Love Betrayal

Love Betrayal
Hari Bahagia


__ADS_3

Sore itu Jesica telah sampai di acara launching pameran saudara kembarnya Jenita. Dirinya begitu bahagia dan takjub melihat maha karya saudara kembarnya itu. Jesica tidak pernah menduga Jenita bisa melukis sedetail itu.


 


Pandangan Jesica tertuju pada satu lukisan abstrak yang berada dihadapannya, gambar dilukisan itu menyiratkan kesedihan dan luka yang mendalam, jika sekilas dilihat lukisannya tidak memiliki hubungan dengan bentuk apa pun yang pernah dilihat oleh mata. Akan tetapi, apabila dicermati maka lukisan tersebut akan terlihat seperti sesuatu. Warna serta bentuk dan bahan-bahan tambahan lainnya yang berpadu padan yang terdaapat dalam lukisan membuat seni abstrak itu menjadi terlihat lebih unik.


“Kenapa Jes, kau suka dengan lukisan itu?” Jenita menghampiri saudara kembarnya itu.


“Apa ini kau yang melukisnya?” Jesica menoleh ke arah Jenita yang berdiri didekatnya.


“Hm, apa kau menyukainya?”


“Ya, aku suka. Berapa kau menjualnya?” tanya Jesica lagi pada adik kembarnya.


“Biasanya aku menjualnya dengan harga tinggi, tapi karena kau saudaraku kau boleh mengambilnya jika kau suka,” ucap Jenita padanya.


 


“Tidak, meskipun kita bersaudara aku akan tetap membayarnya. Ini hasil kerja kerasmu dan aku harus mengapresiasikannya padamu,” pungkas Jesica padanya.


 


“Baiklah, jika kau memaksa kau berikan saja harga yang pantas untuk lukisanku,” ujar Jenita padanya.


 


Setelah mendapatkan kesepakatan, akhirnya Jesica mengeluarkan sebuah cek dari dalam tasnya dan menuliskan jumlah yang cukup fantastis untuk lukisan sang adik.


 


“Ini Jenita, apa ini cukup?” tukasnya sambil memberikan lembaran cek pada Jenita.


 


Jenita cukup terperanjat dengan nominal yanng tertulis dicek tersebut. “Jes, kau tidak bercandakan?” Jenita membelalakkan matanya sambil menunjukkan jumlah cek yang diberikan Jesica padanya.


 


Jesica menghargai lukisan itu dengan harga seratus juta, jelas saja itu membuat saudaranya begitu shock.


 


“ Tidak sayang, itu harga yang pantas untuk hasil karyamu,” Jesica tersenyum menatap manik kecoklatan sang adik.

__ADS_1


 


Dia sengaja memberikan nominal yang cukup besar untuk snag adik, karena dia tahu Jenita ingin membuat sebuah studio lukisan untuk hasil karyanya, tapi Jenita terbentur oleh biaya. Sebagai pemula Jenita harus bersaing ketat dengan para seniornya. Demi menggapai mimpinya. Dan satu kehormatan baginya karena karya pertamanya dihargai sebesar itu oleh kakaknya.


 


“Tapi Jes, ini lebih dari yang seharusnya. Aku tidak bisa menerimanya,” Jenita merasa keberatan.


 


“Tolong terimalah Jeni, aku tahu kau butuh uang itu untuk project dan studio lukisanmu, jadi terimalah. Jangan lihat nominalnya tapi anggap saja aku ingin membantumu,” jelas Jesica pada adik kembarnya.


 


Jenita tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa memeluk saudara kembarnya itu dengan penuh kasih sayang. Dia tahu betul watak saudara kembarnya itu, selalu melakukan apapun demi kebahagiaan dirinya. Jenita beruntung mempunyai saudara kembar seperti Jesica.


"Kau membuatku terharu Jes, sepertinya ada debu dimataku," Jenita mengalihkan pembicaraan dengan mengusap air mata yang membanjiri matanya.


Jesica mengusap pelan punggung saudaranya. Menenangkan Jenita.


"Wah, ada apa ini? Apa aku mengganggu kalian?"


Kedua saudara kembar itu menoleh kebelakang bersamaan mendengar suara bass dari seorang pria di belakang mereka.


"Ya, aku mendapatkan informasi dari internet bahwa akan ada pameran lukisan di Indonesia dan disana juga ada namamu, makanya aku ke sini untuk melihat hasil karyamu," tukas lelaki bernama Adrian itu padanya.


"Kau bisa saja, pasti kau ke sini ada urusan bukan? Mana mungkin kau datang ke sini hanya untuk menemuiku saja," selidik Jenita merasa tak percaya.


" Kau memang tidak mudah percaya begitu saja, baiklah aku mengaku. Aku ke sini untuk sebuah pekerjaan tapi aku tidak berbohong alasan utamaku datang ke sini karena kau ada disini," Adrian berusaha meyakinkan Jenita.


