Love Betrayal

Love Betrayal
Menyesal


__ADS_3

Saat ini Rena telah berada di ruang IGD, sebuah alat bantu pernafasan telah terpasang dihidungnya. Dokter itu memacu detak jantung Rena dengan sebuah alat kejut. Masih saja tubuh wanita itu belum memberikan reaksi. Hingga sampai beberapa kali dokter itu memacu detak jantung Rena dengan peralatan medis, barulah jantungnya kembali normal.


Sementara itu di depan pintu ruang gawat darurat beberapa orang telah menunggu dengan cemas akan keadaan Rena. Tiba-tiba saja Kenan datang tapi Alvian mencegahnya.


"Buat apa kau ke sini? Apa belum cukup kau menyakiti Rena?" pungkas lelaki itu dengan sinis pada Kenan.


"Apa maksudmu mas? yang berada dalam ruangan itu adalah istriku, kenapa kau mencegahku untuk mengetahui keadaannya?" Kenan merasa terusik dengan sikap Alvian yang terkesan ingin menjauhkannya dari Rena.


"Hei Kenan, apa kau tidak melihat? Rena berada disini karena dirimu. Kau yang sudah membuatnya sakit!" sentak Alvian padanya.


"Tapi aku ... "


Belum selesai Kenan melanjutkan ucapannya Jesica menggenggam tangannya. Kenan menoleh padanya dan dengan cepat Jesica menggelegkan kepalanya. Memberi kode agar Kenan tidak tersulut emosi karena Alvian.


Kenan yang memperhatikan sikap Jesica mengalah. Mengingat dirinya sedang berada di rumah sakit dia mencoba mengalah agar perdebatan antara dirinya dan kakaknya tidak berlanjut. Alvian yang melihat Kenan mengalah tersenyum jahat.


Dia sengaja melakukan itu supaya Kenan tidak bisa bersama Rena.


Beberapa saat kemudian dokter muda datang menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Kenan pada sang dokter.


Dirinya benar-benar sangat mengkhawatirkan Rena.


"Bu Rena tidak apa-apa, dia hanya mengalami Panic attack," jelas dokter itu padanya


"Panic attack? " ulang Diandra merasa bingung dengan penjelasan dokter.


"Panic attackĀ adalah suatu serangan ketakutan yang intens atau kuat, yang akan memicu berbagai gejala fisik yang parah tapi ini tidak berbahaya. Berdasarkan analisa saya, pasien merasa panik berlebihan, sehingga kehilangan kontrol dan detak jantung berdebar cepat, sehingga tidak dapat bernapas dengan lancar," jelas sang dokter.


Kemudian melanjutkan ucapannya, " apa sebelumnya ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman?"


Kenan hanya terpaku mendengar penjelasan sang dokter, tapi Alvian yang memang ingin memojokkan Kenan langsung menjawab, "ya dokter Rena shock dan panik karena dia melihat suaminya berkhianat dihadapannya," seringai lelaki itu menatap Kenan.

__ADS_1


Kenan tidak dapat berkelit karena yang dikatakan Alvian benar adanya, tapi itu bukan sepenuhnya salah dia.


Ryan yang memperhatikan Anastasya ada diantara mereka, langsung menarik tangan gadis itu keluar dan menuju koridor rumah sakit.


"Lepaskan! mengapa kau kasar sekali padaku?" Anastasya meringis kesakitan sambil melepaskan tangan Ryan yang mencekal lengannya.


"Kau merasa sakit? Apa kau pikir rasa sakit itu sebanding dengan yang Rena rasakan?" sorot mata Ryan tampak terbakar. Dia begitu marah pada wanita muda itu.


"Apa maksudmu Ryan?" elak gadis itu berpura-pura tak mengerti.


"Kau bisa membohongi semua orang tapi tidak denganku Ana, aku tahu betul bagaimana watak aslimu itu," jelas lelaki itu sambil menunjuk wajah Anastasya.


Anastasya merasa ketakutan dan mendadak gugup karena merasa terintimidasi. "A ... aku tidak melakukan apapun, itu semua kesalahan pak Kenan, di ... dia yang tiba-tiba memelukku," wanita itu mencoba membela diri dan balik menuduh Kenan.


"Mana mungkin pak Kenan melakukan itu dia tidak pernah mengenalmu," Ryan bersikeras bahwa Kenan tidak bersalah.


"Mengapa tidak? Apa menurutmu Kenan itu orang suci? Dia juga bisa membuat kesalahan," sergah Alvian yang tiba-tiba saja berada di belakang mereka.


"Oh jadi konspirasi kalian, wow hebat sekali. Mantan pasangan suami istri yang mencoba menghancurkan kebahagiaan orang lain demi obsesinya," sarkas lelaki itu pada keduanya.


