
Siang itu Rena dan Kenan pergi makan ketempat makan favorit mereka. Karena Rena dan Kenan suka memakan masakan khas Italia, Scusa Italian Restaurant untuk menu pilihan mereka adalah mix seafood appetizers platter, yakni makanan pembuka yang terdiri dari empat jenis hidangan laut, juga spaghetti al granchio con pomodorini e basilica, yaitu spageti dengan saus tomat ceri dan kepiting.
Suasana restoran ini sangat romantis, membuat mereka begitu menikmati makanan yang telah tersedia.
"Rena apa kau suka disini bersamaku?" Kenan memperhatikan wajah Rena dengan saksama. Dia sangat menyukai senyuman dibibir wanita yang berada dihadapannya.
"Hm," Rena menganggukkan kepalanya. wajahnya bersemu merah karena tatapan Kenan.
"Aku senang melihatmu tersenyum seperti itu. Itu adalah senyumab terindah yang pernah kulihat dari wajahmu. Tetaplah bahagia seperti itu Rena," ucap Kenan sambil menggenggam tangan Rena.
Rena hanya menundukkan kepala merasa terbakar oleh ucapan Kenan. Entah lelaki itu sedang memujinya atau sedang menggodanya, tapi itu sungguh membuat Rena merasa sangat bahagia berkali-kali lipat saat ini.
"Kenan, jangan menggoda seperti itu kau bisa membuatku seperti kepiting rebus," ujar Rena dengan gugup sambil mengusap pelan wajahnya sendiri.
"Aku tidak sedang menggodamu, aku hanya ingin kau bahagia," Kenan mengusap rambut Rena lalu menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Rena ke belakang telinga wanita itu.
"Terimakasih Kenan, aku sungguh senang hari ini,"
Kenan mengusap pelan wajah Rena, lalu tangannya mengangkat dagu Rena lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Rena. Mata mereka saling beradu saat ini.
"Rena, maukah kau menikah denganku?" ucap Kenan penuh kemantapan menatap manik kecoklatan wanitanya.
Rena membuang pandangannya sejenak, dia merasa ada yang salah. Apa Kenan serius dengan ucapannya? Atau sedang salah bicara?
"Rena, aku menunggu jawabanmu," ulang Kenan lagi sambil menggenggam tangan Rena.
"Ken, kau tidak sedang bercandakan?" Rena mencoba untuk menyadarkan dirinya kembali.
"Kapan aku pernah bercanda mengenai perasaanku padamu Rena? Aku sangat serius Rena. Renata Austin maukah kau menikah denganku?" pinta Kenan sambil berlutut dihadapannya.
Perbuatan Kenan malah membuat mereka jadi pusat perhatian saat ini, para tamu restoran yang hadir menatap mereka dengan berbagai pandangan. Ada yang terkejut, terharu, bahkan ada juga yang takjub dengan sikap Kenan. Ya, mungkin mereka menganggap Kenan adalah pria romantis saat ini.
"Hei, apa yang kau lakukan Kenan? Lihatlah semua orang menatap kita," Rena merasa tak enak hati karena mereka dilirik setiap tamu restoran. Diapun segera mengangkat tubuh Kenan agar segera bangkit.
Namun, Kenan tak mau beranjak. Lelaki itu tetap berlutut menunggu jawaban Rena. Bahkan saat ini dia telah menunjukkan sebuah cincin berlian yang ditaruh dalam sebuah kotak kecil yang telah dipersiapkannya.
"Jawablah Rena. Jika kau menerimaku ambil cincin ini tapi jika kau menolakku, buang cincin ini," imbuh lelaki itu padanya.
Rena benar-benar terharu dan Spechles dengan sikap Kenan. Dirinya merasa sangat spesial dengan perlakuan Kenan. Merasa terlalu lama membuat Kenan menunggu, akhirnya Rena menggenggam kedua tangan Kenan dan menganggukkan keplanya.
Kenan telah mendapatkan jawaban dari Rena. Dirinya begitu bahagia, Kenan langsung menyematkan cincin itu dijari manis Rena dan memeluknya dengan penuh rasa sayang. Para tamu yang melihat mereka langsung memberikan tepuk tangan dan tersenyum bahagia.
Hari itu benar-benar jadi momen paling berharga bagi mereka berdua. Kenan sungguh beruntung, Rena mau menerimanya dirinya mengecup punggung tangan Rena lalu mencium kening Rena.
__ADS_1
"Terimakasih Rena, aku sangat bahagia. Aku tidak akan melupakan hari ini," Kenan merangkul Rena dengan penuh rasa cinta.
Kenan memang sengaja melamar Rena saat makan siang, karena menurutnya ini adalah momen yang tepat agar dia bisa segera mendapatkan Rena. Sebelum perjodohannya itu terjadi Kenan akan menunjukkan pada sang ibu dan Alvian bahwa dia tidak main-main dengan ucapannya. Dia ingin membuktikan kepada mereka bahwa dirinya telah menjalin hubungan dengan Rena.
***
"Bagaimana keadaanmu?" Axelle menghampiri Cedereyn yang sedang duduk dikursi rodanya menikmati udara pagi dari jendela apartemen.
