Love Betrayal

Love Betrayal
Rencana Pelenyapan Jenita


__ADS_3

Pagi itu Jenita pergi ke swalayan untuk berbelanja. Dirinya merasa ada sesuatu yang mencurigakan. Mengapa aku merasa ada seseorang yang mengikutiku? wanita muda itu membatin, tapi wanita itu tidak menghiraukan pemikirannya. Mungkin itu hanya perasaannya saja. Diapun segera melanjutkan berbelanja.


"Bos, aku menemukannya. Dia sedang berada di pusat perbelanjaan saat ini, " pungkas orang kepercayaan Adrian melalui ponselnya. Lelaki itu sedang mengintai keberadaan Jenita.


"Bagus, kau usahakan supaya kau bisa meletakkan benda itu padanya. Aku ingin selalu mengawasinya meskipun dari kejauhan," titahnya pada orang kepercayaannya.


"Baik bos, aku akan segera melakukannya," lelaki itu segera melaksanakan tugasnya. Dia memastikan keadaannya aman dan tidak ada yang memperhatikannya,"


Bergegas pria itu mengikuti langkah gadis muda itu dan dia sengaja menabrak pelan gadis itu sehingga barang belanjaannya terjatuh begitu juga dengan ponsel yang berada digenggamannya.


"Maaf nona, aku tidak sengaja, maafkan aku," lelaki itu menyesali perbuatannya sembari dia mengemasi barang belanjaan si wanita yang bertebaran didekatnya dan tanpa sengaja dia memperhatikan ponsel wanita itu yang terlihat rusak akibat jatuh dan beberap bagian ponsel itu terlihat sedikit berserakan.


Buru-buru pia itu mengambil ponsel itu dan menggantikan dengan ponselnya. Ponsel itu diganti dengan ponsel yang serupa, lelaki itu bergegas menggantikan memory card dan kartu sim ponsel sebelumnya ke ponsel yang baru. Kemudian dia memberikan barang belanjaan dan ponsel si wanita itu. "Nona, ini belanjaanmu dan juga ponselmu, "


"Terimakasih tuan, harusnya anda tidak perlu repot-repot," ujar gadis muda itu merasa tak enak hati padanya. Lelaki itu hanya tersenyum kemudian berlalu dari hadapannya.


Sementara itu dari kejauhan Adrian sedang memantau calon istri dan calon anaknya dari layar laptopnya. Pria itu baru saja menyuruh orang kepercayaannya untuk memasang alat perekam didalam ponsel Jenita untuk bisa memantau gadisnya, karena dia tidak bisa bersama wanita itu saat ini. Stevany sengaja membuatnya tak bisa kemana-mana. Wanita itu selalu mencari cara agar pria itu tidak jauh darinya.


***


"Kau sudah temukan gadis itu Lary?" *tanya seorang wanita dari kejauhan.


"Ya nyonya, aku telah menemukannya," mata lelaki muda tetap mengawasi wanita muda yang baru saja membayar belanjaannya.

__ADS_1


Dia segera menuju ke area parkiran. Pria muda itu segera membuntutinya.


"Bagus kalau begitu. Kau lakukan sesuai permintaanku. Aku ingin wanita itu dan juga bayinya binasa!" titah wanita itu pada sang pria.


"Semua akan kulakukan seperti permintaan anda nyonya," ujar lelaki itu menyetujui permintaan wanita yang merupakan bosnya. Setelahnya pria itu berjalan menuju ke arah Jenita*.


Dan dia telah berada di belakang wanita yang sedang membuka pintu mobilnya. Pria itu bersiap mengangkatkan tangannya dengan suatu benda ditangannya. Namun, melalui kaca mobilnya wanita itu bisa melihat pergerakan pria itu dan tanpa menoleh dia segera menghantam perut pria itu dengan sikutnya.


Pria itu cukup terkejut dengan pergerakan tak terduga Jenita, yang membuatnya termundur dan meringis kesakitan memegangi perutnya. Wanita itu dengan cepat membuka pintu mobilnya kemudian masuk ke dalam mobil itu tapi pria tadi berusaha menarik lengannya. Jenita melakukan perlawanan. Dia memukul wajah pria itu namun pria itu berhasil menangkis tangannya, kemudian mencekal tubuh wanita itu dan menjepit tubuh wanita itu dengan tangannya dan membekap mulut wanita itu dengan saputangan yang telah diberikan obat bius sehingga tak perlu waktu lama wanita itu jatuh pingsan dan pria itu segera menyeret tubuh tak berdaya wanita itu menjauh dari parkiran untuk membawanya ke mobilnya.


