Love Betrayal

Love Betrayal
Alvian Kecelakaan


__ADS_3

Alvian masih merasa kesal dengan sikap Rena yang tidak memperdulikannya, untuk melampiaskan kekesalannya dia pergi ke bar dan melampiaskan kekesalannya dengan minuman sambil menatap foto pernikahannya dengan Rena. Dia sangat tidak rela jika Kenan harus mendapatkan Rena dan sekarang mereka malah akan mempunyai seorang anak.


Keterlaluan kalian. Kau ingin membuatku menderita dengan mengacuhkan ku Rena? Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi gerutu Alvian menatap lekat pada wajah Rena difoto itu.


Tidak beberapa lama kemudian datang beberapa orang terlihat berkerumun di depan pintu gerbang rumah besar itu.


"Nilam, coba kau lihat keluar sana. Terdengar ribut sekali," titah diandra pada ARTnya.


Wanita paruh baya itu segera membukakan pintu pagar rumah itu, mata wanita itu seketika terbelalak melihat keramaian disana. Niatnya untuk membukakan pintu rumah itu segera diurungkan karena melihat wartawan yang begitu ramai. Nilam segera bergegas kembali ke dalam


"Nyonya ada wartawan diluar sana," ujar ART senior itu dengan nafas tersengal-sengal.


"Ada apa bu Nilam? mengapa kau seperti dikejar setan?" tanya Kenan yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Di luar ada wartawan yang sedang mencari anda tuan muda," pungkas wanita paruh baya itu.


Kenan mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini, dirinya segera menghampiri mereka. "Kenan jangan gegabah nak, ingat ada pemberitaan miring tentangmu di media saat ini," Diandra mengingatkan putranya.


Kenan hanya menganggukkan kepala dan bersiap untuk menghadapi cecaran wartawan di depan sana. Benar saja, baru saja pintu rumah itu terbuka ribuan pertanyaan beruntun dari para wartawan menghujaninya.


"Pak Kenan Manaf, apa benar isu perselingkuhan anda dengan salah satu karyawan istri anda?"


"Bagaimana anda bisa berada di hotel bersama nona Ana?"


"Apakah rumah anda dengan nyonya Rena baik-baik saja?"

__ADS_1


Berbagai macam pertanyaan dilayangkan pada Kenan, sementara itu Kenan hanya bersikap tenang menghadapi mereka. Dia menjawab dengan satu kalimat saja.


"Orang bijak pernah berkata Hoax itu bukan sekadar berita bohong, ia lebih dari itu: hoax itu bisnis. Yaitu bisnis untuk mendulang uang. Hoax dibuat demi memenuhi kebutuhan perut. Apa begini cara kalian mencari uang dengan menyebarkan berita hoax?" kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Kenan.


Tidak biasanya dia menanggapi wartawan dengan perkataan kasarnya tapi untuk kali ini dia tidak ingin mengalah dan perkataan itu terlontar begitu saja. Dirinya merasa kesal dengan isu miring yang menyebar begitu cepat.


" Anda sombong sekali tuan Kenan. Ingatlah tuan, karena pemberitaan dari wartawan seperti kami inilah namamu bisa menjadi lebih baik seperti yang kau dapat saat ini," ujar seorang wartawan yang tidak terima dengan sikap Kenan.


"Hei mengapa kau marah tuan ... Aditya? Namamu Aditya kan? jika kau tidak seperti yang aku jelaskan tadi mengapa kau harus marah?" Jawab Kenan dengan santai


"Tuan Kenan ingatlah sikapmu yang buruk itu bisa membuatmu jatuh dalam waktu yang singkat," timpal wartawan yang lainnya pada pria muda itu.


"Kenapa kalian menjadi begitu tersinggung? aku hanya bertanya pada kalian. Aku hanya ingin tahu, apa kalian pernah berpikir sebelum membuat berita di media? dan apa kalian pernah berpikir bagaimana perasaan keluargaku saat ini dengan pemberitaan yang beredar?" sinis Kenan pada mereka. Sementara itu Rena yang bersama Kenan mengusap pelan lengan pria itu untuk menenangkannya.


Para wartawan itu menunduk diam, karena yang diucapkan Kenan itu benar. Jadi semua itu tepat pada diri mereka.


