
"Mama, apa papa marahin mama lagi?" pertanyaan polos dari Dhafi, Rena hanya menggelengkan kepala masih shock dengan yang baru saja dialaminya.
Tidak pernah terpikirkan sedikitpun olehnya Alvian akan berbuat senekat itu padanya.
"Kalau papa marah-marah atau menyakiti mama lagi, mama bilang sama abang. Biar abang kasih pelajaran pada papa," ucap Dhafi dengan penuh kemarahan.
Kenan menatap jelas kebencian dimata bocah berumur sepuluh tahun itu. Entah kesakitan seperti apa yang telah diberikan Alvian pada ibu dari anak-anaknya sampai-sampai Dhafi begitu membencinya.
Rena hanya mengusap kepala anak lelakinya sambil menggelengkan kepala dan buliran air matanyapun tak mampu dibendung hingga mengalir begitu saja.
"Sayang, papa kalian ga marah sama mama. Papa tadi datang cuma mau bicara sama mama kalian," jelas Kenan pada Dhafi dan Belvada yang terlihat ketakutan. Kenan memeluk kedua bocah kecil itu kemudian mengajak mereka ke ruangan bermain untuk menenangkan mereka.
Rena memang menyediakan satu ruangan khusus untuk anak-anaknya dikantornya. Supaya jika mereka telah pulang sekolah dan masih ingin menemaninya di kantor, anak-anaknya bisa bermain ataupun belajar diruangan itu.
Ryan baru saja keluar dari lift dan berpapasan dengan Alvian, dirinya sangat terkejut melihat lelaki yang berada dihadapannya. Manik keduanya saling bertemu, tanpa ada sapaan hanya pandangan heran diantara keduanya.
Alvian yang sedikit gugup merapikan dasinya dan segera masuk ke dalam lift untuk segera meninggalkan tempat itu. Sementara Ryan hanya menatap heran hingga pintu lift tertutup.
Alvian? Mau apa dia ke sini? beribu tanya kini mengitari pikiran lelaki muda itu. Dirinya segera menuju ruangan Rena untuk mengetahui maksud kedatangan Alvian.
***
Kenan melihat Rena yang dalam kondisi buruk, hatinya sangat hancur melihat wanita yang dicintainya begitu terluka saat ini.
Rena duduk membelakangi meja kerjanya sambil memeluk dirinya sendiri. Dia benar-benar tidak menduga Alvian berbuat seperti itu padanya.
Kenan melangkahkan kakinya perlahan membuka jas yang dikenakannya dan memakaikannya pada tubuh Rena. Wanita itu terperanjat karenanya.
"Maaf, aku mengagetkanmu? Aku hanya ingin memakaikan jas ini padamu supaya kau tidak kedinginan,"
Rena hanya tersenyum tipis padanya. Kenan duduk didekatnya sambil menatap Rena. "Apa kau mau coklat hangat? Kata orang coklat hangat bisa menegembalikan mood yang sedang tidak baik," bujuknya pada Rena.
Rena tak menjawab pertanyaan Kenan, tapi lelaki itu segera mengambil coklat bubuk yang terletak diruangan Rena kemudian menyeduhnya dengan air panas, dengan perlahan dirinya membawakan minuman itu pada Rena.
"Coklat panasnya sudah siap," senyumnya terukir tatkala memberikan coklat panas pada Rena.
__ADS_1
Rena hanya tersenyum getir sambil mengambil coklat hangatnya.
"Terimakasih Kenan, kamu baik banget sama aku,"
"Hei, bisakah kamu bicara santai saja padaku? Aku ini bukan orang yang baru saja kamu kenal bukan? Mengapa kita menjadi sekaku ini?" candanya mencairkan suasana.
Rena tersenyum sambil mengedarkan pandangannya keluar jendela. Hujan yang mengalir begitu deras dikaca jendela membuat suasana hari itu semakin menyendu. Wanita itu baru saja melewati waktu terburuknya, benar-benar memalukan jika harus bertemu Kenan dalam keadaan seperti ini.
"Maafkan aku Kenan, harusnya kau tidak melihat kejadian tadi. Itu sangat memalukan," ujar Rena dengan sangat menyesal.
"Sst ... jangan berkata seperti itu. Kau tidak bersalah, Alvianlah yang memalukan. Sebenarnya aku telah memprediksikan cepat atau lambat dia pasti akan menunjukkan dirinya yang sebenarnya,"
Rena mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Kenan. Seakan Kenan menyimpan sebuah rahasia dari ucapannya.
