Love Betrayal

Love Betrayal
Menyelidiki


__ADS_3

Setelah menikmati malam bersama, akhirnya Rena dan Kenan kembali pulang. Baru saja sampai di depan pintu mansion mereka disambut oleh rengekan kedua belahan jiwa mereka. Siapa lagi kalau bukan dua malaikat kecil mereka.


"Momy! Dady!" teriak Dhafi dan Belvana. Keduanya berhamburan ke dalam pelukan sang momy kemudian memeluk erat.


"Ooo kesayangan momy, kalian udab nà, " ujar Rena sambil menciumpi pipi kedua anak itu.


"Momy sama dady curang. Perginya ga ngajak-ngajak kami!" protes Belvada pada Rena. Gadis itu mengerucutkan bibirnya menunjukkan kemarahannya.


Kenan yang memperhatikan sikap anak sambungnya itu malah tersenyum kecil. Merasa gemas melihat tingkah gadis kecil itu.


Anak itu memang selalu ingin ikut saja kemanapun Rena. Mungkin karena merasa anak paling kecil makanya dia bersikap seperti itu.


"Iya, momy dan dady sengaja banget ninggalin kita waktu kita lagi belajar. Padahal abang sama adek juga mau ikut biar bisa jalan-jalan," Dhafi ikutan protes.


Kenan terkekeh melihat anak-anaknya protes, tapi Diandra tiba-tiba muncul dihadapan mereka.


"Eh kalian disini. Dari tadi oma cariin rupanya lagi disini. Ayo anak-anak kita sarapan dulu oma udah buatin makanan kesukaan kalian," bujuknya pada anak-anak itu.


"Maaf ya sayang, momy dan dady ga ajak kalian karena dady pengen buat kejutan untuk momy. Dady janji dech setelah selesai ujian nanti kita jalan-jalan ya," bujuk Kenan pada dua bocah kecil itu yang sukses membuat keduanya bahagia.


"Yeay, janji ya dady," ujar kedua anak itu sambil meloncat-loncat kegirangan.


Mereka tak ubahnya seperti bola bekel yang selalu mental kesana kemari tapi menggemaskan.


"Ya udah, sekarang kita makan dulu. Abang sama adek mau berangkat sekolahkan? Nanti telat ujian kalau kelamaan," ajak sang nenek pada kedua cucunya.


Anak-anak itu mengikuti sang nenek dengan menggenggam tangan sang nenek. Kedua anak itu mengapit sang nenek dan berjalan bersama. Diandra merasa sangat senang dengan kehadiran para cucunya. Hari-hari wanita paruh baya itu kini menjadi lebih berwarna semenjak bersama dua malaikat kecil itu. Begitupun sebaliknya dengan para anak kecil itu, sudah tidak ada rasa canggung dan ketakutan lagi pada Diandra, yang ada rasa sayang yang mengalir begitu saja diantara mereka.


***


Ditempat berbeda, Troy sedang bersama Jesica. Saat ini mereka sedang menikmati waktu berdua. Jesica sedang menyiapkan makanan dan juga coklat hangat untuk pagi ini.

__ADS_1


"Sayang, kau kenapa dari tadi aku perhatikan seperti lagi memikirkan sesuatu," Troy mendekati gadis itu sambil duduk berhadapan dengannya di mini bar.


"Ah, apa aku terlihat seperti orang yang banyak pikiran?" pungkas wanita itu mencoba mengalihkan perhatian kekasihnya.


"Hm, aku hanya menebak saja," Troy menatap dalam ke arah mata gadis itu.


Troy merasakan ada sesuatu yang sedang disembunyikan Jesica darinya.


"Ahm, sebenarnya aku sedang memikirkan tentang Jenita," lirih gadis itu padanya.


Sepertinya ada yang membuatnya begitu khawatir tentang saudara kembarnya. Entah mengapa semenjak Jenita bertemu Adrian seakan ada sesuatu yang berbeda dirasakan oleh Jesica.


"Apa yang kau pikirkan sayang? Bukankah mereka pernah menjalin hubungan sebelumnya?" Troy mencoba menenangkan kecemasan Jesica.


"Ya, tadinya aku pikir setelah bertemu kembali akan lebih baik jika mereka dipersatukan kembali, tapi firasatku merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Adrian darinya," jelas gadis itu lagi padanya.


