
Keesokan harinya Kenan dan Alvian bersiap ke kantor, Kenan sengaja memberikan tumpangan pada Alvian agar Alvian tidak perlu repot-repot mwnggunakan angkutan umum dan segera sampai ke perusahaannya.
Dihari pertama Alvian memasuki kantor, Kenan memperkenalkan Alvian sebagai Kepala Kantor Cabang yang baru.
"Perhatian semuanya, mohon waktunya sebentar. Saya ingin memperkenalkan kepada kalian Kepala Kantor Cabang yang baru. Perkenalkan ini Alvian Arfandi."
"Selamat bergabung pak Alvian Arfandi," sapa seluruh staf pada Alvian yang sedang berdiri dihadapan para staf bersama Kenan.
Dengan penuh percaya diri Alvian menyapa para staf, "salam kenal semuanya, kalian bisa memanggil saya Alvian. Mohon bantuan dan kerja samanya ya."
Setelah memperkenalkan Alvian kepada para stafnya, Kenan menunjukkan ruangan kerja untuk Alvian.
Ruangan kerja yang ditempati Alvian cukup bagus. Meskipun lebih kecil dari perusahaan sebelumnya, tapi desain putih dan hitam pada ruangan minimalis yang kini menjadi ruang kerja Alvian terasa lebih luas, bersih, dan modern. Ditambah lagi dengan meja kerja dengan kaki besi berwarna hitam, jugq lemari dan laci di sebelah meja untuk mempermudah penyimpanan dokumen atau barang-barang penting dengan warna yang senada membuat ruangan itu terlihat modern.
"Bagaimana mas? Suka ga sama ruangan kerja barunya? Kenan berbasa-basi pada Alvian.
Secara Kenan tahu persis setelan kakaknya itu, Alvian seorang yang sangat pemilih dan suka sesuatu yang eksklusif. Terang saja Kenan sedikit ragu Alvian mau bekerja di perusahaannya yang kecil. Selama ini Alvian selalu menggunakan fasilitas mewah untuk bekerja.
"Tentu saja aku suka, ini benar-benar bagus. Terimakasih Kenan kau telah memberiku pekerjaan dan ruangan untuk bekerja. Bahkan dihari pertama kerja saja, aku telah menjadi kepala cabang. Jika dilihat kembali pada masa laluku semua ini sangat tidak pantas untukku."
Alvian benar-benar malu dengan apa yang telah terjadi padanya belakangan ini. Terlebih lagi, saat ini dia mesti mengemis pada saudaranya untuk bekerja. Padahal dulu, dirinya begitu angkuh dan selalu meremehkan Kenan, karena Kenan tidak pernah serius dalam hidupnya. Siapa yang akan menduga seorang playboy dan tengil seperti Kenan mampu mengendalikan perusahaan besar? Malahan sekarang memiliki cabang perusahaan dari Indonesia hingga luar negeri.
Setelah menunjukkan ruang kerja untuk Alvian, Kenan juga menunjukkan job desk untuk pekerjaan Alvian. Untuk yang satu ini Alvian pasti tidak akan terlalu asing karena dirinya telah terbiasa bekerja di perusahaan. Pastinya tidak akan sulit baginya untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan diruang lingkup yang tak jauh berbeda.
***
Siang harinya, tepat pada saat jam makan siang. Tiba-tiba saja Kenan teringat pada Rena. Kenan segera mengambil ponselnya yang berada disaku celananya. Kenan langsung mencari kontak Rena dan menghubunginya.
"Halo," seseorang di seberang sana langsung menjawab panggilan telpon Kenan.
"Rena, apa kau sibuk hari ini? Aku ingin mengajakmu makan siang bersama."
__ADS_1
"Aku tidak sibuk Ken, hanya saja aku harus menjemput anak-anakku. Ini sudah jadwalnya mereka pulang sekolah," jelas Rena sambil merapikan meja kantornya kemudian mengambil tasnya untuk segera menjemput anak-anaknya.
Deg!!!
Kenan tersentak dengan ucapan Rena, anak? Jadi benar Rena telah menikah? Mengapa tidak ada yang memberitahukannya tentang pernikahan Rena? Apalagi saat ini dirinya datang memang untuk mendapatkan hati Rena kembali. Lantas kalau Rena sudah menikah, apa semua harapannya akan sia-sia? Berbagai pikirian telah berkecamuk dalam benaknya, rasanya harapan untuk mendapatkan Rena akan semakin tipis.
"Halo Ken, apa kau mendengarku?"
"Ah, iya Rena. Apa aku boleh mengantarkanmu menjemput anakmu lalu kita pergi makan bersama?" Kenan masih penasaran dengan Rena.
"Okay, kalau begitu maumu. Aku sedang berada diparkiran segeralah kesini," ucap Rena mengakhiri percakapan mereka.
Tak berapa lama kemudian, Kenan telah tiba di parkiran. Dirinya segera menghentikan laju mobilnya dihadapan Rena.