"Aku tahu Rena, dari pertama kali dia mengatakan padaku bahwa dia masih mencintai mantan istrinya dan dia menyebutkan nama Rena. Aku tahu yang dimaksudnya itu adalah dirimu. Aku sengaja membiarkannya mendekatimu, tapi tidak disangka dia berbuat segila itu padamu,"
"Jadi kau sudah mengetahui semuanya?" selidik Rena merasa Kenan merencanakan sesuatu.
Kenan mengangguk lalu merangkul Rena. "Aku pikir setelah bertemu denganmu dia akan memperbaiki kesalahannya ternyata aku salah menilai," sesal Kenan.
Ryan yang merasa penasaran dan khawatir, tiba-tiba saja menerobos masuk ke ruangan kakaknya.
Kak, tadi aku ketemu mas Alvian di lift. Mau apa dia ke si... ni?" ucapannya tercekat ketika dirinya melihat Kenan yang duduk di dekat Rena sambil memeluknya.
Rena dan Kenan yang terkejut mendengar kedatangan Ryan langsung melepaskan pelukan mereka.
"Ryan, sejak kapan kau berada disitu?" tanya Rena merasa gugup.
"Sejak aku melihat kalian berdua ..." Ryan memberi kode dengan dua jarinya membuat keduanya salah tingkah.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Kenan datang ke sini karena ..."
Rena menghentikan ucapannya sambil menatap ke arah Kenan seakan meminta Kenan untuk membantunya menjawab.
Dia tidak ingin Ryan mengetahui apa yang telah terjadi antara dirinya dan Alvian. Pasti akan menjadi runyam jika Ryan mengetahuinya.
__ADS_1
Kenan yang mengerti dengan tatapan Rena padanya, langsung menjawab, "ah ... itu tadi aku mengantarkan anak-anak pulang sekolah," jelasnya sekenanya.
"Oh begitu ya, terus mas Alvian ngapai ke sini?" selidik Ryan merasa ingin tahu.
"Hm, itu tadi cuma mau ketemu anak-anak," jelas Rena asal.
"Ah iya, anak-anak. Mas Alvian mau ketemu anak-anaknya," Kenan tersenyum kecil.
"Pak Kenan sendiri selain mengantarkan anak-anak mau ngapain lagi?" Ryan semakin penasaran dengan keakraban Kenan dan saudara sepupunya.
"Tadi kami hanya membahas masa sekolah dulu, sambil menunggu hujan reda minum coklat hangat," jelas Kenan pada Ryan.
"Baiklah kalau begitu, sepertinya kakak baik-baik saja aku mau ke ruanganku dulu. Maaf ya aku mengganggu kalian," ledek Ryan sambil menutup pintu ruangan tersebut.
Ryan cukup lega karena tidak terjadi sesuatu pada Rena, semenjak Rena berpisah dengan Alvian, dirinya selalu berusaha melindungi Rena. Karena selain dirinya siapa lagi yang akan melindungi Rena? Setelah ayahnya meninggal Rena tidak memiliki siapa-siapa lagi. Hanya Ryan satu-satunya saudara laki-laki yang dimilikinya. Meskioun hanya saudara sepupu tapi Ryan selalu memperlakukan Rena seperti kakaknya sendiri. Bahkan Ryan juga menyayangi anak-anak Rena layaknya anaknya sendiri.
"Hei anak-anak, kalian disini?" sapa Ryan pada dua malaikat kecil Rena yang sedang asyik bermian.
"Om Ryan," sapa Dhafi dan Belvada yang langsung mendekat kepadanya.
"Kalian pulang dijemput mama?"
"Tadi yang jemput om Kenan, kata om Kenan mau buat kejutan," jawab Belvada.
"Kalian ketemu papa juga tadi?" tanya Ryan pada anak-anak itu.
"Iya, tapi mama tadi nangis setelah ketemu papa," Dhafi mengadu pada pamannya.
"Oh ya, apa mama sama papa bertengkar?" selidik Ryan pada anak-anak itu.
"Ģa om, mama bilang papa ga marah tapi tadi mama kelihatan sedih," jelas Dhafi padanya.
Pasti ada sesuatu ni. Kalau ga kenapa kak Rena sampai seperti itu, gumam Ryan dalam hati. Ryan merasa Rena sedang menutupi sesuatu darinya, tapi entah tentang apa?
Ryan mengajak anak-anak itu bermain kembali untuk mengakhiri pembicaraan mereka. Ryan tidak ingin anak-anak itu ikut terlibat dalam masalah kedua orang tuanya. Dia segera mengalihkan perhatian para malaikat kecil itu pada mainan mereka.
__ADS_1