Love Betrayal

Love Betrayal
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Saat ini Rena dan Kenan tengah mempersiapkan pernikahan mereka. Rena sungguh beruntung karena Kenan sangat memperhatikannya. Semua kebutuhan, mulai dari dekorasi, pelaminan, gaun, baju dan segala perlengkapan pernikahan dipersiapkan oleh Kenan.


Tak main-main, lelaki itu berani mengeluarkan kocek dalam jumlah besar demi menunjukkan keseriusannya pada Rena. Sungguh suatu kebahagiaan yang tak ternilai.


"Gimana sayang? Kamu suka dekorasinya, apa ada yang ga kamu sukai, biar nanti aku kasih tau ke EO nya supaya membuat sesuai keinginan kamu," Kenan begitu antusias untuk membahagiakan Rena.


Sampai segala sesuatunya harus sesuai keinginan Rena. Padahal Rena tidak seribet itu juga, mungkin itulah bentuk perhatian dan rasa sayang yang diberikan Kenan padanya.


"Sudah cukup kok sayang. Ini udah bagus dan aku sangat suka," tukas wanita itu padanya.


"Sungguh?" tanya Kenan mencoba menelusuri pemikiran Rena,


"Iya sayang, ini sudah lebih dari cukup,"


Bukan Rena namanya kalau selalu mau menerima apa adanya dan itulah yang membuat dirinya terlihat berbeda dimata Kenan. Sikap bersahaja dan tidak banyak maunya membuat Rena lebih dewasa dalam bertindak.


Ditengah-tengah kebahagiaan mereka, tiba-tiba saja Alvian menghampiri mereka. Entah apa maksud dari kedatangannya hari itu yang pasti ada tujuan tertentu yang diinginkannya.


"Wah ... Hebat sekali, ternyata kalian bisa juga melangsungkan niat kalian," ejek lelaki itu padanya.


"Kenapa mas? Kamu terluka atau merasa kalah karena Rena lebih memilih aku?" tantang Kenan padanya.


"Kalah? Tidak ada kalah dalam kamus hidupku. Lagi pula kedatanganku ke sini untuk melihat anak-anakku," jelas lelaki itu lagi.


Dia sengaja mengalihkan pembicaraan, karena tidak ingin terkesan ingin tahu tentang urusan Rena. Bagaimana dia bisa tenang kalau orang yang dicintainya lebih memilih orang lain dibanding dirinya.


Sementara Rena, cukup kaget karena tiba-tiba Alvian ingin bertemu anak-anaknya.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu perduli dengan anak-anakku mas? Setelah sekian lama aku membesarkan mereka kamu baru tanyakan keadaan mereka sekarang?" Hati Rena begitu teriris dengan sikap Alvian.


Lelaki itu benar-benar egois. Dengan lancangnya dia mengalasankan anak-anak tak berdosa itu demi kepentingannya.


"Sudahlah Rena, kamu tidak perlu menggubrisnya. Dia memang sengaja datang ke sini untuk mengacaukan suasana. Jangan sampai moodmu terpengaruh," Kenan merangkul Rena sambil mengingatkannya.


Dia tahu persis watak saudaranya itu. Selalu memancing emosi dan ingin mencari kesalahan ketika dia dalam keadaan terdesak.


"Aku mengerti Ken, tapi entah apa maksudnya berkata seperti itu. Aku tidak ingin dia melibatkan anak-anak dalam urusan kita " jelasnya pada Kenan.


"Dengar Rena, aku ayah dari Belvana dan Dhafi. Aku punya hak untuk menemui mereka. Mereka juga pasti kangen dengan papa mereka bukan?" tukas lelaki itu sambil melihat ke arah anak-anak yang sedari tadi memperhatikannya.


Dua anak kecil yang baru saja keluar dari rumah melihatnya langsung berhamburan ke dalam pelukannya. Anak-anak itu begitu merindukannya. Tidak bisa dipungkiri kalau ikatan batin itu ada dan membekas. Sekalipun Alvian tidak bersama mereka, tapi harus diakui Alvian tidak pernah menunjukkan sikap buruk pada anak-anaknya sehingga wajar saja jika anak-anak itu begitu menyayanginya.


"Dady, lama ga main ke sini. Dady kemana aja?" ujar Belvana yang terlihat merindukan sosok ayahnya.


Memang sejak kecil Belvana lebih dekat dengan sang ayah.