Adrian dan Jenita sempat dekat sewaktu mereka kuliah bersama di Cambridge Unkversity. Mereka juga sempat dekat dan menjalin hubungan, hanya saja Jenita tiba-tiba menjauh dari Adrian karena suatu hal. Hingga mereka menyelesaikan kuliahnya Jesica dan Adrian tidak lagi dekat.


"Oh ya, ini saudara kembarku Jesica. Jes kenalkan ini Adrian, dia..." Jenita mengenalkan saudara kembarnya pada Adrian tapi dirinya tiba-tiba tesendat harus menyebut apa hubungannya dan Adrian saat ini.


"Aku sahabat Jenita," Adrian menjawab cepat.


Ada rasa canggung diantara mereka saat ini tapi jika harus jujur, Jenita sangat bahagia dengan kedatangan Adrian. Meskipun tidak bisa seakrab dulu lagi.


Jesica yang mengerti bahwa ada sesuatu diantara mereka, memberi ruang untuk mereka agar bisa bersama.


"Aku mau melihat-lihat lukisan yang lain dulu. Yang ini aku akan minta orang untuk membawakan ke mobil," ungkap Jesica pada kedua orang yang berada dihadapannya.


"Aku bantu bawakan ke mobil," tukas Adrian padanya.

__ADS_1


Lelaki itu paham akan sulit bagi Jesica membawa lukisan sebesar itu sendirian. Dirinya bermaksud untuk membantunya.


"Biar aku saja," tiba-tiba Troy menghampiri mereka, lalu membantu Jesica mwmbawakan lukisannya.


"Troy ... bagaimana bisa kau ada disini? Bukannya tadi kau masih sibuk di acara bu Rena?" sekarang giliran Jesica yang diberikan kejutan dengan kedatangan Troy dihadapannya.


"Ah iya, tapi setelah selesai aku langsung berniat menemuimu,"


Troy tidak punya alasan untuk mengatakan alasannya ke tempat itu, karena alasan yang sebenarnya karena dia ingin menemui Jesica dan menghabiskan waktu bersamanya.


"Hai brother in law," celetuk Jenita dan langsung menghampiri mereka.


"Jenita, jaga sikapmu," Jesica merasa sedikit tak enak hati dengan ucapan kembarannya yang ceplas-ceplos itu.


"Ups, maaf," ucapnya sambil menutup mulutnya. Adrian yang melihatnya hanya menengadahkan dagunya memperhatikan Jenita. Gadis itu hanya tersenyum sambil mengajak Adrian bersamanya.


"Ayo ikut aku, biarkan mereka bersama," Jenita menarik tangan Adrian kemudian pergi menjauh dari Jesica dan Troy.


"Tidak apa Jes," tukas Troy tersenyum melihat sikap kedua saudara kembar itu.


Setelah kedua orang itu menjauh, Troy langsung membantu Jesica membawakan lukisan yang telah dibelinya itu ke mobil Jesica.


"Jes, ini mau ditaroh dimana?" Troy memperhatikan mobil Jesica yang cukup penuh dengan belanjaan.


"Ah sebentar, aku lupa merapikannya tadi sebelum ke sini aku belanja dulu, jadi berantakan seperti ini. Maaf ya,"


Jesica segera merapikan mobilnya kemudian membantu Troy menaruh lukisan itu ke jock belakang mobil Jesica dan untung saja tempatnya cukup. Jadi lukisan itu tidak rusak ataupin tergores.


"Terimakasih Troy," pungkas gadis itu padanya.


"Oh ya, bagaimana kalau kita makan ke warung depan sana? seingatku ada warung sate terenak disini," tukas Troy sambil mengingat kembali dimana lokasi warung sate yang pernah disinggahinya dulu.


"Ahm, aku tahu. Pasti yang disanakan?" tunjuk gadis itu sambil melihat ke arah warung sate yang cukup ramai pelanggan disana.


"Iya, itu dia tempatnya. Ayo kesana," ajak Troy sambil menggenggam tangan gadis itu.


Saat itu posisinya mereka harus menyebrang jalan dan hujan mulai turun, jadi secara spontan Troy langsung menggenggam tangan Jesica lalu menariknya bersamanya. Jesica tidak bisa berucap apa-apa hanya mengikuti lelaki itu. Ada perasaan menghangat saat lelaki itu menggenggam tangannya, Jesica tersenyum melihat lelaki itu sambil mengekorinya.


Sesampainya di warung sate, meja makannya penuh, tapi untung saja masih ada satu meja terdekat yang masih kosong. Troy yang masih menggenggam tangannya langsung mengajaknya duduk disana.


Mereka duduk dimeja kosong itu, Jesica terlihat kedinginan dan Troy bisa membaca kondisi Jesica langsung membukakan jaketnya dan melekatkan jaket itu ke tubuh Jesica. "Terimakasih Troy,"


Lelaki itu tersenyum kemudian memesankan makanan untuk mereka. Dan ditempat itu pula mereka membuat momen untuk kisah perjalanan cinta mereka.

__ADS_1


__ADS_2