
Rena sedang berada di taman, sekedar merilekskan tubuhnya yang terasa lelah. Dirinya bermaksud untuk menghirup udara segar sekaligus untuk membuat bayi dalam kandungannya tidak stres.
"Kak, boleh aku duduk disini?" Ryan mendekati Rena, dia ingin membicarakan sesuatu pada kakak sepupunya.
"Duduk Ri, kamu mau bicarakan apa?" Rena mempersilahkan sang adik duduk didekatnya.
"Gini kak, aku cuma mau bilang mungkin dalam waktu dekat nanti aku dan Ana akan bertunangan, kami akan segera menikah," ujar Ryan sambil menatap sang kakak.
"Kamu serius? " Rena terlihat begitu penasaran. Oleh ucapan Ryan.
"Iya kak aku serius. Aku tidak mungkin bercanda kak," jelas Ryan padanya lagi.
"Tapi bagaimana bisa? bukankah selama ini kalian berdua tidak pernah akur? maksudku kalian tidak pernah saling mengungkapkan perasaan satu sama lain," Rena merasa heran dengan penjelasan sang adik sepupu.
"Aku sudah memikirkannya secara matang kak. Aku melakukan ini semua supaya wanita itu tidak mengganggu hubungan kakak dan mas Kenan. Kemarin saat wawancara pers aku sudah menyatakan pada wartawan kami sudah bertunangan," tukasnya pada sang kakak.
Rena memperhatikan dengan saksama pada netra pria dihadapannya. Mencari kejujuran dalam mata pria itu. Disatu sisi dia merasa senang jika adik sepupunya ini menikah karena memang telah terlalu lama dia belum juga menikah. Jangankan menikah, kekasih saja dia belum punya. Bukan karena tidak ada yang mau dengannya, hanya saja dia yang tidak membuka hatinya pada para wanita.
Kedua, dirinya meragukan apakah mungkin Ryan akan bahagia jika dia menikahi Anastasya? karena selama ini yang dia tahu Ryan sangat membenci wanita itu.
"Kenapa kak? kakak meragukan keputusanku?" Ryan mencoba membaca pikiran kakak sepupunya itu.
"Tidak, aku hanya berharap jika kau benar-benar ingin menikahinya lakukanlah sepenuh hati jangan karena rasa dendam. Aku tidak mau jika kau menyakiti wanita, " wanita muda itu menasihatinya.
"Hm, iya kak aku mengerti," jawabnya penuh keyakinan.
__ADS_1
Sebenarnya bukan apa-apa Ryan secara tiba-tiba menikahi Anastasya. Dia hanya ingin menyelamatkan pernikahan sang kakak. Dengan mengikat Ana dalam hubungan pernikahan dia berharap tidak akan ada lagi pengganggu dalam pernikahan sang kakak.
***
Setelah beberapa lama berbicara dengan Ryan, Rena kembali ke ruangan Alvian, saat ini hanya ada dirinya yang menjaga Alvian karena Rena meminta Diandra untuk beristirahat. Sudah beberapa hari sang mertuanya menanti Alvian. Pasti sangat melelahkan bagi tubuh ringkih yang semakin menua itu jika terus-terusan berada di sana. Rena memintanya untuk beristirahat di rumah sedangkan dua malaikat kecilnya hanya diperbolehkan menjenguk ke rumah sakit pada hari libur supaya mereka tidak kecapean bolak-balik mengurusi sang ayah.
"Sayang aku bawain makanan, ayo kita makan dulu," pungkas Kenan yang telah kembali.
Setelah dirinya berlalu dari hadapan Anastasya, dia memutuskan untuk membelikan makanan.
"Kamu kemana aja? aku cari disekitaran rumah sakit ga ketemu?" Rena merasa khawatir pada sang suami.
"Maaf sayang. Aku ga bermaksud membuatmu khawatir, aku hanya kesal pada Ana. Aku takut jika mengingat malam itu akan membuatmu membenciku," lirih Kenan pada sang istri.