"Hentikan omong kosongmu Ryan. Aku hanya tidak sengaja lewat dan melihat kalian sedang ribut-ribut makanya aku kesini untuk memastikan kalian baik-baik saja," tukasnya dengan tenang.


Sungguh lihai sekali Alvian. Sepertinya dia layak menjadi seorang aktor untuk kepribadian gandanya itu.


Ryan berdecih, "jika terjadi sesuatu pada kakakku, aku akan mencarimu Alvian," ancam lelaki itu pada Alvian.


Ryan sudah tidak bisa mnahan emosinya, daripada terjadi sesuatu yang tak diinginkan dirinya lebih memilih meninggalkan kedua orang itu disana.


"Hufh untung saja kau datang mas, kalau kamu ga datang tepat waktu mungkin lelaki itu akan memaksaku untuk mengakui semuanya," Anastasya menghembuskan nafas lega sambil mengusap pipinya yang terasa memanas sedari tadi.


"Itu tidak boleh terjadi, kita sudah mempersiapkan semuanya tidak boleh gagal," pungkas Alvian dengan senyum smirknya.


***

__ADS_1


Saat ini Rena telah dipindahkan ke ruang perawatan. Bersamanya telah ada Kenan yang masih menunggunya sadar. Lelaki itu dengan penuh harapan menggenggam jari-jemari Rena, dia begitu ingin melihat wanita yang telah sah menjadi istrinya itu kembali ceria.


Tiba-tiba Rena mengerjapkan matanya perlahan dan memperhatikan Kenan yang tertidur di sisi brankar. Wanita itu tersenyum melihat suaminya yang terlihat lelah menantinya bangun. Rena mengusap kepala lelaki itu dengan lembut.


"Sayang, kamu udah bangun?" Kenan terjaga merasakan sentuhan lembut dikepalanya.


Rena hanya tersenyum sambil memperhatikan Kenan, rasanya dia ingin sekali memeluk lelaki yang telah menjadi suaminya itu tapi dirinya tidak mempunyai kekuatan karena tubuhnya terasa begitu lemas.


"Jangan banyak bergerak dulu, kau masih harus istirahat," cegah Kenan yang melihat Rena bergerak dengan kondisinya yang lemah.


"Aku ingin menemui anak-anak dan keluarga kita, tidak baik jika mereka ditinggalkan terlalu lama," Rena berusaha kuat dihadapan suaminya.


"Sstt, tidak perlu memaksakan diri. Kita bisa menemui mereka nanti. Aku minta maaf Rena, atas kejadian tadi. Seharusnya malam pertama kita menjadi malam terindah bagi kita, tapi kita harus bermalam di rumah sakit seperti ini," Kenan tersenyum miris.


"Tidak sayang, ini bukan salahmu. Aku hanya kelelahan," Rena tidak ingin membuat Kenan merasa bersalah.


Dia tahu yang terjadi tadi bukan karena Kenan yang menginginkannya tapi karena jebakan. Hanya saja dia begitu terkejut ketika anastasya berada dalam dekapan Kenan, membuatnya kembali teringat akan Alvian yang mematahkan hatinya bersama wanita itu. Namun sekarang dirinya merasa nyaman dan tenang karena Kenan bersamanya.


Disela-sela kebersamaan mereka, tiba-tiba dua malaikat kecilnya membuka pintu ruang perawatan. " MOMY" panggil Kedua bocah kecil itu pada sang ibu.


Terlihat raut wajah mereka begitu mengkhawatirkan sang ibu. "Momy, kenapa pingsan tadi?" celoteh Belvana padanya.


"Momy cuma kecapean sayang," ucapnya lirih memandangi buah hatinya.


"Momy, tadi abang sama oma beliin buah untuk momy. Momy mau?" bujuk Dhafi pada sang ibu.


Rena yang melihat kecemasan diwajah sang anak mengangguk dan meminta buah hatinya memberikannya buahan yang dibelinya tadi.


"Bu Rena, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud lancang, tadi saya cuma mau memberi tahukan pak Kenan bahwa bu Rena akan menemuinya tapi..." tanpa melanjutkan ucapannya wanita itu memperhatikan Kenan.


"Tidak apa-apa Ana, saya cuma shock dan kelelahan," tukas Rena padanya.


"Dia ..." Ryan ingin menjelaskan kebusukan Anastasya dan Alvian dihadapan semua orang tapi dengan ekor matanya Rena memberikan kode pada Ryan untuk bersikap tenang.

__ADS_1


Rena sengaja mencegah Ryan agar suasana tidak memanas. Dia tahu betul watak adik sepupunya itu, untuk itulah dia mencegah Ryan mengatakan apapun diruangan itu.


__ADS_2