
Operasi telah selesai, tapi Alvian masih belum sadarkan diri. Pria itu masih tetap belum membuka matanya.
"Dokter apa kakak saya akan baik-baik saja?" Kenan cukup khawatir dengan keadaan Alvian.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi geger otak yang dialami saudara anda cukup berat, semuanya kita serahkan pada Tuhan saja, kita doakan dia segera melewati masa kritisnya," ucap sang dokter memnerikan semangat padanya.
Kenan mengangguk pelan sambil tetap menatap sang kakak. Dia tidak pernah menduga Alvian akan mengalami kecelakaan separah itu.
Malam itu ketika pulang dari club, Alvian sedikit mabuk. Lelaki itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga mobil itu menabrak pembatas jalan dan menyebabkan mobil itu terguling ke jurang. Kecelakaan cukup parah.
Untung saja seseorang muncul dihadapan mobil yang terjatuh itu dan segera membantunya. Jika saja orang itu terlambat sedikit saja mungkin Alvian akan terbakar bersamaan dengan mobilnya yang mulai mengeluarkan bensin dan perlahan terbakar.
"Tuan Kenan, maaf mengganggu sebentar. Saya cuma mau memberitahukan pada anda, disini ada seseorang yang telah membantu tuan Alvian," jelas perawat yang tadi ikut membantu proses operasi Alvian.
Kenan melihat ke arah orang yang membantu Alvian. Seorang pria yang sudah tua.
"Terimakasih pak telah menyelamatkan saudara saya, kalau boleh tahu bagaimana bapak bisa menemukan saudara saya?" ujar Kenan pada pria tua yang menyelamatkan Alvian.
Pria tua itu tersenyum dengan ramah, meskipun terlihat dirinya begitu sederhana dan pakaian yang lusuh.
"Aku hanya seorang nelayan yang sedang melaut dan saat aku akan kembali untuk beristirahat ke rumah aku melihat anak muda itu. terdampar di tepi lautan dengan mobil yang nyaris saja meledak, aku segera memanggil warga dan mengeluarkannya dari mobil itu," jelas pria tua itu padanya.
"Terimakasih pak. Kami berhutang nyawa pada anda. Kalau boleh tahu nama bapak siapa?" Diandra merasa sangat bersyukur.
"Tidak bu, jangan berkata seperti itu. Semua ini sudah tugasku sebagai sesama manusia. Namaku Harfan," pungkas pria itu padanya.
"Baiklah pak kalau begitu terimakasih atas bantuanmu, oh ya ini ada sedikit untukmu, ku mohon trrimalah," ujar Kenan sambil memberikan uang pada pda pria itu.
__ADS_1
Dia tidak bermaksud untuk mengukur orang itu dengan uang. Dia hanya bermaksud untuk mengucapkan terimakasih pada pria tua itu.
"Tidak ... tidak, jangan lakukan itu padaku. Aku menolong dengan tulus," Harfan menolak pemberian Kenan dengan halus.
"Tidak pak, bukan begitu maksudku. Jangan anggap ini sebuah sebuah balas budi. Tapi anggaplah ini sebuah pemberian dari seorang anak pada ayahnya. Anggap aku ini seperti anakmu," Kenan sedikit memaksa dengan pemberiannya. Dia hanya ingin pria tua itu mau menerima pemberiannya.
Akhirnya setelah lama bicara, Harfan mau menerima pemberian Kenan. Pria itu merasa sangat bahagia karena pemberian dari Kenan sudah lebih dari cukup. Terlebih lagi saat ini dirinya juga sedang merawat istrinya yang sedang sakit, pasti itu sangat membantunya.
"Terimakasih banyak nak, semoga Tuhan membalas kebaikanmu nak," ucap pria tua itu dan setelah itu Kenan mengantarkannya pulang.
***
Jenita baru saja keluar dari rumah sakit, wanita itu tengah bersama dengan Adrian di sebuah Cafe. Mereka sedang menikmati kopi di cafe itu. "sayang kau mau memesan kopi? kata orang kopi disini paling terkenal enak, karena dibuat dari biji kopi asli yang diracik sendiri oleh pemilik cafe ini," jelas Adrian begitu dengan antusias.
"Hm, baiklah aku mau mencobanya," Jenita tertarik untuk mencobanya.
"Sayang, kau sungguh-sungguh ingin menikahiku kan?" tanyanya pada Adrian untuk mendapatkan kepastian.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? apa kau meragukanku?" tanya lelaki itu kembali padanya. Adrian menatap netra wanita dihadapannya mencoba meyakinkannya.
"Bukan, bukan seperti itu. Kau tahu betapa aku sangat mencintaimu dan aku sangat ingin pernikahan diantara kita terjadi. Demi bayi yang ku kandung aku sangat ingin bersamamu, tapi ..." wanita itu menghentikan ucapannya, tenggorokannya tercekat untuk menlanjutkan ucapannya. Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah cantiknya.