"Hai, apa aku lama?" Kenan merasa tak enak hati melihat Rena kalau saja terlalu lama menunggunya.
"Tidak Ken, aku baru sepuluh menit menunggumu."
"Tidak mengapa Ken," Rena mengulas senyum dibibir tipisnya supaya Kenan tidak merasa bersalah lagi.
Kenan mempersilahkan Rena masuk ke dalam mobilnya, Rena duduk disisi kiri Kenan yang sedang melajukan mobilnya. Tidak ada percakapan antara mereka. Namun, Kenan mencoba untuk membuka percakapan.
"Rena, sudah berapa lama kamu menikah?" tanya Kenan dengan sangat berhati-hati.
Rena sedikit tergelitik dengan pertanyaan Kenan. Dia bingung harus menjawab apa? Karena jika dikatakan telah menikah, itu memang benar adanya, tapi dikatakan telah berpisah ... entahlah, Rena juga bingung menghadapi takdirnya. Karena kenyataannya setelah Alvian meninggalkannya, Lelaki brengsek itu tidak pernah memberikan talak padanya. Bahkan setelah dia mendekam di jeruji besipun masih saja mempersulit keadaan Rena.
"Rena,"panggilnya lagi pada wanita disampingnya.
Rena terperanjat dari lamunannya. Namun, dia segera menjawab pertanyaan Kenan.
"Iya, aku telah berpisah dengan suamiku," kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Rena.
__ADS_1
Padahal awalnya dia tidak ingin mengatakan dirinya telah berpisah, karena dirinya masih meyakini pernikahannya dengan Alvian masih ada meskipun Alvian tidak pernah perduli padanya.
"Jadi kau telah berpisah dari suamimu?" seketika mata Kenan membulat sempurna mendengar perkataan Rena.
Bukankah itu pertanda baik? Artinya dia masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan Rena dan untuk kali ini dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, sekalipun dia tahu yang akan menjadi rivalnya nanti adalah kakaknya sendiri. Itu bukan masalah baginya.
"Ahm, maksudku suamiku meninggalkanku tapi intinya aku dan dia tidak pernah berpisah dimata hukum." Rena mencoba bertahan dengan keyakinannya.
"Memangnya kalian sudah tidak serumah berapa lama?" selidik Kenan benar-benar ingin tahu.
Dirinya ingin memastikan Rena dan Alvian memang telah lama berpisah.
"Sudah dua tahun," jawab Rena sekenanya.
"Oh itu artinya kalian sudah berpisah. Bukankan didalam agama jika suami telah meninggalkan istrinya selama tiga bulan berturut-turut tanpa penjelasan, artinya sudah jatuh talak?"
Pernyataan yang diucapkan Kenan memang benar adanya, tapi Rena meyakini hanya hitam diatas putihlah yang menjadi penentu untuk hubungannya dengan Alvian.
"Entahlah Ken. Aku hanya masih berharap suatu saat nanti lelaki itu akan kembali bersamaku dan hidup bahagia bersama anak-anakku," tampak jelas raut wajah Rena yang mulai sedih mengingat mantan suaminya.
"Kau tidak perlu bersedih, masih banyak lelaki yang jauh lebih baik darinya. Kau pasti akan mendapatkan pengganti yang terbaik. Misalnya aku gitu," celetuk Kenan sambil menggenggam tangan Rena.
Dia sengaja bicara asal seperti itu karena tidak tega melihat wajah sedih Rena. Rasanya sakit sekali saat melihat orang yang dicintainya terluka.
"Kau ini, selalu saha bercanda seriuslah sedikit tuan Kenan ," Rena memukul pelan bahu Kenan. Merasa gemas dengan sikap lelaki itu. Tapi candaan Kenan cukup garing baginya, karena bisa membuatnya tertawa kembali.
"Baiklah, aku serius. Maukah kau menjadi istri dan ibu dari anak-anakku
kelak nona Renata Austin?" tanya Kenan serius namun terkesan bercanda.
Rena hanya memutar bola matanya malas. Dia tahu persis mana mungkin cassanova seperti Kenan mau mempunyai ikatan serius. Sejauh ini yang dia tahu Kenan selalu memiliki selir dimanapun dia berada. Jadi sangat mustahil jika Kenan memintanya menjadi istrinya.
__ADS_1
Kenan hanya tersenyum memperhatikan wajah Rena yang memerah, dia tahu persis wanita yang kini bersamanya tengah bingung antara percaya juga tidak dengan apa yang dilontarkannya tadi. Namun, sejujurnya Kenan memang sangat menginginkan Rena. Bahkan ketika dia bersama para ****** yang menyerahkan diri padanyapun Kenan tidak pernah mengingat nama mereka. Selalu saja nama Rena yang ada dalam racauannya. Mungkin dunianya telah dipenuhi dengan wajah, sikap dan nama Rena seorang.