"Apa kau mencurigai lelaki itu Jes?" selidik Troy padanya. Lelaki itu mengernyitkan dahinya merasa heran pada kekasihnya itu.


Gadis itu memainkan jari jemarinya merasa gugup dan gelisah. Troy yang memperhatikannya menggenggam jemari wanitanya sambil menatap dalam manik kecoklatan gadis itu.


"Apa kau ingin aku mencari tahu tentang lelaki itu?" tanya Troy ingin memastikan lagi.


" Apa kau bisa melakukannya ?" Jesica merasa sedikit ragu.


"Jika itu yang kau mau aku pasti akan melakukannya. Meskipun dia berada jauh di Inggris, aku bisa untuk mencari tahu tentang dirinya, asal kau percayakan semuanya padaku," Troy mencoba meyakinkannya.


Troy sangat yakin bisa mendapatkan informasi tentang Adrian, karena dia juga memiliki kenalan disana dan dia pasti bisa mendapatkan informasi tentang lelaki itu.


"Baiklah jika kau yakin, aku akan serahkan ini padamu," Jesica memberikan kepercayaan pada Troy.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Jesica lelaki itu menghubungi salah satu temannya yang berada di Inggris. Lelaki itu mengambil ponselnya dan menghubungi kontak salah seorang temannya. Tidak butuh waktu lama, panggilan itu tersambung.

__ADS_1


"*Lian, bagaimana kabarmu bro?"


"Ah ini siapa?" tanya orang diseberang sana merasa tidak mengenal penelponnya.


"Apa kau lupa? aku ini sahabatmu. Dulu kita sering mabuk bersama dan melakukan keributan," Lelaki itu mencoba mengingatkan kenangan mereka dahulu.


Lelaki yang bernama Lian itu berpikir cukup lama, sampai akhirnya dia mengingat kembali tentang teman dimasa lalunya.


"Wah ini kau Troy? Kau masih menyimpan kontakku?"


"Tentu saja. Kitakan sahabat aku pasti menyimpan kontakmu," jelas Troy lagi.


"Baiklah, apa yang bisa aku bantu?" lelaki itu mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan sahabatnya.


"Aku mau kau menyelidiki tentang seseorang. Nanti akan ku kirimkan fotonya padamu," tukas Troy padanya.


Setelah memberikan penjelasan pembicaraan mereka terputus*.


Sementara itu, Jenita sedang berada diruang kerjanya. Dirinya memandangi foto seorang pria yang kini menghiasi hari-harinya. Ya, siapa lagi kalau bukan Adrian. Semenjak pertemuan terakhir kalinya bersama lelaki itu Jenita benar-benar tak bisa melupakannya dan sepertinya kali ini dia tidak akan membiarkan pria itu pergi lagi dari kehidupannya.


Demi meluapkan kerinduannya Jenita mengambil kuas dan canvasnya. Kemudian dia membuat lukisan seseorang yang kini ada dalam pikirannya.


Aku benar-benar mencintaimu Adrian, saat ini aku tidak mau lagi kehilanganmu. Aku telah menyerahkan seluruh hidupku untukmu, aku harap kau akan menepati janjimu untuk tetap bersamaku. Gumam wanita itu sambil tetap mengguratkan kuasnya pada canvas yang berada dihadapannya.


Lukisan itu semakin sempurna dan terlihat seperti aslinya. Pantas saja banyak orang yang menginginkan lukisannya. Ternyata gadis itu memang seorang pelukis yang ahli. Lukisan seseorang yang baru saja diselesaikannya itu merupakan bukti dari maha karyanya. Betapa dirinya sangat menyukai melukis. Terlebih lagi sebagian besar lukisannya merupakan lukisan Adrian. Sepertinya gadis ini benar-benar telah dimabuk cinta oleh pria itu.


Jesica baru saja kembali ke rumahnya dan menghampiri Jenita. Dia sudah tahu dimana tempat ternyaman dari saudara kembarnya adalah studio lukisnya. langsung saja Jesica ke ruangan itu dan betapa terkejutnya dia saat melihat lukisan Jenita yang begitu banyak dan menggambarkan wajah Adrian.


"Jeni, kau baik-baik saja?" pandangnya pada saudara kembarnya.


"Iya, aku baik-baik saja," jawab gadis itu datar.

__ADS_1


Jesica memandangi lukisan Jenita dengan saksama. Dia sangat yakin gadis itu kini sedang tergila-gila pada Adrian.


__ADS_2