Love Betrayal

Love Betrayal
Mulai Membuka Hati


__ADS_3

Dokter Airin masih setia menjaga dan menemani Alvian untuk melanjutkan therapynya.


"Dokter Airin, apa therapy ini bisa membuat saya mengingat kembali memory saya yang pernah hilang keseluruhan?" Alvian mencoba meminta penjelasan.


"Itu semua tergantung pada diri pak Alvian, seberapa kuat ingatan bapak dapat mengingat memory yang pernah berlalu. Bisa saja itu sebagian kecil yang anda ingat dan sebagian lainnya tidak bisa anda ingat atau mungkin keseluruhan memory itu bisa anda ingat atau malah sebaliknya," jelas Airin pada Alvian.


"Tapi, sejauh ini saya merasa cukup tenang karena setidaknya saya dapat mengingat tentang anak-anak saya," ucap Alvian penuh syukur.


"Tidak mengapa pak, yang penting bapak sudah berusaha semaksimalnya. Biar sisanyq Tuhan yang menentukan," hibur Airin pada Alvian.


Menang sejak pertama kali menangani kesehatan mental dan syaraf Alvian, Airin selalu ingin memberikan yang terbaik. Sebagai seorang dokter dia lakukan yang terbaik untuk kesembuhan Alvian dan sejak itu pula Airin mulai menyukai Alvian, pria itu sosok yang begitu baik dan sangat berkharisma dimatanya, ditambah lagi postur tubuhnya yang tinggi dan roti sobek yang nenghiasi tubuhnya, serta perawakannya yang sedikit oriental sungguh mahakarya Tuhan yang luar biasa. Siapapun wanitanya pasti akan bertekuk lutut dihadapannya.


Sementara itu, Alvian juga tidak bisa membohongi perasaannya. Kenyamanan dan merasa dicintai juga dirasakannya ketika wanita muda itu berada disisinya. Wanita itu sungguh sangat memberikan kasih sayangnya sepenuhnya pada Alvian.


"Dokter Airin, apakah anda telah memiliki kekasih?" tiba-tiba saja Alvian mènanyakan hal yang sangat pribadi pada dokter cantik itu.


"Hm, kenapa pak Alvian bertanya seperti itu?" wajah wanita muda itu langsung seperti udang rebus tatkala pertanyaan seperti itu dilontarkan Alvian padanya.


Wajahnya terasa memanas, jantung berdegup kencang dan dia menjadi salah tingkah. Sungguh pertanyaan itu membuatnya sedikit melunglai karena bahagia.


"Maaf, jika pertanyaan saya sedikit lancang tapi kalau boleh jujur saya senang bersama anda. Entah sejak kapan saya merasakan ada sesuatu yang membuat saya nyaman didekat anda," jelas Alvian lagi.


Pria itu tak jauh gugup dibanding Airin. Butuh waktu dan persiapan mental yang lama baginya untuk mengungkapkan isi hatinya. Sebenarnya dia takut Airin menolaknya, di samping dirinya seorang duda beranak dua, Alvian juga pernah gagal dua kali dalam berumah tangga dia takut wanita itu akan meragukannya.


"Mmm... se ... sebenarnya saya juga nyaman bersama anda pak, hanya saja saya ... saya tidak berani berterus terang. Saya takut hubungan baik yang terjalin antara saya dan bapak sebagai dokter dan pasien malah akan membuat kesalahpahaman," ungkap Airin terbata-bata.


Airin sangat malu mengatakannya tapi dia harus jujur karena Alvian sudah mulai membuka hatinya.


"Jadi kamu juga memiliki perasaan yang sama seperti yang saya rasakan?" Alvian ingin memastikannya kalau Airin baru saja mengatkan yang sebenarnya.


Pria itu menatap dalam ke netra sang dokter yang kini hanya bisa menundukkan kepal sambil melipat bibirnya dan memilin ujung bajunya.


Airin hanya menjawab dengan anggukan kepala masih tak berani menatap mata Alvian.

__ADS_1


"Airin katakan padaku, apa kamu mencintaiku? Aku butuh kepastian darimu, aku hanya ingin kita menjalani hubungan serius tanpa ada paksaan dari pihak manapun," pungkas pria itu sambil menggenggam tangan Airin dan menatap dalam ke mata Airin.


"Iya pak. Saya mencintai anda," jujurnya pada Alvian.


"Terimakasih Airin. Aku juga sangat mencintaimu," luga pria itu sambil memeluk erat tubuh Airin.


Dibalik taman dari kejauhan Kenan dan Rena memperhatikan dua sejoli itu dengan intens. Mereka ikut terharu melihat kebahagiaan keduanya.


***


Di tempat berbeda, para anak buah Stevany cukup kuwalahan mencari keberadaan Jenita. Pada awalnya mereka terus mengincar wanita itu tapi setelah lama mencari ke sana kemari mereka tidak menemukan jejak wanita itu.


