
Ini tidak bisa dibiarkan, berani sekali dia menentangku. Dia ingin merebut Rena dariku, aku tak kan membiarkan itu terjadi. Semenjak tadi Alvian tidak bisa tenang memikirkan Kenan yang semakin nekat untuk bersama Rena.
Dirinya mondar-mandir seperti setrikaan. Gelisah memikirkan Rena, akhirnya Alvian memutuskan untuk menghubungi Jenita. Lelaki itu mengambil ponselnya lalu mendial nomor Jenita.
“Halo,”
“Jenita, ini aku Alvian bisakah kita bertemu hari ini?”
“Ada apa Alvian? Mengapa kau tiba-tiba mengajakku bertemu?”
“Ini mengenai Kenan dan Rena,”
Jenita tertegun sejenak oleh perkataan Alvian dan akhirnya memutuskan untuk menyetujui permintaan Alvian yang ingin bertemu untuk membahas masalah Kenan dan Rena.
“Baiklah kita bertemu,”
Mereka mengakhiri percakapan mereka.
Selang beberapa lama kemudian mereka bertemu.
Hari itu Jenita terlihat sangat cantik dengan dres selutut berwarna hitam dan tali spagethy, mata lelaki mana yang tidak memandang kagum pada keindahan ciptaan Tuhan sepertinya? Bahkan Alvian yang sedari tadi menunggunya, ketika melihat wajah gadis itu dengan senyumannya dari kejauhan, terpaku mematung menatap kagum padanya.
Darahnya tiba-tiba berhenti mengalir membuat seluruh tubuhnya membeku.
“Helo? Alvian kau baik-baik saja?” sapa wanita itu sambil melambaikan tangan di depan wajah Alvian.
Alvian tersentak kaget, “ahm ... maaf, Jeni duduklah. Kau terlihat cantik hari ini,” pujinya pada Jenita.
Gadis itu hanya tersipu malu mendengar pujian Alvian.
“Kau mau pesan apa?” Alvian memberikan penawaran.
“Aku tidak ingin makan karena aku sudah kenyang, aku hanya mau minum jus saja,” pintanya pada Alvian.
Lelaki itu segera memesankan minuman untuk Jeni pada waiters.
“Oh ya Alvian tadi kau bilang, kau ingin membahas tentang Kenan dan Rena. Apa ada yang bisa kulakukan untukmu?” Jeni merasa penasaran.
“Iya, sebenarnya aku ingin mengajakmu bekerja sama untuk menggagalkan hubungan Kenan dan Rena,”
Jenita tersenyum miring. Dia mengerti lelaki itu sangat terobsesi dengan Rena, begitupun dirinya setelah pertemuannya dengan Kenan, dirinya mulai jatuh cinta pada pria itu.
“Kenapa Al? Kau ingin kembali pada mantan istrimu atau kau merasa tidak rela jika Kenan mendapatkan Rena?” selidik gadis itu sambil memperhatikan wajah Alvian.
“Dua-duanya,” suara Alvian terdengar samar tapi sangat jelas ditelinga Jeni.
“Kau mau aku melakukan apa?” tawarnya lagi.
“Aku mau buat Kenan bertekuk lutut padamu dan gagalkan rencana pernikahan mereka,” ujar lelaki itu sambil menatap wajah gadis itu dengan lekat.
__ADS_1
Alavian mulai tidak fokus, karena dia begitu terpana dengan kecantikan gadis yang berada dihadapannya. Perasaan macam apa itu? Mengapa sekarang dirinya malah lebih memperhatikan gadis itu? Padahal tujuan utamanya datang ke restoran iti untuk mengajak wanita muda itu bernegosiasi.
“Okay, aku bisa membantumu tapi dengan syarat kau juga harus membantuku untuk bisa mendapatkan Kenan,” Jenita mencoba membuat kesepakatan dengan Alvian.
Tentu saja hal itu terasa sedikit memberatkannya tapi walau bagaimanapun juga dia harus mau membantu gadis itu demi melancarkan keinginannya.
“Tenang saja, aku pasti akan membantumu. Aku tahu persis titik kelemahan Kenan dan aku sangat yakin kau pasti bisa mendapatkannya dengan mudah,” jelasnya sambil mengerlingkan matanya dengan penuh arti.
“Oh ya, aku jadi penasaran,” Jeni menjadi penasaran.
Alvian memberi kode agar wanita itu mendekatkan telinganya padanya, merasa penasaran Jenita mendekatkan telinganya pada wajah Alvian dan lelaki itu membisikkan sesuatu padanya yang sukses membuat wajah wanita itu memerah dan merasa malu.
Entah apa yang diucapkan Alvian padanya, yang pasti Jenita benar-benar malu. Sedangkan Alvian hanya terkekeh melihat wajah Jeni yang sudah seperti kepiting rebus. Itu benar-benar membuatnya gemas.
