
"Jadi bagaimana keputusanmu setelah bertemu dengan Jenita?" sang ibu kini berada didekatnya. Sedangkan Jenita telah pergi setelah selesai bercerita dengan Kenan, karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.
"Aku masih tetap dengan keputusanku mom, karena aku telah melamar Rena. Aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja," tegasnya pada sang ibu.
"Kau, mengapa kau sekeras kepala ini Kenan? Aku sudah mengenalkanmu pada Jenita dan aku lihat gadis itu menyukaimu, lalu mengapa kau tidak mau bersamanya?"
"Ini masalah perasaan mom. Tidak bisa dipaksakan, Jenita memang gadis cantik, energik dan juga cerdas tapi aku tidak bisa mencintainya karena aku sudah menyukai Rena dari dahulu. Sepuluh tahun aku menunggunya mom dan itu bukan waktu yang singkat. Aku mohon mom, mengertilah dengan perasaanku," Kenan bicara dengan nada lugas namun dengan penuh kehati-hatian, karena dirinya tak ingin menyakiti perasaan sang ibu.
Ranti menghembuskan nafas berat mendengar ucapan sang anak, serasa ada batu besar yang menghantamnya membuat tubuhnya seketika melemah, dirinya mencoba mengatur nafas pelan dan duduk di sofa.
"Momy," Alvian seketika datang menghampiri sang momy untuk menopang tubuh wanita paruh baya itu agar tidak jatuh.
"Kalau momy sampai kenapa-napa kau harus mempertanggung jawabkan semuanya," Alvian menatap tajam ke arah Kenan seakan menyalahkan Kenan.
"Aku sudah katakan dari awal aku hanya menyukai Rena jadi jangan memaksaku untuk bersama wanita lain, dan kamu mas sebaiknya jangan melibatkan mama dalam masalah kita," jelas Kenan tak kalah sengitnya pada Alvian.
Alvian tersurut dengan ucapan Kenan tapi yang dikatakan saudaranya itu memang benar. Alvian memang selalu memanfaatkan situasi demi memisahkan Kenan dan Rena.
"Momy, aku sangat menghargai wanita pilihan momy tapi aku minta maaf mom karena aku tidak bisa bersama dengan wanita yang tidak kucintai," jelas Kenan dengan sangat lembut pada sang ibu.
Rianti hanya menghela nafas, untuk kali ini sepertinya dia harus mengalah pada putranya. Meskipun berat baginya untuk menerima keputusan sang anak, akhirnya dirinya mencoba untuk berdamai dengan keadaan.
"Baiklah kalau begitu maumu, momy akan mengikuti apa yang menjadi keputusanmu tapi momy ada satu syarat,"
"Syarat apa mom?"
"Jangan pernah membawanya untuk menginjakkan kaki ke rumah ini, " tegas sang momy yang membuat Kenan memjaďi terkesiap.
Suatu keputusan yang sulit bagi Kenan tapi demi cintanya pada Rena akhirnya Kenan memutuskan pergi dari rumahnya.
__ADS_1
***
Jenita baru saja sampai dirumahnya, Jesica yang melihat kedatangannya langsung menghampirinya.
"Bagaimana pertemuanmu dengan Kenan?"
"Sangat menyenangkan. Dia adalah lelaki yang sangat menyenangkan," Jenita tersenyum penuh arti saat mengingat pertemuannya dengan Kenan.
"Kau menyukainya?" selidik Jesica padanya lagi.
"Sangat, aku sangat menyukainya tapi sayangnya dia telah mempunyai kekasih dan dia telah melamar kekasihnya," jelas Jeni pada saudara kembarnya.
"Benarkah? Apa keluarganya tidak mengetahui itu?" Jesica merasakan ada sesuatu yang aneh.
"Justru karena mereka tahu dan tidak menyukai gadis itu makanya mereka memintaku bertemu dengan Kenan," jelas gadis itu sambil dengan santainya.
"Apa maksudmu Jeni? Apa yang sedang kau rencanakan?" Jesica merasa kembarannya ini ingin melakukan sesuatu.
"Kau gila Jeni? Kau tahu dia telah melamar seorang gadis tapi kau masih nekat untuk melanjutkan perjodohan ini? jangan Jeni, kau tidak boleh melangkah lebih jauh lagi, kau akan menyakiti seseorang," cegah Jesica pada kembarannya.
