
Sebuah notifikasi masuk terlihat di ponsel milik Jenita, Jenita segera membuka nitifikasi tersebut. Sebuah messanger dari Jesica berisi foto dan video Adrian yang sedang bersama wanita lain disisinya. Jenita memperhatikan foto yang diberikan saudara kembarnya itu, sedikit kesal dengan wanita yang mencari perhatian pada Adrian tapi Jenita tidak memperdulikan hal itu, karena baginya dia lebih mempercayai Adrian dibandingkan dengan siapapun. Gadis itu tidak merespon hanya mengabaikan kiriman dari Jesica dan melanjutkan lukisannya.
"Bagaimana Jes, apa dia memberikan tanggapan?" Troy menannyakan tentang Jenita pada kekasihnya.
"Dia tidak menanggapi sama sekali. Sudah ku duga, gadis nakal itu tidak mau mendengar. Dia akan selalu menjadi keras kepala jika dia menyukai sesuatu!" gerutu Jesica melihat ponselnya yang tidak ada respon dari Jenita.
Begitulah Jenita, jika sudah mencintai seseorang dia tidak perduli dengan apapun rintangan yang akan dihadapinya. Baginya kepercayaan pada orang yang dicintainya lebih utama dari segalanya.
"Jangan marah Jes, saudara kembarmu itu lagi jatuh cinta jadi dia lakukan itu untuk menepis keraguannya pada Adrian,"
"Aku tidak habis pikir, mengapa dia begitu bodoh?" Jesica mencoba berulang kali menelpon kembarannya itu, tapi gadis itu tidak mau menjawab panggilan itu satu kalipun.
"Dan sekarang kau lihat dia mengabaikan panggilanku !" geram Jesica sambil membanting ponselnya ke sofa.
Maaf Jes, aku tidak bermaksud mengabaikanmu tapi ini adalah masalah pribadiku. Aku tidak perduli bagaimana kehidupan Adrian, dia telah menikah atau tidak, atau dia hanya seorang pemain. Aku tidak perduli. Selagi dia masih bersamaku, dia hanya milikku !!! Jenita bergumam dalam hati.
Dia tahu bagaimana Jesica sangat mengkhawatirkannya tapi dia tidak bisa menerima jika ada orang yang menjelekkan tentang Adrian, karena baginya Adrian kini adalah dunianya. Entah apa yang dipikirkannya, bahkan lelaki yang telah beristri itu juga bersikap demikian. Meskipun dia telah menikah tapi dia tidak mau melepaskan Jenita. Bahkan saat ini dia sangat mencintai gadis itu lebih dari sebelumnya.
***
Di perusahaan, Kenan telah aktif kembali sebagai CEO. Sementara itu Alvian masih berkutat dengan pekerjaannya. Lelaki itu cukup bertanggung jawab dalam pekerjaannya selama Kenan cuti pernikahannya.
"Kenan, ini laporan yang harus kau tanda tangani. Aku sudah memeriksanya dan jangan lupa kita akan ada pertemuan dengan investor hari ini untuk masalah proyek terbaru kita," Alvian menjelaskan pada Kenan detail tentang deadline mereka hari ini.
"Baik, terimakasih mas atas informasinya nanti aku akan cek kembali berkasnya," Kenan masih melanjutkan pekerjaannya tanpa memperhatikan sosok kakaknya yang masih menatapnya.
"Kenan, malam ini setelah rapat ada pertemuan dengan kolega di hotel. Kau akan ikut?" tanya lelaki itu sambil memastikan Kenan hadir disana.
__ADS_1
"Hmm, baik aku akan hadir," tandas lelaki itu sambil membuka kaca mata bacanya.
Alvian tersenyum menyeringai mendengar jawaban lelaki itu kemudian berlalu dari hadapannya. Dia telah merencanakan sesuatu untuk pertemuan itu.
***
Dalam pertemuan itu semua para investor dan pemegang saham telah hadir. Kenan menjadi pusat perhatian karena dalam rapat siang tadi dirinya memenangkan tender dan para koleganya memberikan selamat.
"Tuan Kenan, senang bertemu dengan anda disini," pungkas seorang pria yang berada dihadapan Kenan.
"Tuan Sean Roderick, lama tidak bertemu. Bagaimana kabar anda?" Kenan sedikit berbasa-basi pada lelaki itu.
Meskipun mereka adalah saingan bisnis, tidak ada salahnya jika sedikit beramah tamah saat bertemu.
"Seperti yang anda lihat, aku baik-baik saja . Ku dengar untuk proyek jalan tol kali ini perusahaan anda yang memenangkan tender kembali, Gold Star memang selalu terdepan," puji lelaki itu pada Kenan.