Disela-sela kebersamaan mereka, tiba-tiba Alvian terjaga dari tidurnya membuat keduanya melihat ke arah Alvian bersamaan. Pria itu nampak meringis kesakitan memegangi kepalanya.
"Aaaaaarrrgghhh," teriak Alvian sambil memegangi kepalanya.
"Mas, kenapa? apa kepala mas sakit lagi?" Rena terlihat khawatir padanya.
Lelaki itu hanya meringis kesakitan memegangi kepalanya. Perlahan aor matanya mengalir dari sudut matanya. Dia terlihat begitu tersiksa oleh rasa sakitnya.
Melihat keadaan Alvian yang begitu kesakitan, Kenan segera mengambilkan obat Alvian dan membuka satu persatu obat itu lalu memberikannya pada Alvian dan menyuruhnya untuk meminum obat itu dan beberapa lama setelah itu Alvian mulai tenang dan tertidur kembali.
"Dokter, apa dia akan baik-baik saja?" Kenan kini berada dihadapan seorang dokter muda yang menangani Alvian.
__ADS_1
"Hal ini biasa terjadi pada pasien pasca oeprasi geger otak, ini disebut kraniotomi yaitu adanya pendarahan di otak akibat benturan keras yang dialami pasien," jelas dokter itu kembali.
"Lantas lebih mudah marah,paranoia, dan keras kepala apakah itu hal biasa dok? apakah setiap orang yang mengalami geger otak mengalami situasi emosional yang berubah-ubah seperti itu?" tanya Kenan penub rasa khawatir.
Dia tidak tega melihat sang kakak kesakitan seperti itu. Rasanya andai dia bisa menggantikan rasa sakit itu, ingin sekali dia menggantikannya.
"Itu hanya efek dari operasi saja pak, lama-kelamaan semuanya bisa membaik. Asalkan tewp beri pasien dukungan moril yang intens karena bagi pasien geger otak mereka hanya membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang sekitarnya. Jangan terlalu memaksakannya untuk mengingatkannya pada sesuatu yang dapat memaksa otaknya untuk berpikir keras," jelas dokter itu pada mereka.
Setelah memberikan penjelasan sang dokter meminta mereka untuk melakukan therapy pada Alvian demi membuat kondisinya lebih baik lagi.
Berhari-hari bahkan telah beberapa bulan pengobatan dan therapy dilakukan demi kesembuhan Alvian, cukup menguras emosi dan tenaga mereka. Untungnya Rena selalu menguatkan mereka. Dia memberikan semangat pada Alvian dan syukurnya semua itu cukup memberikan perkembangan berarti bagi kesehatan Alvian.
Perlahan Alvian mulai bisa mengenal dirinya tapi dia masih belum bisa mengingat keseluruhan memorinya yang lalu. Namun itu cukup membuat keluarganya merasa senang.
"Alvian, bagaimana keadaanmu sekarang nak?" Diandra menghampiri Alvian yang baru saja bersiap-siap merapikan dirinya.
Dia telah diizinkan oleh dokter untuk kembali pulang dengan catatan dirinya tidak boleh melakukan banyak aktifitas berat dan harus rutin melakukan therapy supaya dirinya bisa secepatnya sembuh.
"Ah iya mom, aku sudah mulai lebih baik sekarang. Oh ya Rena mana, aku tidak melihatnya pagi ini," tanya pria itu.
Dirinya mulai terbiasa dengan Rena disana, karena semenjak pasca operasi hanya Rena yang bksa menenangkannya setiap kali dia merasa kesakitan. Kenan sendiri juga memakluminya dan mengizinkan Rena untuk merawat Alvian.
"Dia akan datang sebentar lagi ke sini. Tadi Kenan bilang mereka sedang bersiap-siap untuk kemari," jelas sang ibu padanya.
Alvian hanya diam mendengarkan sang ibu. Entah mengapa ada rasa yang sulit diartikan yang kini menyelimuti hatinya. Apa mungkin dia merasakan sesuatu pada wanita itu? Ah tidak, tidak. Itu tidak boleh terjadi. Wanita itu telah menikah dan mempunyai anak, dia tidak boleh mempunyai perasaan apapun padanya.
__ADS_1