Love Betrayal

Love Betrayal
Mengejar


__ADS_3

Jenita masih saja berlari dari tempat itu dan mencoba menyelamatkan dirinya dan bayi dalam kandungannya. Sementara itu para preman disana menembaki pintu yang terkunci karena perbuatan Jenita, mereka segera berpencar untuk menemukan Jenita.


"Kau cari ke sebelah kanan, kau ke sebelah kiri dan kau ikut bersamaku. Kita harus temukan wanita itu baik dalam keadaan hidup atau mati, nyonya Stevany pasti tidak sabar mendengar kabar kematian wanita itu," titah ketua preman itu sambil memberikan intruksi kepada para temannya.


Jadi Stevany dalang dibalik semua ini. Tega sekali dia ingin menghabisiku dan bayiku. Bukankah aku telah berjanji untuk menjauhi Adrian tapi mengapa dia masih mengejarku? Gumamnya dalam hati.


Jenita yang bersembunyi dibalik tembok tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka. Sungguh hatinya sangat hancur mendengarkan semua itu. Dia tidak pernah menduga wanita itu mempunyai dendam sedalam itu padanya.


Jenita menatap sekelilingnya yang mulai terlihat aman, perlahan dia keluar dari tempat persembunyiannya. Perlahan dia keluar dari tempat persembunyiannya. Wanita itu berjalan menuju ke arah luar, tapi seseorang memegang bahunya.


"Jangan bunuh aku, ku mohon jangan bunuh aku dan bayiku," teriak wanita itu dengan histeris. Jenita benar-benar ketakutan.


"Hei Jeni, tenanglah. Jangan panik aku bersamamu," pungkas pria itu menenangkannya.


Seketika Jenita menghentikan perlawanannya dan menoleh ke arah pria itu. "Adrian, bagaimana kau bisa berada disini? bukankah kau bilang tidak jadi ke sini karena istrimu sedang sakit?" dengus Jenita merasa sedikit kesal.


"Tadinya, aku berniat menemani Stevy untuk menjaganya karena dia sedang sakit tapi setelah aku mendapatkan laporan dari orangku tentang dirimu aku segera bergegas ke Indonesia untuk mengetahui keadaanmu," jelas Adrian padanya. Lelaki itu menatap dalam pada netra hitam pekat milik wanita cantik yang berada dihadapannya itu.


"Seharusnya kau tidak perlu menemuiku. Istrimu lebih membutuhkanmu dibandingkan aku," ujar Jenita tanpa berani menatap ke arah mata pria itu.


Rasanya ingin sekali dia mengutuk, memaki dan memukul wajah pria itu karena terbakar oleh rasa cemburu dihatinya, tapi Jenita sengaja menyembunyikannya dan memilih tidak perduli dengan apa yang dirasakannya.


"Sayang maafkan aku, aku tahu kau marah padaku tapi sungguh aku tidak pernah menduga kalau Stevy akan berbuat segila itu padamu. Aku pikir ketika dia mengatakan dirinya terkena sakit dan menunjukkan hasil lab yang menjelaskan tentang penyakitnya, dia sungguh-sungguh tapi semua itu hanya akal bulusnya supaya aku tidak menemuimu dan dia ... "

__ADS_1


"Dia berencana membunuhku dan bayiku!" sorlt mata Jenita tampak menajam pada Adrian. Dia tidak sedang membenci ataupun marah pada pria itu, hanya saja dia merasa sangat kesal pada Stevy yang tega berbuat sejahat itu padanya dan bayi tak berdosa yang berada didalam perutnya.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa melindungimu," Adrian memeluk wanita muda itu dengan erat. Dia sangat merasa bersalah atas apa yang menimpa Jenita.


"Kau tidak bersalah, aku yang salah karena aku ..."


"Sssttt ... berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Aku tidak ingin kau terus-terusan menyalahkan dirimu. Aku yang jatuh cinta padamu tapi aku terlalu pengecut untuk mengakuinya dan membiarkan Stevany membuatku terjebak didalam obsesi gilanya," Adrian menghentikan ucapan Jenita dan meluapkan segala isi hatinya yang terpendam.


"Apa maksudmu? Stevany dan obsesi gilanya?" Jenita merasa heran dengan perkataan Adrian. Apa maksud pria itu berkata seperti itu?