***
Kenan merasa sangat kesal dengan sikap momynya yang selalu mengikuti kemauan Alvian. Dirinya segera menemui Rena untuk melepaskan semua unek-uneknya.
“Masuk, “ jawab Rena dari dalam ruangannya.
Kenan segera masuk ke ruangan Rena. Dirinya masih berdiri mematung di depan pintu sehingga membuat Rena harus menatap kearahnya. Rena sedikit terkejut melihat Kenan yang berada di sana.
Rena memperhatikan pria yang sedang mematung di depan pintu. Pria itu terlihat tidak baik-baik saja, sepertinya dia dalam masalah.
“Kenan?” sapanya pada lelaki itu, tapi si lelaki masih mematung menatap kearahnya.
“Ken, apa kau baik-baik saja?” Rena yang merasa heran melihat sikap Kenan langsung mendekat kepadanya.
Tanpa berkata apapun Kenan langsung memeluk erat wanita itu. Rena membalas pelukannya sambil mengusap kepala lelaki itu. Dirinya mengerti lelaki itu sedang gelisah saat ini. Si lelaki tetap memeluknya dan meletakkan kepalanya ke ceruk leher wanita itu.
Rena membiarkannya saja, untuk memberi ruang pada lelaki itu untuk menumpahkan perasaannya.
__ADS_1
“Rena, apa kamu benar-benar mencintaiku?” lelaki itu akhirnya membuka suara.
“Kenapa Ken, kenapa kamu tiba-tiba nanya seperti itu?” wanita itu mencoba untuk menatap wajah si lelaki tapi tertahan karena lelaki itu masih memeluknya tak ingin melepasnya.
“Jawab saja pertanyaanku Rena?” pintanya dengan sedikit frustasi.
“Tentu saja Ken. Aku mencintaimu, karena itu aku menerima lamaranmu,” Rena meyakinkannya.
Kenan melepaskan pelukannya terhadap Rena dan merangkup wajah wanitanya. Lalu menatap lekat ke manik mata kecoklatan milik wanita itu.
“Katakan padaku Rena, apapun yang terjadi kita akan tetap bersama,” pintanya dengan suara bergetar.
“Iya Ken, apapun yang terjadi aku akan tetap bersamamu,”
“Terimakasih Rena, aku senang mendengarnya,”
“Kamu kenapa tiba-tiba bicara seperti ini?” Rena masih penasaran dengan sikap Kenan.
“Momy dan mas Alvian ingin menjodohkanku dengan sahabatku, tapi aku tidak mau. Aku hanya inginkan dirimu. Aku tidak ingin bersama siapapun selain kamu,” Kenan menggenggam tangan Rena mencoba meyakinkannya.
Rena hanya menatapnya sendu. Wanita itu mengerti apa yang dilakukan keluarga Kenan, demi kebaikannya. Hal inilah yang sangat ditakutkannya. Semenjak Kenan menyatakan perasaannya Rena takut jika hubungan mereka akan mendapatkan rintangan dari orang-orang terdekat Kenan.
“Kamu maukan menikah denganku?” desak Kenan pada Rena.
“Apa kau yakin? Lantas bagaimana dengan keluargamu?”
“Aku sudah bilang aku tidak perduli mereka suka atau tidak, karena aku hanya mengingankanmu. Jika kau mau kita akan menikah secepatnya,” Kenan berusaha meyakinkannya kembali.
“Aku mau dan aku sangat menginginkan pernikahan itu tapi ini tidak mudah Ken,” keluh Rena padanya.
“Tenanglah selama masih ada aku semua akan baik-baik saja. Asal kamu tetap bersamaku,” Kenan mengusap pelan wajah Rena.
Rena mengangguk pelan dan memeluk tubuh kekar lelaki itu. Sungguh dirinya merasa takut jika Kenan akan meninggalkannya. Sejujurnya, Rena masih ragu untuk membuka lembaran baru bersama Kenan. Dia takut akan penolakan dari keluarga Kenan, terutama Alvian. Pria itu pasti akan selalu mencari cara untuk memisahkan dia dan Kenan.
"Aku takut Ken, mas Alvian akan berbuat nekat untuk menghalangi hubungan kita," jelas Rena sambil tetap menaruh kepalanya didada Kenan.
__ADS_1
Kenan mengangkat wajah Rena dan mendekatkan wajah perempuan itu ke wajahnya. "Aku akan mengusahakan, kita akan menjauh dari mereka, kalau perlu kita ke Amerika saja bersama anak-anak," imbuh lelaki itu padanya.
Rena hanya diam, akan ada banyak hal yang harus dipikirkannya. Mulai dari anak-anaknya, hingga perusahaannya yang baru dirintisnya kembali, namun sorot matanya masih menunjukkan pengharapan dari prianya. Dia tidak ingin gagal untuk kedua kalinya. Mungkin inilah yang disebut ujian cinta bagi mereka, untuk mengetahui seberapa besar kesetiaan mereka.