"Bagaimana ini bos? kita kehilangan jejak perempuan itu," keluh salah seorang anak buah dari preman itu.


"Wanita itu pintar juga, pasti ada yang menyelematkannya," jelas kepala preman itu lagi.


Tak lama kemudian panggilan masuk terdengar.


"*Halo nyonya," sahut si ketua preman itu pada penelpon.


"Maaf nyonya Stevany, kami gagal dalam melaksanakan misi. Wanita itu kabur dari markas dan menghilang," jelas sang preman dengan ketekutan*.


*Ketua preman itu tahu betul bagaimana sang nyonyanya. Dia pasti akan marah besar jika mengetahui orang-orang suruhannya tidak menyelesaikan tugas dengan benar. Meskipun nantinya mereka akan menerima umpatan dan makian dari sang nyonya tapi mereka harus jujur.


"Dasar bodoh! mengurus satu wanita hamil saja tidak becus!!! apa kalian tahu aku sudah bayar mahal pada kalian! cari wanita itu sampai ketemu, aku tidak mau tahu wanita itu harus mati!!! jika tidak kalian akan mati ditanganku!!! " omel wanita itu kemudian dia mematikan telpon tanpa mendengar penjelasan dari orang-orangnya*.


"Bagaimana bos? nyonya bilang apa?" tanya seorang anak buah si preman yang merasa penasaran dengan obrolan mereka.


"Nyonya marah besar, dia ingin kita menenukan wanita itu dna menghabisinya," jelas si ketua preman pada teman-temannya.


Mereka semua hanya saling menatap bingung, karena sejauh ini mereka sudah cukup lelah mencari wanita hamil itu tapi dia menghilang bagai lenyap ditelan bumi.


Sementara itu, Stevany yang baru saja menutup telponnya merasa terkejut saat mengetahui Antony berada di belakangnya.

__ADS_1


"Kau, sejak kapan kau ada disini?" wanita itu gelagapan melihat kedatangan pria yang merupakan kembaran suaminya itu.


"Sejak aku merasakan ada yang tidak beres denganmu," ungkap lelaki itu sambil menatap tajam padanya.


Stevany menjadi panik dan dia menelan salivanya kasar melihat pria itu. Stevany takut jika pria itu akan melaporkan perbuatannya pada sang suami. Dia harus segera bertindak, dia akan mengancam pria itu jika perlu menghabisinya.


"Apa kau mendengar semua pembicaraanku?" selidik wanita itu dengan sorot mata menantang padanya.


"Ya, aku mendengar dengan sangat jelas. Aku pasti akan memberitahukan semuanya pada Adrian," ancam lelaki itu padanya.


"Kau pikir aku takut? kau punya bukti apa hah?" ejek wanita itu padanya.


"Aku memang belum mendapatkan bukti kuat tapi aku telah merekam percakapanmu dengan preman-preman bayaranmu," lelaki itu menakuti Stevany dengan rekaman di ponselnya.


Sial, aku tidak akan membiarkannya! awas kau Antony aku akan menghabisimu! kesalnya dalam hati melihat pria itu.


"Tunggu Antony, sebelum kau memberitahukan semua pada Adrian, sebaiknya kita membuat kesepakatan," wanita itu mencoba bernegosiasi.


"Apa maksudmu?" Antony merasa bingung.


"Kau ingat dengan kejadian mslam itu? saat kau mabuk dan mencoba menyentuhku?" Stevany mengingatkan kembali padanya.


Pria itu pasti tidak lupa dengan insiden malam itu. Hal memalukan yang tak sengaja dia perbuat.


"Aku yakin kau masih ingat. Bagaimana jika aku beri tahukan pada suamiku tercinta tentang kelakuan tidak senonoh dari saudara kembarnya?" ancam wanita itu sambil menggoda Antony dengan mengusap dada pria itu melingkar hingga punggungnya.


"Kau?" geram pria itu padanya.


"Jangan berteriak ! aku Stefany dan aku tidak takut pada siapapun. Jika kau berani mengancamku aku akan menghancurkanmu kalau perlu aku sendiri yang menghabisimu," ancam wanita itu dengan gaya psikopat.


"Kau sungguh licik Stevy. Aku tidak percaya kau bisa berbuat senista itu," umpatnya pada wanita yang berada dihadapannya.


"Terserah kau mau berkata apa tentangku. Aku tidak perduli. Selama kau menutup mulutmu aku akan jaga semua rahasiamu," ujar wanita itu dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Antony hanya bisa menutup matanya perlahan menahan amarah dalam hatinya dan Stevany berlalu meninggalkannya begitu saja dengan rasa kemenangan. Benar-benar psikopat kau Stevy. Aku tidak menyangka kau akan segila ini. Gerutu pria itu menatap Stevany yang memunggunginya dan menghilang dari hadapannya.


__ADS_2