
Melihat Jesica pingsan dihadapannya lelaki itu langsung menggendong Jesica dan menaruhnya ke atas brankar kemudian memberikan pertolongan untuknya.
Adrian yang melihat keadaan Jesica, merasa khawatir lalu memanggilkan dokter untuknya. Tidak perlu waktu lama dokter segera menemui mereka, dengan stetoskop yang terpasang ditelinganya dokter muda itu memeriksa kondisi Jesica.
"Dokter bagaimana keadaannya?" Troy merasa sangat khawatir pada wanita itu.
"Dokter Jesica hanya kelelahan, dia butuh istriahat," jelasnya pada Troy.
Troy mengerti mengapa dokter mengatakan Jesica kelelahan, karena sangat jelas sekali wanita itu tidak beristirahat dengan benar. Hal itu bisa dilihat dari kantung matanya yang terlihat jelas dan menghitam. Ditambah lagi bibirnya memucat. Dapat dipastikan wanita itu kelelahan atau mungkin dia tidak makan seharian karena mengawasi sang adik.
" Segera pasangkan infus untuknya," titahnya pada perawat yang bersamanya. Bergegas perawat itu memasangkan infus pada tangan Jesica.
***
Di tempat berbeda seorang wanita berkaca mata hitam baru saja turun dari sebuah mobil BMW hitamnya. Wanita itu terlihat cantik dengan Dress hitam selutut yang berbalut blazer kulit berwarna senada. Jangan lupakan heels hitam yang bertengger dikaki jenjangnya. Dia melangkah kan kakinya dengan pasti ke suatu ruangan.
"Nyonya, akhirnya kau datang. Silahkan duduk nyonya," ajak lelaki itu padanya.
Wanita itu menjatuhkan bokongnya di sofa empuk itu segelas martini cocktail kini disajikan diatas meja bar. Dengan anggunnya wanita itu menyesap minuman itu lalu membuka kaca mata hitamnya.
"Jadi apa kau sudah memastikan semuanya akan baik-baik saja? Aku tidak ingin sampai media memberitakan keterlibatan suamiku dalam kasus itu," pungkas wanita itu sambil menyalakan vapenya lalu menyesap dan menghembuskan kepulan asapnya ke udara.
"Kau tidak perlu khawatir nyonya Stevany Rodigues, karena aku sudah pastikan pada kasus pembunuhan di hotel itu nama suamimu akan bersih dari sana karena dia sama sekali tidak terlibat didalamnya," jelas pengacara muda yang berada dihadapannya.
"Baguslah kalau begitu Sam, aku tidak mau nama suamiku jadi tercemar karena kasus itu. Aku tidak ingin hanya karena kasus wanita murahan itu akan berpengaruh pada perusahaan suamiku," pungkas wanita itu padanya.
"Tenang saja nyonya semua sudah aku tanggulangi, aku sangat yakin tuan Adrian Rodigues tidak akan disebutkan dalam kasus itu dan sekarang kasus itu akan segera ditutup," ujar lelaki itu lagi padanya.
"Hm, baguslah. Oh ya, apa kau mengamankan CCTV nya?" selidiknya lagi.
__ADS_1
"Aku sudah mengamankan CCTV dan barang bukti, jadi aku pastikan tidak akan ada bukti yang jelas pada pembunuhan Gloria Hills,"
Wanita itu menyesap kembali vapenya, kemudian membuka tas hitamnya dan mengambil sebuah amplop berwarna coklat.
"Ambillah ini untukmu," wanita itu melemparkan amplop coklat tebal ke atas meja.
Samuel, pengacara muda itu segera mengambil amplop coklat itu dan melihat isinya. Famtastis itu yang dia rasakan saat melihat jumlahnya yang sangat besar. Bahkan jauh lebih banyak dari kesepakatan mereka.
"Ini banyak sekali nyonya, apa anda tidak salah memberikan uang sebanyak ini?" tanya lelaki itu merasa heran.
Dia tidak menduga sama sekali akan mendapatkan jumlah yang cukup fantastis untuk pekerjaannya.
"Kau tidak perlu sekaget itu karena aku sengaja memberimu sebanyak itu. Karena hasil kerjamu sangat memuaskan, ambillah pasti anak istrimu membutuhkan uang itu," imbuh wanita itu padanya.
Tentu saja pria itu mengambilnya dengan penuh senyuman, karena memang dia membutuhkan uang itu saat ini untuk pengobatan anaknya yang sedang sakit.
***
Stevany baru saja sampai di kediaman keluarga Rodugues. Suasana malam itu sedikit sepi karena telah larut malam. Dirinya segera membuka pintu dan masuk ke dalam. Tidak biasanya rumah ini gelap, pada kemana orang dirumah ini? pikir wanita itu dihatinya.
Aneh sekali biasanya rumah itu sangat ramai oleh keluarga Rodigues yang beraktifitas didalamnya. Dia menyalakan lampu ruang tengah rumah itu dan cukup mengejutkan saat dia mendapati Antony yang sedang duduk di sofa sambil menaruh kaki di atas meja dan di meja itu terdapat wine yang sedang diminum lelaki itu.
"Dari mana? Apa kau tahu jam berapa sekarang?" tanya lelaki itu sambil minum dengan santai.
