang kepada keduanya agar bisa bicara dari hati ke hati.