Tentu saja ada rasa penyesalan dalam hati alvian karena sempat mengabaikan mereka saat mereka membutuhkannya dan sekarang dia mencoba untuk meminta kepercayaan pada anak-anak itu lagi.


Sedangkan Dhafi, lebih memilih diam. Dia hanya memperhatikan ayahnya dari kejauhan. Ada rasa enggan dihati bocah kecil itu.


"Dhafi kemarilah nak, apa kamu tidak kangen sama dadymu?" bujuk Alvian padanya.


Dhafi hanya diam sambil memperhatikan Rena yang mulai berkaca-kaca, tapi Rena tidak pernah menghalangi anak-anaknya untuk bersama sang ayah. Dirinya selalu mengajarkan anaknya tetap menyayangi sang ayah sebagaimana mestinya.


Rena membujuk Dafhi dengan memberikan isyarat anggukan pada anaknya untuk mendekati sang ayah. Dengan perlahan anak itu mendekat pada Alvian.

__ADS_1


"Jagoan dady udah gede ni. Kamu makin tampan dan pintar," ujar Alvian memeluk anak itu. Dhafi tak bergeming hanya sedikit rasa takut yang muncul dihatinya.


Dhafi memang lebih dekat dengan Rena dibanding ayahnya. Anak itu meskipun dalam usia yang masih belia, telah menunjukkan kedewasaannya dalam berfikir. Mungkin karena dia anak pertama dan dia menyaksikan tiap suka duka yang dilewati oleh sang ibu jadi anak itu lebih memahami Rena.


"Kenapa nak? kamu kok kayak takut sama dady?" Alvian menatap putranya dengan heran.


"Oma bilang, momy ga boleh menikah dengan dady Kenan. Kalau momy menikah sama dady Kenan, oma mau jauhin abang sama adek dari momy," lirih anak itu pada snag ayah.


Astaga! Anak kecil ini merekam semua tindakan dan ucapan omanya saat Kenan mengenalkan Rena sebagai wanita pilihannya. Malang sekali anak kecil ini hatinya cukup terluka oleh ucapan sang oma.


"Kenapa Dhafi berpikir seperti itu? oma gs pernah mau misahin abang dan adek dari momy. Itu ga akan mungkin terjadi," Alvian membujuk anak itu.


"Tapi benarkan dady, kalau abang sama adek tetap bisa sama momy kalau mamy tetap menikah dengan dady Kenan?" pinta anak itu dengan wajah sendunya. Buliran air mata kini mengalir diwajah mungil itu. Membuat hati Alvian sedikit sakit. Dia tidak bisa melihat anaknya terluka seperti ini.


"Iya nak, dady janji semua akan baik-baik saja. Biar nanti dady kasih tahu ke oma. Abang dan adek harus tetap sama momy," bujuknya pada sang anak sambil memeluk anaknya.


"Janji ya dady?" pinta anak itu sambil mengulurkan jari kelingkingnya.


Mau tak mau Alvian menautkan jari kelingkingnya pada Dhafi. Dia memang berjanji untuk tidak memisahkan antara dua anak itu drngna ibunya tapi bukan berarti dia akan membiarkan pernikahan Kenan dan Rena terjadi, karena misinya untuk menggagalkan pernikahan mereka apapun caranya.


Dhafi yang melihat ketulusan sang ayah memeluk kembali ayahnya. Anak itu terlihat lebih lega dari sebelumnya.


"Oh ya anak-anak dady ada hadiah buat kalian," tukasnya sambil membawakan berbagai macam hadiah untuk dua buah hatinya.


Anak-anak itu trrlihat begitu antusias dan bahagia tatkala melihat mainan yang diberikan dadynya sesuai dengan keinginan mereka. Ternyata Alvian masih mengingat selera anak-anaknya.


"Makasih mas, kamu udah memberikan pengertian pada Dhafi," ujar Rena dengan penuh kelegaan melihat keceriaan kedua malaikat kecilnya itu.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menunjukkan image baik pada anak-anakku. Kamu jangan terlalu bahagia dulu. Permainan belum selesai Rena, karena aku adalah orang pertama yang akan menggagalkan pernikahan kalian," tegasnya dengan penuh penekanan.


Kenan yang melihat sikap sang kakak hanya diam, tangannya mengepal dengan kuat. Rasanya ingin sekali dia memukul wajah lelaki itu tapi tidak kali ini. Saat ini adalah hari bahagianya bersama Rena dan juga ada dua malaikat kecilnya, dia tidak ingin tersulut emosi oleh ucapan Alvian.


__ADS_2