Love Betrayal

Love Betrayal
Berpisah


__ADS_3

Adrian baru saja kembali ke London, hari ini dirinya ingin segera mengakhiri hubungannya dengan Stevany. Dia baru saja bertemu dengan pengacaranya untuk mengurus perceraiannya dengan Stevany. Seperti janjinya padanya Jenita pria itu akan segera mengakhiri pernikahannya dengan Setevany.


Baru saja sampai di apartemen, Stevany menyambutnya dengan senyuman terindahnya. "Sayang kau sudah pulang?" sambut wanita itu pada dang pria.


Adrian tidak menjawab sapaan dari sang istri dan hanya duduk disofa.


"Kau pasti sangat lelah bukan? aku akan membuatkan minuman untukmu. Kau mau kopi atau teh?" tukas wanita itu padanya. Dia segera menuju pantry untuk membuatkan minuman hangat.


"Tidak perlu repot-repot, kau duduk saja disini, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu," pungkas Adrian padanya.


Mendengar permintaan sang suami, Stevany merasa sangat senang. Dirinya segera duduk dihadapan sang suami. "Katakan apa yang ingin kau katakan padaku?" Stevany merasa sangat bahagia. Mungkinkah suaminya ini mulai luluh padanya?


Adrian menatap dalam bola mata wanita dihadapannya itu, dia sedang berpikir untuk merangkai kata-kata yang akan diucapkannya pada wanita yang sedang menantinya itu. Dia segera mengambil nafas dalam dan menghembuskannya pelan.


"Dengarkan aku Stevy, aku ingin memberikan ini padamu," ujarnya sambil memberikan sebuah amplop dengan dingin.


Stevany melihat apa yang sedang diberikan sang suami padanya. Ada rasa penasaran yang menyeruam didalam hatinya. Aku sangat penasaran, apakah suamiku sedang memberikan suatu kejutan untukku? gumamnya dalam hati.


Wanita itu masih tersenyum sambil membuka amplop yang diberikan suaminya lalu membukanya dan mengeluarkan isinya. Seketika saja raut wajat yang penuh senyuman itu langsung berubah menjadi sangat kesal dan marah.


"Apa-apaan ini Adrian? apa maksud semua ini ?! " Stevany merasa tak percaya apa yang baru saja dilihatnya.


"Itu surat cerai. Aku baru saja mengurus perpisahan kita," jawab lelaki itu dengan santainya.


"Keterlaluan kau Adrian! Apa salahku padamu sampai kau harus memberikan surat gugatan cerai ini padaku?" Stevany menatap nanar pada sang suami.


Dia tidak pernah menduga Adrian akan benar-benar melayangkan gugatan cerai untuknya.

__ADS_1


"Kau tidak pernah salah padaku Stevy yang salah itu karena kita telah memaksakan hubungan yang tidak mungkin untuk dijalani," jelas pria itu masih dengan sikap tenangnya.


"Tidak! aku tidak bisa menerima semua ini ! kau lihat aku akan merobek surat ini! " Stevany begitu berapi-api dan merobek surat gugatan itu lalu menghamburkannya di hadapan Adrian. Nafasnya terlihat sesak dan matanya mulai memerah menahan tangis.


Adrian terkekeh melihat Stevany yang merobek surat gugatannya. "Sudah ku duga, kau pasti akan merobeo surat itu tapi tenang saja sayang, surat gugatan asli dan salinan yang lain masih ada padaku. Kau boleh merobek salinannya sebanyak yang kau mau tapi aku tidak akan pernah menghentikan keputusanku," tegas pria itu tanpa mau memandang wajah istrinya. Kemudian dia segera berlalu.


Namun, wanita itu menarik lengannya dan membalikkan tubuh pria itu dan membuatnya berhadapan dengannya. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Jika kau mencoba untuk mengakhiri pernikahan kita aku akan ... "


Belum sempat wanita itu melanjutkan ucapannya, Adrian langsung menjawabnya. "Apa yang ingin kau lakukan? kau ingin bunuh diri lagi seperti dulu? atau kau akan menyakitiku?" sungut lelaki itu padanya.