"Ya Jeni. Aku dan Stevy menikah bukan karena kami saling mencintai, tapi semua itu terjadi karena Stevy memaksaku menikahinya. Dia mengancam akan mengakhiri hidupnya jika aku tidak menikah dengannya. Oleh sebab itu aku meninggalkanmu begitu saja saat itu," jelas pria itu lagi padanya.


Adriam cukup merasa terpojok dengan sikap dingin yang diberikan Jenita padanya, untuk itulah dia berterus terang dengan apa yang telah dilakukan Stevany padanya. Jenita cukup terkejut dengan pengakuan Adrian, ternyata dia salah menduga.


"Lantas dari mana kau tahu aku dalam bahaya?" Jenita teringat akan kemunculan Adrian yang begitu tiba-tiba.


"Itu semua karena aku selalu mengawasimu dari kejauhan sayang," Adrian tersenyum sambil mengusap pipi Jenita.


"Maksudmu kau menyuruh seseorang untuk menjagaku?" tanya wanita muda itu dengan penuh haru.


"Hm, benar sekali sayang. Orang-orangku ada dimana-mana jadi sekalipun kau ingin bersembunyi dariku, sampai ke lubang semutpun aku pasti akan menemukanmu," ucap lelaki itu sambil menangkup wajah Jenita.


Dia sungguh-sungguh sangat mencintai wanitanya. Begitu juga dengan Jenita dirinya memeluk erat tubuh Adrian dan bersandar didada bidang pria itu. Semenjak Adrian mengungkapkan rasa cintanya pada wanita muda itu, dia merasakan kenyamanan bersama pria itu dan hal itulah yang membuatnya selalu merindukan saat-saat bersama pria muda itu.

__ADS_1


***


Di Mansion, Alvian sedang menjalani therapy untuk mengobati geger otaknya. Semakin hari semakin terlihat peningkatan dari Alvian dan banyak progres yang diperlihatkan oleh Alvian. Mulai dari dirinya yang mulai mengenal namanya, mulai mengenal anak-anaknya satu persatu, hingga mengenali orang-orang disekitar yang merupakan kerabat dekatnya termasuk Rena dan Kenan.


"Aku senang melihat kemajuan pada mas Alvian. Aku lihat semakin lama dia semakin bersemangat menajalani hari-harinya," ujar Kenan saat duduk di taman bersama Rena memperhatikan sang kakak.


"Iya mas, sekarang rasa sakitnya juga mulai berkurang. Mas Alvian sudah tidak mengeluh sakit kepala berlebihan lagi dan terhadap Dhafi dan Belvana, mas Alvian sudah mau di panggil dady lagi seperti dulu," pungkas Rena sambil mengusap perutnya yang mulai membesar.


"Benar sekali yang kamu katakan sayang. Oh ya sayang, kamu merasa ga kalau mas Alvian sekarang mulai bersemangat karena salah satu orang yang telah menemaninya sejauh ini?" Kenan mencoba meminta pendapat pada sang istri.


"Maksud mas bagaimana?" Rena masih belum menyadari sikap Alvian selama ini terhadap dokter Airin.


"Ituloh sayang, masa kamu ga merasa, kamu lihat tuch bagaimana sikap mas Alvian saat bersama dokter Airin," tunjuk Kenan pada kedua orang yang sedang asyik bercengkrama di seberang sana.


"Benar juga yang mas Kenan katakan, aku baru menyadari kalau mereka mulai dekat," Rena tersenyum memperhatikan kecerian Alvian bersama dokter muda yang cantik itu.


"Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka?"usul Kenan pada Rena.


"Ide bavus mas. Aku rasa ga ada salahnya kalau mereka kita persatukan," Rena setuju pada usul sang suami.


Terlihat Alvian yang begitu bersemangat bercerita dengan dokter Airin. Dokter muda itu tidak hanya cantik dan baik hati tapi dia juga bersedia menjadi pendengar setia untuk setiap keluh kesah Alvian. Semenjak kehadiran Airin dalam kehidupannya dia merasa semangat hidupnya yang nyaris hilang karena kecelakaan fatal yang dialaminya kembali hidup.


Alvian merasa Airin membuatnya menyadari hidupnya sangat berharga. Selain Kenan dan Rena yang memberikan perhatian padanya, sekarang Airin juga mempunyai peran penting dihidup Alvian.

__ADS_1


Wanita itu bukan hanya dokter syaraf yang memberikan therapy untuk fisik Alvian, dia juga pskiater yang membuat Alvian memiliki semangat hidup untuk mengingat setiap memory yang mulai terlupakan dari ingatannya dan perlahan semua akan membaik.


__ADS_2