***


Sesampainya di sebuah tempat, Jenita dibawa ke suatu ruangan kosong dengan mata tertutup oleh kain dan tangan terikat dengan tali. Beberapa lelaki membawanya masuk ke dalam ruangan itu dengan sedikit mendorong tubuhnya.


"Dia akan segera pergi ke syurga bersama bayinya," ujar satunya lagi mengejek Jenita sambil tertawa. Diikuti dengan teman-temannya yang ikut menertawai gadis malang itu.


Jenita merasa ketakutan, tapi bukan karena kematian yang membuatnya takut, yang dia takutkan saat ini adalah sesuatu yang buruk terjadi pada bayinya. Dia tidak ingin bayinya meninggal, tidak! itu tidak boleh terjadi.


"Cepat hubungi nyonya, tanyakan padanya apa kita harus segera mengeksekusi wanita ini sekarang juga ?" titah seorang lainnya. Sepertinya dia pimpinan dari para preman itu.


Anak buahnya dengan cepat melaksanakan perintahnya. Orang itu mengambil ponselnya sambil mendial nomor sang nyonya.


Nyonya? siapa wanita yang mengirim para preman ini? dan mengapa orang itu ingin menghabisi aku dan bayiku? Jenita berpikir keras memikirkan semua yang sedang terjadi pada dirinya. Apa mungkin itu perintah dari Stevany? tapi bagaimana mungkin wanita itu mengincarnya sejauh itu. Bukankah akan terasa berlebihan jika wanita itu melakukan hal senekat itu, dengan mengirim para anak buahnya untuk menghabisi Jenita dan bayinya? Namun Stevany tetaplah Stevany, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan yang dia inginkan. Bahkan melenyapkan nyawa orang lain.

__ADS_1


"Nyonya kami telah membawanya. Apa yang harus kami lakukan?" salah seorang anak buah preman itu menelpon sang nyonya.


"Habisi dia sekarang juga," titah wanita itu dari kejauhan.


"Baik nyonya,"


Setelahnya sambungan telpon itu diputuskan sepihak oleh orang diseberang sana.


"Bos, nyonya bilang kita harus mengeksekusi wanita ini sekarang juga," jelas orang itu pada bosnya. Kepala preman itu segera melakukan eksekusi.


Sementara itu Jenita masih memutar otak untuk melepas ikatan ditangannya. Wanita muda itu mnggerak-gerakan tangannya agar tali ikatan ditangannya mengendur dan setelah usaha yang cukup lama, dirinya bisa mendapatkan ujung ikatan tali itu dan dengan cepat dia menarik ikatan tali ditangannya.


Sembari menunggu situasi menjadi lebih baik, Jenita masih berpura-pura terikat sambil mengambil ancang-ancang dan saat salah satu lelaki mendekat untuk menyuntikkan racun ke tubuhnya, wanita itu dengan sigap menyambut tangan pria itu dan menusukkan jarum suntik yang masih ditangan pria itu keleher si pria itu. Masih dengan tangan tertutupi kain dia segera membuka ikatan yang menutupi matanya, seketika itu juga dia dapat melihat sang pria menggelepar meregang nyawa karena racun didalam injeksi itu menyebar begitu cepat ke dalam aliran darahnya. Pria itu mati dengan mulut berbusa.


Teman-temannya yang melihat cukup terjingkat kaget dan ketakutan. Hal yang barusan terjadi cukup menciutkan nyali mereka. Begitu juga dengan si kepala preman, yang menelan saliva melihat keadaan salah seorang anak buahnya itu.


Jenita tak hilang akal, melihat salah satu anggota preman itu telah binasa, dia segera mengambil pistol yang berada disaku celana orang itu, kemudian mengarahkan pistol itu pada mereka yang berada disana.


"Jangan mendekat, atau kalian akan bernasib sama seperti dia! " teriak wanita itu dengan segenap keberanian yang dia miliki Jenita mencoba melawan para preman itu.


"Hei nona. Jangan bermain-main dengan senjata itu, kau bisa memnahayakan kami!" sang ketua preman memperingatinya.


"Diam kau ! menyingkirlah dari hadapanku. Biarkan aku pergi atau aku akan menembakmu! " pungkas wanita itu sambil mengarahkan pistolnya ke kepala lelaki itu.

__ADS_1


Sehingga membuatnya termundur dan langsung menyuruh para anak buahnya untuk memberi jalan pada Jenita. Bergegas wanita muda itu keluar dari ruangan dan mengunci pintu untuk mengurung para preman itu, kemudian pergi sejauh mungkin dari sana.


__ADS_2