"Tidak ! aku tidak akan menyakiti diriku ataupun menyakiti dirimu. Aku akan menghabisi wanita yang mendekatim !" ancam wanita itu dengan tatapan yang sadis.


Wanita itu bukan sekedar mengancam saja saat ini tapi dia benar-benar akan melakukannya jika Adrian benar-benar ingin meninggalkannya.


"Kau mencoba mengancamku?" Adrian menggeram menatap mata wanita itu.


Adrian hanya mematung mendengar ucapan Stevany. Dia tahu betul dengan sifat wanita itu, jika telah mengatakan sesuatu pasti akan dia lakukan tanpa memikirkan sebab dan akibat dari yang dia perbuat.


***


Di tempat berbeda, Axcelle dan Cedereyn sedang bersama di apartemen, "sayang apa kau tidak ingin menikah denganku?" tanya Axcelle yang sedang memeluk tubuh ramping Cedereyn. Saat ini mereka sedang berada didalam kamar dan baru saja terjaga.


"Apa kau sungguh-sungguh ingin menikah denganku?" Cedereyn balik bertanya padanya.


Dia masih belum yakin kalau Axcelle ingin menikahinya. Dia masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.


"Aku serius sayang. Kita sudah satu tahun hidup bersama apa kau tidak berpikir untuk menikah dan punya anak?" Axcelle membalikkan tubuh wanita itu supaya menghadapnya. Dia ingin meyakinkan Cedereyn kalau dia sangat serius dengan ucapannya.

__ADS_1


"A ... aku sangat bahagia mendengarnya. Ini benar-benar tidak bisa dipercaya, " ucapnya terbata-bata. Wanita muda itu sangat terkejut dan bahagia oleh ajakan pria yang telah bersamanya.


"Aku sangat serius Ced, aku tanya sekali lagi maukah kau menikah denganku dan menjadi ibu dari anak-anakku?" tanya lelaki itu lagi sambil menggenggam tangan wanitanya.


Cedereyn menganggukkan kepalanya dengan keras. Sungguh ini suatu kebahagiaan tak terhingga yang dia miliki saat ini.


"Terimakasih sayang," ucap pria itu sambil memeluk dan mencium dahi wanita itu.


"Dokter apa kakak saya sudah membaik?" Kenan saat ini menghampiri dokter yang sedang mengecek kondisi tubuh Alvian. Pria itu masih belum mau membuka matanya dan masih tetap tertidur di ruang pesakitan itu.


"Keadaannya sudah mulai membaik, hanya saja pak Alvian belum melewati masa kritisnya," pungkas dokter muda itu.


Kenan menatap pada Rena, Adriana dan dua malaikat kecilnya. Ada rasa sedih yang tertahan dalam hatinya.


"Mas, apa mas Alvian akan baik-baik saja?" cemas Rena sambil memcari kepastian didalam mata Kenan.


Pria muda itu tidak bisa menjawab apa-apa dia hanya memeluk sang istri. "Kalian harus kuat, momy yakin Alvian pasti akan melewati masa kritisnya," Diandra mencoba menguatkan anak dan menantunya. Dia juga memeluk kedua orang itu dengan deraian air mata.


"Dady Kenan, Dady akan baik-baik sajakan?" tanya Dhafi penuh harap.


"Dady Alvian masih bakalan menemani kitakan?" timpal Belvina dengan mata berkaca-kaca.


Kenan dan Rena memeluk kedua anak kecil itu. Sungguh pertanyaan yang mereka lontarkan itu sangat sulit untuk mereka jawab.


"Dengar anak-anak, dady kalian akan baik-baik saja. Dhafi dan Belvina harus mendoakan dady supaya cepat sembuh ya," bujuk pria itu pada kedua malaikat kecilnya.


Semenjak mereka mengetahui dady mereka kecelakaan, keceriaan anak-anak itu menghilang begitu saja. Memang benar yang dikatakan orang ikatan batin itu sangat kuat walau bagaimanapun terpisah tetap akan bertemu kembali. Tidak ada alasan untuk menolak semua itu.

__ADS_1


"Iya, adek sama abang doain dady terus. Kami mau bermain dan belajar sama dady kayak dulu lagi," pungkas kedua anak kecil itu dengan polosnya.


__ADS_2