Merasa tidak memiliki kepentingan dengan pria itu, Stevany tidak mengacuhkan perkataannya dan berlalu begitu saja. Pria itu menatapnya tajam pada Stevany, kemudian memegangi tangan wanita itu dan menghentikan langkah wanita itu.
Stevany cukup terkejut melihatnya. Dia menatap lelaki itu dengan intens sepertinya dia tidak baik-baik saja. Matanya memerah dan tercium aroma alkohol yang menyengat dari mulutnya.
"Lepaskan aku!" titahnya pada lelaki itu.
__ADS_1
"Kau belum menjawab pertanyaanku!" tegas lelaki itu padanya.
"Apa urusanmu? Aku dari mana dan dengan siapa itu bukan urusanmu karena kau bukan suamiku!" jawab wanita itu dengan angkuhnya. Dia mencoba melepaskan cekalan tangan pria itu dari lengannya.
"Tentu saja menjadi urusanku karena kau masih tinggal dirumah keluargaku," pungkas pria itu sambil menariknya kehadapan pria itu.
Stevany tidak dapat menahan pergerakan tubuhnya karena lelaki itu menarik tubuhnya kehadapannya begitu saja. Mereka saling berhadapan dengan dada yang saling beradu, pandangan merekapun saling terpaut satu sama lain. Sejenak, Antony merasakan ada getaran antara dirinya dan wanita itu. Dirinya terhanyut oleh suasana dan mengusap pelan pipi wanita yang ada dihadapannya. Begitu juga dengan Stevany yang merasakan nyaman saat sentuhan itu dia rasakan.
Sentuhan yang telah lama tidak pernah dilakukan Adrian kepadanya. Wanita itu memejamkan mata merasakan sentuhan itu dan Antony yang berada dihadapannya mendekatkan wajahnya pada wanita itu. Pria itu mencium pelan bibir merah wanita itu. Tanpa diduga wanita itu membalasnya. Awalnya Antony mengira wanita itu akan marah padanya dan mungkin saja menamparnya. Namun semua tidak seperti yang dibayangkannya, wanita itu malah membalasnya dengan penuh gairah. Apa mungkin dia terlalu merindukan aktifitas itu? Atau mungkin Adrian telah lama tidak melakukannya?
Merasa mendapat peluang, Antonya merengkuh tengkuk wanita itu dan memperdalam ciumannya. Stevy masih menerimanya dan menarik kaos pria itu dengan kuat hingga terdengar robekan disana sehingga memperlihatkan tubuh sixpack lelaki itu. Wanita itu tersadar dan membuka matanya. Saat melihat Antony yang masih menciumnya dan masih mengenakan kaos yang sama tapi robek karena ulah Stevany. Wanita itu terjingkat dan mendorong dengan kuat tubuh lelaki itu untuk menjauhinya, tapi lelaki itu telah menggelap dia memeluk erat tubuh ramping Stevany dan mengakibatkan wanita itu terjatuh di sofa. Lelaki itu makin menggila dia memegangi kedua tangan Stevany dan menaruhnya ke atas kepala wanita itu dengan sedikit menahan tangan wanita itu agar tidak melakukan perlawanan. Lalu kembali menciumnya.
"Lepaskan aku! Kau gila? aku ini istri dari saudaramu Antony ! " wanita itu menolehkan wajahnya agar lelaki itu tidak bisa menciumnya lagi. Kemudian mencoba melawan.
Pria itu malah tersenyum menyeringai sambil tetap menindihnya. "Hari ini kau milikku, tidak ada satupun yang akan menghalangi kita," bisiknya ditelinga wanita itu dengan suara serak yang begitu menuntut.
"Jangan macam-macam Antony. Aku akan melaporkan perbuatanmu pada Adrian jika kau mencoba memaksaku," ancam wanita itu.
"Laporkan saja ! aku tidak perduli," pria itu semakin memaksanya. Stevany tetap meronta tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawannya sehingga membuatnya lelah dengan perlawanan itu.
Antonya yang masih terpengaruh alkohol tetap mencoba menyentuhnya dan memaksa. Hingga akhirnya pintu ruangan itu dibuka oleh seseorang. Dengan cepat Antonya melepaskan tangan wanita itu dan berdiri menjauhinya. Begitupun dengan Stevany langsung merapikan dirinya.
"Apa yang sedang kalian lakukan disini? Dan kau mengapa bajumu robek seperti ini?" geram sang mertua menatap Stevany yang acak-acakan dan Antony dengan pakaiannya yang robek.
Stevany gugup dna ketakutan, sementara itu Antony dengan santainya berucap "tidak ada pa, kami hanya sedikit minum tapi tadi bajuku malah tersangkut dan robek," jelasnya gelagapan.
"Benarkah? apa tersangkut bisa separah ini robeknya?" tunjuk Kenzo Rodigues pada pakaian Antony yang robek.
Keduanya tidak bisa menjelaskan apapun tapi Kenzo tidak mempermasalahkannya lagi. Dia hanya menatap tajam pada kedua orang itu. "Hari aku lelah karena perjalanan jauhku, aku tidak akan mempermasalahkannya tapi lain kali jika terjadi hal yang aneh diantara kalian. Aku tidak akan menampuni kalian!" ancamnya yang sukses membuat kedua orang itu kicep tak berkutik.
__ADS_1