Love Betrayal

Love Betrayal
Sebuah Ancaman


__ADS_3

Semenjak kejadian malam dimana Adrian ingin menceraikan Stevany, selalu ada saja tingkah dari wanita itu yang membuat Adrian tidak bisa melepaskan hubungan darinya. Terlebih lagi kedua orang tua Adrian sangat menyukai Stevany, hal itulah yang dimanfaatkan oleh Stevany untuk menunda perceraiannya.


"Adrian, mama dengar kamu dan Stevy mau pisah apa itu benar?" Zahira kini berada diantara Adrian dan Stevany.


Adrian tidak mampu mengatakan apapun, karena dia tahu pasti Stevy sengaja mengadukan perbuatannya pada sang ibu supaya Adrian mendapatkan peringatan.


"Kamu dengar ya, kalau sampai kamu menceraikan Stevy mama ga akan segan-segan meminta papamu untuk mencabut hak kamu di perusahaan. Kamu ingat, meskipun sekarang kamu yang dipercayai memegang kendali perusahaan, kalau kamu coba-coba menyakiti Stevy mama akan buat kamu kehilangan jabatan kamu!" ancam sang ibu pada Adrian.


Seketika saja makanan yang akan ditelan oleh Adrian seakan seperti duri yang menyangkut di tenggorokannya. Adrian tersedak dan tidak bisa menelan makanannya dengan benar. Stevy yang berada didekatnya segera memmberikan minum untuknya. Adrian meminum sedikit kemudian dia menghentikan makannya.


"Maaf, sepertinya aku sudah kenyang. Kalian lanjutkan saja makannya," Adrian terlihat sangat lesu dan kehilangan nafsu makan.


"Adrian! mama lagi ngomong sama kamu tapi kamu pergi begitu saja," bentak sang ibu padanya.


"Aku mengerti mam, ga usah diulang lagi aku tahu apa yang harus aku lakukan," tegas Adrian pada sang ibu. Hatinya sangat panas mendengar ucapan sang ibu, jika tidak mengingat itu adalah orang tuanya rasanya ingin sekali dia melempar semua hidangan dimeja itu tapi dia tidak ingin membuat keributan dan lebih memilih diam.


"Baguslah kalau kamu mengerti, sebaiknya kamu tarik kembali gugatan cerai kamu," titah Zahira tanpa meminta alasan pada Adrian.


Adrian hanya diam dengan tangan mengepal keras, kemudian dirinya berlalu dari hadapan mereka.


Zahira hanya menatap sang putra yang berlalu dari hadapannya begitu saja hingga punggung pria itu menghilang dari pandangannya. Sementara itu Stevany tetap melahap makanannya tanpa memperdulikan Adrian yang meninggalkan meja makan.


Antony merasakan ada sesuatu yang akan direncanakan oleh wanita itu. Dia memperhatikan gerak-gerik wanita itu melalui sudut matanya. Setelah srlesai makan, Antony yang penasran pada wanita itu langsung mengikutinya.


Tiba-tiba saja Stevany merasakan seseorang menarik lengannya, diapun mencoba untuk berteriak tapi orang itu menutup mulutnya sebelum dia berteriak. Stevany mencoba berontak tapi tenaga lelaki itu lebih kuat darinya.


"Apa yang akan kau rencanakan," ujar sang pria sambil mendorong tubuh Stevany ke tembok.


Wanita itu melihat ke arah pria yang baru saja membekapnya. "Ternyata kau Antony. Apa yang kau pikirkan hah?" Stevany balik bertanya.

__ADS_1


"Jangan coba-coba berbohong padaku. Aku tahu wanita licik sepertimu akan melakukan berbagai macam cara untuk mencapai keinginanmu," Antony menatap tajam pada Stevany sambil mencekal lengannya.


"Lepaskan tanganmu, kau menyakitiku," wanita itu menepis tangan Antony darinya kemudian dia masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu kamar itu.


Antony hanya terdiam melihat wanita itu berlalu dari hadapannya.


Apa-apaan ini, dia pikir siapa dirinya berani sekali dia mengaturku. Kau tidak akan bisa menggagalkan rencanaku Antony. Aku akan mendapatkan apapun yang kumau, karena aku adalah Stevany, ucap wanita itu dalam hatinya dengn menunjukkan senyum seringainya.


Stevany segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang di seberang sana.


"Halo, siapa ini?" seseorang di seberang sana menjawab panggilan telponnya.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku, aku hanya ingin kau melakukan satu hal untukku," tukas wanita itu padanya.