Sean hanya tersenyum mendengar ucapan Kenan. Sebagai seorang Rival dirinya cukup salut dengan seorang Kenan. Siapa yang tidak mengenalnya, seorang pimpinan perusahaan besar yang kharismatik dan loyal dengan para karyawan. Disegani oleh rivalnya karena sikapnya yang sangat bersahabat pada siapapun. Siapa yang akan menduga dalam usia yang masih muda Kenan mampu mengedalikan perusahaan besar dan kini perusahaannya memiliki cabang di seluruh negeri ini.
Sementara itu, dari kejauhan tampak Anastasya datang menghampiri mereka. Dia mewakili perusahaan Rena yaitu Zeneca Group, karena Rena saat itu sedang program hamil dirinya harus banyak beristirahat, sedangkan Ryan sedang ditugaskan keluar kota untuk acara perusahaan. Kenan datang ke acara itu tanpa Rena hanya bersama Alvian.
Alvian merasa sangat senang melihat Anastasaya yang datang tanpa Ryan, dia merasa misinya kali ini akan tercapai.
"Kau sendirian ke sini? Mana atasanmu?" lelaki itu menghampiri Anastasya yang sedang menikmati minuman disana.
Dirinya terperanjat oleh suara yang ada dibelakangnya kemudian menoleh ke arah suara itu. " Mas Alvian? mengagetkan saja, aku ke sini mewakili Zeneca Group karena bu Rena sedang tidak dapat hadir. Dia sedang promil sedangkan pak Ryan sedang ada urusan diluar kota," jelasnya detail.
Pria itu menganggukkan kepalanya pelan. Dia merasa kali ini bisa menjebak Kenan dengan mudah, karena tidak ada yang akan menghalanginya di tempat itu.
__ADS_1
"Kau sudah tahukan apa yang harus kau lakukan?" tutur lelaki itu padanya.
"Tentu saja, aku sudah membawa ini untuk melaksanakan misi kita. Aku yakin kali ini pak Kenan pasti akan masuk dalam perangkap kita," seringai wanita itu sambil menatap ke arah Kenan yang masih saja sibuk dengan para koleganya.
Anastasya memang mengagumi lelaki tampan yang sedang bercengkrama dengan kolaganya itu, oleh sebab itu dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekati Kenan.
Ditengah-tengah meriahnya pesta, Anastasya mendekati seorang pelayan. "Mas, apa kamu bisa membantuku," sapa wanita itu pada pelayan yang sedang menata minuman yang akan disajikannya.
"Apa yang bisa saya bantu mbak?" pelayan itu menghentikan aktifitasnya dan mendengar Anastasya.
"Mas, tolong kamu campurkan obat ini dalam salah satu minuman itu dan pastikan kamu memberikan minuman yang sudah dicampur dengan obat itu pada orang yang berada disana, dan jangan sampai salah ataupun tertukar," pinta wanita itu padanya.
Lelaki itu mengernyitkan keningnya. Wajahnya seketika menegang. Dia takut kalau ini akan membahayakan dirinya.
"Maaf mbak, saya ga bisa saya takut nanti kalau ada yang melihat saya bisa dilapor sama atasan saya dan nanti saya malah dipecat," dengus lelaki itu takut.
"Kau butuh berapa? tulis saja dicek itu, lalu selesaikan tugasmu dengan baik," titah wanita itu lagi padanya.
Pelayan itu menelan salivanya sambil berpikir kembali. Dia memang membutuhkan uang untuk keluarganya tapi dia takut jika sampai ada yang tahu dengan apa yang dia lakukan.
"Baiklah saya akan ikuti apa yang anda minta tapi anda harus menjamin semuanya akan baik-baik saja. Saya tidak ingin bermasalah apalagi sampai berurusan dengan polisi," tukas lelaki itu padanya.
Setelah membuat kesepakatan akhirnya lelaki itu mendapatakan cek dengan jumlah yang lumayan fantastis dan dirinya melakukan instruksi sesuai yang diinginkan Anastasya.
"Bagaimana kau sudah melakukannya?" Alvian mendekati Anastasaya yang baru saja kembali dari bernegosiasi dengan pelayan tadi.
"Beres, semua berjalan lancar. Kau lihat saja dalam hitungan detik Kenan akan merasa pusing dan tak sadarkan diri. Lelaki itu akan segera menjadi milikku malam ini," ujar Anastasya dengan senyum smirknya.
__ADS_1
Dan benar saja, usai menyesap minumannya tak beberapa lama kemudian Kenan mulai pusing. Alvian segera membawanya menjauh dari acara tersebut kemudian memapahnya ke dalam mobil lalu meninggalkan pesta itu.