"Aku menyukai Kenan dan aku rasa aku jatuh cinta padanya Jes," Jenita tersenyum optimis.
Jesica hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan kembarannya itu. Dia tahu persis, Jenita memang suka berbuat nekat. Gadis itu keras kepala dan jika menginginkan sesuatu pasti apapun akan dilakukannya demi obsesinya itu.
***
Disebuah bar, dengan dentuman musik yang begitu keras, seorang pria tengah asyik menikmati minumannya bersama dua orang gadis disisi kanan dan kirinya. Sesekali tangannya bergerilya ke bongkahan padat milik sang gadis sambil menciumi wajah gadisnya bergantian, gadisnya terjingkat karena kenakalan si pria tapi tetap setia bermanja dipangkuannya.
"Bos, ada yang ingin aku sampaikan padamu," salah seorang suruhannya kini menghampirinya.
__ADS_1
Seketika lelaki itu menoleh kepada lelaki yang baru saja menghadap kepadanya. "Hei, Tony duduklah sini. Apa ada kabar baik yang ingin kau sampaikan?" pria itu menghentikan aktifitasnya dan memberi kode pada kedua gadis yang bersamanya untuk keluar dari ruangannya.
Keduanyapun segera pergi dari ruangan itu tak lupa menyapa dengan sikap menggoda pada pria yang bernama Tony. Si pria hanya tersenyum memperhatikan kedua wanita itu.
Tony duduk didekat Grey yang sedang menunggu kabar darinya.
"Bos, aku telah menemukan keberadaan Cedereyn dan aku rasa kita bisa menangkap gadis itu sekarang juga," ujarnya penuh dengan antusias.
"Jangan gegabah Tony, kau masih ingatkan apa yang telah kita lakukan pada gadis itu? pasti saat ini dia sedang dijaga ketat oleh teman-temannya," tutur Grey dengan santai.
Dia memang tidak ingin tergesa-gesa, lelaki itu ingin mengatur straregi untuk mendapatkan Cedereyn kembali.
Tony menundukkan kepalanya mengerti. Dirinya paham, karena dalam pekerjaannya ini dia hanyalah sebatas orang suruhan.
"Lantas apa yang akan kita lakukan sekarang bos?"
"Kau awasi saja pergerakan gadis itu dan kabari aku jika dia mencoba melarikam diri kau bisa memaksanya untuk ikut bersamamu untuk mwnghadap aku," senyum smirk kini terukir diwajah lelaki bertato di lengannya.
Awas kau Ced, aku pasti akan segera mendapatkanmu. Aku akan memberimu pelajaran dan kau akan membayar semuanya monolog lelaki itu dihatinya.
"Baiklah tuan, aku akan melakukan perintahmu. "ujar lelaki itu. Kemudian dirinya segera undur diri dar hadapan Grey.
Tak lama kemudian Grey memanggil kedua gadis yang telah menunggunya diluar dan melanjutkan aktifitasnya yang tertunda.
"Aku merasa apartemen ini sedang diawasi, bagaimana kalau kita meminta rekaman CCTV pada petugas keamanan?"
Troy mulai curiga karena beberapa kali dia memergoki beberap orang sering mengintai apartemen Axelle. Dia merasa orang-orang itu adalah orang suruhan dari Grey yang sengaja disuruh untuk mengawasi Cedereyn.
"Ya, akupun merasa itu ide yang bagus. Saat kau mengatakan bahwa ada orang yang mengawasi apartemen ini dan aku melihat sendiri kejadian kemarin itu, aku merasa ini ada kaitannya dengan Cedereyn," timpal Axelle.
__ADS_1
Cedereyn yang bisa mendengarkan percakapan mereka meskipun terdapat dinding pemisah antara ruang tamu dan kamarnya. Dia merasa khawatir. Jika benar kecurigaan Troy, pasti akan sangat membahayakan bagi dirinya. Cedereyn tidak ingin kembali pada Grey. Semua yang telah dilakukan lelaki itu padanya cukup membuat dirinya ketakutan. Terlebih lagi saat dia mengalami insiden itu karena perbuatan orang suruhan Grey. Membuatnya harus lebih waspada terhadap ancaman pria berbahaya itu.