"Apa yang kau inginkan? dan kau ini siapa?" wanita diseberang sana merasa risih dengan orang yang menelponnya.


"Kau benar-benar ingin tahu siapa aku?" Stevany mencoba meyakinkannya.


"Baiklah, aku akan memberitahumu aku adalah Stevany istri dari pria yang rela melepaskan pernikahannya denganku hanya demi seorang wanita sepertimu," ucap wanita itu penuh penekanan pada setiap kata yang diucapkannya.


Deg!!!


Hati wanita diseberang sana langsung mencelos mendengarnya. Ya, wanita yang sedang ditelpon oleh Stevany adalah Jenita. Wanita itu sengaja menelponnya hanya untuk membuat kesepakatan.


Sejenak Jenita terdiam mencerna ucapan wanita itu seakan dirinya sedang menjadi seorang perusak rumah tangga orang lain dan wanita yang menelponnya itu menjadi seorang korban dari perselingkuhan suaminya.


"Halo nona, apa kau mendengarku?" Stevany memastikan wanita iti masih mendengarkannya bicara.


"*Iya, aku mendengarkanmu," Jenita tersentak dari lamunannya.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu. Aku hanya ingin kau dan anak yang sedang kau kandung itu menjauhi suamiku, bagaimana apa kau bisa melakukannya untukku?" tanya wanita itu dengan nada mengancam.


"Apa maksudmu? aku tidak mungkin melakukan apa yang kau inginkan, karena Adrian telah berjanji padaku untuk menikahiku dan membesarkan anak ini bersamaku," jelas Jenita dengan terisak.


Sungguh perkataan wanita itu sangat tajam. Membuat Jenita harus menekan emosinya dalam-dalam, karena memang posisinya yang bersalah dalam hal ini. Meskipun bukan sepenuhnya kesalahan dari Jenita tapi memang dia bersalah karena dia telah menyerahkan hal yang paling berharga dalam hidupnya pada seorang pria dan bodohnya lagi dia baru mengetahui bahwa pria itu telah memiliki seorang istri.


"Baiklah tidak mengapa jika kau tidak mau melakukannya tapi jangan salahkan aku jika sewaktu-waktu kau atau bayi yang sedang kau kandung itu akan mendapatkan masalah," ancam wanita itu padanya.


"Apa kau mencoba mengancamku, hah? kau pikir aku takut akan ancamanmu?!" Jenita mulai kesal mendengar ucapan wanita itu.


"Aku tidak main-main dengan ucapanku sayang. Jika kau berani melawanku aku akan pastikan kau akan mengalami nasib yang sama seperti yang dialami Gloria Hills, apa kau mau aku membuktikannya padamu?"


"Kau tidak bisa melakukan semua ini padaku !!!" teriak Jenita padanya, tapi wanita itu langsung mematikan telponnya begitu saja sehingga pembicaraan mereka terputus sepihak.


Setelah memutuskan pembicaraan dengan Jenita, Stevany tertawa dengan sangat keras. Dia sangat puas telah membuat wanita itu ketakutan*.


***


"Jeni, apa yang terjadi padamu? mengapa kau berteriak-teriak sepert itu?"


Jesica yang mendengar teriakan sang adik langsung menghampirinya. Dia begitu khawatir dengan keadaan Jenita.


"Jesi, selamat aku dan bayiku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada bayiku," ujar Jenita frustasi. Dia terlihat panik dan ketakutan.


"Kamu kenapa? siapa yang menghubungimu tadi?" Jesica mengusap air mata diwajah cantik Jenita. Dia benar-benar bingung dengan keadaan Jenita saat ini.


"Seseorang menelponku dan mengatakan aku harus menjauhi Adrian. Jika aku tetap bersamanya dia akan membunuh aku dan bayiku," jelas Jenita sambil beruraian air mata.


"Apa? siapa yang berani mengancammu?" Jesica merasa tidak nyaman dengan ancaman yang diberikan pada saudara kembarnya.

__ADS_1


"Stevany, wanita itu mengancam akan menghabisiku jika aku tetap menikah dengan Adrian," wanita muda itu masih saja ketakutan.


Stevany? Sepertinya nama itu tidak asing bagi Jesica, pasti itu istrinya Adrian yang sedang mengancam Jenita. Wanita itu membatin. Dia yakin sekali Stevany itu adalah istri Adrian. Dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Jenita. Dia harus segera memberitahukan semuanya pada Troy supaya dia menyelidiki semua itu.


__ADS_2