
Troy masih larut dalam pikirannya sampai satu suara mengagetkannya.
“Hei apa yang kau pikirkan Troy? Axelle membuka pembicaraan.
“Ah, tidak, bukan apa-apa,” Troy tersenyum kecil padanya.
“Hm aku tahu, pasti kau memikirkan dokter cantik itukan?” tebak Cedereyn yang mengerti dengan pemikiran Troy.
“Aku mengerti jadi kau masih teringat akan percakapan kita waktu itu. Kau pasti memikirkan tentang perjodohan itukan?” tukas lelaki itu padanya.
Troy tidak dapat mengelak lagi dan harus mengakui yang dikatakan oleh Axelle itu benar adanya. Saat ini dirinya takut kalau Jesica menyetujui perjodohan itu.
“Tenang Troy, dokter Jesica tidak akan menerima perjodohan itu karena bos Kenan akan menikah dengan bu Rena,” jelas Cedereyn padanya.
“Hah? Bagaimana bisa seperti itu?” Troy heran dengan penjelasan gadis itu.
“Iya, bos Kenan tidak menerima perjodohan yang telah direncanakan oleh orang tuanya karena dia telah berencana menikah dengan nona Rena dalam waktu dekat,” jelas Axelle padanya.
Mendengar ucapan Axelle seketika wajah Troy yang tadi muram langsung cerah kembali, seakan mendapatkan angin segar dirinya menjadi bersemangat.
***
Ketika pergi membelikan obat untuk Troy, Kenan merasa sangat lapar dan dirinya mengajak Rena untuk sarapan.
“Sayang aku lapar kita cari makanan dulu yuk,” pinta Kenan pada Rena.
“Oh iya, aku lupa kita belum sarapan tadi. Kita cari makan didekat sini aja,” usul Rena pada Kenan.
“Kayaknya disini ada yang jual soto ayam deh. Kita cari tempat langgananku yuk,” ajak Rena sambil menunjuk ke arah penjual soto ayam di dekat rumah sakit yang menjadi tempat langganan
“Hm ayo,” Kenan mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
“Ini dia tempatnya, masih sama ga ya kira-kira yang jualan? Soalnya aku ke sini pas jaman kuliah dulu, apa mungkin yang jualan masih sama,” Rena memperhatikan penjual soto yang sedang asyik melayani para pengunjung warung soto ayamnya.
“Memangnya kamu kenal sama yang jual?”
“Iya, dulu yang jual itu mas Karyo, tapi aku ragu masih dia ga yang jual?”
Rena mencoba mencari kepastian agar tidak salah orang.
“Bang soto ayamnya dua ya,” Rena memesan makanan pada penjual soto ayam itu.
Si penjual itu memperhatikan Rena sambil mempersiapkan pesanan yang diminta padanya. Awalnya lelaki itu tidak terlalu memperhatikan dengan cermat wajah orang yang memesan makanan padanya. Sampai pada saat dia menyuguhkan makanan dimeja.
“Neng Rena kan? Tanya si penjual itu sedikit berpikir. Dia mengingat kembali wajah orang yang baru saja disapanya. Memastikan dirinya tidak salah orang.
“Ah, mas Karyo masih ingat sama saya. Kirain saya mas Karyo udah lupa, soalnya udah lama juga saya ga makan disini, semenjak selesai kuliah,” imbuh Rena tersenyum memperhatikan penjual soto itu.
“ Iya neng, pasti ingat dong. Kan neng Rena langganan saya waktu jaman neng kuliah dulu,” pungkas lelaki itu padanya.
“Kamu akrab sekali sama penjual soto itu,” Kenan menimbrung di sela-sela percakapan mereka.
“Iya sayang, waktu kuliah itu aku sering beli soto mas Karyo. Sotonya paling top deh pokoknya. Mas Karyo udah kayak ayahku sendiri. Aku sering cerita sama dia apalagi setelah papa ga ada aku sering cerita tentang masalahku sama dia,” jelas Rena pada Kenan.
Kenan mengangguk paham. Pantas saja Rena begitu ramah pada lelaki paruh baya itu, ternyata salah satu penyebabnya Rena sering cerita masalah pribadinya dengan orang itu.