"Aku tahu apa yang kau pikiranmu saat ini. Kau pasti meragukanku karena saat ini aku masih menikah dengan Stevany. Ini yang membuatmu takut bukan?" pria itu memahami dengan apa yang sedang berada dipikiran wanitanya.
Bagaimana Jenita tidak akan merasa takut, karena posisinya saat ini adalah sebagai orang ketiga. Memang dia tidak pernah bermaksud merebut suami seseorang tapi dia juga tidak menyangka akan terjerat cinta seorang pria yang telah menikah. Sungguh semuanya benar-benar diluar dugaan dan tidak pernah terbayangkan oleh gadis itu.
"Iya, itulah yang kutakutkan. Aku tidak ingin dianggap sebagai perusam rumah tangga orang lain. Andak saja aku tahu bahwa kau telah menikah aku takkan mungkin melanjutkan hubungan kita ini," sesal Jenita sambil terisak. Sebagai wanita dia merasa sangat buruk saat ini.
__ADS_1
"Ssstt jangan bicara seperti itu. Kau tidak salah Jeni, akulah yang bersalah karena tidak berterus terang dari awal padamu. Harusnya aku menjelaskannya padamu, tapi aku benar-benar tidak berdaya. Aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin hubungan kita berakhir," jelas pria itu dengan sungguh-sungguh.
Adrian memang telah melakukan kesalahan dengan membiarkan rasa cintanya pada Jenita tetap tumbuh, tapi pria itu tidak pernah bermaksud menyakitinya. Cinta yang dirasakannya bukan sebuah obsesi tapi sebuah rasa yang tumbuh dengan tulus.
"Tapi bagaimana dengan Stevy. Wanita itu adalah istri sahmu dan dia pasti akan marah besar jika dia mengetahui suaminya telah berselingku dengan wanita lain," canda Jenita tapi tersirat luka didalamnya.
"Hei, jika selingkuhanku secantik dirimu, tentu saja aku akan lebih memilihmu daripada istriku sendiri," kelakar lelaki itu sambil mencolek hidung Jenita.
"Sialan kau Ad, kau pikir aku adalah wanita simpanan? awas saja kau menganggapku seperti itu aku akan menghabisi itu hingga tidak bersisa dan kau tidak akan bisa bercinta dengan wanita manapun lagi," ucapnya sambil memelototkan matanya dan menunjuk ke arah bagian sensitif pria itu.
"Kalau kau melakukan itu, berarti aku hanya akan bercinta denganmu saja," ucap Adrian dengan gaya nakalnya pada wanita muda itu. Dia tertawa lepas setelahnya.
Jenita ikut tertawa tapi dia teringat satu hal. "Oh ya, aku mendengar berita beberapa hari yang lalu tentang kematian seorang model ambasador produk kecantikan yang di kontrak oleh perusahaanmu. Apa benar dia pernah mempunyai hubungan denganmu?" selidik wanita itu padanya.
Adrian cukup terpojok oleh ucapan wanitanya. Rasanya seperti ditelanjangi oleh wanita itu, membuatnya sangat malu karena wanita itu mengetahui kelakukan nakalnya sedangkan Jenita memiringkan kepalanya sambil menatap pria itu mencari kepastian darinya.
"Jangan bahas hal itu sayang, aku tidak ingin mengingatnya," Adrian mulai gusar dengan pertanyaan yang dilontarkan Jenita padanya.
"Hm, baiklah jika kau tidak mau membahasnya. Aku rasa pertemuan kita sudah cukup hari ini, tapi bisakah kau mengantarkanku pulang?" ujar wanita itu merasa ingin beranjak dari tempat itu.
Adrian cukup peka dengan sikap yang ditunjukkan Jenita padanya. Gadis itu sedikit kesal karena tidak mendapatkan penjelasan darinya. Jenita mulai melangkahkan kakinya tapi pria itu menggenggam jemarinya. Jenita membalikkan tubuhnya menghadap kepada pria itu. Mata mereka saling bertatapan dan Adrian memegangi bahu wanita itu untuk meyakinkannya.
"Aku memang pernah mempunyai hubungan dengan Gloria Hills tapi itu semua hanya sebuah pelampiasan dan aku tidak pernah mempunyai hubungan serius dengannya atau wanita manapun. Aku hanya mencintaimu dan aku akan menikahimu," Adrian meyakinkannya.
"Aku tahu itu dan aku percaya dengan apapun yang kau ucapkan," imbuh wanita itu.
"Kau harus tahu Jeni, aku tidak pernah terlibat dalam kasus pembunuhan gadis itu. Aku juga tidak tahu siapa dalang pembunuhannya," jelasnya lagi pada Jenita. Wanita itu hanya menganggukkan kepala dan segera menuju parkiran.
__ADS_1
Dirinya merasa kurang enak badan dan ingin segera beristirahat. Mungkin juga ini karena dirinya yang sedang hamil atau mungkin moodnya yang tiba-tiba saja hilang.