"Aku baik-baik saja Axe,"
"Bagaimana kakimu, apa masih terasa sakit untuk digerakkan? Tanya Axelle sambil memijat pelan kaki Cedereyn.
"Sudah tidak sakit untuk digerakkan, tapi belum bisa aku gunakan untuk berdiri," Cedereyn tersenyum tipis menatap Axelle.
"Bersabarlah, nanti juga kau pasti sembuh Ced," bujuk Axelle sambil menggerakkan persendian kaki Cedereyn.
Dokter memang menyarankan agar kaki Cedereyn selalu digerakkan agar tidak kaku, hal itu juga yang membuat Cedereyn sangat menyukai pria ini. Perlakuannya yang hangat dan sangat menghargai Cedereyn. Membuat wanita itu begitu merasa dihormati sebagai wanita.
"Axe, aku bosan berada di dalam ruangan terus. Bisakah kau membawaku keluar?" pintanya pada Axelle dengan wajah berharap.
"Tentu saja, kemanapun kau mau aku pasti akan membawamu," Axelle memutar kursi roda itu menuju keluar kamar lalu mendorongnya perlahan.
"Kau mau kemana hari ini?" tanya Axelle saat mereka berada didalam lift yang sedang mengantarkan mereka ke lantai dasar.
"Baiklah aku akan menemanimu ke taman," dengan hati-hati Axelle membawa Cedereyn menuju mobilnya dab melesatkan mobilnya ke taman.
Sesampainya di taman Axelle membawanya ke arah penjual bubur ayam.
"Kau mau makan bubur ayam? Kata orang bubur ayam di dekat taman ini rasanya sangat enak," jelas Axelle sambil mendorong kursi roda Cedereyn.
"Hm, boleh. Aku mau," Cedereyn menganggukkan kepala sambil melihat ke sekeliling taman.
Dirinya begitu nyaman saat ini. Menghirup udara pagi sambil melihat bunga-bunga yang bermekaran, sungguh membuatnya sangat nyaman.
"Bang, bubur ayamnya dua ya," Axelle memesan pada penjual bubur ayam.
Penjual bubur ayam itu menganggukkan kepalanya dan menyiapkan pesanan mereka.
Axelle duduk dihadapan Cedereyn sambil menatap wajah gadis itu.
"Kenapa Axe, apa ada yang salah padaku?"
" Tidak, aku hanya suka melihatmu seceria ini,"
__ADS_1
Cedereyn tersipu malu mendengar ucapan Axelle. Kemudian dirinya membuka pembicaraan lagi.
"Axe apa kau disini tidak punya keluarga?"
"Keluargaku sangat jauh, semenjak aku ikut dengan bos Kenan aku baru dua kali menemui mereka. Kau sendiri bagaimana?"
"Aku? Ayahku sudah meninggal saat aku masih didalam kandungan sedangkan ibuku tiada saat aku kecil," lirihnya pada sambil menundukkan kepala.
"Maaf, jika pertanyaanku membuatmu sedih," Axelle merasa bersalah dengan pertanyaannya.
"Tidak apa-apa Axe,"
Makanan yang dipesanpun sudah datang dan mereka menikmati bubur ayam yang telah disediakan. Saat mereka menikmati makanan, tiba-tiba Troy menghampiri mereka.
"Aku cari kemana-mana ternyata kalian ada disini,"
"Troy, duduklah kau pesanlah makanan untukmu,"ajak Axelle apda Troy.
"Kebetulan aku sedang lapar, bang bubur ayamnya satu lagi ya," pinta Troy pada penjual bubur ayam. Dirinya kini duduk bersama Axelle dan Cedereyn.
"Ada apa tiba-tiba kau mencariku?"
"Aku mau cerita tentang wanita yang kau kirimkan fotonya kemarin,"
"Maksudmu Jesica?"
"Hm, " sahut Troy dengan sedikit malas.
"Kenapa? Apa informasi yang kau dapatkan?"
"Dia itu wanita yang bertemu denganku di Supermarket waktu aku berbelanja, "
Axelle menghentikan makannya sejenak sambil menatap Troy,
"Benarkah? Apa kau mengenalnya?"
"Tidak, aku baru saja mengenalnya tapi wanita itu benar wanita yang sama pas waktu aku ketemu di supermarket,"
"Jangan bilang kau menyukainya Troy, akan menjadi masalah jika kau menyukainya. Apa kau mau bersaing dengan bosmu sendiri?"
Troy tertegun dengan ucapan Axelle. Benar sekali yang dikatakan Axelle. Dirinya tidak akan mungkin bisa mendapatkan Jesica jika harus bersaing dengan Kenan. Sudah pasti wanita itu akan lebih memilih Kenan daripada dirinya yang hanya seorang pesuruh.
Troy menelan salivanya kasar. Ini akan menjadi satu pilihan yang berat baginya. Antara harus mengikuti kata hatinya untuk mwndapatkan Jesica atau membantu bosnya? Sungguh Troy mengalami perang batin dibuatnya.
__ADS_1