Kenan bergegas membawa Rena dan Diandra ke rumah sakit. "Ayo mom kita harus segera ke rumah sakit," pungkasnya sambil berlalu melewati kerumunan wartawan yang berada didepan rumahnya.


"Tuan Kenan anda belum menjawab pertanyaan kami, anda harus menjelaskan skandal yang terjadi pada anda dan nona Anastasya," cegah seorang wartawan yang sengaja menyulut emosi Kenan.


Hampir saja Kenan dibuat emosi karena wartawan itu, rasanya ingin sekali dia menghajar wajah wartawan yang tersenyum picik dihadapannya, tapi Rena dengan penuh kesabaran menggenggam tangan Kenan dan menatap sendu padanya. Pria itu menatap mata sang istri kemudian Rena menggelangkan kepalanya memberi kode untuk tidak menggubris wartawan itu.


Kenan menghela nafas berat lalu mengikuti sang istri. Dia menyingkirkan wartawan yang menghalangi jalannya tanpa melukainya sedikitpun dan membawa Rena juga sang ibu bersamanya untuk kemudian masuk ke dalam mobilnya. Para wartawan itu masih mencoba mengejar mereka tapi Kenan melajukan mobilnya sehingga kerumunan wartawan itu termundur.


***

__ADS_1


Setibanya di rumah sakit, Kenan menghampiri resepsionis untuk menanyakan keadaan sang kakak, tapi belum sempat bertanya, dirinya melihat sekilas sekelompok perawat yang membawa pasien ke ruang operasi. Melihat orang yang diatas brankar itu adalah Alvian kakaknya, Kenan menghentikan mereka.


"Tunggu!" ucapnya menghentikan langkah para petugas medis itu.


Merekapun menghentikan langkah mereka menoleh pada Kenan.


"Mas Alvian, dokter ini kakak saya. Kami semua adalah keluarganya," lirih Kenan melihat kondisi sang kakak yang dalam keadaan kritis.


Rasa sakit hati yang ditorehkan Alvian sehari yang lalu tiba-tiba menghilang, yang ada sekarang hanyalah rasa iba melihat keadaan pria yang disebutnya kakak itu diantara hidup dan mati. Tidak terasa buliran bening itu membasahi sudut matanya. Ada rasa tertoreh disudut hatinya melihat keadaan pria yang sedang terbaring tak berdaya disana.


"Syukurlah kalian datang tepat waktu. Silahkan anda mengurus administrasinya agar operasinya segers dilaksanakan," ujar sang dokter pada Kenan.


Bergegas Kenan mengurus administrasi untuk operasi besar yang akan dilaksanakan pada Alvian dan setelah administrasi selesai operasi besarpun dimulai.


Kenan, Rena dan yang lainnya kini duduk menanti hingga proses operasi selesai. Satu jam berlalu, lampu merah diruang operasi telah berganti menjadi hijau pertanda operasi telah berjalan dengan lancar. Seorang dokter kini telah keluar dari ruang operasi.


"Dokter bagaimana keadaan putra saya?" tanya Diandra pada sang dokter.


"Operasinya telah selesai dan semua berjalan lancar, hanya saja pasien kritis karena kehilangan banyak darah. Dia harus mendapatkan donor darah secepatnya, jika tidak itu akan sangat membahayakan nyawanya," jelas dokter itu pada Diandra dan dua orang lainnya.


Diandra terlihat begitu panik dan sangat mencemaskan keadaan putranya. Sungguh, jika saat ini dia bisa menggantikan posisi putranya akan dia lakukan.


"Momy jangan bersedih aku tidak akan membiarkan mas Alvian menderita," bujuknya pada sang ibu. Kenan sangat tahu bagaimana kegalauan hati sang ibunya.


"Dokter, ambil saja darahku untuk kakakku," tukasnya pada sang dokter.

__ADS_1


Segera sang dokter membawa Kenan ke labor untuk mencocokkan darah Kenan dan Alvian. Setelah mendapatkan kecocokan sang dokter membawa Kenan ke ruang operasi dan segera mentranfusi darahnya untuk sang kakak.


Terlihat Alvian yang pucat pasih di brankar dengan alat bantu pernafasan. Terlihat begitu menyedihkan. Sementara itu alat tranfusi darah terpasang dilengan pria itu. Seberapa besarpun rasa kecewa Kenan padanya. Sekarang yang ada hanya harapan agar sang kakak cepat melewati masa kritisnya.


__ADS_2