“Pesanannya udah siap. Eh iya, ini pacar atau suami neng Rena?” jiwa kepo mas Karyo meronta sedari tadi melihat Kenan yang berada didekat Rena.
Belum sempat Rena menjawab, Kenan langsung memberikan jawaban pada pria paruh baya itu.
“Calon suaminya,”
Seketika wajah Rena memerah karena ucapan Kenan yang begitu spontan. Sedangkan mas Karyo memperhatikan Rena sambil menahan tawanya.
__ADS_1
“Cocok ini mah, yang satu cantik, cowonya juga ganteng,” puji lelaki itu pada keduanya.
Kenan hanya tersenyum sambil merapikan kerah bajunya. Melihat sikap Kenan yang kepedean Rena mencubit pelan bahu Kenan. Reaksi Rena membuat Kenan terkekeh.
***
Setelah selesai sarapan mereka kembali ke ruang inap Troy mengingat sudah terlalu lama mereka berada diluar hanya untuk sekedar menebus obat Troy. Tak lupa mereka membawakan soto ayam yang telah dibungkuskan beberapa porsi untuk mereka yang berada didalam sana.
"Maaf, lama menunggu tadi pas mau menebus obat, tiba-tiba saya meraa lapar jadi saya dan Rena mampir beli sarapan dulu, sekalian beli sarapan kalian, pasti kalian lapar kan?" ujar Kenan sambil menaruh bungkus makanan diatas nakas.
"Wah bos, kenapa repot-repot seperti itu?" Axelle merasa tsk enak hati karena bosnya ini sangat perhatian pada mereka sampai membelikan sarapan segala.
"Ga apa-apa kok, tadi kami mampir ke warung soto ayam dekat rumah sakit ini buat sarapan. Jadi sekalian aja pesan untuk kalian, ayo buruan dimakan sebelum dingin," ajak Rena pada Axelle dan Cedereyn.
Merasa sangat lapar ditambah aroma soto ayam yang begitu memikat, Axelle dan Cedereyn membuka makanan itu dan menyantapnya.
"Terimakasih nyonya Rena," ucap keduanya pada Rena dan dijawab dengan senyum ramah.
Sedangkan untuk Troy, dia persiapkan dalam satu mangkuk dan menyuapkannya pada lelaki itu.
"Ken, aku bolehkan membantu menyuapi Troy?" Rena meminta izin pada Kenan. Dirinya merasa kasihan pada Troy yang terbaring lemah diatas brankar dan mencoba membantunya.
Kenan mengerti dirinya mengangguk pelan. "Awas Troy, jangan sampai kau menggoda calon istriku," canda Kenan berpura-pura memberi peringatan pada Troy.
Membuat Troy tersenyum memperhatikan sikapnya. Sementara itu dari pintu yang sedikit terbuka sekilas Kenan melihat Jesica di dekat resepsionis. "Aku keluar sebentar, " ucapnya berpamitan.
"Jesica," panggil Kenan pada gadis itu. Merasa terpanggil gadis itu menoleh padanya.
"Kenan ada apa?" Jesica memperhatikan Kenan yang menghampirinya.
"Tidak, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih kau sudah membantu orangku," Kenan berbasa-basi padanya.
"Oh itu sudah tugasku sebagai tenaga medis," jawabnya ramah.
"Oh ya Jes, kapan-kapan kita minum kopi bersama ya. Ada hal yang ingin aku ceritakan padamu," pinta lelaki itu padanya.
"Hm, baiklah. Aku akan atur jadwalku dulu karena pekerjaanku sebagai dokter bedah cukup padat. Jika aku ada waktu luang aku akan menghubungimu saja," jelas wanita itu padanya.
"Okay, kalau begitu mana ponselmu?" pungkas Kenan padanya.
"Untuk apa?" tanya Jesica sedikit heran.
"Tentu saja untuk memberikan nomor ponselku. Supaya kau tidak susah menemuiku. Jika ada waktu luang telpon aku ya," jelas lelaki yang mengetikkan nomor ponselnya pada ponsel jesica kemudian mensave nomornya.
"Okay," jawab Jesica tersenyum memperhatikan Kenan.
__ADS_1